Wednesday, April 01, 2009

Dex, Lies, and TV Program

Beberapa waktu lalu, seorang kenalan menuliskan di status FB tentang keikutsertaannya dalam audisi sebuah reality show baru. Judul reality show-nya kurang lebih "Jujur Apa Enggak Sih?". Kurang tahu juga apakah merupakan bentuk baru dari Jujur Apa Nggak-nya TPI ini, tapi mestinya beda ya, karena yang ditayangkan TPI itu kan candid camera. Artinya kontestan gak butuh audisi. So, dari judulnya, gw tengarai acara ini bakal merupakan suatu adaptasi dari The Moment of Truth yang pernah tayang di Star World

*Yang mana The Moment of Truth sendiri adalah sebuah adaptasi dari acara Kolumbia berjudul Nada Mas Quela Verdad ;-) Jadi program baru ini adalah adaptasi dari adaptasi ;-)*

Naaah... kalau tentang The Moment of Truth, gw pernah sempat ingin membahasnya tuh. Jadi mumpung sekarang ada bahan, gw bahas deh ;-)

Buat yang belum pernah nonton, The Moment of Truth ini merupakan suatu kuis berhadiah 500rb dolar. Cara memenangkannya gampang2 susah. Gampangnya: peserta cukup menjawab dengan jujur 21 pertanyaan. Susahnya: pertanyaannya sangat personal. Selain itu pertanyaannya cenderung memalukan, dan parameter benar salahnya jawaban adalah dari data tes kejujuran menggunakan poligraf beberapa waktu sebelumnya.

Yep! Sebelum maju ke depan kamera, kontestan sebelumnya mengikuti tes kejujuran. Kepadanya akan ditanyakan lebih dari 21 pertanyaan (kalau menurut tautan di Wikipedia itu ada 50 pertanyaan) sambil dimonitor perubahan fisiologisnya. Memang, fisik dan psikis itu layaknya mimi lan mintuno, alias gak terpisahkan ;-) Makanya... sepandai2nya kita membuat wajah tanpa ekspresi saat berbohong, fungsi fisiologis lainnya seperti tekanan darah, detak jantung, dll tetap akan berubah. Setiap kali ada perubahan fisiologis yang signifikan, maka itu diinterpretasikan sebagai berbohong. Jadi, kalau jawaban "Ya" disertai dengan perubahan fisiologis signifikan, maka yang dianggap jawaban jujur adalah "Tidak".

OK, jadi... dari data poligraf itu, akan dipilih 21 pertanyaan (the top 21 most embarassing questions, I presume) untuk ditanyakan lagi di depan kamera. Tiap kali, jawaban akan dicocokkan dengan jawaban dari tes poligraf yang dijadikan parameter tersebut.

Gampang2 susah, kan ;-)? Pertama, kontestan kan nggak tahu hasil tes poligrafnya. Mereka nggak tahu jawaban apa yang dianggap jujur dari tes poligraf tersebut. Kedua, perubahan fisiologis itu kan nggak melulu disebabkan oleh kebohongan. Bisa jadi karena terkejut, atau jengah, mendengar pertanyaan tersebut. Dengan demikian, walaupun kita menjawab sejujur2nya, belum tentu bisa menyelesaikan 21 pertanyaan ini.

Contohnya aja salah satu episode yang pernah gw tonton. Di salah satu pertanyaan awal, soalnya adalah: Are you a virgin? Si kontestan menjawab "Yes", dan jawaban itu dikatakan sebagai jawaban jujur. Tapiiii... di pertanyaan nomor belasan, ada pertanyaan: "Have you ever had sex with a married man?", dan ketika dijawab "No", katanya itu jawaban yang tidak jujur.

Nah lho! Kesalahan ada pada kuping siapa, coba ;-)?

Kalau menurut logika sih harusnya jawaban "No" itu adalah jawaban jujur. Soalnya in-line dengan jawaban "Yes" sebelumnya. Iya kan? Atau ada cara yang gw gak ketahui tentang bagaimana caranya bisa having sex with married man while staying a virgin at the same time ;-)?

