Wednesday, August 21, 2013

Kotak-kotak Pikiran

Jadi, MUI membuat pernyataan kontroversial lagi dengan mengatakan Tes Keperawanan Perlu Masuk UU. Serentak dunia maya bergejolak. Semua mengecam. Semua mengatakan betapa tak masuk akalnya ini. Dan seorang teman men-tagged gw pada sebuah artikel untuk mempertanyakan apakah berita ini benar.

Pertanyaan itu berbuntut panjang...

Karena seperti biasa gw punya pikiran yang [mungkin buat banyak orang] "nyeleneh". Anti-kemapanan ;-) Suka bikin rumit hal yang sepele ;-)

Sebab meski gw tak setuju dengan kebijakan Tes Keperawanan ini - karena toh perempuan tidak belajar dengan menggunakan selaput dara - namun... gw masih bisa menerima jika sekolah memberikan sanksi pada murid yang kedapatan hamil / menghamili rekannya.

I was grilled by the society for this... which made me excited ;-)

Dasar pemikiran gw sederhana saja. Jika seorang anak usia sekolah kedapatan hamil / menghamili, maka satu hal yang pasti: anak itu (atau sepasang anak itu) tidak dapat mengamalkan apa yang dipelajarinya di sekolah dengan baik.

Kejadian ini hanya mungkin terjadi jika:

  1. Sepasang anak ini melakukan hubungan seks tanpa membekali diri dengan pemahaman yang memadai. Which means ignorance, I must say, because information is EVERYWHERE. You just need to google. Or read your Science textbook at school about reproduction.
  2. Mereka berdua abai terhadap tanggung jawab. Di kepala mereka hanya ada kenikmatan. To tell you the truth, buying condoms in this republic is easier than finding a paddy field. Serius! Minimarket seperti Indomaret atau Alfamart ada di tiap tikungan. Kadang di satu jalan mereka dempet-dempetan. Circle K dan 7-Eleven juga banyak. Dan tiap-tiap dari mereka menjual kondom secara bebas. Dengan harga terjangkau. Kalau nggak mampu beli Durex atau merek import lainnya, beli aja merek Sutra ;-) Jadi... kalau mereka nggak pakai kondom, itu bukan karena nggak bisa. Karena mereka nggak mau!! Karena kalau pakai kondom gesekan yang terjadi kurang natural, berasa plastiknya! ;-) So, itu membuktikan bahwa mereka melupakan tanggung jawab toh?
Itu alasan terjadinya kehamilan remaja. Mereka hamil / menghamili karena "suka sama suka". BULLSHIT! Secara usia mental, berapa banyak bocah umur 16 - 18 tahun itu yang siap punya bayi? Yang berencana punya bayi? Kalaupun ada, apakah itu benar-benar karena ingin memiliki keturunan, atau sekedar emosional sesaat akibat kasmaran? Wong menurut teori Erikson tentang perkembangan psikososial, bocah-bocah ini masih di transisi antara menentukan identitas dan membentuk hubungan dekat dengan lawan jenis kok. 

Nah, dengan alasan itu, menurut gw sudah pantas dan selayaknya jika mereka diberi sanksi. Termasuk jika sanksi itu adalah mengeluarkan mereka dari sekolah.

Hmm... really? Begitu mungkin sebagian besar dari masyarakat kita bertanya.

Perlukah mereka diberi sanksi? Bukankah sudah cukup berat menjadi seorang remaja hamil untuk meneruskan sekolah? Bayangkan semua rasa terhina itu, bagaimana dia tidak dapat mengikuti pelajaran olahraga karena perut yang membesar... Perlukah masa depan mereka diputus dengan menghentikan mereka dari sekolah? Padahal mereka tidak merugikan orang lain. If my friend is pregnant, I'm surely not inspired to fall pregnant either! 

