Wednesday, April 22, 2009

N Cut is The Shallowest

Lama gw nggak nulis di blog :-) Nulis sih masih sering, tapi medianya beda... hehehe... Sekarang lebih sering microblogging aja di statusnya FB. Serius ;-) Status FB gw seringnya panjang2 (malah kadang harus gw revisi karena kotaknya nggak muat, kebanyakan huruf), lantaran gw perlakukan seperti blog ;-) Kadang pakai Twitter, kadang langsung di Facebook. Tergantung keperluan aja. Tapi nggak pernah pakai Plurk. Soalnya aplikasi Plurk terlalu berat untuk jaringan internet kantor; yang sudah kelebihan beban karena semua karyawan mainan FB. Ini juga serius ;-) Bahkan para karyawan di Field Department aja sekarang suka rebutan kompie di resepsionis buat buka FB.

Yaaah... alasan kenapa gw nggak nulis2 sih klasik: semangat menulis dan bercerita masih menggebu2, apa daya waktu tak sampai. Bukan tangan tak sampai lho ya... karena ngetik cerita - baik blogging maupun microblogging - tetap persyaratan utamanya adalah tangan sampai ke papan ketik. Jadi lebay deh kalau bilang tangan tak sampai, emangnya nge-blog pakai telepati :-p

Itu alasan yang pertama. Alasan kedua: gw lagi mencoba mendefinisikan kembali makna blogging buat gw. Gw selalu bilang bahwa my conscious will to blog adalah karena gw suka menulis, dan menulis adalah remedy buat gw; cara buat gw melepaskan kejenuhan. Tapi... seperti dijelaskan dalam bahasan the individuation of action pada tautan itu, sebenarnya kan conscious will tidak mencakup keseluruhan aksi. Bahkan mungkin yang namanya conscious will itu adalah hasil dari rasionalisasi gw - meskipun conscious will itu benar2 ada, bukan hasil ilusi.

Setelah gw telaah2 lagi, mungkin salah satu unconscious will gw tidaklah secanggih yang gw tuliskan... HAHAHAHA... Mungkin gw cuma nge-blog buat ngomel doang. Ngomel with style, begitu ;-) Karena gw yakin gw belum jadi psikopat berperilaku antisosial, yang bisa ngomel dimana saja kapan saja. Gw baru jadi neurotik aja... HAHAHA...

Karenanya, psychological gratification gw dapat bukan melalui "bisa membagikan cerita" dan "menginspirasi orang lain melalui cerita". Itu hal yang terlalu mulia buat gw ;-) Psychological gratification gw mungkin sederhana sekali: bisa meluapkan emosi yang kalau ditahan2 bisa jadi jerawat, dengan cara yang nggak antisosial2 amat ;-)

Daaaan.... sesuai teori, psychological gratification ini sifatnya seperti salah satu lagunya Cat Steven a.k.a Yusuf Islam: first cut is the deepest

Ya, irisan pertama yang paling dalam, yang paling menyakitkan, sekaligus yang paling memberikan psychological gratification buat si pengiris. Yang selanjutnya sih mekanistis aja. Kepuasan psikologis yang didapatkan tidak lagi sama. Level of psychological gratification yang sama baru akan didapatkan kalau ada irisan di "tempat baru". Atau kalau kaitannya dengan nge-blog: kalau ada hal baru yang menggairahkan untuk ditulis.

Itulah masalahnya!

Evolusi gw dalam menulis ternyata lebih cepat daripada dunia berubah... hehehe.... Sehingga, setelah nge-blog sejak tahun 2005, sekarang gw bingung: apa lagi yang bisa gw tulis ;-)? Gw semakin sering mendapati diri gw ingin nulis dan komentar, tapi kemudian ingat: kan tulisan sejenis udah pernah gw buat? Atau... mosok gw mesti mencela subyek yang sama lagi sih??? Itu kan udah pernah??? Dualima-jigo-dualima-jigo... CEPEK DEEEY...

