Showing posts with label Aufklarung. Show all posts
Showing posts with label Aufklarung. Show all posts

Sunday, May 27, 2018

Merajut “Lima” dalam Sonata

Gemar blogging dan suka menulis tentang film yang saya tonton. Mungkin kedua hal itu yang membuat saya beruntung ditawari menonton preview film “Lima”. Tentu dengan harapan saya kemudian menuliskan sebuah telaah setelahnya - yang dapat memantapkan calon penonton melangkahkan kaki ke cinema.

Tentu saya tersanjung diundang ke acara ini. Kan pengen juga lho ... macam blogger2 kondang yang wira-wiri di acara preview film. ;-) Namun ...  jujur saja saya berangkat ke acara ini dengan separuh hati. Bagaimana jika saya tidak suka filmnya?  Saya itu nggak bisa berbohong; nggak bisa sugar-coat tulisan saya. Kalau nggak suka, ya silet pasti beraksi.

Beberapa hal yang membuat saya sangsi adalah tema, sutradara, dan fakta bahwa ini film nasional. Tema Pancasila? Deuuuh .... saya terbayang jam2 membosankan ikut Penataran P4 dulu. Pasti membosankan! Dan klise! Lima sutradara dalam 1 film? Halaaah ... wong satu sutradara aja suka cemang-cemong kok filmnya! Apalagi berlima. Pasti nggak kompak. Nggak bakal mulus! Menyatukan kerja kreatif beberapa orang itu banyakan gagalnya daripada berhasilnya. Dan fakta bahwa ini adalah film Indonesia? Sejujurnya ... film Indonesia yang benar-benar memuaskan saya bisa dihitung dengan jari. Bahkan film macam “Laskar Pelangi” dan “?” saja saya cincang habis :-)

Dan siapa itu Lola Amaria? :-) Sebagai bintang, saya mengakui dia cukup ciamik. Sebagai sutradara? Hmmm ... belum pernah nonton hasil karyanya. Atau pernah, tapi nggak berkesan.

Sampai di lokasi acara, saya tambah senewen karena pembukaannya seremonial banget! Ada beberapa penjelasan tentang merchandise/promotional activity terkait yang membuat saya hampir menguap bosan. Salah satunya adalah Android App yang menurut saya ribet dan kurang user-friendly. Saya benar2 bersyukur ketika AKHIRNYA film dimulai. FINALLY! I can finish this as quick as possible and go home!

Tetapi ... pandangan saya berubah drastis dalam 30 menit pertama film ini.

Tentang filmnya saya tidak akan mengulas detil sinopsisnya. Nggak mau kasih spoiler ;-) Kan belum diputar untuk umum ;-) Namun saya bisa bilang bahwa ketiga pendapat awal saya yang kurang positif itu terpatahkan.

Meskipun temanya terdengar boring dan klise, Pancasila, ternyata penyampaiannya indah. Dan mulus! Tidak seperti Penataran P4 yang bikin ngantuk, nilai2 Pancasila dirajut secara membumi dan holistik. Tidak menjadi butir2 yang terpisah2.

Film dimulai dengan bahasan yang jelas2 terkait dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentang keluarga yang anak2nya berbeda agama. Konflik muncul ketika ibu mereka meninggal, karena kita dipaksa untuk memilih antara mengikuti ajaran yang baku tentang menjaga kesucian jenazah dan sakralnya hubungan ibu-anak. Jika si anak yang beragama berbeda ingin ikut membaringkan ibunya di liang kubur, akankah kesucian jenazah si ibu terjaga? Apakah perbedaan agama ini lebih besar daripada hubungan darah ibu dan anak? 

Ini adalah konflik yang disajikan dengan mulus dan tidak klise, karena bicara lebih dari sekedar atribut keagamaan. Lebih dari sekedar "si X Muslim, si Y bukan Muslim", tetapi bicara tentang suatu kondisi dimana "jika si Y yang bukan Muslim merupakan anak dari si X yang Muslim, sampai di manakah batas yang tepat antara habluminallah dan habluminannas harus dipertahankan?". Menjaga kesucian jenazah dengan tidak tersentuh yang "tidak bersih" adalah habluminallah, karena kita semua harus kembali kepadaNya dalam keadaan sesuci saat kita lahir. Tetapi memberikan closure pada si anak yang ingin mengantar ibunya ke peristirahatan terakhir adalah habluminannas. Apakah kita harus menafikan hubungan baik dengan sesama (dalam hal ini memutuskan ikatan sakral ibu dan anak yang dimulai sejak si anak berada dalam kandungannya) hanya karena agamanya? Pertanyaan yang lebih dalam lagi: apakah agama si anak membuatnya sedemikian kotor sehingga tidak boleh menyentuh jazad ibunya? 

Buat saya pribadi, Allah SWT yang Maha Rahim itu begitu menyayangi umatnya. Ia terlalu agung untuk dibatasi dengan pemahaman manusia, sehingga saya pun tidak yakin Allah SWT akan memutuskan bahwa si anak "terlalu kotor" untuk ibunya. Dan saya senang bahwa fragmen ini diakhiri dengan cara yang menurut saya tetap menunjukkan secara tidak langsung bahwa semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. 

Adegan pemakaman ibu menjadi akhir dari bagian tentang sila pertama. Sampai di sini saya masih berpikir bahwa logikanya kemudian kita akan masuk ke sila kedua, lalu ketiga, keempat, dan kelima. Karena toh tiap sutradara kebagian menggarap satu sila ... jadi apa yang bisa mereka lakukan selain membuat film2 pendek per sila yang kemudian “dipaksa” nyambung?

Namun di sini saya kembali terkesima! Karena ternyata tidak seserampangan itu kerja mereka. 

Betul, awalnya kita diberi sajian sila kedua dengan adegan perundungan. Namun adegan segera bergeser ke sila 3 dan sila 5, balik lagi ke sila ke 2, lalu 3, lalu 5 ... dengan menyajikan konflik terkait. Baruuuu ... belakangan sila ke-4 menutup sebagai gong dan penyelesai konflik. Ini yang membuat saya kagum: mereka berlima benar2 bekerja sama!!! Bukan membuat film sendiri2 dan menjahitnya bak selimut perca!

Konflik yang dimunculkan semua nyata, ada di sekitar kita, dan perlu kita selesaikan segera. Sudah terlalu lama kita bagaikan memendam api dalam sekam dengan bersikap seolah konflik-konflik ini tidak pernah ada. IMHO, cukup sudah pengingkaran kita selama ini. Ini waktunya kita menerima kenyataan bahwa konflik ini ada ... dan menghadapinya. Film ini, menurut saya, dengan halus sudah memberikan alternatif cara menghadapi konflik dengan empatik.

Di titik inilah kebosanan dan keraguan saya sirna sepenuhnya. Film ini benar2 layak ditonton. Sebuah film yang “merajut” lima sila sebagai sesuatu yang utuh dan tidak terpecah2. Karena ... bukankah itu sebenarnya makna Pancasila dalam hidup kita? Sebagai sebuah ideologi yang secara organik muncul di tiap aspek kehidupan tanpa perlu dipilah2? 

