Friday, July 27, 2007

For the Greater Good

“I guessed. But my guesses have usually been good,” said Dumbledore happily..

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 710)

***

Akhirnya, khatam juga baca buku terakhir Harry Potter. Untunglah.. ;-) Soalnya sudah banyak death eater berkeliaran siap memberikan spoiler. Sampai2 tongkat sihir gw nggak bisa lagi memproduksi patronus ;-)

WARNING!
Buat yang masih ingin menyelesaikan membaca Harry Potter & the Deathly Hallows, ini saatnya untuk berteriak, “Protego!”, atau “Reducto Spoiler!

Buku ke-7 ini memang paling gw tunggu2. Bukan saja karena buku ini adalah the saga finale, tapi karena apa yang gw tulis 2 tahun lalu ini. Buat gw yang paling bikin penasaran bukan siapa yang hidup siapa yang mati, tapi.. why Severus Snape membunuh Albus Dumbledore. Ohya, buat sebagian orang, aksi Severus Snape membunuh Albus Dumbledore adalah bukti bahwa dia, sebagai double agent, menaruh kesetiaan lebih besar pada Dark Lord. Dilihat dari tindakannya, itu adalah bukti nyata. Ditilik dari motifnya, semakin kuat dugaan bahwa dia jahat. Tapi, dari awal gw menolak untuk mempercayainya, karena something doesn’t add up.

Buat gw, yang namanya sebuah tindakan itu belum tentu bisa dinilai secara kasat mata. Kadang seseorang terpaksa melakukan sesuatu (yang tidak disukainya), semeyakinkan mungkin, for the greater good. Dan saat membaca adegan fenomenal itu, gw menduga bahwa JK Rowling ingin menempatkan Snape dalam posisi seperti ini.

Tapi waktu itu gw juga nggak sepenuhnya yakin. Takut juga bahwa ini masalah denial aja, seperti yang dikatakan seorang teman pencinta HarPot juga. Severus Snape is always one of the characters I like. Mungkin, kalaupun dia benar2 jahat, agak susah buat gw menerima bahwa pilihan gw salah ;-)

So.. betapa senangnya gw tadi malam ketika membaca baris demi baris percakapan ini:

“.. Ultimately, of course, there is only one thing to be done if we are to save him from Lord Voldemort’s wrath”

Snape raised his eyebrows and his tone was sardonic as he asked, “ Are you intending to let him kill you?”

“Certainly not. You must kill me.”

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 682 - 683)

I was right all along. I missed the details (mind you, everyone, I’m a psy*********, not a psychic ;-)), but I saw the big picture right.

Hehehe.. nggak penting ya? It’s just a fiction, a very good one, but still.. it’s not real. Tapi.. buat gw ini penting. Sangat2 penting.

Gw percaya bahwa sebuah kisah, walaupun hanya berbentuk dongeng, adalah representasi dari ide2 yang ada di kepala manusia. Ide2 yang muncul baik dari pikirannya, maupun dari perasaan. Seorang penulis yang baik [seperti JK Rowling] bisa menghidupkan tokohnya dengan nyata, sehingga memahami tokoh tersebut tidak banyak bedanya dengan memahami manusia sesungguhnya. Dan dengan demikian, jika gw berhasil memahami kisah yang sebenarnya, setidaknya it gives me confidence that I can still trust my judgment in the real world ;-)

SPOILER SELESAI ;-)
Tuh, kan, gw gak jahat2 amat ;-) Spoiler-nya dikit ;-)

Dalam kehidupan nyata, sering kita melihat hal2 seperti ini juga. Orang2 yang kita sayangi, melakukan sesuatu terhadap kita yang bisa kita interpretasikan sebagai tidak menyayangi. Seperti tulisannya ini, yang kemudian memberinya insight ini, serta entry nampol dari AJ's dan burung kecil ini. Kadang (nggak selalu lho, yaa ;-)).. we come to that conclusion only because we fail to see the big picture.

Ngelihat the big picture ini susah2 gampang. Eh, atau gampang2 susah ya? Yang jelas.. gw sendiri bukan ahlinya. Kata bapaknyaima, itu karena temperamen kepribadian gw adalah NT Rationale. Makanya, walaupun gw seringkali know intuitively that something is wrong, biasanya gw susah untuk meyakinkan diri sendiri (apalagi orang lain) bahwa something is really wrong. Soalnya, gw selalu butuh supporting data yang bisa gw pikirin keterkaitannya. Dicari dari segala sudut; bukan cuma tindakan/kata2 dan motif si pelaku, tapi juga karakteristik si korban. Gitu kan cara berpikirnya para agen Criminal Minds? Always ask about the whys.. Why the victim?

