Wednesday, May 04, 2011

Big Brother for Parliament

Beberapa hari lalu seorang teman lama (sebut saja namanya Ara Michi) mengomentari sistem permainan pada acara Big Brother Indonesia di status FB-nya:

Kalau Petir, pemirsa sms penghuni yg dia dukung, kalau Big Brother pemirsa sms penghuni yang mau mereka keluarin, di Petir ada PK di Big Brother nggak ada. Kalau diibaratkan demokrasi, Big Brother itu demokrasi langsung, Petir itu demokrasi perwakilan. Gw lebih suka demokrasi langsung lebih " keliatan" bahwa suara publik dihargai

Waktu itu sih gw nggak mau repot2 berdebat sama Ara tentang "beda demokrasi" ini. He's the expert, anyway, at least he's the more passionate about this topic... hehehe... Dan lagi, Ara itu comes with a warning di kemasannya. Bunyinya mirip2 dengan kemasan rokok: "Berdebat dengan Ara berbahaya bagi kesehatan"

Tapi itu termasuk status yang layak untuk di-like di Facebook. Dan seperti layaknya status2 "berkualitas" lainnya, status ini bisaaaa aja disangkutkan ke masalah yang lebih serius. Seperti kasus dialog ini ;-)

Rasanya gw udah bosen nyela2 anggota dewan di blog ini. Soalnya yang dicela juga nggak berubah2 sih ;-) Jadi, monggo aja klik tautan di atas bagi yang sekali lagi ingin membaca bagaimana LUAR BIASA-nya kualitas parlemen kita. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita tekanan darah rendah... hehehe... Terutama di sesi tanya jawabnya ;-)

*Sumpah! Membaca jawaban2 di sesi tanya jawab itu pingin membuat gw menyuruh Ima berhenti sekolah! Ngapain dia sekolah tinggi2, wong sudah lebih pintar daripada mereka. Langsung aja ngelamar jadi anggota dewan ;-)*

Atau kalau mau versi LIVE-nya, boleh intip di YouTube ini . Dijamin "Keong Racun" dan "Briptu Norman" bakal malu karena kalah lucu ;-)

Anyway... gara2 tergeleng2 membaca dan mendengar jawaban2 itu, gw jadi mikir: apa lagi sih yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan sumber daya di parlemen ini? Apa yang harus dilakukan di pemilu berikutnya? Apa perlu kita semua ikutan GolPut, sehingga caleg cuma [kalau istilah jaman pemilihan Ketua Senat Mahasiswa dulu] "lawan kotak kosong"? Tapi... gw ingat kata suami tercinta, "Kalau loe nggak milih, kertas suara loe utuh, ntar diambil orang lain gimana?" atau, "Kalau loe nggak milih, jadi loe biarin sembarang caleg menang"

*Yeah, yeah.... in time like this, I usually have to resist the urge to choke my hubby to death... HAHAHAHA... Sumpah deh! Dia itu selalu bisa lihat sesuatu yang "bagus" pada sesuatu yang menurut gw udah super nyebelin ;-)*

Nah, di saat seperti inilah status "berkualitas" Ara melintas di kepala gw. Daripada tiap pemilu selalu harus sibuk kampanye anti golput, dan nantinya juga tetap dapat anggota parlemen yang gak berkualitas, kenapa juga negara nggak kita minta mengganti sistemnya menjadi seperti Big Brother Indonesia? Tetap Langsung-Umum-Bebas-Rahasia, tapiiiii..... yang dicoblos ataupun dicontreng adalah caleg yang TIDAK dikehendaki :)

Gw rasa ini menarik :-)

Dari satu sisi, kandidat jadi harus lebih hati2 berkampanye. Zero tolerance for stupidity, karena satu kebodohan bisa menyebabkan mereka mendapatkan tambahan pemilih. Otomatis rakyat juga diuntungkan dong, karena akhirnya kualitas caleg jadi lebih bagus ;-)

Dari sisi negara? Menguntungkan banget! Negara nggak perlu pusing2 kampanye anti GolPut. Gw setuju banget sama komentar Ara di statusnya itu:

penghuni nominasi 3 orang yg akan dikeluarin, yg keluar adalah yg smsnya paling banyak dari 3 orang itu. Kebayang donk orang sampai sms supaya org tersebut keluar berartikan hubungan emosionalnya tinggi banget

Gw yakin, GolPut2 yang ada sekarang bakal semangat banget ikut pemilu... hehehe... Kalau satu suara mereka bisa mengurangi jumlah orang2 tak berkualitas di parlemen, siapa yang mau buang2 suara?

Tapiiiii.... kan tetap aja, yang vote-nya sedikit akan berhasil masuk ke parlemen? Jadi, sedikit banyak parlemen akan diisi oleh orang2 yang "kurang disukai" juga dong?

Betul. Yang jadi anggota parlemen tetap bukan orang2 yang tidak mendapatkan vote sama sekali. Tapi... di sini justru sisi bagusnya! Karena saat disumpah menjadi anggota parlemen pun mereka sudah sadar bahwa mereka punya "sekian suara" yang tidak menghendaki mereka berada di parlemen. Semoga itu menjadi beban, sehingga mereka juga melangkah lebih hati2. Beda dengan kasus yang sekarang: bahwa kalau akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen itu seolah2 adalah "kemenangan". Sehingga mereka boleh merayakan kemenangannya selama 5 tahun ke depan.

Prinsipnya, kita mengubah makna keberhasilan mereka mengalahkan lawan2nya dari "victory", menjadi "second chance". And I think everybody agrees that getting a second chance might make someone wiser ;-)

So, bagaimana Bapak2 dan Ibu2 yang berwenang mengubah sistem? Bisa dipertimbangkan?

As for the current members of parliament, yang kualitasnya bikin gw ngakak2 hari ini [dan hari2 sebelumnya], bisa kita kasih profesi baru aja. Mungkin mereka bisa gantiin Keong Racun, atau Briptu Norman, di iklan2 selanjutnya.

*dan gw mulai kinky ngebayangin mereka membintangi iklan ini. "Komisi sekian suka makan lala lala... jadi sehat, berprestasi.... enak sekali" ;-)*