To be honest, saya ingin mengajak anak saya yang berusia 10 tahun untuk menontonnya. Untuk menjelaskan padanya tentang kenyataan hidup, dan menempanya menjadi seseorang yang berpikiran terbuka meski tetap teguh beriman pada agamanya. Namun berhubung saya psikolog, saya manut ( = menurut) pada Jean Piaget untuk memberikan rating "13 Tahun ke Atas" untuk film ini. Mengapa "13 Tahun ke Atas"? Sebab di usia ini anak-anak sudah masuk tahap Formal Operational, dimana kemampuan kognitif mereka sudah dapat digunakan untuk memahami hal yang abstrak dan melakukan analisa yang kompleks. 

***
Selain kepiawaian dan kerjasama kelima sutradaranya, ada satu hal lagi yang membuat saya terkesan dengan film ini. Yaitu musiknya :-) Saya mengenali musik2 yang digunakan, dan ... tiga di antaranya adalah favorit saya! Membuat saya curiga: jangan2 Mbak Lola dkk bikin film ini untuk saya

(Maaf, kalimat terakhir ini waham kebesaran saya. Abaikan saja. LOL)

Fragmen tentang sila pertama diakhiri cukup manis dengan "Piano Sonata no 8 in C Minor, Opus 13, Part 2". Yep ... Pathetique Sonata: Adagio Cantabile. Ini adalah bagian favorit dari salah satu sonata Ludwig van Beethoven kesukaan saya.

Saya sudah cukup puas sebenarnya dengan sonata ini. Nah ... bayangkan betapa takjubnya saya ketika di bagian lain saya mendengar "Piano Sonata no 14 in C-Sharp Minor Opus 27 No 2 Movement 3: “Moonlight: Presto Agitato”. Two of my favourite Beethoven’s sonatas in one movie! This is awesome!

Selesai? Belum dong ;-)

Sebab ada satu lagi musik kesukaan saya yang muncul, bahkan seolah menjadi theme songnya. “Nocturne Opus  9 No 2 in E-Flat Major” dari Frédéric Chopin

Di sinilah saya bersujah pada mereka yang membuat film ini. Betul2 kolaborasi yang apik! Mereka benar2 “merajut” kelima sila dalam “sonata” yang indah.

Sonata, dalam musik, adalah komposisi yang dimainkan tanpa nyanyian. Nada yang menyatu dalam jiwa, karena didengarkan dan diresapi - tanpa dinyanyikan. Sementara nocturne, seperti gubahan Chopin itu, adalah komposisi yang diinspirasi oleh malam. Nocturne umumnya digunakan dalam matins, yaitu doa malam dalam agama Katholik.

Saya tidak tahu pasti apakah para penggagas film ini memasukkan unsur sonata dan nocturne karena alasan ini, tetapi itulah makna film ini bagi saya: sebuah karya yang merajut kelima sila Pancasila menjadi sesuatu yang perlu kita resapi dan menginspirasi kita. Menjadi doa kita bagi keutuhan NKRI.

Saya mengakhiri tulisan ini dengan ajakan tulus: yuk, nonton film yang mulai diputar 1 Juni 2018, bertepatan dengan hari lahir Pancasila, ini! 


Wednesday, December 28, 2016

"Passengers": When Joko Tarub Meets the Sleeping Beauty

Hari ini impulsif nonton "Passengers" karena anak lanang nan Trekkie ini mengajak. Ibunya pun tak hendak menolak karena yang main Jennifer Lawrence ;-) Jadilah kami menonton berdua saja, karena si Kakak menolak ikutan. Not her favourite genre, and she was convinced it wasn't a good movie ;-)

Terus terang nggak berharap banyak juga sih dari film ini. Maklum ... setelah nonton "Gravity" dan seluruh franchise Star Trek maupun Star Wars, benchmark SciFi gw agak tinggi. LOL. Syukurlah filmnya ternyata tidak mengecewakan. On the contrary ... malah cukup berkesan. Bukan dari segi scifi-nya atau dari segi pengambilan gambarnya, tetapi dari beberapa sudut cerita yang mengingatkan pada film dan kisah memorable lainnya.

Kalau ditanya apa asosiasi bebas gw terhadap film ini, jawabannya ya seperti di judul itu: when Joko Tarub meets the Sleeping Beauty.  "Membangunkan si Putri Tidur tanpa ciuman sang pangeran, tetapi dengan menghilangkan kesempatan kembali ke kahyangan". Bukan cinta sejati, tetapi dengan mengakomodasi witing tresna jalaran saka kulina.

Tetapi bukan itu saja segi kisah yang berkesan. Selain kedua kisah yang sudah gw akrabi sejak bocah sampai punya 2 bocah yang sudah tertarik pada kisah yang lebih advanced, film ini juga mengingatkan gw pada "Cast Away" dan "Titanic", dua iconic movies yang "kena" banget di hati ;-)

-- Spoiler Alert! --

Seperti dapat dibaca di sinopsisnya, film ini bertutur tentang dua penumpang pesawat ke koloni baru yang jarak tempuhnya 120 tahun. Malangnya cryogenic James Preston mengalami malfungsi saat perjalanan baru 1/4 saja. Jadilah ia terbangun 90 tahun lebih cepat ... dan mati gaya karena hidup sendirian di pesawat besar ini. Temannya cuma satu: Android penjaga bar yang - meskipun bisa jadi teman bercakap - tetapi bukan manusia.

See where's the "Cast Away" reference come from? ;-) Wilsoooooonnnnn ....!

Ketika nyaris bunuh diri karena frustrasi sendirian di pesawat, dia melihat Neng Aurora Lane di salah satu cryogenic. Neng cantik yang berbagi nama dengan Putri Tidur ini ternyata penulis yang very lively, sehingga James pun jatuh hati kepadanya.

Mulailah muncul keinginan untuk "membangunkan" the sleeping beauty. Buat jadi teman.. secara masih 89 tahun lagi sampai di tujuan. Keinginan manusiawi ... tapi juga melanggar hak azasi! Karena membangunkan si Putri Tidur tidak akan memberinya happily ever after. On the contrary, it would doom her into serving a lifetime sentence without parole! Lha gimana gak hukuman seumur hidup ... wong gak mungkin keluar dari pesawat itu sampai 89 tahun lagi. Ngirim pesan ke bumi aja 19 tahun baru sampai ... dan jawabannya mesti nunggu 55 tahun.

Tetapi mungkin Mas James ini pernah dengar legenda Joko Tarub. Makanya setelah bolak-balik berpikir positif/negatifnya, dia mengambil jalan Mas Joko: nggak usah bilang kalau dia yang bikin gara2, setidaknya sampai si Neng jatuh cinta sama dia :D

So ... bak Joko Tarub yang menyembunyikan selendang Dewi Nawangwulan, kemudian play hero memberinya tempat tinggal, Joko Tarub versi Bule ini pun menyabotase cryogenic Neng Aurora. Then he plays hero sebagai satu2nya teman senasib sepenanggungan.