Begitu kurang lebih argumen balik yang gw dapat. Argumen yang bagus. Tidak salah. Hanya... menurut gw... kurang menyeluruh ;-)

Begini dasar pikiran gw: 
  1. Betul. Adalah sangat berat bagi seorang remaja hamil untuk menyelesaikan sekolahnya. Sama beratnya dengan pecandu zat terlarang untuk menyelesaikan sekolahnya. Bayangkan... mereka dijauhi semua orang karena dianggap junkies. Mereka harus bertarung dengan kesadaran yang menurun. Bertarung dengan konsentrasi yang selalu hilang. Bertarung dengan rasa sakit fisik ketika sakaw. Dengan demikian... apakah sebaiknya penggunaan zat terlarang dibiarkan saja? Nggak perlu diberi sanksi? You tell me ... ;-)
  2. Betul. Seorang remaja hamil tidak merugikan orang lain. Seorang pengguna zat terlarang pun tidak merugikan siapa pun selain dirinya sendiri. Setidaknya... sampai dia kehabisan uang untuk membeli obat terlarang, sehingga dia kemudian mencuri uang keluarga atau melakukan tindak kriminal lainnya. Dan yakinkah Anda hal yang setara tidak akan terjadi pada remaja hamil juga? Kalau dia lulus pas-pasan, nggak bisa cari duit cukup, lantas nggak ngemis kiri-kanan, membuat orang tuanya harus membiayai anaknya, BAHKAN melakukan tindak kejahatan jika perlu? You tell me again...  ;-) 
  3. Betul. If my friend get pregnant, I'm not inspired to fall pregnant either. Tapi kan sudah gw bilang di atas bahwa kehamilan remaja kecil urusannya dengan "inspirasi"? ;-) Dan... bagaimana jika menjadi inspirasi adalah "hidupmu tidak akan berubah meski kamu hamil"? Sehingga mereka terinspirasi untuk memuaskan hasrat tanpa memikirkan birth control? :-) Are you sure it will not happen? 
Dan satu lagi hal yang membuat gw merasa argumen balik ini kurang menyeluruh: seluruh argumen ini dilandaskan HANYA kepada sisi seorang remaja putri yang hamil. Padahal, argumen awal gw selalu menyebut "hamil / menghamili", yang berarti mencakup sanksi pada si remaja putra ;-) Bukan hanya makhluk naif yang membiarkan dirinya dibuahi, tapi juga makhluk tolol yang menolak pakai kondom ;-)

Nah! Itu! Bayangkan... APA yang terjadi pada si remaja putra ini jika tidak kita beri sanksi? Pelajaran apa yang didapatnya? Bahwa it's OK to impregnate your girlfriend? Bagaimana jika ini menginspirasi mereka untuk MENGULANGI tindakannya. Since it's OK, why don't we do it again? Pacar pertama hamil, mari kita cari pacar berikutnya untuk dihamili? 

Itu baru inspirasi pada si pelaku. Bayangkan jika inspirasi ini terjadi pelajar-pelajar putra lainnya. Berapa banyak remaja putri yang akan hamil? Berapa banyak orang tua yang harus membiayai cucu sebelum waktunya?

Trust me... Sex Education might remind them that intercourse without condom could result in pregnancy. But... if they have seen that it's OK to impregnate / get pregnant, this knowledge will not trigger them to wear condom ;-)

***

So, tulisan ini gw mulai dengan artikel mengenai pernyataan tidak populernya MUI. Tapi sepanjang tulisan gw malah ngomongin hal lain: kehamilan remaja. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah pada perlunya kita think out of the box. Berpikir di luar batas. Mendobrak batas-batas pikiran kita sendiri untuk mendapatkan bird eye's view. Pandangan dari atas yang menyeluruh. Pandangan holistik.

Masyarakat Indonesia mencerca MUI yang berpikirnya cupet. Cuma memikirkan seputar selangkangan. Kita menganggap diri kita lebih baik, karena bisa melihat apa yang tidak dilihat MUI.

Tapi benarkah kita sudah melihat secara menyeluruh? Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya terjebak di kotak pikiran yang lebih besar? Kita merasa sudah bebas dari berpikir sebatas selangkangan, tetapi ternyata kita masih belum terbebas dari sebatas simpati pada perempuan atau sebatas melihat aktivitas seksual sebagai hak pribadi? :-)

Ironisnya, gw mesti mengatakan bahwa banyak masyarakat kita yang sesungguhnya masih terjebak pada kotak yang lebih besar. Kotak bernama solidaritas kepada perempuan. Kotak bernama solidaritas hak azasi. Kotak yang membatasi kita melihat bagaimana perempuan jika dikaitkan dengan gender lainnya. Yang membatasi kita melihat bahwa hak azasi pun dibatasi oleh hak azasi lainnya ;-)

Dan gw pun menjadi cemas.... dimanakah batas pandangan gw? Masihkah gw terjebak di sebuah kotak... meskipun kotak itu sudah lebih besar?