Contohnya aja, pas pemilu kemarin gw udah pingin nulis tentang betapa nggak efektif dan efisiennya konsep Daftar Pemilih Tetap dan Kartu Pemilih itu. Jauuuuhhh... sebelum ada keluhan tentang betapa banyaknya orang yang tidak terdaftar sebagai pemilih, gw udah skeptis terhadap cara KPU ini. Gimana caranya mendata JUTAAN orang secara akurat dalam waktu singkat??? Kalau emang ada cara seperti itu, yang namanya sensus penduduk dilakukan tiap tahun lageeee.... bukan beberapa tahun ;-)

Akhirnya bener kan ;-)? Kisruh kan? Banyak yang nggak terdaftar kan ;-)? Udah gitu yang disalahin rakyat, lagi, karena nggak mendaftarkan diri. Yeeee.... pengalaman gw jadi koordinator mata kuliah Faal 1 sampai Faal 4 sih: meminta satu angkatan yang nggak sampai 100 orang untuk mendaftarkan diri siapa yang mau fotokopian bahan aja susahnya minta ampun! Nggak pernah akurat. Selalu ada aja yang nggak daftar, tapi di menit2 terakhir minta fotokopian. Naah... gimana berharap JUTAAN orang bakal rajin mendaftarkan diri untuk mengikuti sesuatu yang mereka sebenernya nggak butuh? Ini mah seperti lagunya ABBA:


Knowing me, knowing you
There is nothing we can do
Knowing me, knowing you,
We just have to face it


Iya... face it. Yang butuh pemilu itu kan negara dan pemerintah, biar pemerintahnya bisa ngaku bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah ;-) Kalau buat rakyat sih siapa aja "rajanya", rasanya sama aja ;-)

Sebenernya kan daftar-mendaftar ini nggak perlu toh? Menurut gw sih pemilu itu cuma butuh KTP dan tinta yang nggak gampang hilang kalau dicuci ;-) Asal orang punya KTP, dia bisa datang ke TPS terdekat dan ikut milih. Nggak perlu Kartu Pemilih segala.

Kalau punya KTP dua atau lebih?

Lah, kan udah ada tintanya? Biarin aja dia punya KTP dua atau lebih, tapi kelingking tangan kirinya tetap cuma satu toh? Kalau udah dicelupkan ke tinta, ya dia nggak bisa milih lagi. Gitu aja kok repot!

Kalau mau nyetak kertas suara pas, ya bikin aturan aja bahwa orang harus memilih di kelurahan tempat KTP-nya dikeluarkan. Kan di kelurahan bisa langsung diketahui jumlah pemilih tanpa harus mendata. Tinggal petugas kelurahannya aja suruh ngitung berapa jumlah KTP yang dikeluarkan oleh kelurahan tersebut, dikurangi jumlah laporan kematian dari pemilu terakhir. Toh semua pemegang KTP cuma bisa mati sekali ;-)

Gampang toh? Nggak pakai repot mendata2 segala. Dan nggak perlu nyetak2 kartu pemilih segala. Kertas mahal, bo! Lagian go green dong, save our planet! Daripada pohon ditebang untuk bikin kertas yang akan jadi Kartu Pemilih buat jutaan orang, mendingan dananya dipakai untuk beli tinta jari kualitas unggul! Jangan yang 10 menit dan "sedikit gosokan mesra" aja udah hilang kayak tinta kemarin... hehehe... Batal deh gw dapat kopi gratis karena tinta di jari udah hilang ;-)

Bagaimana mengatasi daerah pemukiman dengan densitas tinggi, dimana tidak semua orang punya KTP daerah itu tapi tinggal di situ? Daerah kos2an, misalnya. Aaah.. itu gampang! Mereka yang nggak punya KTP di situ dapat prioritas rendah sebagai pemilih. Semacam cadangan, atau ikut gelombang kedua, gitu! Jadi... pemilu gelombang I dicanangkan jam 7 - 11 pagi, misalnya. Gelombang kedua jam 11 - 12 siang. Dan bisa/nggak ikut gelombang kedua di TPS tersebut adalah berdasarkan sistem waiting list. Tergantung kesediaan sisa kertas suara. Kalau nggak sisa, ya silakan kunjungi TPS berikutnya.

Masuk akal kan, cara gw ;-)? Efektif, efisien, dan nggak butuh peralatan canggih apalagi dana besar. Emang sih, tadinya gw mau ngusulin hi-tech vote machine. Mesin yang pakai fingerprint scan untuk memilih. Pencet tombol, gak mencoblos, apalagi mencontreng ;-) Tapi... seperti cerita di film ini, mesin pemilu pun tak luput dari kekhilafan ;-) Nggak jadi deh gw mengusulkan ;-) Lagian, kalau mesti pakai komputer, ntar membuka peluang bisnis lagi dong... ada yang menang tender komputer pemilu, bukan hanya tender komputer KPU ;-) Iya kalau menang tendernya melulu karena good value for money. Kalau karena alasan lain ;-)? Dan kalau pakai komputer, terbuka kemungkinan penyalahgunaan lagi. Ntar komputernya dipakai main game ;-)

Tapi dipikir2, gw kan udah sering mencela keputusan pemerintah di blog ini ya? Mosok nyela lagi? Dan psychological gratification-nya udah gak sama, karena yang harus dicela itu lagi - itu lagi. Nggak ada perkembangan yang berarti, dan nggak ada hal baru yang bisa gw cela... hehehe...