*Hmm... kalau ada yang tahu resepnya, bagi dong ;-) A little bit too late for me now, tapi siapa tahu bisa gw jadikan saran kalau ada yang tanya ;-)*

Perkiraan gw sih "si perawan" ini pas ikut tes poligraf awal sangat jengah mendengar pertanyaan tentang aktivitas penyerbukan itu ;-). Begitu kaget dan jengahnya, sehingga walaupun bibir berkata jujur, tetap terjadi perubahan fisiologis signifikan ;-).

Naah.... mengacu pada episode ini, gw sangat takjub luar biasa pada mereka2 yang berani jadi kontestan The Moment of Truth ini. Gilaaaa.... berani mati banget, ikut kuis yang bisa bikin kehidupan pribadi mereka diobok2. Udah diobok2, jawaban jujur bisa dianggap bohong, lagi! Dan... semua itu "cuma" untuk hadiah sebesar 500rb dolar!

Iya, gw tahu 500rb dolar itu bukan duit yang sedikit. Kalau dirupiahkan bisa lebih dari 5 milyar. Gw nggak perlu banting tulang buat ngejar target nyekolahin Ima & Nara kalau menang sejumlah itu.

Tapi.... kalau dibandingkan Are You Smarter than a Fifth Grader, jumlah itu kan cuma separuhnya? Sementara di kuis yang belakangan ini kemungkinannya menang lebih besar. At least, kita lebih bisa berstrategi untuk memperbesar kemungkinan menang. Paling2 kalo kalah cuma perlu ngomong di depan kamera, "I'm not smarter than a 5th grader". Nggak perlu pulang dengan kondisi seluruh aib telah terbuka. Ya kan?

Mending juga kalau yang terbuka cuma aib sendiri. Lha, kalau aib yang menyangkut orang lain juga, gimana? Wong pertanyannya sering nyinggung2 orang lain, seperti: "Have you ever cheated on your best friend?"

Gw jadi mikir2... orang seperti apa yang mau ikutan kuis "Bukalah Aibmu" seperti ini. Apakah orang2 desperate yang menghalalkan segala cara asal bisa tampil di TV? Atau orang2 butuh tantangan mental sedemikian rupa? Kalau memang butuh tantangan mental, apa bedanya dengan kontestan2 Fear Factor?

Terus terang... sampai sekarang gw masih belum bisa memahami kenapa mereka bisa ikutan kuis ini. Paling2, gw cuma bisa mengaitkannya dengan sebuah percakapan dalam salah satu episode di serial TV Dexter ini:

Harry: "It's important that you seem normal"
Dexter: "Even though I'm not?"
Harry: "Because you are not"


Hehehe... seperti gw tulis di Facebook, we might not be a serial killer like Dex, but everyone of us is abnormal to some degree.... and desperately, continuously trying to appear normal - just to please the society ;-) Dan... yaaah... seperti Dexter, dalam upaya "mencoba normal" tuh kita sering kelihatan "aneh" ;-) Kita kira, kita berlaku normal. Padahal, tetap aja kelihatan kita aneh... hehehe...

*Yeah, yeah, this is a confession of an abnormal, misfit, individual ;-) Perhaps that's why I love Dexter, kali yaaa... karena sama2 aneh ;-)*

Tapi ya sudahlah ;-) Terserah2 aja kalau ada yang berminat ikutan program "telanjang virtual" seperti ini. Meskipun kalau boleh usul, sebaiknya program "Jujur Apa Enggak" ini mengundang bintang tamu aja: para calon anggota legislatif ;-) Sebagai salah satu lahan menguji kejujuran caleg. Kan udah ada acara yang menguji analytical and problem solving ability caleg, yaitu "Kontrak Politik" yang miriiiip dengan posting tantangan gw ini ;-)

*Jangan2 KP itu adaptasi dari tulisan gw juga? HAHAHAHAHA.... Jawaban terhadap tantangan gw ;-)*

Gimana? TV Swasta yang mau menayangkan acara baru ini mau gak ngundang caleg ;-)? Mumpung baru mau Pemilu tahap I nih. Masih ada tahap berikutnya ;-)

-------

Credit Title: karena lagi ngomongin adaptasi, judul tulisannya juga berupa adaptasi. Adaptasi dari film apa, hayoooo ;-)?