Dan untuk beberapa waktu hidupnya pun menyenangkan. Dapat teman cantik jelita yang akhirnya mau jadi pacarnya. Lebih untung lagi: Aurora ini penumpang gold class, jadi bisa beli makan enak2 dari vending machine. Berakhirlah derita James yang setahun ini makan makanan kelas 3 melulu.

See why does this movie remind me of "Titanic" now? ;-)

Tetapi ... seperti yang Dewi Nawangwulan yang akhirnya tahu suaminya menyembunyikan selendangnya, Aurora pun akhirnya tahu bahwa James yang menyabotase cryogenicnya. Marahlah dia.

Sampai di sini muncul plot twist yang akhirnya membuat nasib James tak seburuk Joko Tarub. Rada2 mirip sama "Titanic" juga ... termasuk muncul kata2, "You die, I die!" yang sebelas dua belas dengan "You jump, I jump"

Khas Hollywood ya ... predictable banget. Tapi tetap tidak mengurangi kesan film ini.

-- Spoiler Ends --

Di akhir film, gw masih merenungkan apa yang membuat film ini berkesan and exceeds my expectation. Tadinya gw berpikir karena kisahnya mirip dengan kisah2 yang gw kenal serta beberapa film yang berkesan saja. Tapi kebetulan malam ini gw nonton "Enchanted", yang formulanya mirip namun tidak terlalu berkesan buat gw. It makes me rethink what is interesting in "Passengers".

Dan kemudian gw sampai pada kesimpulan: yang membuatnya menarik adalah the dawn of awareness of a specific emotional conflict. Berpuluh tahun gw menerima legenda Joko Tarub as is, tanpa menyadari bahwa keputusan Joko Tarub untuk mencuri selendang Dewi Nawangwulan itu mungkin menimbulkan konflik internal baginya. Bahwa keputusan itu bukan semudah ambil-sembunyikan-kawini :-)

Singkatnya gw baru menyadari bahwa hidup Joko Tarub mungkin bukan all unicorn and rainbow mentang2 dapat istri bidadari. Sebaliknya, hidupnya mungkin penuh konflik emosional ... approach-avoidance conflict antara mencuri selendang dan mendapatkan kasih sang Dewi, approach-approach conflict antara ingin jujur dengan ingin melindungi sang terkasih dari luka hati, dan avoidance-avoidance conflict antara terus berbohong dan kehilangan pujaan hati ...

Wednesday, August 21, 2013

Kotak-kotak Pikiran

Jadi, MUI membuat pernyataan kontroversial lagi dengan mengatakan Tes Keperawanan Perlu Masuk UU. Serentak dunia maya bergejolak. Semua mengecam. Semua mengatakan betapa tak masuk akalnya ini. Dan seorang teman men-tagged gw pada sebuah artikel untuk mempertanyakan apakah berita ini benar.

Pertanyaan itu berbuntut panjang...

Karena seperti biasa gw punya pikiran yang [mungkin buat banyak orang] "nyeleneh". Anti-kemapanan ;-) Suka bikin rumit hal yang sepele ;-)

Sebab meski gw tak setuju dengan kebijakan Tes Keperawanan ini - karena toh perempuan tidak belajar dengan menggunakan selaput dara - namun... gw masih bisa menerima jika sekolah memberikan sanksi pada murid yang kedapatan hamil / menghamili rekannya.

I was grilled by the society for this... which made me excited ;-)

Dasar pemikiran gw sederhana saja. Jika seorang anak usia sekolah kedapatan hamil / menghamili, maka satu hal yang pasti: anak itu (atau sepasang anak itu) tidak dapat mengamalkan apa yang dipelajarinya di sekolah dengan baik.

Kejadian ini hanya mungkin terjadi jika:

  1. Sepasang anak ini melakukan hubungan seks tanpa membekali diri dengan pemahaman yang memadai. Which means ignorance, I must say, because information is EVERYWHERE. You just need to google. Or read your Science textbook at school about reproduction.
  2. Mereka berdua abai terhadap tanggung jawab. Di kepala mereka hanya ada kenikmatan. To tell you the truth, buying condoms in this republic is easier than finding a paddy field. Serius! Minimarket seperti Indomaret atau Alfamart ada di tiap tikungan. Kadang di satu jalan mereka dempet-dempetan. Circle K dan 7-Eleven juga banyak. Dan tiap-tiap dari mereka menjual kondom secara bebas. Dengan harga terjangkau. Kalau nggak mampu beli Durex atau merek import lainnya, beli aja merek Sutra ;-) Jadi... kalau mereka nggak pakai kondom, itu bukan karena nggak bisa. Karena mereka nggak mau!! Karena kalau pakai kondom gesekan yang terjadi kurang natural, berasa plastiknya! ;-) So, itu membuktikan bahwa mereka melupakan tanggung jawab toh?
Itu alasan terjadinya kehamilan remaja. Mereka hamil / menghamili karena "suka sama suka". BULLSHIT! Secara usia mental, berapa banyak bocah umur 16 - 18 tahun itu yang siap punya bayi? Yang berencana punya bayi? Kalaupun ada, apakah itu benar-benar karena ingin memiliki keturunan, atau sekedar emosional sesaat akibat kasmaran? Wong menurut teori Erikson tentang perkembangan psikososial, bocah-bocah ini masih di transisi antara menentukan identitas dan membentuk hubungan dekat dengan lawan jenis kok. 

Nah, dengan alasan itu, menurut gw sudah pantas dan selayaknya jika mereka diberi sanksi. Termasuk jika sanksi itu adalah mengeluarkan mereka dari sekolah.

Hmm... really? Begitu mungkin sebagian besar dari masyarakat kita bertanya.

Perlukah mereka diberi sanksi? Bukankah sudah cukup berat menjadi seorang remaja hamil untuk meneruskan sekolah? Bayangkan semua rasa terhina itu, bagaimana dia tidak dapat mengikuti pelajaran olahraga karena perut yang membesar... Perlukah masa depan mereka diputus dengan menghentikan mereka dari sekolah? Padahal mereka tidak merugikan orang lain. If my friend is pregnant, I'm surely not inspired to fall pregnant either! 