Oleh karenanya gw jadi rada males ngebahasnya di blog ;-) Dan kalaupun akhirnya gw bahas di sini, itu lebih untuk menyampaikan suatu hal. Masih di film yang tadi, pada akhir cerita, Tom Dobbs bilang begini:

Today I was in the oval office for a preparatory meeting and I sat behind the President's desk and I had a reality check. I sat there and I went 'Wait a minute, I'm a Jester. A Jester doesn't rule the kingdom; He makes fun of the king'


Hehehe... si Tom Dobbs emang Jester, makanya dia cuma peduli pada making fun of the king. Psychological gratification-nya memang dari making fun, regardless bahannya daur ulang atau baru.

Naah... gw bukan jester! Kalau gw making fun, itu artinya gw mencela dan menuntut perubahan. Psychological gratification gw hanyalah kalau gw bisa membuat first cut over dan over again. Kalau udah cut ke sekian, itu pastinya udah nggak the deepest. Malah mungkin the shallowest. Kepuasannya nggak ada... hehehe...

Makanya, berubah dong! Give me something new to cut ;-)

Friday, April 10, 2009

Around the World in 80 Clicks

Pernah nggak mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan, pada saat merasa bahwa keciiiiilll sekali kemungkinan untuk mendapatkannya? Semacam against all odd gitu? Pernah? Rasanya gimana? Thrilled, excited, bungah, nggak terlukiskan... ya kan? Itulah yang kemarin gw rasakan. Saking senangnya, gw sampai teriak! Padahal udah jam 11 malam ;) Dan padahal juga suara gw udah keras banget walaupun nggak pakai teriak... hehehe...

Kegembiraan gw itu datang hanya karena "salah klik". Sebuah kecelakaan yang bukannya tidak membahagiakan ;-)

Bermula dari awal very long weekend kemarin. Setelah baca Wall sepupu gw yang cantik di London, dari tante gw yang nggak kalah ayu di Jakarta, tentang "jelajah maya"-nya si tante melalui satelit, gw akhirnya meng-install Google Earth. Kebetulan koneksi internet - walaupun libur - lagi okey dokey, jadi gak lama kemudian udah bisa "terbang" berkunjung. Tempat pertama yang gw kunjungi - tentunya - adalah tempat sebagian kenangan masa kecil gw tertinggal: Albany, CA. Tempat yang gw kira nggak akan gw kunjungi lagi sepanjang sisa hidup gw ;-)

Kangen gw lumayan terobati melihat foto satelit kota itu. Mungkin karena gw suka peta ya, sehingga "peta satelit" itu pun sudah cukup buat gw. Melihat nama2 jalannya, dan bentuk2 atapnya (yes, dear, peta satelitnya 3D ;-)), gw bisa membayangkan tempatnya. Gw bisa menemukan lagi rumah tempat dimana gw pernah tidur, gw bisa napak tilas dari atas jalan2 yang gw lalui (two blocks north, two blocks west untuk naik BART; one block west, two blocks south kalau mau ke kantor pos, dan four blocks east to the high school ;-)). Thrilled, gw print screen gambar2 itu, dan gw masukkan ke sebuah folder khusus di Facebook.

Tapi... ternyata setelah diubah jadi JPG, kualitas gambarnya menurun drastis. Warnanya jadi gelap banget, kayak nonton Albany dari udara saat gerhana... hehehe... Dan pas gw mau ulang buka lagi, ternyata programnya nge-hang melulu. Untung bapaknya anak2 punya solusi jitu,

"Pakai Google Maps kan juga bisa. Sama aja kok, malah nggak perlu install program segala"

OK. Jadinya gw mencoba Google Maps. Pertama agak sangsi, karena tampilannya search engine banget. Nggak flashy centil dengan gambar bumi bulat bundar kayak Google Earth. Tapi ternyata.... petanya sama juga. Lebih eye friendly malah, karena warnanya lebih segar daripada Google Earth. Dan gw dengan cepat menemukan "rumah" gw. Klik tombol Satellite, dan.... tertampillah foto satelit yang sama: atap2 rumah di Albany, dengan warna yang lebih cerah ;-)

Dan kecelakaan pun terjadi :)

Gw salah klik! Nggak sadar bahwa "si penyumpah" (baca: cursor, maksudnya ;-)) masih di sudut kiri atas, gw main klik aja. Panik ringan, gw segera klik rumah yang gw cari. Tiba2 layar monitor mati sesaat daaaaaaannnnnn.......


