Tuesday, August 29, 2006

Kaleidoskop Air

Awal 1980-an:

Membaca lakon wayang Tirta Amarta, kalau nggak salah dimuat bersambung di majalah Tom-Tom atau Ananda. Alkisah, Bima mendapat tugas mencari tirta amarta, atau air kehidupan: air yang jika diminum akan membebaskan dari kematian. Dasar samudera sudah diobrak-abrik, namun yang ditemukannya hanya Dewa Ruci; manusia kerdil yang mengatakan bahwa untuk menemukan air kehidupan, Bima harus masuk ke dalam kupingnya. Bima tertawa. Bagaimana mungkin masuk ke dalam telinga Dewa Ruci? Dewa itu besarnya hanya seibu jarinya!

Tapi betapa salahnya Bima! Ketika dia masuk ke telinga Dewi Ruci, ditemukannya ruang yang luas tak terperi, penuh dengan segala warna, tanda, gejala, dan pola. Ruang tempat dia dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri, introspeksi, dan menjadi lebih baik. Itulah air kehidupan. Sebuah telaga maya tempat kita bercermin dan belajar dari hal yang ada di sekitar kita untuk mencapai kebijaksanaan. Tak benar2 membebaskan dari kematian; tapi jika berhasil mereguknya, berarti tercapailah esensi dari hidup itu sendiri.

Awal 1990-an:

Membaca Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto). Salah satu tokoh utamanya, Gendhuk Tri, terkena racun ganas yang mematikan. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup jika menghirup racun itu. Namun Gendhuk Tri tidak mati, walaupun kemudian tubuhnya menjadi sangat beracun dan siapa yang menyentuhnya kontan tewas. Bertahun-tahun kemudian, ketika dia bertemu dengan pencipta jurus yang dipelajarinya, dia baru mengerti mengapa dia tidak mati. Dasar ilmunya adalah Tirta Parwa, kitab air, ilmu silat yang didasarkan pada sifat2 air.

Air memang tidak pernah mati. Air menyerap dan melarutkan apa pun racun yang ada, tapi dia tidak akan mati. Tak ada yang bisa mematikan air. Bahkan jika dipanaskan pun air hanya berubah bentuk menjadi uap, tapi air tidak lenyap.

1996-1997:

Mengikuti ujian kenaikan tingkat Tetada Kalimasada. Di tengah kelompok peserta ujian selalu ditimbunkan berbotol2 air mineral. Konon kabarnya, energi2 yang muncul dari para peserta akan membuat air itu punya kekuatan yang Insya Allah dapat membantu menyembuhkan. Interesting, cool concept!

12 Agustus 2006

Ngobrol dengan seorang teman, seorang aktivis Capacitar, tentang trauma healing dan stress management. Bicara tentang energi; bagaimana setiap hal di alam semesta ini adalah energi yang saling mempengaruhi dengan energi2 di sekitarnya. Bicara tentang the so-called pengobatan alternatif (yang harusnya dipertanyakan: alternative to what? Kenapa pengobatan medis harus dianggap yang paling benar, dan yang tidak medis hanya dilabel sebagai alternatif). Bicara tentang air dan penelitian Dr. Masaru Emoto: The Message from Water.

18 Agustus 2006:

Menemukan buku lanjutan tulisan Dr Masaru Emoto, The True Power of Water (edisi Bahasa Indonesia). Isinya kurang lebih sama dengan buku sebelumnya, hanya saja di sini ditekankan pada kasus2 penyembuhan menggunakan air Hado. Melalui penjelasannya yang gamblang, si penulis menjabarkan secara ilmiah tentang resonansi energi yang bagi banyak orang dianggap sebagai klenik, tahyul, atau tidak punya dasar ilmiah ;-).

Analoginya ilmiah sekali: menggunakan garpu tala. Garpu 1 & 2 mempunyai frekuensi 440Hz, sementara garpu 3 berada di frekuensi 442Hz. Maka, kita kita memukul garpu 1 hingga berbunyi, garpu 2 akan ikut berbunyi, sementara garpu 3 diam. Garpu ke-2 berbunyi karena beresonansi dengan garpu pertama. Seperti energi2 di tubuh kita beresonansi dengan energi2 lain di sekitar tubuh.

Selanjutnya, beliau menjabarkan tentang perubahan pada level sub-atom. Kita dapat mengirimkan resonansi energi pada tubuh manusia, jika energi itu disesuaikan frekuensinya. Resonansi itu akan mempengaruhi molekul, atom, bahkan sub-atom dari tubuh kita. Dan jika susunan molekul, atom, bahkan sub-atom berubah, maka berubahlah sel-sel tubuh kita. Maka, yang dibutuhkan untuk menyembuhkan suatu penyakit, adalah mengirimkan energi yang bisa mengubah susunan sel kita menjadi susunan sel orang yang tidak menderita penyakit tersebut.

Dalam buku ini dijabarkan bagaimana air menjadi media energi untuk membuat bagian sel2 tubuh beresonansi. Sel tubuh mana yang harus diresonansikan, dan prinsip bagaimana mengatur frekuensi air supaya dapat menimbulkan resonansi pada sel tersebut. Kenapa dipilih air? Ada dua alasannya: pertama, karena air sensitif terhadap energi, sehingga mudah dimodifikasi frekuensinya.

Dan alasan kedua.. karena air dalam menjangkau seluruh sel manusia. Hanya 30% tubuh manusia yang tidak terdiri dari air.

18 Agustus 2006, sebelum memulai membaca The True Power of Water:

Membaca kata pengantar KH Abdullah Gymnastiar untuk buku ini. Air adalah nikmat dan karunia Allah yang luar biasa bagi umat manusia, demikian katanya. Kemudian, beliau mengutip beberapa ayat Al-Quran:

Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup (QS al-Anbiya [21]:30)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu (QS Ibrahim [14]:32)

Hmm.. menarik! Selama ini gw take it for granted kalimat di al-Anbiya itu. Terfokus pada bagian dari air segala sesuatu yang hidup, karena gw tahu bahwa 70% tubuh manusia terdiri dari air. Baru sekarang gw sadar ada cara lain membaca kalimatnya, yaitu dengan menekankan pada: Kami ciptakan dari air ;-)

Petikan dari surat Ibrahim itu bikin gw lebih tercengang lagi. Iya ya, kenapa setelah disebutkan langit dan bumi, masih harus disebutkan air hujan? Langit dan bumi sudah merupakan pasangan yang mewakili semuanya. Seharusnya itu sudah cukup untuk menunjukkan keagungan Sang Pencipta dalam menciptakan alam semesta. Menyebutkan air hujan adalah pengulangan tak perlu, karena air hujan adalah bagian dari langit dan bumi juga?

Unless, there is something special about this water ;-)

28 Agustus 2006, 21:15, dalam perjalanan pulang dari kantor:

Air memang istimewa. Mau dilihat dari sisi agama, filosofi, mitos, legenda, maupun ilmiah, arahnya sama: mungkin air bukan sekedar sumber kehidupan. Air adalah kehidupan itu sendiri.

Science is not at odds with religion; science is only too young to understand, demikian kata salah satu tokoh dalam Angels & Demons (novel karangan Dan Brown). Dan mungkin gw ingin menambahkan satu kalimat dari rangkaian peristiwa di atas: and that is why we need myth and legend, to bridge our understanding before science comes with proof.

Thursday, August 24, 2006

Kemenangan Hati

*Hehehe.. ngomongin soal Idol ah! Mumpung kemenangan Ihsan masih seumur jagung, dan di komunitas i-talk masih rame2nya saling hujat ;)*

Gw mau ngaku dosa dulu: gw termasuk yang SENENG BANGET Ihsan menang lawan Dirly ;)

Hehehe.. Gw bukan pendukungnya Ihsan, walaupun gw suka timbre-nya yang lumayan berat (gw selalu bilang suaranya Ihsan paling laki2 di antara ke-6 kontestan pria Indodol 3 ;-)). Setelah setengah kompetisi, gw pikir Ihsan bakal segera terlempar. Dibandingkan kontestan2 lain yang suaranya megah, Ihsan memang sangat sederhana dan biasa. Not an Indonesian Idol material, yang tipikal vibra2 megah ;) Makanya gw kaget juga ketika Gea terlempar dan GF-nya justru Ihsan dan Dirly.

