Monday, August 07, 2006

Dari Final Miss Indonesia 2006

Bagaimana pendapat Anda tentang wanita Indonesia modern, apakah mengalami kemajuan dibandingkan wanita Indonesia dahulu, atau justru mengalami penurunan. Sebutkan contoh dan alasannya!

Demikian kurang lebih pertanyaan Ibu Martha Tilaar kepada salah satu kontestan Miss Indonesia 2006. Kontestan itu lantas menjawab bahwa wanita Indonesia di masa kini sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang.

Benar ya? Wanita Indonesia sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang? Bukan hanya mengalami tera ulang (timbangan kaleee.. ;-)) supaya sesuai dengan perkembangan jaman, sementara bobot perannya tetap sama aja ;-)?

***

Hehehe.. sejak dulu kayaknya gw nggak jodoh sama pemilihan putri-putrian. Pilihan gw selalu nggak sesuai sama pilihan juri.. kecuali waktu juri memilih Angelina Sondakh jadi Putri Indonesia ;-). Di ajang final Miss Indonesia 2006, sekali lagi pilihan gw berbeda langit dan bumi sama juri.

*ohya, buat yang bingung, Miss Indonesia ini bukan Putri Indonesia. Beda franchise, man! Miss Indonesia sponsornya Sari Ayu (Martha Tilaar), kalau Putri Indonesia disponsori oleh Mustika Ratu (Mooryati Soedibyo). Miss Indonesia ke Miss World, Putri Indonesia ke Miss Universe. Yang bikin bingung, Putri Indonesia kalo ikutan Miss Universe dibilang Miss Indonesia, nah lho belibet!*

Mendengarkan jawaban para kontestan di 10 Besar, ada 2 orang yang isi jawabannya menarik perhatian gw. Wakil DIY dan Wakil Maluku Utara. Jawabannya lancar dan lumayan berbobot. Dari 3 kontestan yang menjawab dalam bahasa Inggris, lagi2 Wakil Maluku Utara menarik perhatian. Pronunciation-nya bahkan jauh lebih bagus daripada Wakil Jawa Tengah yang got her bachelor degree from a university in Michigan, USA; setara dengan Wakil Riau yang lahir di Amsterdam, gede di Vienna, dan remaja di Italia.

Di kutub yang lain, ada satu kontestan yang menurut gw berantakan abis. Wakil dari Sulawesi Utara. Di 10 Besar, menjawab dalam bahasa Indonesia pun dia mengalami kesulitan; baik dalam merumuskan jawaban maupun menggunakan bahasa Indonesia itu sendiri.

Tapi.. apa yang terjadi? Wakil DIY bahkan tidak masuk ke 5 Besar, sementara Wakil Sul-Ut masuk.

Oh, well, mungkin gw terburu2 menilai. Makanya gw pasang-mata-pasang-telinga lagi di 5 Besar. Dan di 5 Besar ini gw makin mantap memilih Wakil Maluku Utara. Jawabannya cerdas sekali saat ditanya Wimar Witoelar tentang mengapa banyak terjadi kekacauan di Indonesia sekarang. Kontestan ini menjawab bahwa salah satu masalahnya adalah karena interpretasi demokrasi yang bermacam2, tidak seragam, sehingga demokrasi sering diartikan boleh melakukan apa saja tanpa memperdulikan orang lain. Smart answer! Tantowi Yahya sampai mengomentari betapa bagusnya jawaban itu.

Sementara itu di 5 Besar ini Wakil Sul-Ut makin kedodoran. Pertanyaan untuknya datang dari Mbakyu Larasati *yang masih ayu tenan, walaupun sedikit overweight untuk ukuran mantan model ;-)*, tentang maraknya adopsi di kalangan artis sebagai single parent. Wakil Sul-Ut ini tampak masih kesulitan merumuskan jawaban, walaupun bahasa pengantarnya udah ganti jadi bahasa Inggris.