Huaaaahhhh.... I know that house! I spent my days in there once! Warnanya memang sempat mengecoh gw, karena dulu catnya hijau tua. Tapi gw ingat bahwa terakhir kali Bapak mengunjunginya (beberapa bulan sebelum Bapak meninggal), Bapak cerita bahwa akhirnya rumah itu ganti warna menjadi krem. Setelah sejak thn 60an warnanya selalu hijau.

I never thought I'd live to see that house again! I thought seeing it from the sky is the best thing I could have. So... imagine how thrilled I was when the actual picture was displayed on my monitor ;-)

Menyadari bahwa tiba2 ada gambar orang2an oranye di peta, gw menyadari bahwa orang2an itulah membuat rumah terlihat dari bumi. Gw geser2 orang2annya, lantas memanfaatkan tombol arah buat memutar2 pandangan si orang, dan.... I'm amazed. So close, so real.

Karena letaknya di pengkolan jalan, apalagi bangunannya tinggi karena basement-nya ada di atas tanah (yup! We called it basement, even though it is not underground), dengan mudah gw melihat bagian samping dan belakang rumah. Kamar tidur gw terletak di pojok kiri belakang rumah, dengan dua jendela: di samping dan di belakang. Betapa senangnya bisa melihat kamar gw lagi, after all these years! Bener2 melihat rumah dan kamar itu setelah gw tinggalkan, bukan hanya melihat foto2 semasa gw di sana ;-)


Sepanjang malam, sampai pagi, dan malam lagi (yaaah... terseling ikutan Pemilu sih ;-)) gw asyik bermain2 dengan Google Maps. Mengunjungi tempat2 yang pernah gw kunjungi. Semua tempat yang gw kunjungi di Amerika Serikat sejauh ini dapat dilihat dari daratan seperti ini.

United Kingdom rata2 nggak bisa sampai ke depan rumah, hanya bisa dari udara. Ende, Flores, juga :-) Walaupun gw mengenali atap hotel tempat gw menginap (yang pantes aja tiap pesawat datang dan pergi kedengaran karena sejajar dengan landasan pacu), gw gak bisa lihat dari depannya. Jangankan Ende yang nun jauh di Flores, lha wong daerah Kuningan, Jakarta, yang merupakan segitiga emas bisnis pun hanya bisa dari udara kok... hehehe... Udah gitu, ada yang ngaco nge-tag Carrefour di sebelahnya Grand Melia. Helloooooo..... kalau maksudnya Carrefour yang dulu ada di Pas-Fes, harusnya sebelah utara Jl Casablanca, bukan sebelah selatan ;-) Gimana sih? Kalau nggak bisa baca peta, jangan nge-tag deh! Bikin tersesat aja ;-)

Di New Zealand fifty-fifty. Rumah Budhe, sepupu2 gw, dan Kedubes Indonesia di 72 Glen Rd bisa di-zoom dan terlihat bangunan aslinya. Tapi... itu mungkin karena letaknya di Wellington. Sementara Bucket Tree Lodge, yang terletak agak di luar Wellington, tidak terlalu jelas. Makanya gw tunjukkan foto udaranya aja ke bapaknya anak2, untuk menunjukkan tempat telepon umum dimana gw dulu menelepon dia... hehehe...




Google Maps membuat gw merasa seperti Phileas Fogg dalam Around the World in 80 Days :) Hanya saja, gw tidak perlu 80 hari, cukup 80 klik saja ;-) Ini adalah sisi yang lebih positif dari Google Maps, karena dari sisi negatif Google Maps membuat gw merasa menjadi The Big Brother dalam 1984, like what my cousin suggested upon seeing the satellite picture of her house displayed in my Facebook album ;-)

Yaaah... double edge of technology lah itu ;-)

Seperti Phileas Fogg yang memulai perjalanannya dari London, dan kembali ke London, gw memulai perjalanan gw dari Albany, CA, dan kembali ke Albany, CA. Dan sebelum menutup Google Maps yang sudah membawa gw jalan2, sekali lagi gw memandang dari kejauhan the house I left part of my heart in ;-)



Dan samar2 terdengar senandung Tony Bennett:

I left my heart in San Francisco
High on a hill, it calls to me.
To be where little cable cars
Climb halfway to the stars!
The morning fog may chill the air
I don't care!