Cumaaa.. nggak selalu gw bisa mendapatkan supporting data yang lengkap. Jadi, di sana-sini, selalu ada missing link yang bikin gw nggak yakin. Semakin dipikirin, kadang2 malah bikin gw semakin nggak yakin. Soalnya datanya suka saling bertentangan gitu.

Dan ini yang sering jadi kelemahan gw.. atau dimanfaatkan orang2 untuk meyakinkan gw the other way ;-) Misalnya aja, beberapa bulan lalu waktu gw tanya pada seorang teman apakah everything’s okay, dia malah ganti nanya: emang kenapa loe nanya gitu? Dan pas gw bilangin hal2 apa yang bikin gw punya perasaan gitu, dia malah jawab: emang apa yang salah dengan itu? Hehehehe.. teruuus aja gitu sampai gw nggak yakin apakah benar2 ada yg gak OK, or I was just being paranoid. Eeeh, terbukti beberapa hari kemudian bahwa I was right all along. Dasar! Menghancurkan konsep diri gw aja.. HAHAHAHA.. Sekalian bikin gw merasa bersalah karena nggak sensitif pada penderitaan teman ;-)

Tapi gw ngerti kok. Biasanya, orang2 suka berlaku begitu for the greater good. Ada hal2 yang nggak boleh ketahuan dulu, for the greater good.

Dan mesti diakui, seringkali gw terlalu nosy. Hehehe.. mungkin ada hubungannya dengan kecintaan gw pada kucing. Curiousity kills the cat, gitu kata pepatah. Hanya saja, mungkin kucing memang tidak pernah khawatir kehilangan nyawa karena – walaupun mereka nggak bikin horcrux – konon kabarnya mereka punya 9 nyawa ;-)

Anyway.. gw cukup senang bahwa ternyata, seperti Dumbledore, my guess has been good. Tapi mesti belajar supaya lebih mirip lagi sama Dumbledore, atau pada Severus Snape, yang bisa diam seribu bahasa sampai saatnya tepat. Terharu banget .. *eh, kasih tanda spoiler lagi dulu ;-)*

SPOILER LAGI!
Muffliato!

Terharu banget baca bagian yang ini:

”Harry must not know, not until the last moment, not until it is necessary, otherwise how could he have the strength to do what must be done?”

..

“So the boy.. the boy must die?” asked Snape quite calmly.

“And Voldemort himself must do it, Severus. That is essential.”

Another long silence. Then Snape said, “I thought.. all these years.. that we were protecting him for her. For Lily.”

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 685 - 686)

Dan Snape, lepas dari kekecewaannya, menunggu hingga detik2 terakhir, sampai nyawanya hampir hilang, sebelum memberikan informasi yang dibutuhkan Harry. For the greater good.

*ikutan mellow kayak middle name-nya Jenny ;-)*

Ohya, soal buku terakhirnya sendiri, gw puas. It’s definitely what I want to see in a saga finale. Pertempurannya seru. Pertanyaan2 yang muncul dari buku2 sebelumnya terjawab semua. Jawabannya juga masuk akal banget, alias sampai sekarang gw belum bisa nemu kontradiksinya. Dan gw suka caranya menghilangkan ”kesan sempurna” Dumbledore, dengan menceritakan kesalahan2nya di masa muda. Good job, Rowling!

UPDATE 5 Agustus 2007:

Buat yang udah baca sampai selesai, dan penasaran dengan apa yang terjadi antara bab terakhir dan epilog, nih gw nemu transkrip wawancara dengan JK Rowling. Di situ dibahas komplit tentang apa yang terjadi dalam rentang waktu 19 tahun itu: apa aja karir masing2 orang pasca Hogwarts, siapa nikah sama siapa, dan beberapa minor why and what next dalam cerita yang belum terjawab (walaupun mungkin nggak sulit untuk diduga - seperti parseltongue-nya Harry pasca pertempuran). It's quite fun.. for those who really love this saga ;-) Enjoy!