Begitu kurang lebih argumen balik yang gw dapat. Argumen yang bagus. Tidak salah. Hanya... menurut gw... kurang menyeluruh ;-)

Begini dasar pikiran gw: 
  1. Betul. Adalah sangat berat bagi seorang remaja hamil untuk menyelesaikan sekolahnya. Sama beratnya dengan pecandu zat terlarang untuk menyelesaikan sekolahnya. Bayangkan... mereka dijauhi semua orang karena dianggap junkies. Mereka harus bertarung dengan kesadaran yang menurun. Bertarung dengan konsentrasi yang selalu hilang. Bertarung dengan rasa sakit fisik ketika sakaw. Dengan demikian... apakah sebaiknya penggunaan zat terlarang dibiarkan saja? Nggak perlu diberi sanksi? You tell me ... ;-)
  2. Betul. Seorang remaja hamil tidak merugikan orang lain. Seorang pengguna zat terlarang pun tidak merugikan siapa pun selain dirinya sendiri. Setidaknya... sampai dia kehabisan uang untuk membeli obat terlarang, sehingga dia kemudian mencuri uang keluarga atau melakukan tindak kriminal lainnya. Dan yakinkah Anda hal yang setara tidak akan terjadi pada remaja hamil juga? Kalau dia lulus pas-pasan, nggak bisa cari duit cukup, lantas nggak ngemis kiri-kanan, membuat orang tuanya harus membiayai anaknya, BAHKAN melakukan tindak kejahatan jika perlu? You tell me again...  ;-) 
  3. Betul. If my friend get pregnant, I'm not inspired to fall pregnant either. Tapi kan sudah gw bilang di atas bahwa kehamilan remaja kecil urusannya dengan "inspirasi"? ;-) Dan... bagaimana jika menjadi inspirasi adalah "hidupmu tidak akan berubah meski kamu hamil"? Sehingga mereka terinspirasi untuk memuaskan hasrat tanpa memikirkan birth control? :-) Are you sure it will not happen? 
Dan satu lagi hal yang membuat gw merasa argumen balik ini kurang menyeluruh: seluruh argumen ini dilandaskan HANYA kepada sisi seorang remaja putri yang hamil. Padahal, argumen awal gw selalu menyebut "hamil / menghamili", yang berarti mencakup sanksi pada si remaja putra ;-) Bukan hanya makhluk naif yang membiarkan dirinya dibuahi, tapi juga makhluk tolol yang menolak pakai kondom ;-)

Nah! Itu! Bayangkan... APA yang terjadi pada si remaja putra ini jika tidak kita beri sanksi? Pelajaran apa yang didapatnya? Bahwa it's OK to impregnate your girlfriend? Bagaimana jika ini menginspirasi mereka untuk MENGULANGI tindakannya. Since it's OK, why don't we do it again? Pacar pertama hamil, mari kita cari pacar berikutnya untuk dihamili? 

Itu baru inspirasi pada si pelaku. Bayangkan jika inspirasi ini terjadi pelajar-pelajar putra lainnya. Berapa banyak remaja putri yang akan hamil? Berapa banyak orang tua yang harus membiayai cucu sebelum waktunya?

Trust me... Sex Education might remind them that intercourse without condom could result in pregnancy. But... if they have seen that it's OK to impregnate / get pregnant, this knowledge will not trigger them to wear condom ;-)

***

So, tulisan ini gw mulai dengan artikel mengenai pernyataan tidak populernya MUI. Tapi sepanjang tulisan gw malah ngomongin hal lain: kehamilan remaja. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah pada perlunya kita think out of the box. Berpikir di luar batas. Mendobrak batas-batas pikiran kita sendiri untuk mendapatkan bird eye's view. Pandangan dari atas yang menyeluruh. Pandangan holistik.

Masyarakat Indonesia mencerca MUI yang berpikirnya cupet. Cuma memikirkan seputar selangkangan. Kita menganggap diri kita lebih baik, karena bisa melihat apa yang tidak dilihat MUI.

Tapi benarkah kita sudah melihat secara menyeluruh? Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya terjebak di kotak pikiran yang lebih besar? Kita merasa sudah bebas dari berpikir sebatas selangkangan, tetapi ternyata kita masih belum terbebas dari sebatas simpati pada perempuan atau sebatas melihat aktivitas seksual sebagai hak pribadi? :-)

Ironisnya, gw mesti mengatakan bahwa banyak masyarakat kita yang sesungguhnya masih terjebak pada kotak yang lebih besar. Kotak bernama solidaritas kepada perempuan. Kotak bernama solidaritas hak azasi. Kotak yang membatasi kita melihat bagaimana perempuan jika dikaitkan dengan gender lainnya. Yang membatasi kita melihat bahwa hak azasi pun dibatasi oleh hak azasi lainnya ;-)

Dan gw pun menjadi cemas.... dimanakah batas pandangan gw? Masihkah gw terjebak di sebuah kotak... meskipun kotak itu sudah lebih besar?

Monday, May 06, 2013

Borders

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, tepatnya 11 November 2011, gw melawan gravitasi. Defying Gravity. Seperti dikatakan di lagu dari musikal Wicked ini, gw merasa "...through accepting limits 'cause someone says they're so" dan "...trust my instinct, close my eyes and leap"

Ya. Gw memutuskan keluar dari comfort zone. Alasan resmi yang gw sampaikan adalah karena gw merasa comfort zone ini sudah seperti negeri Inggris :-) Gw merasa seperti Pangeran Charles, yang sampai nyaris punya cucu masih bergelar Prince of Wales. Jaman sudah berganti, istri sudah ganti, mantan istri sudah mangkat... tapi tetap saja posisinya nggak berubah. Bukan semata2 salah sang pangeran; dia hanya kurang beruntung. The right heir to the wrong throne? ;-)

Persinggahan pertama gw hanya berusia 7 bulan. Di bulan kelima, gw sudah mulai gerah dan ingin melanjutkan perjalanan. Beruntung, gw mendapatkan persinggahan baru. Kini, nyaris setahun sudah gw singgah di tempat ini.

Bahagiakah gw?
.
Well... to be honest, I still miss my comfort zone. It isn't easy. Wasn't. And will not be. Sebagian hati gw tertinggal di sana. Mungkin benar kata sebuah lagu dari musikal yang lain, Chess, yang mengatakan bahwa:
"... And you wonder will I leave her
But how?
I cross every border but I'm still there now"
Ya. Sejauh apa pun melangkah, berapa banyak pun perbatasan yang gw lintasi, gw tetap di sana. Gw nggak menyangkal: sebagian hati gw tertinggal di sana

Tetapi... menyesalkah gw?

Untuk pertanyaan ini, jawaban gw pasti: TIDAK. I am not. I was not. And I will never be. Hard as it is, I found this the BEST decision I've made. Dan kutipan Paulo Coelho dari buku terbarunya ini menggambarkan dengan tepat perasaan gw:



Bagian terbaik dari keputusan gw meninggalkan comfort zone bukan terletak pada ada yang gw dapat. Melainkan pada bagaimana gw menjadi.

For the first time in my life, I got a feedback that I've been too humble, lack of confidence, and doesn't have enough fighting spirit :-) Bukan feedback yang menyenangkan, eh? ;-) But for me, in a way, it is :-) Karena umpan balik ini menunjukkan bahwa gw bisa berubah. Mungkin berubahnya kebablasan... tapi tetap ini adalah perubahan ;-) Sesuatu yang tidak pernah gw bayangkan akan terjadi.

Orang bilang "Life begins at 40". I'm 40 now... and true, my [new] life has begun.

Mimpi gw belum berakhir. Masih banyak tempat yang akan gw singgahi dalam kehidupan ini. Setiap persinggahan akan menjadikan gw sesuatu. Setiap masa tidak akan gw sesali. Meski selalu ada bagian dari comfort zone yang gw rindukan. Bagaimanapun, seperti gaung Anthem: "My  comfort zone's land's only border lies around my heart"

------
Dedicated to a dear friend who will 'close her eyes and leap' tomorrow. To infinity and beyond, darl!