My love waits there in San Francisco
Above the blue and windy sea
When I come home to you, San Francisco,
Your golden sun will shine for me!

Yes, I left my heart in San Francisco eastern Bay Area ;-)

Saturday, April 04, 2009

Dazzling, Deluding Dexter

Serial Dexter gw ikuti karena usul Hans beberapa waktu lalu. Highly recommended buat pecinta Criminal Minds, menurut Hans, karena ini adalah dari sisi pikiran si pembunuh berantainya.

Ya, kisah yang Season 1-nya diangkat dari novel laris Darkly Dreaming Dexter (dan Season 2-nya cuma nyerempet sedikit pada buku kedua: Dearly Devoted Dexter), memang berkisah tentang Dexter Morgan (d/h Dexter Moser) si pembunuh berantai. Tapi tidak seperti pembunuh berantai lainnya, Dexter ini sudah berhasil "dijinakkan" oleh ayah angkatnya. Sudah dilatih untuk hanya membunuh mereka yang [menurut panduan yang mereka sepakati] "pantas mati".

Jadilah, si Dexter yang sehari2 bekerja di Crime Lab Miami Dade Police Department sebagai Blood Spray Pattern Analyst, pada malam2 tertentu akan "alih profesi" menjadi penegak hukum rimba: membantai para kriminal yang lolos dari jerat hukum.

Well, filmnya sendiri cukup menghibur. Cukup menarik juga. Dan tidak banyak bolong cerita yang benar2 mengganggu. Tapi... entah mengapa, gw tetap merasa something is not right. Intriguing. Ada yang aneh dan tidak pada tempatnya.

Mulanya, gw sekedar mengira rasa ini muncul karena film ini bisa dikatakan campursari versi remix dari tiga serial yang pernah gw ikuti: Dark Justice, CSI, dan Criminal Minds. Mungkin gw sekedar merasa gamang berada pada "sisi" yang berbeda. Karena gw melihat Lab Geeks yang selama ini jadi my hero sekarang jadi biasa2 aja. Karena kalau ada pembunuhan, para crime lab geeks tidak muncul dengan segala kecanggihan teknologinya (Dexter masih konvensional sekali cara menganalisa cipratan darah dibandingkan jagoan2 CSI itu).

Tapi enggak. Something's telling me it must be connected to psychology. Ada sesuatu yang nggak pas dari segi psikologi mengenai penokohannya.

Dan seperti dalam Cold Case (yep! Sebuah serial lain yang gw ikuti... hehehe...) gw baru "ngeh" dimana anehnya Dexter setelah membaca a fresh eye review di sini. Setelah mengesampingkan "mata psikologi" gw melalui riviu itu, gw baru sadar anehnya dimana: it's odd that Dexter can control its urge to kill.

Ya, sepanjang nonton Season 1, gw terbuai dengan alur cerita bahwa Harry Morgan (= ayah angkat Dexter) menggunakan semacam teknik Cognitive Behavioral Therapy untuk behavioral shaping. Itulah pangkal masalahnya ;) "Mata psikologi" dan "otak psikologi" gw menerima bahwa CBT dapat digunakan untuk membentuk perilaku. Itu sebabnya setiap kali gw berpikir ada yang aneh dari cerita ini, otak gw sendiri akan menentangnya. Apa anehnya Harry bisa membentuk perilaku Dexter? Tekniknya bener kok!

Dan karena gw sudah terlalu banyak nonton film tentang pembunuh berantai (apalagi gw juga emang suka baca cerita2 nyata tentang pembunuh berantai), yang semuanya dari sisi the hunter, gw lantas terlalu excited mendapatkan kesempatan melihat dari sisi the hunted. Sampai2 gw lupa untuk mempertahankan obyektivitas gw untuk tidak kelihatan sisi the hunter ;-)

Membaca riviu tertaut, dan komentar2 terhadapnya, tanpa sengaja mengembalikan gw kepada obyektivitas gw. Melihat pertanyaan2 skeptis yang diajukan para komentator, dan kesulitan si penulis riviu menjawab dari segi psikologi, membuat gw terpental kembali ke sisi the hunter. Dan melihat Dexter dari perspektif baru: perspektif seorang analis... hehehe...