Gw lebih kaget lagi bahwa ternyata Ihsan yang menang ;-). Harus diakui, di GF Dirly tampil lebih memukau dengan suaranya yang lebih merdu, lebih stabil, dan vibra megah; sementara Ihsan menurut gw cuma menang karena aransemen lagu Kemenangan Hati (= winning song Indodol-3) khas Kahitna banget. Lagu ciptaan Yovie Widianto diaransemen ceria ala Kahitna, ya kayak botol ketemu tutup ;-) Pas banget! Sementara lagu yang sama, untuk Dirly, aransemennya dibikin megah seperti jaman Baroque. Sesuai sama karakter suara Dirly, tapi nggak sesuai sama karakter lagunya ;-).

So, kenapa gw bilang seneng banget Ihsan menang? Dan kenapa gw ngaku dosa?

Soalnya.. gw ngerasa bersalah atas alasan gw ;-)Gw senang Ihsan yang menang, karena kemenangan Ihsan membantu gw menampar banyak fans Indonesian Idol yg suka nongkrong di i-talk. It makes my euphoria a guilty pleasure, rite ;-)?

Hehehe.. gw tuh hobi banget nongkrongin komunitas virtual reality show yang lagi rame. Pas AFI rame, gw nongkrongin Forum AFI. Pas Penghuni Terakhir rame, gw nongkrongin Forum ANTV. Dan pas Indonesian Idol rame, gw nongkrongin i-talk. Memang sih reality show itu mungkin nggak reality banget, ada rekayasanya. Tapi.. the reaction of the audience is genuine. Gw bisa belajar banyak tentang manusia dari genuine reactions para pemerhati acara itu. Memilah2 komentar dan menganalisa (kelompok) manusia dari komentar2 itu ;-).

Nah.. dalam salah satu kegiatan memilah, memprofile, dan menganalisa serius hal yang sepele, gw came to conclusion bahwa typical pengunjung i-talkers lebih suka berkomentar tentang betapa nggak kampungannya mereka karena nonton Indodol daripada berkomentar tentang elemen2 yang ada dalam acara itu sendiri. Banyak yang lebih senang memfokuskan diri menghina orang/komunitas/acara lain, daripada memanfaatkan forumnya untuk mendukung pilihannya.

Well.. sebenernya bukan urusan gw juga sih mereka mau ngomong apa. Gw toh gak harus bergabung sama mereka. Tapi.. dasar gw tuh suka gemesan kalau lihat parade kata2 yang nggak enak dibaca. Gemes melihat ada orang2 yang dengan sengaja senang menghina dan menganggap dirinya lebih baik daripada yg lain.

Waktu tiga besar menyisakan Ihsan, Dirly, dan Gea, ada salah satu teman yang berkomentar bahwa Indodol yang tersisa mirip 3 besarnya AFI-1. Dan waktu Gea akhirnya tersingkir, gw sempat mikir: hmm.. gimana reaksinya ya, kalau Dirly kalah di tangan Ihsan? Jadi persis banget sama AFI-1 yang mereka nista2kan itu kan ;-)? It must be very shocking, menemukan kenyataan di depan mata bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain. Dan.. it must be very humiliating, menemukan diri kita di tempat yang sama dengan orang2 yang selama ini kita rendahkan.

Akhirnya.. memang benar bahwa yang menang adalah Ihsan, si anak tukang becak motor sederhana dari Medan. Dia mengalahkan dua pesaingnya, cowok yang suaranya lebih bagus dan si centil manja yang enak didengar dari Bandung. Ihsan-Dirly-Gea bak replika dari Veri-Kia-Mawar hampir 3 tahun lalu. Sebuah tamparan keras untuk sebagian orang kan ;-)?

So.. I smugly smile reading the riot in i-talk. Hujan hujatan berhamburan. Gw nggak tahu mana yang lebih bikin mereka murka; karena kontestan yang overall lebih bagus kalah.. atau.. karena dihadapkan pada kenyataan bahwa hasil pemilihan “Idola Indonesia Sesungguhnya” gak beda sama apa yang selama ini mereka nistakan ;-). Analisa gw: alasan kedua tuh yang lebih berperan, sementara alasan pertama cuma puncak gunung es ;-) Ouch, luka itu pedih, Jendral! Apalagi kalau jatuh dari tempat tinggi. High Flying, Adored, don’t look down it’s a long, long way to fall ;-). Makanya, jangan suka merendahkan orang dan meninggikan diri ;-)

Tapi setelah hampir seminggu berlalu, setelah puas melihat orang2 kehilangan akal mencaci maki, sampai segala isyu SARA diangkat dengan cara yang benar2 ajaib, gw ngerasa nggak enak sendiri. Kalau gw ngetawain mereka, berarti sama aja dong, gw sama mereka?  Kalau gw ngetawain mereka, apa nggak sama juga gw merendahkan mereka ya? Hehehe.. That’s why I feel guilty about this pleasure ;-).

Hmm.. ya sudah lah, piss aja buat mereka yang lagi hujat menghujat di i-talk. Let’s learn our lesson ;-). Pelajaran pertama (lebih buat para hujatters itu kali ya ;-)): jangan suka merendahkan orang dan meninggikan diri sendiri, bisa jadi suatu hari loe berada di posisi yang sama, dan kalau udah keseringan nyela rasanya lebih sakit lho.. ;-). Pelajaran kedua (ini lebih buat gw): hati2.. tipis banget lho bedanya antara mengharapkan seseorang belajar sesuatu, dengan memuaskan diri sendiri melihat orang lain kena batunya ;-).

BTW, busway, monorail, gw baca syair lagu Kemenangan Hati tuh berbau cinta2an ya? Kemenangan yang didapat karena support mental beberapa hati yg menyatu. Padahal, kalau Kemenangan Hati dideskripsikan sebagai berhasil menguasai dua lessons di atas, sebagai kemenangan hati mengatasi diri sendiri, tentu lagunya lebih bermakna.. ;-)  

Tuesday, August 22, 2006

Get Smarter with Pop Culture!

Di Free! Magazine edisi 15 ada review tentang sebuah buku berjudul Everything Bad is Good for You (Steven Johnson). Gw belum baca bukunya; di Limma belum ada yg bisa disewa, dan rasanya sayang juga keluar Rp 146,000 untuk membelinya di Aksara ;-) *well, seperti layaknya isi majalah lifestyle seperti ini, everything comes with a price tag ;-)*

Tapi gw bener2 tertarik membaca resensinya! Mulai sekarang kita tidak perlu lagi merasa bersalah jika menghabiskan akhir pekan di depan layar TV menonton episode demi episode dari DVD serial TV kesayangan selama berjam2, demikian salah satu kalimat di resensi itu. Hmm.. sesuai banget sama pandangan gw yg selama ini ya ;-)?

.. Penulis buku ini dengan cerdas dapat membuktikan kalau hal2 yang selama ini dianggap sebagai guilty pleasure atau yang sering dicap sebagai mindless entertainment ternyata sebenarnya bisa membuat kita lebih pintar. Buku ini membahas  serial-serial TV yang selama ini membuat kita ketagihan untuk menontonnya secara berkesinambungan, ternyata cukup berisi. Mulai dari .. ER, Six Feet Under, Lost, 24, Scrubs, bahkan sampai Desperate Housewives (betul sekali, sebelumnya saya tidak pernah berpikir kalau serial yang satu ini bisa membuat saya jadi lebih pintar)..

Hehehe.. sebelum buku ini dibahas, gw udah sering teriak2 di blog tentang apa yang gw pelajari dari film2 yg gw tonton atau buku2 yg gw baca. Nggak melulu film2 yg canggih dan bermutu, atau buku2 sastra dan filosofi; tapi juga film yang dibilang ecek2 dan buku2 novel ringan pengisi waktu luang. Dari dulu gw udah belajar banyak dari Desperate Housewives; karena film ini terlihat banget membentuk karakter2 tokohnya dengan kuat. Belajar, memang tidak melulu harus secara formal. Sebenarnya, apa pun yang ada di sekitar kita bisa jadi bahan pelajaran, asal kita mau terbuka pada informasi dan menggunakan informasi itu secara tepat.

Tahu caranya bikin surat rahasia? Pakai air jeruk sebagai tinta, tulisan gak akan kelihatan kecuali kalo kertas disetrika. Atau pakai batangan sabun sebagai alat tulis, maka kalimat baru terlihat kalau kertasnya dibasahi. Dan darimana gw dapat pengetahuan praktis itu? Dari serial Pasukan Mau Tahu karangan Enid Blyton.. ;-)

Tebak binatang apa yang struktur fisiknya paling mirip dengan manusia, tapi bukan sejenis primata! Jawabannya: BABI. Yup! Babi, aka the pig (English) aka das Schwein (Deutsch). Nggak nyangka ya? Tapi bener kok, babi itu mirip manusia. Makanya, kalau mau membuktikan memar atau senjata yg mematikan korban, yang dipakai sebagai percobaan adalah babi. Pengetahuan ini tidak gw dapatkan dari ensiklopedi, tapi dari pop culture: sebuah novel thriller (sayang gw lupa judulnya) dan beberapa episode CSI.