NB - Anthem yang ditautkan ke atas adalah yang bahasa Inggris. Tapi coba deh dengerin yang bahasa Welsh ini. Lebih nanceeeepp ;-)

Sunday, January 20, 2013

Les Misérables: I Didn't Watch One Time Then Die

Mari kita bicara tentang "bencana". Nope, bukan bicara tentang banjir yang melanda beberapa hari lampau dan membuat ibukota tercinta berada dalam status darurat hingga 27 Januari. Banjir itu memang bencana, tapi... ah, sudahlah! Toh Mas Joko sudah turun langsung siang-malam jadi mandor di tanggul Kanal Barat yang jebol itu. Semoga tanggul lekas selesai perbaikannya, dan Mas Joko bisa konsentrasi ke langkah selanjutnya dalam mencegah banjir Jakarta. Biar orang2 macam ALAY ini tidak bisa komentar aneh2 lagi ;-)

Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.

Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).

Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?

Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:

 **SPOILER ALERT! Run, reader, run! And don't come back ;-)*

1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya. 

Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!

Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.

In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.

2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo

Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)

Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)

Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum  pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)

So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:

"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"

Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.

Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.

Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.

Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.

Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.

Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah  Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!

Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!

Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)

Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?

Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".

Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God" 

Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.

3. The Full Circle

Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)

*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*

Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).

Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.

Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)

Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?

Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal  kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:

"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"
- page 42
Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.

Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)

-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.

Tuesday, October 30, 2012

F*** the V*****!

Do I get your attention now? Yes? Good. Now I'm telling you the big secret: the title is not what you think ;-) Well, in a way, it is. But it isn't. I'll tell you more when I've finished.

The reason I wrote this article is: this morning I played "Grammar Nazi" to someone. Again. This friend wrote "aktifitas" and "efektifitas" as a substitute for "activity" and "effectivity" in Bahasa Indonesia. This is wrong, since the right term in Bahasa Indonesia is "aktivitas" and "efektivitas". Use the V-word, although we end the word original adjective with an F.

Then a friend of this friend commented back:

Saya perlu guru bahasa Indonesia juga nih. Kata2 serapan itu aturan tatabahasanya gimana sih? Inggrisnya: "active" > "activist", "effective"> "effectivity", dalam bahasa Indonesia, repotnya kita menghindari huruf "v" tapi tidak kosisten... jadi bingung deh.

That what set me off and triggered this article ;-)

OK, let's start with what our founding father, Ir. Soekarno, our first president said: JAS MERAH. Literally means "red jacket", this word is actually abbreviation from  Jangan Sekali-kali Meningggalkan Sejarah (Don't ever leave our history). That's the first thing that set me off ;-)

Well... we did have our brief history with the British Empire. Sir Thomas Stamford Raffles was here for approximately 3 years. One of our national flowers, Rafflesia Arnoldii, was named after him. And he buried his first wife here. But that's it! Our history with the Brits is as short as, but not as (traumatically) memorable as, our history with the Japs.

So, it will be a numero uno mistake to try understanding our language with the reference to theirs. We don't have that connection ;-) Not like the Malaysians. Or Singaporeans. Probably for that same reasons, many kids of my generation still refer to Raffles as "ruff-less", instead of sounding like "battles" ;-)

In relation to Jas Merah, we actually should refer our understanding of Bahasa Indonesia to Dutch. Yes. Dutch. We were their colony for three and a half bloody centuries.... so, yes, that is the language we should refer to in understanding our language.

Mind you, once we relate those words with Dutch, it makes PERFECT SENSE why we should use "aktivitas" and "efektivitas" instead of "aktifitas" and "efektifitas". In Dutch, the words are like this (check it on Babelfish, or just google them ;-)):

  • Effektief, and it will change into effectiviteit
  • Actief, and it will change into activiteit

So, should we still hang on to the Dutch, while "English is the new Dutch"? Hmmm.... I don't think it's a matter of what language rules now. It's a matter of root. A tree might grow into different mutation. But we cannot change the root, can we? It's always "root before branches". As FinChel of Glee sang:
Oh, why do
I reach for the stars
When I don't have wings
To carry me that far?
I gotta have
Roots before branches
To know who I am
Before I know
Who I wanna be

To know who I am, before I know who I wanna be ;-)

I love my root. And it is heartfelt to see many of the younger generations do not know how to speak proper Bahasa Indonesia anymore :-(

How can they reach for the stars, if they don't have the wings to carry them that far?

***
So... what the F*** is the title about? Well... one of the possibilities is: "Find the Verses" ;-) What verses? Hmmm... that song I attached has verses, right ;-)? The verse about root, and branches, and wings, and stars....

*Gotcha!*

Find the Verses... and live by it, will you?

____
Credit Title: Thanks to Mas R and Mbak B for the inspiration ;-)

Saturday, November 05, 2011

Pain

Sejujurnya, hari raya Idul Adha selalu menjadi momok mengerikan buat gw. Sekian puluh tahun hidup di dunia, tetap gw nggak bisa membiasakan diri dengan ritual keagamaan ini. As a little girl, I firmly asked my daddy to directly escort the goat to the mosque. Pokoknya kambing nggak boleh mampir ke rumah gw... karena gw tahu bahwa begitu si kambing pernah tinggal di rumah, pernah gw lihat, pernah gw kasih makan, ... maka it would hurt to even know that he was dead.

Masalahnya, gw menikahi orang yang salah... HAHAHAHA.... Suami gw berasal dari keluarga santri yang punya tradisi menyembelih hewan qurbannya sendiri - seperti disunnahkan. Sesuatu yang selalu membuat gw bergidik ngeri :-)

Saking ngerinya, sampai sekarang gw selalu menolak datang ke rumah mertua right after shalat Ied. Pokoknya... tunggu barang 4 - 5 jam dulu! Pastikan qurbannya sudah mati dan darah sudah dibersihkan, baru gw mau sowan ke sana :-)

For years, gw selalu mendapati diri gw diledek karena "empati" gw terhadap hewan qurban ini :-) Banyak yang berkata bahwa gw kurang Islami. Bahwa sebenarnya hewan2 qurban ini "bersyukur" karena dapat pahala. Bahkan pernah ada yang mengatakan gw anti-Islam karena ketidakmauan gw berurusan dengan hewan qurban ini.

Tapi bertahun2 juga... gw selalu tidak merasa pas dengan dikotomi pemahaman tentang qurban. Seperti terurai di atas, gw jelas tidak pas berada di dikotomi yang mengatakan bahwa qurban is one hell of happy festival; the poor is happy to receive some meat, the rich is happy to provide for the poor, and the cattles are happy to fulfill their purpose of life ;-)

Sebaliknya, gw juga nggak merasa pas berada di posisi penentang penyembelihan massal ini. Gak sepakat juga dengan mereka yang menganggap qurban adalah the massacre . This festival might include slaughtering, yes, but I can't agree that it is unnecessary. Jelek2 gini gw masih percaya agama... hehehe... sehingga buat gw, gw percaya bahwa kalau diharuskan oleh Tuhan, ya pasti sesuatu yang bagus. Meskipun gw gak bisa lihat dimana bagusnya :-)

... Kebimbangan itu bertahan hingga hari ini. Hingga gw membaca kul-twit menarik dari Goenawan Mohammad. Kul-twitnya ada 10 bagian, sila disimak dari sini hingga sini.