Itulah yang membuat gw kemudian menyadari anehnya film ini: CBT memang bisa digunakan untuk membentuk perilaku. Teknik psikoterapi ini biasa digunakan para psikolog klinis untuk membantu klien2 yang mengalami gangguan neurosis. Tapi... - here's the good part - pembunuh berantai (dalam arti punya urge to kill, bukan cuma membunuh banyak orang karena balas dendam/merampok/menutupi jejak seperti Ryan dan Rio Martil) kan pastinya bukan neurosis? Setidaknya mereka mengalami gangguan kepribadian (dalam hal ini berupa kepribadian psikopat) bahkan sangat mungkin psikosis. Gak percaya? Baca deh di sini:

There are two types of serial killers, the psychotic and the psychopath. The psychotic serial killer is one who is legally insane, they cannot tell the difference between right and wrong, they may hear voices, see visions and sometimes may have hallucinations prior to committing the murders. The second type of serial killer is the psychopathic serial killer. The psychopathic serial killer does not suffer from hallucinations, they know the difference between right and wrong, and are in touch with reality, they just do not care what the are doing is not right. Psychopathic serial killers lack one very important trait and that is that they do not have a conscience, or that there conscience is too weak to stop the violent behavior. A psychopathic serial killer does not feel any guilt, nor are they sorry for there actions.

Lebih jauh baca juga ringkasan tentang America's Famous Serial Killers ini. Makin terlihat jelas bahwa urges to kill itu muncul melalui psikodinamika yang panjang, yang mengarah pastinya bukan pada sekedar neurosis saja. Nah... kalau demikian kasusnya, apa bisa "dikontrol" dengan CBT?

Neurosis dengan gangguan kepribadian dan psikosis itu jauhnya Jakarta - Toronto lewat Australia lho! Neurosis itu arahnya lebih ke distress, gangguan keseimbangan mental yang nggak sampai melampaui norma masyarakat. Mereka2 yang punya anger management problem adalah contohnya. Sementara gangguan kepribadian itu sudah lebih serius arahnya. Sudah mulai kehilangan kontak dengan realitas; menganggap dirinya di luar kaidah2 norma masyarakat, mengabaikan hak orang lain. The universe revolves around them, menurut mereka, makanya nggak ada rasa menyesal sama sekali kalau melakukan sesuatu yang jelas2 di luar norma; misalnya dengan "membunuh".

Sementara psikosis itu udah lost contact with reality. Gangguan ini mutlak butuh obat2an medis, nggak bisa sepenuhnya sembuh. Paling bisa remisi doang.

Nah... neurosis itu masih masuk wilayahnya psikolog klinis. Gangguan Kepribadian dan Psikosis itu sudah areanya psikiater. Dan psikiater itu bukan psikolog klinis, bahkan fakultas yang menelurkan mereka pun berbeda; psikiater adalah dokter spesialis kejiwaan lulusan FK, sementara psikolog klinis adalah lulusan Fakultas Psikologi yang kemudian menjalani spesialisasi psikologi klinis.

Jadi... kalau gangguan Dexter harusnya ditangani psikiater, bagaimana dia bisa "dikontrol" hanya dengan psikoterapi? Apalagi ini bukan psikoterapi sungguhan, hanya berbekal disiplin dan cinta ayah angkatnya - yang walaupun baik hati, tetap saja bukan ahli di bidang itu. Ini the biggest goof yang mengganggu gw ;-)

Gw langsung gugling untuk tahu lebih banyak. Nemu artikel CBT ini yang mulai dikembangkan untuk menangani kasus psikosis. Tapi seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian tersebut, this is still a long shot, walaupun sudah mulai muncul bukti2 kegunaan teknik ini. Baru bukti kegunaan lho, bukan mengatasi :)

Hehehehe... itulah sebabnya gw menjuduli posting ini sebagai Dazzling, Deluding Dexter. Selain mengikuti pola judul novel aslinya yang DDD, film ini juga sudah berhasil "menutupi kenyataan", menutupi goof-nya, dengan ceritanya yang menarik ;-)

Ya, sekali ini, walaupun ceritanya menurut gw memiliki "bolong logika", menurut gw tetap enak ditonton sebagai hiburan ;-) Setidaknya, film ini sudah mengubah lagi genre superhero di layar2 TV. Awalnya kan layar hiburan dipenuhi oleh non-human superhero semacam Superman dkk, kemudian pada era berikutnya law enforcement (atau kebalikannya: outlaws) hero semacam LAPD Blue, Miami Vice, Knight Rider, Dark Justice, dkk, dan dalam satu dekade terakhir berubah menjadi crime lab geek hero semacam CSI. Sekarang ada jenis hero baru lagi: hero yang nggak sepenuhnya hitam, dan nggak sepenuhnya putih ;-) Lumayan menghibur setelah sempat kita disuguhi super-power hero dalam Heroes ;-)