*hehehe.. jadi tambah setuju kenapa secara spesifik babi disebut sebagai makanan yg diharamkan. Kalau struktur fisiknya mirip manusia, kan menyantap babi seolah2 jeruk makan jeruk ;-)*

Ada lagi yang menarik! Pernah ngerasa bingung nggak dengan istilah Defense Attorney (pengacara) dan District Attorney (yang sering jadi prosecutor alias jaksa)? Padahal kalau di Indonesia kan beda banget antara Jaksa dan Pengacara; di Indonesia pengacara memang bisa menuntut pihak lain dalam kasus perdata, tapi dia nggak jadi penuntut umum (=prosecutor) dalam kasus pidana. Gw jadi bingung dengan istilah District Attorney di sini; kenapa harus disebut District Attorney kalau sehari2nya berperan sebagai prosecutor? Kenapa nggak disebut prosecutor aja?

Kebingungan gw baru terjawab ketika suatu hari membaca novel tentang empat orang ex-con yang menuntut ganti rugi pada City of New York. Di kasus perdata seperti ini, District Attorney yang biasanya menjadi prosecutor di kasus pidana, ternyata beralih fungsi menjadi Defense Attorney bagi City of New York. Oooh.. ternyata, di legal system Amrik, pembagiannya adalah berdasarkan PROFESI-nya, bukan berdasarkan FUNGSI-nya toh! Jadi, pembagiannya bukan jaksa dan pengacara, tapi.. attorney yg bekerja untuk negara atau attorney yang bekerja untuk swasta. Ini menjelaskan kenapa sidang di sana selalu disebut sebagai City of [nama kota] vs. [nama tersangka], sementara sidang di sini selalu disebut sebagai persidangan kasus [nama kasus]. Di sistem Indonesia, jaksa ya jaksa, pengacara ya pengacara. Kalau ada warga negara yg merasa dirugikan oleh negara, dia boleh menuntut ganti rugi pada negara, tapi negara ya cari pengacara, bukan jaksanya disuruh jadi pengacara ;-).

Well.. masih banyak lagi hal2 yang gw pelajari secara nggak sengaja dari pop culture. Pop culture indeed makes me smarter ;-) Gw sudah menyadari ini sejak dulu. So.. rada nggak rela juga kalo di review tsb dikatakan bahwa ini adalah teori baru dari Steven Johnson. Si Pak Johnson ini cuma mematenkan duluan.. hehehe.. ;-)

Ada satu lagi yang gak gw setujui dari review itu. Di sana tertulis bahwa: mungkin Steven Johnson belum menonton pop culture di Indonesia. Kalau sudah melihat pop culture kita, mungkin Steven Johnson akan berubah pendapat. Hehehe.. menurut gw sih sebenernya pop culture kita juga sama mencerdaskannya seperti pop culture yang dibahas Pak Johnson. Cuma.. cara mencerdaskannya beda! Kalau nonton CSI, Star Trek, atau South Park, gw dapat pengetahuan baru. Nah.. kalau nonton Pintu Hidayah, Tersanjung 8, atau pop culture kita lainnya, gw berkesempatan untuk menguji ulang pengetahuan yg udah gw dapat.. hehehe.. Anggaplah nonton CSI itu sesi teorinya, maka nonton Tersanjung adalah sesi prakteknya ;-) Praktek menempatkan teori2 yang sudah kita dapat untuk membuktikan ketidaklogisan yang ada pada pop culture kita.. HAHAHA..

Beneran kok! Gw bener2 merasa mendapat ujian untuk menjelaskan pada Ima tentang ketidaklogisan2 yang ada di sinetron2 kita. Gw harus putar otak untuk mentransfer pengetahuan2 gw dengan bahasa yang dimengerti Ima untuk membuktikan bahwa sinetron2 kita itu gak logis. Itu suatu bentuk getting smarter juga kan ;-)?

Hmm.. Steven Johnson belum mematenkan pendapat yg ini kan? Kalau gitu.. bisa gw patenkan aja kali ya? Lucu juga kalo gw bikin buku sequel-nya Pak Johnson, sesuai dengan budaya dan keadaan Indonesia.. hehehe.. ;-)

*Mimpi kali yee.. kapan juga gw sempet bikin buku.. HAHAHAHA.. ;-)*

Wednesday, August 16, 2006

Bruce and I

Laptop gw di kantor punya nama. Namanya: Bruce Willis.

Iya, potongannya memang mirip Bruce; segede gambreng, plain banget kayak botaknya si Bruce, dan udah lama Demi Moore-nya (baca: pasangannya, alias gw. Mirip kan ;-)?) minta cerai. Dan satu lagi kemiripan utamanya: DIE HARD!

Hehehe.. emang tuh kompie susah banget disuruh mati! Padahal, boss gw yang baik hati itu cuma punya satu kelemahan: kalo urusan komputer dia hanya membaginya menjadi dua kelompok besar, yaitu komputer yg masih bisa ON dan komputer yang udah selalu OFF. Alias, kalo si Bruce Willis gak mati total, gw gak bakal dapat kompie baru.

Makanya, tiap hari gw suka ngomelin si Bruce itu. Kalo lemotnya keluar, gw ancam mau gw siram air.. hehehe.. Trus, suka gw perlakukan semena2 juga. Habis presentasi lalu, tuh kompie gw titip di mobil kantor selama supir kantor shalat Jumat dan gw jalan2 di Electronic City. Gak takut hilang? Yah.. kalau si Bruce diculik, kan gw dapat kompie baru ;-).

Yah.. sebenernya sih gw gak berniat menyakiti hati si Bruce. Gw kan sudah mengalami banyak hari2 bersama dia. Menyelesaikan berbagai project, ditemenin presentasi, nge-blog kalo sempat, nge-chat kalo lagi bete (biarpun YM gw sering error),.. memang banyak sih kenangan indah gw bareng Bruce. Tapi.. kalau kerjaan gw terganggu karena Bruce mulai lambat, kalau ada program yg tiba2 nge-hang gara2 gw buka beberapa file sekaligus, kalau gw harus kerja di kompie orang gara2 programnya gak bisa di-install di si Bruce, rasanya gak tahan juga. Pingin ganti sama Ashton Kutcher ;-)

Hehehe.. tapi mungkin emang gak baik ya, suka nggak ngata2in kompie sendiri? Ada penelitiannya kan, bahwa kinerja benda2 di sekitar kita sangat tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka. Tanaman yang diperlakukan dengan cinta tumbuh lebih subur daripada tanaman yang disia-siakan atau dibenci. Quantum uncertainty; reality is changed by every thought, demikian kalo menurut What the Bleep do We Know?

*BTW, menurut seorang teman (yang beruntung sudah menonton preview-nya di Bali ;)), sequelnya udah ada lho! Judulnya What the Bleep down the Rabbit Hole. Tapi di pasaran Indonesia belum ada; boro2 yg bajakan, yg asli juga belum muncul ;-)*

Dan kayaknya itu yang terjadi deh, pada si Bruce. Senin lalu, pas si Bruce gw ajak pulang ke rumah, tiba2 Bruce kena serangan jantung. Pas gw mau ngirim dokumen ke klien, tiba2 si Bruce kehilangan orientasi: dia tidak bisa mendeteksi dial tone. Sudah di-cek sama bapaknyaima kabelnya baik2 saja, saluran telfon juga baik2 saja, berarti kesalahan ada pada Bruce tercinta. Pas di-cek di kantor juga para ahlinya angkat tangan. Jantungnya si Bruce tak tertolong lagi. Harus di-bypass alias dikasih modem external. Atau kalau mau: ganti yang baru ;)

Masalahnya, nasib gw sekarang lebih buruk daripada Demi Moore! Minta annulment (=pembatalan nikah) sama boss gw bakal lebih repot daripada minta ke Paus.. hehehe..;-) In sickness and health, gw baru bisa lepas dari si Bruce kalo dia udah tak tertolong lagi. Jadi, boro2 deh deh gw dapat Ashton Kutcher, yang ada gw mesti hidup bersama si Bruce yang udah lebih lemah daripada dulu :-(

Yah.. moral of the story-nya adalah: manis2lah sama barang2mu. Jelek2, jangan suka dicela. Jangan suka didoain mati.. hehehe.. Be careful with what you want. Jangan mengharap sepuluh punai di udara, seekor punai di tangan dilepaskan. Bisa2 malah gak dapat apa2 ;-) Your thought can really change reality, but there is no guarantee that you will get what you wish ;-)

Tapi ada juga sih blessing in disguise dari kasus ini. Setidaknya, dengan Bruce yg gak bisa connect ke internet, gw gak bisa diminta kirim email ke klien atau teman2 kerja gw selama libur very long weekend ini. Dengan demikian, gw bisa bener2 berlibur dan beristirahat, tanpa harus mikirin kerjaan. Emang sih jadi nggak bisa nge-blog juga, tapi.. gw memang butuh istirahat sih!