Monday, May 06, 2013

Borders

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, tepatnya 11 November 2011, gw melawan gravitasi. Defying Gravity. Seperti dikatakan di lagu dari musikal Wicked ini, gw merasa "...through accepting limits 'cause someone says they're so" dan "...trust my instinct, close my eyes and leap"

Ya. Gw memutuskan keluar dari comfort zone. Alasan resmi yang gw sampaikan adalah karena gw merasa comfort zone ini sudah seperti negeri Inggris :-) Gw merasa seperti Pangeran Charles, yang sampai nyaris punya cucu masih bergelar Prince of Wales. Jaman sudah berganti, istri sudah ganti, mantan istri sudah mangkat... tapi tetap saja posisinya nggak berubah. Bukan semata2 salah sang pangeran; dia hanya kurang beruntung. The right heir to the wrong throne? ;-)

Persinggahan pertama gw hanya berusia 7 bulan. Di bulan kelima, gw sudah mulai gerah dan ingin melanjutkan perjalanan. Beruntung, gw mendapatkan persinggahan baru. Kini, nyaris setahun sudah gw singgah di tempat ini.

Bahagiakah gw?
.
Well... to be honest, I still miss my comfort zone. It isn't easy. Wasn't. And will not be. Sebagian hati gw tertinggal di sana. Mungkin benar kata sebuah lagu dari musikal yang lain, Chess, yang mengatakan bahwa:
"... And you wonder will I leave her
But how?
I cross every border but I'm still there now"
Ya. Sejauh apa pun melangkah, berapa banyak pun perbatasan yang gw lintasi, gw tetap di sana. Gw nggak menyangkal: sebagian hati gw tertinggal di sana

Tetapi... menyesalkah gw?

Untuk pertanyaan ini, jawaban gw pasti: TIDAK. I am not. I was not. And I will never be. Hard as it is, I found this the BEST decision I've made. Dan kutipan Paulo Coelho dari buku terbarunya ini menggambarkan dengan tepat perasaan gw:



Bagian terbaik dari keputusan gw meninggalkan comfort zone bukan terletak pada ada yang gw dapat. Melainkan pada bagaimana gw menjadi.

For the first time in my life, I got a feedback that I've been too humble, lack of confidence, and doesn't have enough fighting spirit :-) Bukan feedback yang menyenangkan, eh? ;-) But for me, in a way, it is :-) Karena umpan balik ini menunjukkan bahwa gw bisa berubah. Mungkin berubahnya kebablasan... tapi tetap ini adalah perubahan ;-) Sesuatu yang tidak pernah gw bayangkan akan terjadi.

Orang bilang "Life begins at 40". I'm 40 now... and true, my [new] life has begun.

Mimpi gw belum berakhir. Masih banyak tempat yang akan gw singgahi dalam kehidupan ini. Setiap persinggahan akan menjadikan gw sesuatu. Setiap masa tidak akan gw sesali. Meski selalu ada bagian dari comfort zone yang gw rindukan. Bagaimanapun, seperti gaung Anthem: "My  comfort zone's land's only border lies around my heart"

------
Dedicated to a dear friend who will 'close her eyes and leap' tomorrow. To infinity and beyond, darl!

NB - Anthem yang ditautkan ke atas adalah yang bahasa Inggris. Tapi coba deh dengerin yang bahasa Welsh ini. Lebih nanceeeepp ;-)

Sunday, January 20, 2013

Les Misérables: I Didn't Watch One Time Then Die

Mari kita bicara tentang "bencana". Nope, bukan bicara tentang banjir yang melanda beberapa hari lampau dan membuat ibukota tercinta berada dalam status darurat hingga 27 Januari. Banjir itu memang bencana, tapi... ah, sudahlah! Toh Mas Joko sudah turun langsung siang-malam jadi mandor di tanggul Kanal Barat yang jebol itu. Semoga tanggul lekas selesai perbaikannya, dan Mas Joko bisa konsentrasi ke langkah selanjutnya dalam mencegah banjir Jakarta. Biar orang2 macam ALAY ini tidak bisa komentar aneh2 lagi ;-)

Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.

Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).

Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?

Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:

 **SPOILER ALERT! Run, reader, run! And don't come back ;-)*

1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya. 

Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!

Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.

In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.

2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo

Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)

Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)

Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum  pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)

So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:

"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"

Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.

Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.

Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.

Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.

Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.

Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah  Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!

Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!

Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)

Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?

Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".

Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God" 

Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.

3. The Full Circle

Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)

*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*

Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).

Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.

Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)

Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?

Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal  kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:

"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"
- page 42
Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.

Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)

-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.