Well... now that I've found my answer, I might enjoy the story better... hehehe... Paling enggak, gw jadi tahu arahnya mau kemana kalau mau mencela ;-) Senang rasanya mendapat kejelasan tentang apa yang selama ini hanya mengganggu gw ;-)

Buat yang pingin baca buku versi Indonesianya, udah diterjemahkan juga kok. Bisa beli yang ini dan sekuelnya ini ;-) Gw udah beli juga sih... tapi belum gw baca. Masih dimonopoli Ima ;-) Tapi sekilas sih bukunya lebih asyik dan jelas maunya daripada filmnya - apalagi dibandingkan Season 2 yang lebay itu ;-)

Wednesday, April 01, 2009

Dex, Lies, and TV Program

Beberapa waktu lalu, seorang kenalan menuliskan di status FB tentang keikutsertaannya dalam audisi sebuah reality show baru. Judul reality show-nya kurang lebih "Jujur Apa Enggak Sih?". Kurang tahu juga apakah merupakan bentuk baru dari Jujur Apa Nggak-nya TPI ini, tapi mestinya beda ya, karena yang ditayangkan TPI itu kan candid camera. Artinya kontestan gak butuh audisi. So, dari judulnya, gw tengarai acara ini bakal merupakan suatu adaptasi dari The Moment of Truth yang pernah tayang di Star World

*Yang mana The Moment of Truth sendiri adalah sebuah adaptasi dari acara Kolumbia berjudul Nada Mas Quela Verdad ;-) Jadi program baru ini adalah adaptasi dari adaptasi ;-)*

Naaah... kalau tentang The Moment of Truth, gw pernah sempat ingin membahasnya tuh. Jadi mumpung sekarang ada bahan, gw bahas deh ;-)

Buat yang belum pernah nonton, The Moment of Truth ini merupakan suatu kuis berhadiah 500rb dolar. Cara memenangkannya gampang2 susah. Gampangnya: peserta cukup menjawab dengan jujur 21 pertanyaan. Susahnya: pertanyaannya sangat personal. Selain itu pertanyaannya cenderung memalukan, dan parameter benar salahnya jawaban adalah dari data tes kejujuran menggunakan poligraf beberapa waktu sebelumnya.

Yep! Sebelum maju ke depan kamera, kontestan sebelumnya mengikuti tes kejujuran. Kepadanya akan ditanyakan lebih dari 21 pertanyaan (kalau menurut tautan di Wikipedia itu ada 50 pertanyaan) sambil dimonitor perubahan fisiologisnya. Memang, fisik dan psikis itu layaknya mimi lan mintuno, alias gak terpisahkan ;-) Makanya... sepandai2nya kita membuat wajah tanpa ekspresi saat berbohong, fungsi fisiologis lainnya seperti tekanan darah, detak jantung, dll tetap akan berubah. Setiap kali ada perubahan fisiologis yang signifikan, maka itu diinterpretasikan sebagai berbohong. Jadi, kalau jawaban "Ya" disertai dengan perubahan fisiologis signifikan, maka yang dianggap jawaban jujur adalah "Tidak".

OK, jadi... dari data poligraf itu, akan dipilih 21 pertanyaan (the top 21 most embarassing questions, I presume) untuk ditanyakan lagi di depan kamera. Tiap kali, jawaban akan dicocokkan dengan jawaban dari tes poligraf yang dijadikan parameter tersebut.

Gampang2 susah, kan ;-)? Pertama, kontestan kan nggak tahu hasil tes poligrafnya. Mereka nggak tahu jawaban apa yang dianggap jujur dari tes poligraf tersebut. Kedua, perubahan fisiologis itu kan nggak melulu disebabkan oleh kebohongan. Bisa jadi karena terkejut, atau jengah, mendengar pertanyaan tersebut. Dengan demikian, walaupun kita menjawab sejujur2nya, belum tentu bisa menyelesaikan 21 pertanyaan ini.

Contohnya aja salah satu episode yang pernah gw tonton. Di salah satu pertanyaan awal, soalnya adalah: Are you a virgin? Si kontestan menjawab "Yes", dan jawaban itu dikatakan sebagai jawaban jujur. Tapiiii... di pertanyaan nomor belasan, ada pertanyaan: "Have you ever had sex with a married man?", dan ketika dijawab "No", katanya itu jawaban yang tidak jujur.

Nah lho! Kesalahan ada pada kuping siapa, coba ;-)?