Dan di dalam hati gw masih menyimpan harapan bahwa moga2 si Bruce cuma ngambek karena gw ngancam mau cari pacar baru. Atau kalau emang dia cinta mati sama gw, moga2 dia cuma mati suri untuk memberi gw kesempatan istirahat. Habis liburan, moga2 jantungnya berdetak lagi ;-)

*atau ada saran lain? Mendingan si Bruce gw euthanasia sekalian, gitu ;-)?*

Tuesday, August 15, 2006

A True Friend

Browsing di perpustakaan langganan untuk cari The Known World yang direkomendasikan seorang teman, gw malah nemu buku2nya Yukio Mishima. Hehehe.. After the Banquet yang gw incar udah ada lagi! Tapi sayang, yang dijual sekarang adalah cetakan baru yang mahal harganya, sementara dulu gw ngincar used book-nya yang cuma Rp 15,000. Yah, gw tunggu 2-3 tahun lagi aja kali ya, sampai buku baru ini jadi bekas ;-) *kikir dot com*

Hmm.. ingat Yukio Mishima, jadi ingat biografi singkatnya yang ada di tiap buku. Mishima ini hidupnya penuh sensasi lho! Selain pernah menang Nobel kesusastraan, dia juga tercatat sebagai pelaku seppuku terakhir. Seppuku (=hara-kiri, tradisi bunuh diri Jepang dengan menyobek perut) kan lazimnya dilakukan oleh para samurai. Tapi dengan sensasionalnya Mishima melakukan itu tahun 1970 ;-)/

Gw selalu terkesima dengan budaya Jepang, termasuk juga dengan tradisi seppuku ini. Seppuku adalah cara mati yang sangat tidak nikmat. Bayangkan saja, perut kok disobek (dari kiri ke kanan), lantas dari kanan disobek lagi ke atas untuk mengeluarkan organ2 tubuh. Hii.. mengerikan! Tapi, buat samurai2 Jepang, ini adalah cara mati yang terhormat. Daripada menyerah di tangan musuh dan dipermalukan (baca: disiksa sampai mengkhianati atasan), lebih baik mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyakitkan.

Beruntung, seorang samurai yang akan melakukan seppuku, boleh memilih seorang kaishakunin. Kaishakunin adalah seorang samurai lain yang ditunjuk untuk mengakhiri penderitaan pelaku seppuku dengan memenggal kepalanya. Yang menarik: yang ditunjuk sebagai kaishakunin biasanya adalah sahabat si pelaku seppuku itu sendiri, yang dipercaya mampu melakukan itu pada dirinya. Di kasus lain, yang ditunjuk adalah lawan yang dipercayai akan cukup terhormat tidak membiarkan lawannya mati menderita.

Menarik sekali ya, bagaimana kita memilih orang yang bisa kita percaya? Bukan dari manisnya tutur kata di depan kita seumur hidup. Tapi dari keberaniannya untuk melakukan hal2 yang seolah2 nggak mengenakkan buat kita, padahal sangat kita perlukan.

A true friend stabs you in the front, demikian bunyi kutipan Oscar Wilde yang terkenal. Banyak orang terfokus pada kata friend dan (to) stab. Dua kata ini memang seolah2 bertolak belakang. Seorang teman tidak akan pernah menikam dirimu. A true friend will never stab you. Sedikit yang mau fokus pada inti sesungguhnya: in the front.

Ya, kadang, ada keadaan yang tidak terhindari dimana seseorang harus ditikam. Dan yang membedakan teman dari musuh adalah DIMANA mereka menikamnya. An enemy backstabs you; but a true friend stabs you in the front. Tikaman di belakang selalu dilakukan pada saat seseorang tidak siap, menimbulkan kesakitan yg amat sangat, dan sering kali korbannya mati tanpa pernah tahu siapa yang menikamnya. Tikaman di depan bukannya tidak menyakitkan, tapi memberikan kesempatan yang lebih besar bagi seseorang untuk membela diri. Jika pun si korban akhirnya mati, setidaknya dia melihat siapa yang menikamnya dan punya kesempatan untuk memahami kenapa dia ditikam.

Tapi tampaknya nggak gampang cari orang2 yang mampu stab you in the front. Rata2 orang memilih untuk menghindari konflik dengan tidak memegang pisau sama sekali. Atas nama perdamaian dan harmoni, mereka memilih diam. Parahnya, setelah mereka tidak bisa lagi diam, yang dilakukan adalah backstabbing. Nggosip di belakang ;-) Padahal, kalau dia bilang di depan, kasih kritik di depan, belum tentu masalahnya berlarut2. Dan itu memang yang harusnya dilakukan seorang teman: mengingatkan teman secara terang2an di depan, walaupun itu mungkin menyakitkan buat si teman.

Hehehe.. banyak orang heran kalau gw menyebutkan bahwa teman2 terbaik gw adalah teman2 berantem gw. Mereka heran kenapa gw malah menganggap orang yang tiap hari beradu pendapat sama gw, kadang sampai panas benar diskusinya, kadang sampai ada yang ngambek (ada yg ambang ngambeknya lebih rendah daripada gw, tapi banyak yang ambangnya lebih tinggi daripada gw ;-)) adalah my true friends.

Hmm.. jawaban gw: why not? Gw sangat menghormati orang2 ini karena mereka sudah menunjukkan bahwa mereka dare to stab me in the front ;-). Kadang tikamannya memang menyakitkan, tapi gw lebih mudah belajar dari tikaman2 itu. Buat gw, ini lebih baik daripada mereka yang let me bleed to death karena mereka nggak tega menikam gw dari depan, atau yang lebih buruk lagi: mereka yang backstab me ketika gw tidak siap.

Ih.. postingan gw kali ini penuh kekejaman ya.. hehehe.. Tapi, singkirkan segala kata tikam dan darah itu, dan yang tersisa adalah ciri2 utama dari a true friend ;-)

Friday, August 11, 2006

Ponsius Pilatus

Di sela-sela berita tentang tanggul Lumpur LAPINDO yang jebol, tadi di TV ada berita tentang eksekusi Tibo, da Silva, dan Riwo. Ketiga terpidana mati ini akan menghadapi regu tembak tengah malam nanti di lokasi yang dirahasiakan. Tibo cs dijatuhi hukuman mati karena didakwa menjadi dalang kerusuhan Poso. Namun sebenarnya hingga saat ini masih banyak yang meragukan kebenaran berita itu.

Di antara yang meragukannya adalah Franz Magnis-Suseno, yang pada suatu waktu pernah menuliskan tentang keganjilan kasus ini; kerusuhan Poso itu antara kelompok Kristen dan kelompok Islam, sementara Tibo dkk beragama Katholik. Apa yang mereka raih dari kerusuhan ini, sementara Katholik sendiri adalah minoritas di daerah itu, dan dalam kerusuhan itu yang akhirnya dibakar adalah Gereja Katholik Santa Theresia?

Well, gw nggak sepenuhnya percaya bahwa kalau dia minoritas, dan kalau hasil akhirnya yang terbakar adalah rumah ibadahnya sendiri, maka pasti dia bukan provokator. Gw kan penggemar conspiracy theory, dan konspirasi tuh biasanya rumit; dalangnya justru biasanya punya alibi tak terbantah ;-). Tapiiii.. menurut gw penjelasan pihak keluarga korban ini juga amat sangat masuk akal. So.. sebenarnya hal ini masih perlu ditelaah lebih jauh lagi sebelum keputusan dijatuhkan. Jangan sampai kita mengeksekusi orang yang tidak bersalah.