Bagian yang paling "nampol" buat gw ada dua, yaitu yang #2:

2. Kita cenderung hanya melakukannya dgn sikap praktis: beli kambing/sapi, kirim ke pembantaian. Tanpa lagi rasa belas dan empati.#q

dan yang #6:

6. Keiklhasan paling dalam ketika berkorban justru ketika kita menghayati bhw kita harus melakukan tindakan yg sebenarnya kejam.#q

Touche! You might've guessed where it's going ;-)

Ya, kedua bagian itu membuat gw memahami mengapa dianjurkan menyembelih qurban sendiri (atau kalau dalam versi modern: hadir saat qurban kita disembelih panitia). Sebab justru itulah makna kita berqurban. Di situ letak keikhlasan kita.

Nabi Ibrahim AS harus melakukan sesuatu yang maha sulit ketika Allah SWT meminta Ismail diqurbankan. Hanya keimanan, dan keikhlasan luar biasa, yang membuat seorang ayah mampu melakukan itu.

Sekarang, kita hanya diminta berqurban ternak, bukan anak. Tapi... apa esensi qurban itu? Hanya agar kita bisa membagikan makanan gratis pada kaum dhuafa? Agar kaum dhuafa dapat merasakan daging meski setahun sekali? I'm sorry to say this... but it sounds very shallow to me :-( Sangat tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Ibrahim AS.

Tapi bagaimana jika kita sendiri yang harus menyembelih qurban itu sendiri? Walaupun tidak sebanding dengan Ibrahim AS, tidakkah kita merasakan suatu konflik yang berat juga? Karena kita harus melakukan sesuatu yang menurut logika kita adalah "kejam" demi sesuatu yang "cuma" kita percaya. Tidakkah hal2 seperti itu yang menguji iman, yang membuat kepercayaan kita goyah mengenai apakah kita sudah melakukan hal yang benar? Sudah percaya pada hal yang benar?

Dan tentu, makna ini menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali, jika kita hanya mengartikannya sebagai kewajiban menyembelih qurban dan memberikan dagingnya bagi kaum dhuafa. Karena dengan demikian proses menjadi tak penting lagi. Merasakan konflik yang membuat Ibrahim AS [mungkin] berada di persimpangan keimanan.

Dengan mudahnya kita akan mengambil cara yang praktis, seperti pada poin #2: kita cuma perlu beli sapi/kambing, antar ke tempat penyembelihan. Biarkan panitia yang menyembelih dan membagikan; sementara kita duduk manis di rumah untuk menunggu sepotong paha kambing yang sudah dibersihkan sebagai bukti qurban kita sudah disembelih. Atau dalam bahasa Goenawan Mohammad: menjadikan hewan qurban "sekedar" komoditi.

So, this essay of his is an eye opener for mine ;-) Mengingatkan gw kembali bahwa it is important to endure the pain. Mereka yang berqurban harus juga merasakan "pain" itu. Psychological pain of doing something "cruel": killing another being.

Karena di situ letak makna qurban itu sendiri ;-)

Makanya, gw ingin mengutip penutup dari kul-twit di atas:

Salah mengatakan orang yg berqurban tak punya hati nurani. Justru intinya bukan menyembelih, tapi menghayati bagaimana berharganya hidup

Mudah2an para penentang ritual qurban dapat melihat hal tersebut juga ;-)

***

Bagaimana dengan gw sendiri? Apakah setelah ini gw akan dengan senang hati datang ke penyembelihan qurban? Ikut merasakan the psychological pain of killing another being? Sorry, I'm still gonna pass... HAHAHAHA... I now understand the importance of slaughtering your own qurban, tapi tetap gw belum mau jadi bagian dari itu. Gw cukup mengubah mindset gw aja bahwa it is necessary.

Lagipula... bukankah yang disuruh berqurban adalah Ibrahim AS? Waktu itu Siti Hajar gak disuruh juga kan ;-)?

Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)

Wednesday, August 17, 2011

Simple

Terinspirasi oleh seseorang yang lagi senang2nya dengan yang simple, atau simply, hari ini mau nge-post tentang sesuatu yang simple juga ah ;-)

Pertama2, yuk, lihat video tari yang simple ini dulu. Judulnya "Peace". Dikoreografikan oleh Wade Robson, dengan lagu "Waiting for the World to Change" dari John Mayer. Video ini sudah lama, terbitan tahun 2007 kalau nggak salah, sebagai bagian dari acara So You Think You Can Dance musim ketiga. Saking lamanya, sekarang acara itu sudah selesai dengan musim ke-8 ;-)


Pas ditampilkan pertama kali, koreografi ini sempat jadi kontroversi, karena dianggap memprogandakan anti perang padahal Amerika Serikat baru menyerang Iraq. Well... mungkin benar sih, but even if it was... I don't mind. I even agreed with them ;-)

Lho... kontroversi. Propaganda. World to Change. This post has all the wrong keywords for something simple ya... hehehe... Jadi, simple-nya dimana dong?

Hmm... pertama2, koreografinya simple banget. Nggak banyak macem2. Bajunya juga simple banget. Kaos-celana putih dengan sablonan logo peace di depan dan satu kata di belakang. Sablonannya juga dari cat semprot hitam biasa.

Koreografi yang sama ini ditarikan sebagai solo oleh Top 10 Finalist. Masing2 cuma "mengusung" satu kata di kaosnya. Dan... walaupun koreografinya sama persis, latar belakang masing2 finalis yang berbeda membuat detilnya berbeda. Pasha, misalnya, membuat beberapa gerakan agak kaku dengan kaki yang perfectly straights - sesuai latar belakangnya sebagai penari ballroom. Lauren lain lagi: nuansanya agak hip-hop. Neil, membuatnya benar2 kontemporer... dan... the b-boy Dominic Sandoval menutup pose akhir dengan gerakan menyentuh dadanya yang [menurut gw] membuatnya berbau tarian anak gank banget :-)

Gabungkan hal2 di atas dengan judul lagunya: Waiting for the World to Change.... dan di situlah letak simple-nya :-) Change the world could be as simple as that: just do what you have to do with the best purpose in mind. With peace. With honesty. With patience, understanding, trust, hope, and love. Support it with good communication. And don't forget to always have humility. Hasilnya beda2? Nggak apaaa... kalau digabungkan bagus juga kok ;-)

Simple kan ;-)? Se-simple mengatakan, "Wade Robson, I heart you for this!" ;-)

***

Dan karena hari ini negeri tercinta ulang tahun, ke-simple-an ini mungkin juga berlaku untuk "mengubah" Indonesia tercinta ;-)

Me and all my friends
We're all misunderstood
They say we stand for nothing and
There's no way we ever could

Now we see everything that's going wrong
With the world country and those who lead it
We just feel like we don't have the means
To rise above and beat it

So we keep waiting
Waiting on the world country to change
We keep on waiting
Waiting on the world country to change

It's hard to beat the system
When we're standing at a distance
So we keep waiting
Waiting on the world country to change
...

