Sunday, July 31, 2011

On Love and Consequence - Part 2

Yup! Seperti Harry Potter and Deathly Hallows, "On Love and Consequences" juga ada 2 bagian... hehehe.... In fact, tulisan bagian pertama itu appetizer doang ;-)  Soalnya gw pingin nulis yang ini... tapi kok kayaknya ada yang kurang kalau tentang Harry Potter gak ditulis :p After all, setelah baca dan nonton saga fenomenal ini, gitu loh!

Anyway... tulisan kedua ini juga tentang pertanyaan seputar "konsekuensi cinta" (halah!).

Jadi, alkisah, di waktu lengang gw suka baca twitnya mereka ini. To satisfy my curiousity about their point of view. "They" dalam kelompok besar ya, bukan hanya mereka berdua ;-) Tapi gw melihat mereka memposisikan diri sebagai "penyambung lidah rakyat kaumnya"

Jika homophobia attitude scale itu ada, gw rasa gw akan ter-cluster-kan sebagai "kaum moderat" :-) Artinya, gw sejuk2 saja (baca I'm cool, gitu deh) punya teman2 yang orientasi seksualnya sejenis. Gw tidak akan menghajar, menista2kan, menghujat, apalagi mem-bully mereka. Tetapi.... gw juga tidak akan mendukung jika mereka minta gw ikut menandatangani petisi agar gay pride parade atau semacam PFLAG dilegalkan di Indonesia. If that's what they ask, then I'm ready to sacrifice our friendship.Sikap gw masih seperti di tulisan ini ;-)

Anyway... bahasan gw kali ini bukan tentang sikap gw kok ... hehehe... Seperti gw katakan tadi di awal, ini tentang "pertanyaan" gw.  Pertanyaan ini muncul setelah gw membaca tautan ke artikel ini di twitter tertaut di atas.

Artikel di atas memberikan argumen tentang "kebaikan" gay marriage. Ini artikel kesekian yang pernah gw baca tertaut di twit mereka. Gw nggak mau membahas argumennya ya. Namanya juga orang promosi... tentunya semua kebaikan diangkat lah ;-)  Yang mau gw bahas adalah: why do they bother to get married?

Ini yang sampai saat ini belum gw mengerti dan terasa sebagai paradoks buat gw ;-) If they want to deconstruct the so-called "puritan" belief about marriage, then why do they bother to get the right to marry each other?

Dalam salah satu sesi tanya-jawab yang kemudian mereka berdua dokumentasikan di blog, yang gw tahu hubungan dua sejenis ini tidak sama seperti di hubungan pernikahan lawan jenis. Dalam soal hubungan seksual, misalnya, dua2nya cowok atau dua2nya cewek. Bukan salah satu jadi perempuan dan lainnya jadi laki2. So, why bother with the marriage?

Kalau tujuannya adalah "pengakuan di mata hukum", seperti yang gw duga dari jawaban yang terdokumentasikan di blog itu, kenapa harus berbentuk "pernikahan"? Can't they think of a different form? Sehingga hukum2 dan aturannya juga nggak akan sama dengan "pernikahan tradisional"? Apalah bentuknya, "persekutuan" kek, "penyatuan kasih" kek, atau apa gitu. Sehingga punya aturan2 sendiri, kebijakan2 sendiri, hukum2 sendiri yang sama sekali berbeda dengan "pernikahan".

I'm sorry, I just don't understand at all. Mengapa memaksakan seluruh masyarakat untuk mengubah paradigma, sehingga mereka bisa "masuk" ke institusi yang sudah ada? Mengapa tidak menuntut pembentukan jenis "institusi baru", kalau tujuannya adalah untuk melindungi their so-called human right? Kenapa jadi kayaknya mereka yang memegang kebenaran, dan boleh menentukan bagaimana seharusnya sebuah institusi ya... sementara the rest of the society hanyalah sekumpulan orang2 "bodoh" dan "terbelakang" yang harus mengubah paradigmanya? How can a stupid and underdeveloped society have an institution good enough for you, then?

Hehehe... tulisan ini mungkin akan mengundang beberapa reaksi keras, bahkan dari teman2 gw sendiri ;-) That's OK ;-) I'm not trying to attack each of you personally... but if you see it that way, then... you know me: I won't try to change your perception ;-)

Saturday, July 30, 2011

On Love and Consequence - Part 1

Akhirnya, setelah hanya bisa nonton versi bajakannya yang suram-gelap-gulita hasil unduhan bapaknya anak2, hari ini kesampaian juga nonton Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2 di layar lebar. Seperti dua film terakhirnya, versi pamuncak ini juga gw tonton bareng Ima di Blitz Megaplex. Puas sudah rasanya :-)

Sumber kepuasan gw ada dua: pertama, ya karena akhirnya nggak perlu nunggu terlalu lama untuk bisa menikmati film ini. Rasanya kan gimana yaa... setelah 7 film semuanya gw tonton di bioskop, mosok versi terakhirnya nggak bisa ditonton? Kentang dong :-) Yang kedua... ya karena filmnya memang sesuai harapan gw. Tidak seperti film keenam yang adaptasinya enggak banget, film penutup ini sangat memuaskan lah! Kayaknya David Yates sudah bisa connected sama ceritanya... hehehe...