Sebelum terlambat, gw ingin menunjukkan pada para pengambil keputusan (dan orang2 yang punya akses untuk ikut mempengaruhi keputusan) sebuah bagian menarik dari novel yang sedang gw baca:

“Actually, Ira, that’s the best question of the night - and the answer is the whole point of tonight’s lesson,” he said. “Pontius Pilate gave in to the mob and the Jewish leaders because he lacked integrity. Jesus, on the other hand..,” he said, turning towards the painting on the screen, “in those times just a Jewish carpenter and scholar, had integrity.”

“Look what it got him,” Zak pointed out.

“Ah, yes, but look how he’s remembered today by an awful lot of people,” Karp replied. “To some, he’s the Son of God. And even others, including Jews and Muslims, see him as a great man. But how is Pontius Pilate remembered? As a corrupt coward who wouldn’t stand up for justice, a man who washed his hands of a murder.”

(Robert Tanenbaum, Fury, p. 218)

Rasanya nggak perlu gw bahas ya, apa yang gw maksud dengan kutipan ini ;-). The quote speaks for itself. Mudah2an Tibo dkk benar2 bersalah. Karena kalau mereka tidak bersalah, maka kalian mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh Ponsius Pilatus dua ribu tahun silam. You’ll get away, but you’ll always be remembered as the icon of cowardice and corrupted conscience.

Thursday, August 10, 2006

Terpaksa Outing

“Terus, Vin, dia bilang kalau nggak ikut outing jatah cutinya dipotong”

‘Ohya??? Serius loe? Potong cuti???”

“Iya! Gw nggak bohong. Tadi di meeting dibilangin kok! Bayangin! Outing kan 3 hari kerja! Potong cuti 3 hari, plus libur bersama tahun ini yang 5 hari itu, tinggal berapa sisanya, coba? Tinggal 4 hari kan? Dia mah enak, manajer ke atas kan jatah cutinya 18 hari setahun. Masih ada 10 hari, biar kata nggak ikut. Lha kita? Udah cuti cuma 12 hari, dipotong2 pemerintah, eeh.. direktur masih ikut2an motong lagi!”

“Alasannya apa? Kok cuti dipotong?”

“Katanya, kantor kan udah membiayai outing. Jadi hitungannya outing ini adalah tugas kantor. Kalau nggak mau ikut outing, mau berlibur di rumah sama keluarga, ya silakan. Tapi potong cuti”

“Hah? Gitu?”

“Iya! Kalau nggak mau ikut outing, dengan alasan yang bukan karena assignment dari kantor, itu namanya mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan kantor. Oleh karena itu jatah cuti kita dipotong”

“Lha?? Kok gitu sih? Bukannya cuti itu hak kita?”

“Yaelah.. hare gene loe ngomong hak dan kewajiban? Kalo bicara hak dan kewajiban, yang namanya outing juga bukan kewajiban kita kok! Tapi diwajibkan juga kan? Nah.. kalau dia bisa mewajibkan yang tidak wajib, kenapa heran kalo dia tidak mengakui hak yang merupakan hak?”

“Iya juga sih. Padahal..”

“Padahal, kalau gak ikut outing terus disuruh jaga kantor, loe juga mau kan? Tapi kantornya tutup karena outing kan, jadi nggak bisa juga loe ngantor, bukan karena pingin berlibur”

“Hehehe.. Iya. Maksud gw gitu. Kok kita dihukum, seolah-olah maunya kita dapat hari libur. Terus.. gimana tuh kayak si Rinda? Dia ikut juga? Bayinya gimana?”

“Itu tuh yang bikin meeting tadi agak panas jadinya. Si Rinda udah mau nangis. Dia kan baru 3 minggu ini selesai maternity leave. Biar kata udah nggak nyusuin, namanya ibu baru, gimana sih rasanya disuruh ninggalin bayinya? Si Melly juga nyolot tadi. Loe tahu aja, dia kan paling nggak mau pisah sama dua krucilnya. Selesai ngitung tutup buku jam 3 pagi aja dia jabanin pulang ke Cikarang”

“Jadi Melly terpaksa ikut dong?”

“Ya enggak lah! Dia bilang sama si Ibu itu silakan potong cutinya. Daripada dia disuruh pisah sama anaknya 4 hari 3 malam, mendingan cutinya tekor.. hehe..”

“Hehehe.. emang tuh, si Melly berani sekali. Tapi emang iya sih, kayaknya kok jadi semena2 gini. Outing kok malah dijadikan beban. Padahal, apa ruginya sih kantor kalo kita nggak ikut outing? Kok sampai kayak harus maksa2 gini dengan ancaman memotong hak kita. Kalau kita sering mangkir dari kantor sih wajar ya kena sanksi, tapi.. ini gak ikut outing doang gitu loh!”

“Nah itulah! Outing is supposed to be fun, right? Plis deh! What is the meaning of the maksud, kalau pesertanya berangkat dengan rasa terpaksa”

“Tapi mungkin terpaksa itu pas berangkatnya aja kali, Ty. Kalau udah sampai di tempat outing juga mereka ikut menikmati”

“Hmm.. bisa jadi sih, Vin. Tapi kalau kasusnya Rinda sama Melly kayaknya enggak deh. Pasti bakal inget terus sama anak2nya. Ntar deh, loe kalo punya anak juga bakal ngerasain. Gw juga dulu kalo ninggalin anak gw lebih dari 2 hari aja udah kelimpungan”

“Iya juga sih”

“Terus.. ada lagi, Vin! Si Sandra tadi nanya, boleh nggak kalo dia berangkatnya nyusul? Kan rencananya kita berangkat naik kereta Argo. Bapaknya ultah malam itu, jadi dia mau nyusul pakai pesawat pagi aja. Minta jatah tiket keretanya, untuk nambah2 beli tiket pesawat. Kan kalo naik model Wings Air atau Adam Air gitu nambahnya gak banyak”

“Boleh tuh, sama si Ibu?”

“Ya enggak lah! Loe nggak nyimak dari tadi betapa diktatornya si Ibu itu? Katanya, kalau mau nyusul naik pesawat ya silakan bayar sendiri. Kantor hanya akan membayari pegawai2 yang mau berangkat bersama, bukan yang mau berlibur sendiri, atau menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kantor!”

“Heh???? Gila! Si ibu itu ngomong gitu???”

“Sumpah! Semua orang juga dengar!”

Gokil! Kerja sih kerja, tapi kan bukan berarti kita nggak boleh punya kehidupan sosial. Lagian, udah bagus si Sandra mau nyusul pagi2! Masih usaha untuk ikutan”

“Ember! Apa ruginya sih buat kantor? Tinggal gak pesenin tiket Sandra aja, terus mentahnya kasih ke Sandra. Gitu aja kok repot! Eh, Vin, loe pernah nonton Tears of the Sun?”

[Vina menggelengkan kepala]

“Itu film tentang perang saudara di satu negara Afrika gitu. Ada satu adegan dimana tentara salah satu suku menangkap beberapa penduduk sipil dari suku lawannya”

“..”

“Terus, penduduk sipil yang tertangkap itu disuruh nyanyi2 bergembira. Sambil nari2 gitu. Siapa yang berhenti menari dan menyanyi langsung ditembak, atau setidaknya digebukin”

“Maksud loe paan sih?”

“Yah, maksud gw, gw jadi inget film itu gara2 meeting tadi. Gw jadi berasa kayak penduduk yang tertangkap tentara lawan, dan dipaksa nari2 dan nyanyi2 dengan ancaman ditembak mati. Biar kata gw suka menari dan menyanyi, udah nggak ada fun-nya lagi karena melakukannya dengan perasaan terpaksa. Padahal, outing is supposed to be fun

“Hahaha.. gilingan loe, Ty! Ada benernya juga sih, tapi.. mosok segitu parahnya sih?”

“Yah, outing itu kan untuk menyegarkan pikiran, lepas dari rutinitas, sehingga diharapkan kita bisa kerja lagi dengan lebih baik setelah outing. Tapi yang bikin kita segar itu adalah lepas dari rutinitas untuk melakukan hal yg kita sukai. Bukan outing-nya. Nggak ikut outing, kalau dia di rumah seneng2 sama anaknya, hasil akhirnya bisa sama dengan para bujangan yang ikut outing dan menikmati outing karena memang belum punya keterikatan sama keluarga”

And?”

“Sebaliknya, outing kalau dengan rasa terpaksa, nggak nikmat, apakah bisa bikin kita segar dan siap kerja lagi? Jangan2 malah kantor cuma buang2 duit aja ngebiayain orang2 ini”

“Yah, gimana ya, Ty? The way you see the problem is the problem kan? Dan di kasus ini, kayaknya kantor nggak melihat dari segi hasilnya terhadap para pegawai. Mereka lebih sibuk ngitung berapa duit yang harus dikeluarkan. Nggak mau rugi, mereka udah keluar duit, mereka harus dapat apa yang mereka mau. Nggak mikir bigger picture-nya. Nggak mikir bahwa apa yg fun buat mereka bisa jadi beban buat yang lain..”