One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world country to change

Selamat ulang tahun, Indonesia ;-)

Wednesday, May 04, 2011

Big Brother for Parliament

Beberapa hari lalu seorang teman lama (sebut saja namanya Ara Michi) mengomentari sistem permainan pada acara Big Brother Indonesia di status FB-nya:

Kalau Petir, pemirsa sms penghuni yg dia dukung, kalau Big Brother pemirsa sms penghuni yang mau mereka keluarin, di Petir ada PK di Big Brother nggak ada. Kalau diibaratkan demokrasi, Big Brother itu demokrasi langsung, Petir itu demokrasi perwakilan. Gw lebih suka demokrasi langsung lebih " keliatan" bahwa suara publik dihargai

Waktu itu sih gw nggak mau repot2 berdebat sama Ara tentang "beda demokrasi" ini. He's the expert, anyway, at least he's the more passionate about this topic... hehehe... Dan lagi, Ara itu comes with a warning di kemasannya. Bunyinya mirip2 dengan kemasan rokok: "Berdebat dengan Ara berbahaya bagi kesehatan"

Tapi itu termasuk status yang layak untuk di-like di Facebook. Dan seperti layaknya status2 "berkualitas" lainnya, status ini bisaaaa aja disangkutkan ke masalah yang lebih serius. Seperti kasus dialog ini ;-)

Rasanya gw udah bosen nyela2 anggota dewan di blog ini. Soalnya yang dicela juga nggak berubah2 sih ;-) Jadi, monggo aja klik tautan di atas bagi yang sekali lagi ingin membaca bagaimana LUAR BIASA-nya kualitas parlemen kita. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita tekanan darah rendah... hehehe... Terutama di sesi tanya jawabnya ;-)

*Sumpah! Membaca jawaban2 di sesi tanya jawab itu pingin membuat gw menyuruh Ima berhenti sekolah! Ngapain dia sekolah tinggi2, wong sudah lebih pintar daripada mereka. Langsung aja ngelamar jadi anggota dewan ;-)*

Atau kalau mau versi LIVE-nya, boleh intip di YouTube ini . Dijamin "Keong Racun" dan "Briptu Norman" bakal malu karena kalah lucu ;-)

Anyway... gara2 tergeleng2 membaca dan mendengar jawaban2 itu, gw jadi mikir: apa lagi sih yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan sumber daya di parlemen ini? Apa yang harus dilakukan di pemilu berikutnya? Apa perlu kita semua ikutan GolPut, sehingga caleg cuma [kalau istilah jaman pemilihan Ketua Senat Mahasiswa dulu] "lawan kotak kosong"? Tapi... gw ingat kata suami tercinta, "Kalau loe nggak milih, kertas suara loe utuh, ntar diambil orang lain gimana?" atau, "Kalau loe nggak milih, jadi loe biarin sembarang caleg menang"

*Yeah, yeah.... in time like this, I usually have to resist the urge to choke my hubby to death... HAHAHAHA... Sumpah deh! Dia itu selalu bisa lihat sesuatu yang "bagus" pada sesuatu yang menurut gw udah super nyebelin ;-)*

Nah, di saat seperti inilah status "berkualitas" Ara melintas di kepala gw. Daripada tiap pemilu selalu harus sibuk kampanye anti golput, dan nantinya juga tetap dapat anggota parlemen yang gak berkualitas, kenapa juga negara nggak kita minta mengganti sistemnya menjadi seperti Big Brother Indonesia? Tetap Langsung-Umum-Bebas-Rahasia, tapiiiii..... yang dicoblos ataupun dicontreng adalah caleg yang TIDAK dikehendaki :)

Gw rasa ini menarik :-)

Dari satu sisi, kandidat jadi harus lebih hati2 berkampanye. Zero tolerance for stupidity, karena satu kebodohan bisa menyebabkan mereka mendapatkan tambahan pemilih. Otomatis rakyat juga diuntungkan dong, karena akhirnya kualitas caleg jadi lebih bagus ;-)

Dari sisi negara? Menguntungkan banget! Negara nggak perlu pusing2 kampanye anti GolPut. Gw setuju banget sama komentar Ara di statusnya itu:

penghuni nominasi 3 orang yg akan dikeluarin, yg keluar adalah yg smsnya paling banyak dari 3 orang itu. Kebayang donk orang sampai sms supaya org tersebut keluar berartikan hubungan emosionalnya tinggi banget

Gw yakin, GolPut2 yang ada sekarang bakal semangat banget ikut pemilu... hehehe... Kalau satu suara mereka bisa mengurangi jumlah orang2 tak berkualitas di parlemen, siapa yang mau buang2 suara?

Tapiiiii.... kan tetap aja, yang vote-nya sedikit akan berhasil masuk ke parlemen? Jadi, sedikit banyak parlemen akan diisi oleh orang2 yang "kurang disukai" juga dong?

Betul. Yang jadi anggota parlemen tetap bukan orang2 yang tidak mendapatkan vote sama sekali. Tapi... di sini justru sisi bagusnya! Karena saat disumpah menjadi anggota parlemen pun mereka sudah sadar bahwa mereka punya "sekian suara" yang tidak menghendaki mereka berada di parlemen. Semoga itu menjadi beban, sehingga mereka juga melangkah lebih hati2. Beda dengan kasus yang sekarang: bahwa kalau akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen itu seolah2 adalah "kemenangan". Sehingga mereka boleh merayakan kemenangannya selama 5 tahun ke depan.

Prinsipnya, kita mengubah makna keberhasilan mereka mengalahkan lawan2nya dari "victory", menjadi "second chance". And I think everybody agrees that getting a second chance might make someone wiser ;-)

So, bagaimana Bapak2 dan Ibu2 yang berwenang mengubah sistem? Bisa dipertimbangkan?

As for the current members of parliament, yang kualitasnya bikin gw ngakak2 hari ini [dan hari2 sebelumnya], bisa kita kasih profesi baru aja. Mungkin mereka bisa gantiin Keong Racun, atau Briptu Norman, di iklan2 selanjutnya.

*dan gw mulai kinky ngebayangin mereka membintangi iklan ini. "Komisi sekian suka makan lala lala... jadi sehat, berprestasi.... enak sekali" ;-)*

Sunday, November 28, 2010

Modus Perampasan: Titi DJ Perlu Tas

Kemarin, sepulang mengantar Nara dari kelompok bermainnya di Kuningan, gw terpaksa pulang memutar lewat jalur Menteng - Salemba - Pramuka. Sejak sebelum Hotel Manhattan hingga Terowongan Casablanca banjir, sehingga jalannya kendaraan pamer pen*s. Padat merayap pengen nangis :-p

Jalur yang gw lalui lancar. Bahkan jalan Pramuka lengang sekali. Tetapi nggak lama setelah gw melewati Hotel Sentral, gw menyadari mobil di depan gw jalannya lambat banget. Padahal gw jalan di jalur kanan, jalur yang mestinya paling cepat. Gw, tentu saja, memberi lampu dan klakson, sebelum akhirnya menyalip dari kiri.