Kalau menurut logika sih harusnya jawaban "No" itu adalah jawaban jujur. Soalnya in-line dengan jawaban "Yes" sebelumnya. Iya kan? Atau ada cara yang gw gak ketahui tentang bagaimana caranya bisa having sex with married man while staying a virgin at the same time ;-)?

*Hmm... kalau ada yang tahu resepnya, bagi dong ;-) A little bit too late for me now, tapi siapa tahu bisa gw jadikan saran kalau ada yang tanya ;-)*

Perkiraan gw sih "si perawan" ini pas ikut tes poligraf awal sangat jengah mendengar pertanyaan tentang aktivitas penyerbukan itu ;-). Begitu kaget dan jengahnya, sehingga walaupun bibir berkata jujur, tetap terjadi perubahan fisiologis signifikan ;-).

Naah.... mengacu pada episode ini, gw sangat takjub luar biasa pada mereka2 yang berani jadi kontestan The Moment of Truth ini. Gilaaaa.... berani mati banget, ikut kuis yang bisa bikin kehidupan pribadi mereka diobok2. Udah diobok2, jawaban jujur bisa dianggap bohong, lagi! Dan... semua itu "cuma" untuk hadiah sebesar 500rb dolar!

Iya, gw tahu 500rb dolar itu bukan duit yang sedikit. Kalau dirupiahkan bisa lebih dari 5 milyar. Gw nggak perlu banting tulang buat ngejar target nyekolahin Ima & Nara kalau menang sejumlah itu.

Tapi.... kalau dibandingkan Are You Smarter than a Fifth Grader, jumlah itu kan cuma separuhnya? Sementara di kuis yang belakangan ini kemungkinannya menang lebih besar. At least, kita lebih bisa berstrategi untuk memperbesar kemungkinan menang. Paling2 kalo kalah cuma perlu ngomong di depan kamera, "I'm not smarter than a 5th grader". Nggak perlu pulang dengan kondisi seluruh aib telah terbuka. Ya kan?

Mending juga kalau yang terbuka cuma aib sendiri. Lha, kalau aib yang menyangkut orang lain juga, gimana? Wong pertanyannya sering nyinggung2 orang lain, seperti: "Have you ever cheated on your best friend?"

Gw jadi mikir2... orang seperti apa yang mau ikutan kuis "Bukalah Aibmu" seperti ini. Apakah orang2 desperate yang menghalalkan segala cara asal bisa tampil di TV? Atau orang2 butuh tantangan mental sedemikian rupa? Kalau memang butuh tantangan mental, apa bedanya dengan kontestan2 Fear Factor?

Terus terang... sampai sekarang gw masih belum bisa memahami kenapa mereka bisa ikutan kuis ini. Paling2, gw cuma bisa mengaitkannya dengan sebuah percakapan dalam salah satu episode di serial TV Dexter ini:

Harry: "It's important that you seem normal"
Dexter: "Even though I'm not?"
Harry: "Because you are not"


Hehehe... seperti gw tulis di Facebook, we might not be a serial killer like Dex, but everyone of us is abnormal to some degree.... and desperately, continuously trying to appear normal - just to please the society ;-) Dan... yaaah... seperti Dexter, dalam upaya "mencoba normal" tuh kita sering kelihatan "aneh" ;-) Kita kira, kita berlaku normal. Padahal, tetap aja kelihatan kita aneh... hehehe...

*Yeah, yeah, this is a confession of an abnormal, misfit, individual ;-) Perhaps that's why I love Dexter, kali yaaa... karena sama2 aneh ;-)*

Tapi ya sudahlah ;-) Terserah2 aja kalau ada yang berminat ikutan program "telanjang virtual" seperti ini. Meskipun kalau boleh usul, sebaiknya program "Jujur Apa Enggak" ini mengundang bintang tamu aja: para calon anggota legislatif ;-) Sebagai salah satu lahan menguji kejujuran caleg. Kan udah ada acara yang menguji analytical and problem solving ability caleg, yaitu "Kontrak Politik" yang miriiiip dengan posting tantangan gw ini ;-)

*Jangan2 KP itu adaptasi dari tulisan gw juga? HAHAHAHAHA.... Jawaban terhadap tantangan gw ;-)*

Gimana? TV Swasta yang mau menayangkan acara baru ini mau gak ngundang caleg ;-)? Mumpung baru mau Pemilu tahap I nih. Masih ada tahap berikutnya ;-)

-------

Credit Title: karena lagi ngomongin adaptasi, judul tulisannya juga berupa adaptasi. Adaptasi dari film apa, hayoooo ;-)?