*based on true conversation; deliberately fictionalized with a little exaggeration here, there, and everywhere ;-)*

Wednesday, August 09, 2006

Blog Comment: Analisa (sok) Ilmiah

Apa arti sebuah komentar di personal blog?

Beberapa orang mengartikannya sebagai indikasi bahwa teman loe banyak. Orang lain mengartikannya sebagai indikasi bahwa tulisan loe meaningful. Berikut ini dua komentar yang gw pinjam dari blog teman:

Dan hasil dari membuka dan menutup (yang tentunya plus membaca isi blog nya) monica wijaya, hmmm....i didn't find any meaning, plus, khususnya untuk posting 2 terakhir, tidak ada comments at all (walaupun belum pernah ada hasil dari satu research yg menyebutkan hubungan antara meaningful postings dan comments, maaf...)

(Komentar hapsara tentang blog yg menjiplak abis blog si sepatumerah )

------

Iya wan, kasian si Ada deh gk pernah punya temen baik kali, jd gk ada yg ksh komen/mampir ke blog dia makanya sepi n sifat buruknya keluar deh..hehe

(Komentar si Ogut di kotak teriaknya Iwan (ini si ogut yg cinta damai bukan sih ;-)?)

Gw pribadi sih menganggap komentar itu benar2 sekedar jumlah nominal dari orang yang mau komentar; entah karena merasa postingan gw punya makna, atau karena mau meninggalkan jejak kaki bahwa dia sudah berkunjung. Kalau pinjem teorinya Ajzen tentang Planned Behavior, maka perilaku nyata itu nggak bisa digunakan untuk memprediksi makna dari entry tersebut terhadap pembacanya atau hubungan antara pembaca dan penulis blog. Kalau kita tahu makna entry itu untuk seseorang dan/atau keakraban orang itu dgn penulisnya, kita bisa memprediksi perilakunya. Tapi proses ini tidak bisa dibalik, karena sebuah perilaku yg sama bisa dilandasi oleh latar belakang yg berbeda.

Gw mencoba bikin research tentang hal ini. Sekedar research (sok) ilmiah, karena saya belum menemukan web counter yang bisa memberikan informasi tepat tentang berapa banyak orang yang mengunjungi blog saya. Sebagus2nya data yang bisa mereka berikan adalah berapa unique users yang mengunjungi blog gw; artinya, kalau sebuah IP Address mengunjungi website gw, lantas mengunjungi lagi sebelum ada pengunjung lain, maka dia tidak dihitung 2x seperti dalam sistem hit counter.

Untuk kepentingan penelitian ini, beberapa hari lalu gw pasang web counter bersamaan dengan posting baru. Posting yg sehari2 banget, tanpa teori, sehingga semua orang bisa baca sampai habis dan bisa komentar. Pada saat web counter menunjukkan angka 160 (tepatnya 164, tapi sudah gw kurangi 4, sesuai dgn jumlah kunjungan pribadi gw saat memantau perkembangan web counter), gw mendapatkan 6 komentar.

Tanpa teori macem2 pun, asumsi gw terhadap data di atas adalah begini:

1. Anggaplah dari 160 kunjungan itu, hanya separuh (80) yang membaca entry saya. Yang 80 lagi kabur begitu melihat lay-outnya terlalu sederhana, tulisannya panjang, dan gak ada gambar2 menariknya (jangan lupa, manusia Indonesia katanya kurang gemar membaca, gemarnya melihat gambar ;-))

2. Dari 80 yang membaca, anggaplah separuhnya (40) yang membaca sampai habis. Yang 40 lagi coba2 baca, tapi bosen karena kepanjangan ;-)

3. Dari 40 yang membaca sampai habis, anggaplah separuhnya (20) yang menganggap tulisan saya bermakna. Yang 20 lagi menganggap saya sok paling ok, sok tahu, kelewat serius ngebahas hal sepele, bikin rumit hal yg gampang, kurang hedonis,.. you name it ;-)

4. Dari 20 yang menganggap tulisan saya bermakna, anggaplah separuhnya (10) yang tertarik memberi komentar. Yang 10 lagi lebih senang menyimpan makna itu sendiri

5. Dari 10 yang tertarik memberi komentar itu, anggaplah separuhnya (5) yang akhirnya benar2 memberi komentar. Yang lainnya mungkin gak punya waktu, bingung mau komentar apa, takut komentarnya kedengaran konyol,.. seperti kata teori Planned Behavior di atas, dari intensi menjadi perilaku nyata tuh jalurnya masih panjang ;)

Hmm.. walaupun gak ilmiah2 amat, kayaknya asumsi gw cukup meyakinkan ya? Jumlah komentar lebih merupakan konsekuensi logis dari jumlah kunjungan, bukan karena meaningful enggaknya ;-).

Terus.. kita coba yuuk kemungkinan tentang hubungan antara keakraban dan komentar di blog. Asumsi gw kalau komentar dihubungan dgn keakraban adalah adalah begini:

1. Dari 160 pengunjung, anggaplah hanya separuh (80) yang memang kenal sama gw (atau kenal sama tulisan gw). Yang 80 lagi nyasar saat blog-walking

2. Dari 80 orang yg kenal gw itu, anggaplah separuh (40) yang emang benar2 mau baca tulisan gw. Sisanya, 40, sekedar pingin tahu kabar gw; apa yg sedang menarik perhatian gw untuk gw ulas.

3. Dari 40 yang emang niat baca tulisan gw, anggaplah separuh (20) yang bener2 baca tulisan gw sampai abis. Sisanya males, bosen, atau pusing ;-)

4. Dari 20 yang baca tulisan gw sampai habis, hanya separuh (10) yg berniat mengomentari. Sisanya enggak; dengan alasan masing2.

5. Dari 10 yang berniat mengomentari, akhirnya, seperti asumsi di atas, hanya separuh (5) yang benar2 mengomentari.

See? Kalau kita pakai perhitungan ideal aja, 50-50 di setiap langkah, maka jumlah komentar adalah suatu konsekuensi logis dari jumlah kunjungan.

Tentu, perhitungannya nggak bisa matematis begini. Seperti gw bilang di atas, keakraban pengunjung dan penulis bisa meningkatkan jumlah komentar, demikian juga kebermaknaan dari entry tersebut. Di langkah2 tertentu dari asumsi di atas, bisa jadi faktor keakraban atau kebermaknaan entry memperbesar probabilitas jumlah komentar; dari yang tadinya 50-50 menjadi 60-40, 75-25, bahkan 90-10. Tentunya itu akan mengubah hasil akhir dari jumlah komentar, seperti 6 komentar yg gw dapat, walaupun secara teoritis harusnya cuma 5 komentar. Dan tentu juga, jumlah pengunjung terkait pada banyak hal, seperti keaktivan pemasaran tidak langsungnya (suka bikin link dimana2, misalnya ;-)), karakteristik blog providernya (kalo di blogspot, yg gampang di-googled, tentu lebih besar kemungkinan dikunjungi orang asing daripada di friendster), sampai pada word of mouth dari teman ke teman.

But, my point is: jangan memprediksi apa2 dari jumlah komentar yang ada. Jumlah komentar adalah hasil akhir yg bisa diprediksi, bukan titik tolak untuk memprediksi ke belakang, kecuali kalo kita punya data tambahan ;-).

Atau, kalau diimplementasikan ke dalam konteks yang lebih luas: jangan memprediksi penyebab atau latar belakang BERDASARKAN perilaku tertentu, kecuali kalau kita punya data tambahan yang mendukung ;-) Inget deh, manusia itu bukan mesin yang kalau dipencet tombol A maka hasilnya B, jadi kalau hasilnya B pasti karena yg ditekan tombol A.. ;-) Ingat selalu bahwa hasil B itu mungkin disebabkan oleh A, A1, A2, A3.. An ;-)

---

PS: Jadi, buat kalian2 yg telaten baca tulisan ini sampai habis, gw pingin tanya: apa alasan kalian memberikan atau tidak memberikan komentar di posting gw? Hehehe.. ;-) Anggap aja ini sesi kualitatif dari penelitian (sok) ilmiah ini ;-)

PPS: Yang mendaftarkan blog gw ke Blog Indonesia siapa ya? Baru nyadar kemarin nih ;-)! Well, whoever you are, tenkyu menkyu ya! Tersanjung deh ada yg mau susah2 memasarkan blog gw.. hehehe.. Padahal gw emang sengaja nggak melakukan kegiatan pemasaran aktif. Gw cuma seneng nulisnya doang, gak pingin berlomba2 cari pembaca yg banyak ;-). Tapi tentu, kalau ada yg baca celotehan gw, dan menganggapnya berguna, gw seneng sekali.