Tetapi... beberapa menit kemudian, mobil bernomor DG 99xx FE itu menyalip gw kembali dan menghentikan mobilnya. Beruntung gw selalu menjaga jarak, sehingga gw menghentikan mobil tepat waktu - dengan jarak cukup besar di antara kami. Khawatir pengemudi di depan mengalami kesulitan, gw tidak langsung ambil ancang2 menyalip. Gw menunggu dulu.

Ternyata... menunggu itu adalah suatu kesalahan!

Pengemudi sedan itu, seorang laki2 kekar berwajah sangar, menggebrak2 mobil gw, menyuruh gw buka jendela dan turun dari mobil. Instinktif, gw hanya membuka sekitar 2cm kaca jendela gw; cukup untuk bercakap2, tetapi tidak cukup untuk tangannya masuk.

"Ada masalah apa klakson2 dari tadi, hah?"

"Nggak ada masalah, Pak. Hanya kan Bapak di sebelah kanan jalannya lambat, jadi saya klakson supaya lebih cepat, atau pindah ke kiri"

"Turun loe dari mobil, kalau berani! Gw tonjok loe!"

Sebenarnya gw cukup naik darah dengan kelakuan ini. Tapi, gw menyadari bahwa gw cuma bertiga dengan Nara dan Mbak-nya Nara. Secara fisik, kami bukan lawan yang setara buat laki-laki sangar tersebut. Dan bagaimana kalau ternyata laki2 ini mencelakai Nara, hanya sekedar buat made his point?

Oleh karenanya, alih2 berdebat atau gantian memaki, gw memilih melakukan sesuatu yang "nggak gw banget": minta maaf padahal gw tidak bersalah.

"Kalau begitu saya minta maaf sudah mengklakson Bapak. Maaf ya, Pak, saya nggak bisa turun. Saya sedang bawa anak saya, harus pulang cepat"

"Turun loe!! Kalau enggak, gw kempesin mobil loe!!"

"Saya sudah minta maaf, Pak. Kalau Bapak mau memperpanjang, mari kita bicarakan di kantor polisi saja. Tetapi saya tidak bisa turun di sini"

Naik darah gw mulai bercampur ngeri. Orang ini mabok, stres, atau simply gila sih??? Urusan klakson aja sampai panjang begini. Kalau dia memaki sih gw masih terima ya.... Tapi nyuruh gw turun, apa urusannya?

"Kalau gitu STNK mana! Kasih ke saya!"


Walaupun ngeri dan sulit berpikir jernih, untungnya intuisi gw masih berperan besar menunjukkan sesuatu yang nggak beres, dan membantu mulut memberikan alasan.

"Bapak kan bukan polisi, dan saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Bapak tidak berhak minta STNK saya. Kalau mau lihat STNK saya, saya berikan di depan polisi. Tidak di sini!"


Pria sangar itu makin marah2 dan menggebrak mobil. Sebelah tangannya mengambil dompet di saku belakang. Dan... untuk sesaat, demi membuka dompetnya dia mengeluarkan tangan yang selama ini diselipkan di kaca jendela gw.

It happened for only a second or so, but it was enough for me to close the window. Thank God, for providing me a good reflex.

Begitu gw berhasil menutup jendela, gw segera menyalip mobil itu dan melaju kencang. Tujuan gw hanya satu: kantor polisi! Gw ingat bahwa di perempatan by pass ada kantor polisi, tapi entah kenapa tujuan gw adalah kantor polisi yang agak jauh di Jalan Pemuda. Sambil jalan, gw sesekali melihat ke belakang apakah mobil tersebut mengikuti; tapi karena mobilnya sedan hitam, dan banyak sekali mobil hitam di belakang gw, amatan gw tak terlalu jelas. Mbak-nya Nara bilang mobil itu tampaknya belok kanan di perempatan by-pass, pas di depan kantor polisi, but I can't be really sure.

Sampai kantor polisi, gw parkir mobil gw. Lima menit berlalu, lantas nyaris seperempat jam. Mobil itu nggak datang-datang hingga akhirnya gw memutuskan untuk pulang. So much for intimidating me ;-)

***

Seperti biasa, gw berbagi kisah itu dalam status FB. Semacam curcol aja, maksudnya ;-) But it turns out into an eye-opener experience: tanggapan Zilko membuat gw sadar bahwa ini mungkin suatu upaya tindak kejahatan. Seperti kata Zilko, aneh banget bahwa yang diminta adalah STNK, bukan SIM :) Emangnya gw pelaku curanmor, dimintain STNK segala?

And everything starts falling into place. Plat nomor Maluku Utara yang akan lebih menyulitkan melacak pelaku, kemarahannya yang lebay "cuma" karena klakson mobil, paksaannya agar gw turun dari mobil walaupun gw sudah minta maaf dan menunjukkan bahwa kami hanya 2 perempuan plus 1 balita....

Justru, karena kami hanya 2 perempuan plus balita, orang ini cari gara2 dengan gw. Samar2 gw bahkan mulai ingat bahwa dia menyalip mobil gw sebelum berjalan pelan2 yang mengakibatkan gw membunyikan klakson. Dia memang seorang diri mengendarai mobil itu, tapi... who knows, setelah gw turun dari mobil, menyerahkan STNK, mobil gw akan direbut oleh komplotannya? Bukankah modus operansi yang mirip pernah gw alami juga?

Gw langsung googling, dan menemukan beberapa modus operandi yang mirip. Salah satunya di cerita ini. Korbannya juga perempuan.

Tak henti2nya gw mengucap syukur atas perlindungan-Nya. Hanya atas kuasa-Nya saja gw - yang selalu tegangan tinggi - tak terpancing marah saat itu. Hanya atas kuasa-Nya, intuisi dan refleks gw berjalan tepat saat dibutuhkan.

... dan setelah membaca cerita tertaut di atas, gw sadar ada satu hal lagi yang dapat gw syukuri: cuma atas perkenan-Nya, gw entah kenapa memilih kantor polisi yang jauh, dan memilih tidak turun sebelum mobilnya datang. Tanpa gw sadari, itu adalah keputusan yang tepat: karena membawa si pelaku keluar dari tempat permainannya.

Alhamdulillah, segala puji untuk Allah atas perlindungan-Nya kemarin.

And since everything happens for a reason, there must be a reason why this story happens to a blogger. It's meant that the blogger should tell the story to the world :-)

Inilah kisahnya... agar lebih banyak orang yang tahu bahwa kalau Titi Kamal Anti Cinta, maka Titi DJ Perlu Tas ;-) Hati-hati Di Jalan, Perempuan Berlalu-lintas! Banyak yang mengincar Anda. Bukan hanya malam hari, tetapi juga saat mentari masih bersinar terang.