Sunday, November 28, 2010

Modus Perampasan: Titi DJ Perlu Tas

Kemarin, sepulang mengantar Nara dari kelompok bermainnya di Kuningan, gw terpaksa pulang memutar lewat jalur Menteng - Salemba - Pramuka. Sejak sebelum Hotel Manhattan hingga Terowongan Casablanca banjir, sehingga jalannya kendaraan pamer pen*s. Padat merayap pengen nangis :-p

Jalur yang gw lalui lancar. Bahkan jalan Pramuka lengang sekali. Tetapi nggak lama setelah gw melewati Hotel Sentral, gw menyadari mobil di depan gw jalannya lambat banget. Padahal gw jalan di jalur kanan, jalur yang mestinya paling cepat. Gw, tentu saja, memberi lampu dan klakson, sebelum akhirnya menyalip dari kiri.

Tetapi... beberapa menit kemudian, mobil bernomor DG 99xx FE itu menyalip gw kembali dan menghentikan mobilnya. Beruntung gw selalu menjaga jarak, sehingga gw menghentikan mobil tepat waktu - dengan jarak cukup besar di antara kami. Khawatir pengemudi di depan mengalami kesulitan, gw tidak langsung ambil ancang2 menyalip. Gw menunggu dulu.

Ternyata... menunggu itu adalah suatu kesalahan!

Pengemudi sedan itu, seorang laki2 kekar berwajah sangar, menggebrak2 mobil gw, menyuruh gw buka jendela dan turun dari mobil. Instinktif, gw hanya membuka sekitar 2cm kaca jendela gw; cukup untuk bercakap2, tetapi tidak cukup untuk tangannya masuk.

"Ada masalah apa klakson2 dari tadi, hah?"

"Nggak ada masalah, Pak. Hanya kan Bapak di sebelah kanan jalannya lambat, jadi saya klakson supaya lebih cepat, atau pindah ke kiri"

"Turun loe dari mobil, kalau berani! Gw tonjok loe!"

Sebenarnya gw cukup naik darah dengan kelakuan ini. Tapi, gw menyadari bahwa gw cuma bertiga dengan Nara dan Mbak-nya Nara. Secara fisik, kami bukan lawan yang setara buat laki-laki sangar tersebut. Dan bagaimana kalau ternyata laki2 ini mencelakai Nara, hanya sekedar buat made his point?

Oleh karenanya, alih2 berdebat atau gantian memaki, gw memilih melakukan sesuatu yang "nggak gw banget": minta maaf padahal gw tidak bersalah.

"Kalau begitu saya minta maaf sudah mengklakson Bapak. Maaf ya, Pak, saya nggak bisa turun. Saya sedang bawa anak saya, harus pulang cepat"

"Turun loe!! Kalau enggak, gw kempesin mobil loe!!"

"Saya sudah minta maaf, Pak. Kalau Bapak mau memperpanjang, mari kita bicarakan di kantor polisi saja. Tetapi saya tidak bisa turun di sini"

Naik darah gw mulai bercampur ngeri. Orang ini mabok, stres, atau simply gila sih??? Urusan klakson aja sampai panjang begini. Kalau dia memaki sih gw masih terima ya.... Tapi nyuruh gw turun, apa urusannya?

"Kalau gitu STNK mana! Kasih ke saya!"


Walaupun ngeri dan sulit berpikir jernih, untungnya intuisi gw masih berperan besar menunjukkan sesuatu yang nggak beres, dan membantu mulut memberikan alasan.

"Bapak kan bukan polisi, dan saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Bapak tidak berhak minta STNK saya. Kalau mau lihat STNK saya, saya berikan di depan polisi. Tidak di sini!"


Pria sangar itu makin marah2 dan menggebrak mobil. Sebelah tangannya mengambil dompet di saku belakang. Dan... untuk sesaat, demi membuka dompetnya dia mengeluarkan tangan yang selama ini diselipkan di kaca jendela gw.

It happened for only a second or so, but it was enough for me to close the window. Thank God, for providing me a good reflex.

Begitu gw berhasil menutup jendela, gw segera menyalip mobil itu dan melaju kencang. Tujuan gw hanya satu: kantor polisi! Gw ingat bahwa di perempatan by pass ada kantor polisi, tapi entah kenapa tujuan gw adalah kantor polisi yang agak jauh di Jalan Pemuda. Sambil jalan, gw sesekali melihat ke belakang apakah mobil tersebut mengikuti; tapi karena mobilnya sedan hitam, dan banyak sekali mobil hitam di belakang gw, amatan gw tak terlalu jelas. Mbak-nya Nara bilang mobil itu tampaknya belok kanan di perempatan by-pass, pas di depan kantor polisi, but I can't be really sure.

Sampai kantor polisi, gw parkir mobil gw. Lima menit berlalu, lantas nyaris seperempat jam. Mobil itu nggak datang-datang hingga akhirnya gw memutuskan untuk pulang. So much for intimidating me ;-)

***

Seperti biasa, gw berbagi kisah itu dalam status FB. Semacam curcol aja, maksudnya ;-) But it turns out into an eye-opener experience: tanggapan Zilko membuat gw sadar bahwa ini mungkin suatu upaya tindak kejahatan. Seperti kata Zilko, aneh banget bahwa yang diminta adalah STNK, bukan SIM :) Emangnya gw pelaku curanmor, dimintain STNK segala?

And everything starts falling into place. Plat nomor Maluku Utara yang akan lebih menyulitkan melacak pelaku, kemarahannya yang lebay "cuma" karena klakson mobil, paksaannya agar gw turun dari mobil walaupun gw sudah minta maaf dan menunjukkan bahwa kami hanya 2 perempuan plus 1 balita....

Justru, karena kami hanya 2 perempuan plus balita, orang ini cari gara2 dengan gw. Samar2 gw bahkan mulai ingat bahwa dia menyalip mobil gw sebelum berjalan pelan2 yang mengakibatkan gw membunyikan klakson. Dia memang seorang diri mengendarai mobil itu, tapi... who knows, setelah gw turun dari mobil, menyerahkan STNK, mobil gw akan direbut oleh komplotannya? Bukankah modus operansi yang mirip pernah gw alami juga?

Gw langsung googling, dan menemukan beberapa modus operandi yang mirip. Salah satunya di cerita ini. Korbannya juga perempuan.

Tak henti2nya gw mengucap syukur atas perlindungan-Nya. Hanya atas kuasa-Nya saja gw - yang selalu tegangan tinggi - tak terpancing marah saat itu. Hanya atas kuasa-Nya, intuisi dan refleks gw berjalan tepat saat dibutuhkan.

... dan setelah membaca cerita tertaut di atas, gw sadar ada satu hal lagi yang dapat gw syukuri: cuma atas perkenan-Nya, gw entah kenapa memilih kantor polisi yang jauh, dan memilih tidak turun sebelum mobilnya datang. Tanpa gw sadari, itu adalah keputusan yang tepat: karena membawa si pelaku keluar dari tempat permainannya.

Alhamdulillah, segala puji untuk Allah atas perlindungan-Nya kemarin.

And since everything happens for a reason, there must be a reason why this story happens to a blogger. It's meant that the blogger should tell the story to the world :-)

Inilah kisahnya... agar lebih banyak orang yang tahu bahwa kalau Titi Kamal Anti Cinta, maka Titi DJ Perlu Tas ;-) Hati-hati Di Jalan, Perempuan Berlalu-lintas! Banyak yang mengincar Anda. Bukan hanya malam hari, tetapi juga saat mentari masih bersinar terang.