Monday, August 07, 2006

Dari Final Miss Indonesia 2006

Bagaimana pendapat Anda tentang wanita Indonesia modern, apakah mengalami kemajuan dibandingkan wanita Indonesia dahulu, atau justru mengalami penurunan. Sebutkan contoh dan alasannya!

Demikian kurang lebih pertanyaan Ibu Martha Tilaar kepada salah satu kontestan Miss Indonesia 2006. Kontestan itu lantas menjawab bahwa wanita Indonesia di masa kini sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang.

Benar ya? Wanita Indonesia sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang? Bukan hanya mengalami tera ulang (timbangan kaleee.. ;-)) supaya sesuai dengan perkembangan jaman, sementara bobot perannya tetap sama aja ;-)?

***

Hehehe.. sejak dulu kayaknya gw nggak jodoh sama pemilihan putri-putrian. Pilihan gw selalu nggak sesuai sama pilihan juri.. kecuali waktu juri memilih Angelina Sondakh jadi Putri Indonesia ;-). Di ajang final Miss Indonesia 2006, sekali lagi pilihan gw berbeda langit dan bumi sama juri.

*ohya, buat yang bingung, Miss Indonesia ini bukan Putri Indonesia. Beda franchise, man! Miss Indonesia sponsornya Sari Ayu (Martha Tilaar), kalau Putri Indonesia disponsori oleh Mustika Ratu (Mooryati Soedibyo). Miss Indonesia ke Miss World, Putri Indonesia ke Miss Universe. Yang bikin bingung, Putri Indonesia kalo ikutan Miss Universe dibilang Miss Indonesia, nah lho belibet!*

Mendengarkan jawaban para kontestan di 10 Besar, ada 2 orang yang isi jawabannya menarik perhatian gw. Wakil DIY dan Wakil Maluku Utara. Jawabannya lancar dan lumayan berbobot. Dari 3 kontestan yang menjawab dalam bahasa Inggris, lagi2 Wakil Maluku Utara menarik perhatian. Pronunciation-nya bahkan jauh lebih bagus daripada Wakil Jawa Tengah yang got her bachelor degree from a university in Michigan, USA; setara dengan Wakil Riau yang lahir di Amsterdam, gede di Vienna, dan remaja di Italia.

Di kutub yang lain, ada satu kontestan yang menurut gw berantakan abis. Wakil dari Sulawesi Utara. Di 10 Besar, menjawab dalam bahasa Indonesia pun dia mengalami kesulitan; baik dalam merumuskan jawaban maupun menggunakan bahasa Indonesia itu sendiri.

Tapi.. apa yang terjadi? Wakil DIY bahkan tidak masuk ke 5 Besar, sementara Wakil Sul-Ut masuk.

Oh, well, mungkin gw terburu2 menilai. Makanya gw pasang-mata-pasang-telinga lagi di 5 Besar. Dan di 5 Besar ini gw makin mantap memilih Wakil Maluku Utara. Jawabannya cerdas sekali saat ditanya Wimar Witoelar tentang mengapa banyak terjadi kekacauan di Indonesia sekarang. Kontestan ini menjawab bahwa salah satu masalahnya adalah karena interpretasi demokrasi yang bermacam2, tidak seragam, sehingga demokrasi sering diartikan boleh melakukan apa saja tanpa memperdulikan orang lain. Smart answer! Tantowi Yahya sampai mengomentari betapa bagusnya jawaban itu.

Sementara itu di 5 Besar ini Wakil Sul-Ut makin kedodoran. Pertanyaan untuknya datang dari Mbakyu Larasati *yang masih ayu tenan, walaupun sedikit overweight untuk ukuran mantan model ;-)*, tentang maraknya adopsi di kalangan artis sebagai single parent. Wakil Sul-Ut ini tampak masih kesulitan merumuskan jawaban, walaupun bahasa pengantarnya udah ganti jadi bahasa Inggris.

Jadi jelas ya, masalahnya adalah pada kemampuan Wakil Sul-Ut mengolah pertanyaan dan menemukan jawaban, bukan di kendala bahasa.. hehehe.. Terbukti dari sibuknya mbakyu ini menjawab pertanyaan dengan how holy thing adoption is; how it shows how we care about others. Walah.. mbak, mbak, pertanyaannya adalah tentang mengadopsi sebagai single parent, bukan sekedar tentang mengadopsi ;-) Nenek2 disko juga tahu mengadopsi adalah perbuatan baik. Tapi.. bagaimana jika mengadopsi tanpa menikah? Ini pertanyaan cerdas tentang norma pribadi vs masyarakat, bukan tentang adopsi itu sendiri ;-)

But you know what? Yang maju ke tiga besar adalah: Bali, Jawa Tengah, dan.. SULAWESI UTARA! Maluku Utara tersisih, walaupun jawabannya lebih cerdas dan berbobot.

*Kayaknya Tantowi Yahya ngeh bahwa ini tidak sesuai harapan, karena dia sempat ngomong berkali2 bahwa keputusan juri ini berdasarkan akumulasi nilai sejak babak2 sebelumnya ;-)*

Oh, oke lah! Wakil Jawa Tengah still looks good enough, anyway. Gw pikir dia yang akan menang. Bukan pilihan utama gw, tapi jawabannya lumayan. Paling baik di antara mereka bertiga, karena Wakil Bali membuat blunder dengan menjawab: Kalau saya bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, saya akan mengajaknya bekerja sama memerangi terorisme, dan saya akan mengatakan bahwa walaupun negara Islam, Indonesia bukan negara Islam seperti yang lain yang mereka kenal. Walah.. walah.. mbakyu, sejak kapan Indonesia jadi negara Islam ;-)? Jangan sembarangan mengubah isi UUD 45 lho, bisa kena pasal subversif ;-)

*[sigh] And may I remind you, you might waste away the opportunity to convince USA that a little introspection is needed ;-) [sigh]*

Namun ternyata.. Miss Indonesia 2006 adalah.. Wakil Sulawesi Utara!

Iya, Wakil Sul-Ut yang jawabannya meliuk2 nggak karuan ketika ditanya apakah cita2nya saat ini akan berubah jika terpilih menjadi Miss Indonesia 2006. Sampai2 Tantowi Yahya harus nge-probe ulang: jadi, kesimpulannya, cita2 kamu akan berubah atau tidak?

***

Oh, well, to be fair, wakil Sul-Ut itu memang tidak seburuk yang gw gambarkan.. ;-) Dia cantik. Tinggi semampai. Badannya langsing berisi. Kulitnya putih. Udah pengalaman jadi Nona Manado 2005. Dan kelihatan paling lady-like saat tayangan wawancara pra-final. Saat menjawab duduknya kalem, gak berubah posisi, nggak berapi2 seperti beberapa kontestan. Mungkin dari situ dia menabung nilai sehingga biarpun jeblok di jawaban final, tetap jadi juara.

Tapi.. kalau benar begini, maka balik lagi ke pertanyaan Ibu Martha Tilaar di atas: apakah perempuan Indonesian modern mengalami kemajuan?

Karena, kalau akhirnya sebuah kemampuan berpikir tidak dihargai setinggi kecantikan dan penampilan fisik, berarti wanita Indonesia modern masih diperlakukan sama saja dengan wanita2 Indonesia pendahulunya: penghias sangkar yang harus cantik menarik, tapi nggak perlu terlalu pintar ;-). Kalaupun sekarang perempuan Indonesia boleh sekolah tinggi2, mungkin bukan untuk memberikan kesempatan yang sama. Mungkin itu cuma supaya dia makin punya nilai lebih untuk jadi penghias sangkar. Karena sekarang requirement untuk penghias sangkar sudah meningkat ;-) Kalau mau jadi penghias sangkar, kan gak bisa cuma jadi burung gagak ;-)? Apalagi kalau mau jadi penghias sangkar emas ;-)

Well.. kalau memang benar begitu, kasiiiiiaan deh perempuan Indonesia modern.. ;-) Cuma mengalami kemajuan semu ;-)

Saturday, August 05, 2006

Kalau Saja Jerman Menang Perang

Habis nonton Der Untergang (aka Downfall), cerita tentang hari-hari terakhirnya Hitler dan Nazi, selain terharu gw juga jadi punya pikiran gila.