Bagian yang paling gw sukai, seperti sudah gw tuliskan di Facebook beberapa waktu lalu, bukanlah bagian Lord Voldemort kalah. Itu mah gw terima sebagai layak dan seharusnya... hehehe... Yang paling "kena" buat gw justru sekitar menit 83.

*kalau ada yang heran kenapa gw hafal menitnya, itu karena gw udah nonton bajakannya ;-) Di bajakan, itu menit ke 82 sekian detik. Tapi di bajakan ternyata ada bagian depan yang terpotong, jadi kira2 ada beda beberapa detik - 1.5 menit lah ;-)*

Bagian yang paling menyentuh gw adalah bagian ketika Snape merapalkan Expecto Patronum, dan memunculkan patronusnya: seekor kijang betina.

Ya, yang baca bukunya pasti ingat bagian ketika Harry Potter masuk ke dalam kenangan yang diberikan Snape menjelang kematiannya. Kenangan tentang perintah Dumbledore untuk memberitahu Harry bahwa ia memang harus mati di tangan Voldemort. For the greater good, eh ;-)?

Saat itu Dumbledore bertanya, apakah setelah sekian tahun berlalu akhirnya Snape memiliki rasa sayang pada Harry. Snape hanya membalas dengan memunculkan patronus kijang betina. "After all these years?" tanya Dumbledore. "Always," jawabnya. Singkat, tapi sarat makna. Bahwa setelah sekian tahun berlalu, Snape tetap mencintai Lily Potter (nee Evans), ibu Harry. Dan bahwa ia melakukan semua ini demi Lily.

Dan di situ tiba2 gw sadar: the whole story is actually about Severus Snape's redemption, although Harry Potter gets all the credit ;- ) Bahkan, mungkin Snape hanya mendapat kredit nomor sekian, setelah Dumbledore dan Voldemort :-)

Kalau Snape tidak menyampaikan kepada Voldemort ramalan tentang anak yg lahir di akhir Juli, kisah ini tak akan ada. Voldemort tidak akan mengejar Harry. Lily tidak akan mati. Harry Potter mungkin akan tumbuh jadi sekedar penyihir medioker (dia gak jago2 amat, ingat ;-)). Dan mungkin akan ada pahlawan lain yang mengakhiri kuasa Pangeran Kegelapan.

Kisah ini ada, dan terjadi, gara2 aduan Snape. Dan kisah ini berakhir seperti ini, karena Snape menjaga Harry. Agar - meminjam percakapan mereka - the boy could die at the proper moment.

See? Saga ini seperti lagu dangdut. Snape yang mulai, Snape yang mengakhiri. Atau versi Inggrisnya: Snape's the one who started out, and Snape's the one to make it stop. Uhmmm... in my opinion, this whole story should be called the "The Redemption of Severus Snape", bukan "Harry Potter Saga" :-)

***

Tapi OK-lah :-) Kisah sudah bergulir, dan sudah usai.  Dalam hidup memang tidak semua yang berjasa dapat kredit yang memadai. Dalam kerjasama kan ada pembagian tugas: ada yang dapat kerjanya, ada yang dapat samanya... HAHAHAHA.... Lagian, kayaknya kurang menjual ya, kalau Severus Snape dijadikan judul :p Anggaplah ketiadaan kredit baginya adalah salah satu lagi "konsekuensi kasih tak sampai"-nya pada Lily. Deal ;-)?

Buat gw, setelah saga ini berakhir, hanya satu pertanyaan yang tersisa. Pertanyaannya, apa yang akan dikatakan Lily Evans pada Severus Snape saat mereka bertemu di alam sana? I mean... mereka akan bertemu di alam yang sama kan? Dua2nya akan... let's say... masuk surga karena dua2nya baik kan? Lantas, jika mereka bertemu, Lily akan bilang apa pada pada pria yang mencintainya sekaligus secara tidak langsung membunuhnya? Pada pria yang menyengsarakan anaknya, sekaligus melindunginya? Will "thank you" do? Or will she say "sorry" too?

Ada yang punya prediksi ;-)?