Terharunya adalah melihat ketabahan Frau Goebbels membius anaknya satu demi satu (anaknya ada 6, bo!), untuk kemudian memasukkan kapsul bunuh diri ke mulut mereka, memecahkan kapsul itu dengan gigi mereka, dan menyelimuti jenasah mereka satu persatu; sebelum dia dan suaminya Josef Goebbels minta dieksekusi oleh anak buahnya. Tindakan bunuh diri setelah Jerman dipastikan kalah, karena Goebbels adalah salah satu pucuk pimpinan Nazi. Yup! Terharu, karena di balik pandangan politik mereka yang dikutuk banyak orang, toh mereka tetap hanya manusia. Hanya orang tua biasa yang sayang pada anak2nya juga; yang memilih membunuh anaknya satu persatu daripada membiarkan mereka disiksa musuh untuk memeras informasi dari orang tuanya.

Pikiran gilanya: sayang ya, Nazi (baca: Jerman) kalah di Perang Dunia ke-2 ;-)

Hehehe.. pikiran gila ini muncul gara2 berbagai berita di koran. Coba kalau Jerman menang perang, mungkin Jeng Nadine nggak bakal diketawain orang karena bahasa Inggrisnya belepotan. Kan, bisa jadi, Jerman yang jadi bahasa internasional. Nah.. kalau bahasa yang satu ini, Jeng Nadine mah gape abis! Secara ibunya orang Jerman gitu loh, dan bahasa Jerman adalah lingua franca di rumahnya.. ;-)

Lalu, kalau Jerman menang, konflik Israel-Palestina nggak akan ada. Nggak ada zionisme, kan semua bangsa Yahudi yang tersisa masuk ke kamp konsentrasi.. ;-) Jadi Amerika Serikat nggak punya [meminjam analisa bapaknyaima] sekutu yang paling bisa diandalkan di Timur Tengah untuk menguasai minyak dunia. Jadi kehidupan Timur Tengah sana relatif tenang (baca: nggak ada perang, kecuali perang saudara kali ya.. ;-)).

Swear, gw bukan anti-semit. Holocaust malah merupakan salah satu topik yang gw suka, dan selalu bikin gw terharu. Jaman film ini dilarang diputar di Indonesia, gw sampai numpang nonton di kost salah satu mahasiswa yang berhasil menyelundupkan LD film ini langsung dari Amrik. Kalau ada buku atau film tentang holocaust gw buru2 cari. Gw juga kagum sama para survivors, terutama Elie Wiesel dan Viktor Frankl. Swear, gw juga bukan kelompok yang pikirannya penuh dengan keinginan jihad-dalam-tanda-kutip ke Palestina ;-) Gw termasuk yang skeptis kalau ada orang yg bicara bahwa konflik ini adalah konflik keagamaan. Hmm.. Amerika Serikat bantu Israel pasti lebih karena alasan ekonomi ;-)

Namun memang gw sepakat banget dengan Elie Wiesel di salah satu bukunya: Dawn. Sepakat dengan pertarungan batin Elisha, si holocaust survivor yang bergabung dengan jaringan zionisme pertama, ketika dia diperintahkan untuk mengeksekusi seorang tentara Inggris. Saat itu Elisha mempertanyakan mengapa mereka [bangsa Yahudi] yang baru saja lolos dari pembantaian malah melakukan tindakan yang baru saja mereka kutuk. Dia mempertanyakan kenapa mereka [bangsa Yahudi] yang merasakan sendiri tidak enaknya diperlakukan begitu, sekarang malah melakukan itu kepada orang lain.

Iya, lepas dari simpati gw terhadap apa yang dialami oleh bangsa Yahudi selama perang dunia II, gw tetap nggak bisa ngerti dan nggak bisa setuju sama berdirinya negara Israel di tanah Palestina. I mean.. gw mengerti bahwa setelah apa yang mereka alami, Yahudi ingin mendirikan negara sendiri *Mungkin kalo dibikin lagu pop bunyinya gini: Ku tak sanggup hidup di negara2 dimana ku pernah dikirim naik kereta sapi ke kamp konsentrasi ;-)* Gw juga bisa mengerti bahwa mereka pingin bikin negaranya itu di tanah yang dikuasai Palestina.. karena menurut apa yang mereka percayai, tanah itu adalah tanah terjanji buat mereka.

Tapi.. tetap yang gw nggak bisa ngerti, kok bisa-bisanya jalan yang ditempuh adalah seperti ini? Mereka nggak punya bukti de jure bahwa tanah Palestina itu diwakafkan Tuhan untuk mereka; itu kan hanya berdasarkan cerita turun temurun. De facto-nya adalah tanah itu sudah dihuni oleh bangsa lain; juga bukan karena merebut atau menjajah. So, kalau sekarang mereka ingin minta bagian, bukan begitu caranya. Bukan main rebut aja. Dan yang jelas: tidak dengan nge-bom bertubi-tubi secara sistematis dengan korban yang banyakan warga sipil! Kalau gini sih, namanya mereka memulai holocaust yang baru :-(

Seperti Elisha, gw jadi bertanya: kok bisa ya? Kok bisa ya, mereka melakukan sesuatu yang (setidaknya menurut gw) persis sama apa yang Nazi lakukan terhadap mereka? Apa pun alasannya bukankah mereka, of all the people in this world, paling tahu rasa sakitnya?

Well.. kalau katanya Mbakyu Indri, bossnya para-tukang-urus-masalah-kejiwaan di kantor ini, justru karena mereka pernah mengalami hal itu, makanya mereka melakukan hal yang sama pada orang lain. Teorinya lupa, maklum dengarnya juga hanya dari forward-an verbal bapaknyaima ;-) Yang gw tangkap sih penjelasannya Mbakyu Indri itu versi ilmiah dari penjelasan para profilers FBI di cerita2 tentang serial killer atau serial rapist: the hunted turns into the hunter. Justru karena mereka pernah disakiti, somehow mereka menemukan ketenangan dengan melakukan hal yang sama itu pada orang lain. Justru karena mereka pernah disakiti dan nggak bisa ganti menyakiti tormentor-nya, maka rasa sakit dan balasannya dialihkan pada orang lain. Ini proses yang sub-conscious; kalau ditanya pelakunya juga mungkin nggak menyadari, tapi kecenderungan itu ada.

Yup! Gw setuju sama pendapatnya Mbakyu Indri. Bisa jadi memang mekanismenya begitu. So, gw juga nggak bisa begitu kejam menghujat2 Israel, kali ya ;-)? Mungkin mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ;-)

Tapi.. gw jadi tempra sama Amerika Serikat nih! Kok ya bisa2nya menganakemaskan Israel, bisa2nya mendiamkan Israel yang serangannya begitu sistematis dan membunuhi warga sipil, bisa2nya membiarkan Israel get away dengan mengatakan kematian para pengungsi dan anak2 itu adalah kecelakaan SEMENTARA tidak sampai seminggu kemudian Israel sudah nge-bom warga sipil lainnya. Padahal, saat Ahmadinejad ngeyel dengan proyek nuklirnya, Amerika Serikat berkoar2 tentang bahayanya Iran. Hell, Ahmadinejad bahkan belum menggunakan senjata itu seperti Israel menggunakan senjatanya! Tak kurang dari Readers Digest mengomentari: are his nuclear ambitions as frightening as his rhetorics? Jadi, maunya Amerika Serikat apa sih? Mau bahwa Israel punya semua senjata, dan negara2 Arab di sekitarnya sama sekali nggak punya senjata?

Frankly, if this is the case, then you have turned into the Nazi you fought back in 1945.. ;-) Menjadi Nazi yang membunuhi bangsa Yahudi yang tak berdaya karena sudah tidak boleh memiliki apa2.. ;-) Kalau menurut gw, Nazi masih terhormat; Nazi membunuh karena percaya pada suatu pandangan (betapa pun anehnya pandangan itu.. ;-)). Lebih terhormat kan, daripada menghalalkan segala cara demi memperkaya diri ;-)?

Ayolah, Amerika Serikat.. lha wong Israel itu perlu bantuan kejiwaan, kok malah di-endorse perilaku menyimpangnya.. ;-) Ayo, segera berhenti sebelum dibilang sebagai accomplice for murder.. hehehe.. Jangan sampai lebih banyak lagi orang menyesali sejarah dan berkata: kalau saja Jerman yang menang perang.. ;-)