Jadi jelas ya, masalahnya adalah pada kemampuan Wakil Sul-Ut mengolah pertanyaan dan menemukan jawaban, bukan di kendala bahasa.. hehehe.. Terbukti dari sibuknya mbakyu ini menjawab pertanyaan dengan how holy thing adoption is; how it shows how we care about others. Walah.. mbak, mbak, pertanyaannya adalah tentang mengadopsi sebagai single parent, bukan sekedar tentang mengadopsi ;-) Nenek2 disko juga tahu mengadopsi adalah perbuatan baik. Tapi.. bagaimana jika mengadopsi tanpa menikah? Ini pertanyaan cerdas tentang norma pribadi vs masyarakat, bukan tentang adopsi itu sendiri ;-)

But you know what? Yang maju ke tiga besar adalah: Bali, Jawa Tengah, dan.. SULAWESI UTARA! Maluku Utara tersisih, walaupun jawabannya lebih cerdas dan berbobot.

*Kayaknya Tantowi Yahya ngeh bahwa ini tidak sesuai harapan, karena dia sempat ngomong berkali2 bahwa keputusan juri ini berdasarkan akumulasi nilai sejak babak2 sebelumnya ;-)*

Oh, oke lah! Wakil Jawa Tengah still looks good enough, anyway. Gw pikir dia yang akan menang. Bukan pilihan utama gw, tapi jawabannya lumayan. Paling baik di antara mereka bertiga, karena Wakil Bali membuat blunder dengan menjawab: Kalau saya bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, saya akan mengajaknya bekerja sama memerangi terorisme, dan saya akan mengatakan bahwa walaupun negara Islam, Indonesia bukan negara Islam seperti yang lain yang mereka kenal. Walah.. walah.. mbakyu, sejak kapan Indonesia jadi negara Islam ;-)? Jangan sembarangan mengubah isi UUD 45 lho, bisa kena pasal subversif ;-)

*[sigh] And may I remind you, you might waste away the opportunity to convince USA that a little introspection is needed ;-) [sigh]*

Namun ternyata.. Miss Indonesia 2006 adalah.. Wakil Sulawesi Utara!

Iya, Wakil Sul-Ut yang jawabannya meliuk2 nggak karuan ketika ditanya apakah cita2nya saat ini akan berubah jika terpilih menjadi Miss Indonesia 2006. Sampai2 Tantowi Yahya harus nge-probe ulang: jadi, kesimpulannya, cita2 kamu akan berubah atau tidak?

***

Oh, well, to be fair, wakil Sul-Ut itu memang tidak seburuk yang gw gambarkan.. ;-) Dia cantik. Tinggi semampai. Badannya langsing berisi. Kulitnya putih. Udah pengalaman jadi Nona Manado 2005. Dan kelihatan paling lady-like saat tayangan wawancara pra-final. Saat menjawab duduknya kalem, gak berubah posisi, nggak berapi2 seperti beberapa kontestan. Mungkin dari situ dia menabung nilai sehingga biarpun jeblok di jawaban final, tetap jadi juara.

Tapi.. kalau benar begini, maka balik lagi ke pertanyaan Ibu Martha Tilaar di atas: apakah perempuan Indonesian modern mengalami kemajuan?

Karena, kalau akhirnya sebuah kemampuan berpikir tidak dihargai setinggi kecantikan dan penampilan fisik, berarti wanita Indonesia modern masih diperlakukan sama saja dengan wanita2 Indonesia pendahulunya: penghias sangkar yang harus cantik menarik, tapi nggak perlu terlalu pintar ;-). Kalaupun sekarang perempuan Indonesia boleh sekolah tinggi2, mungkin bukan untuk memberikan kesempatan yang sama. Mungkin itu cuma supaya dia makin punya nilai lebih untuk jadi penghias sangkar. Karena sekarang requirement untuk penghias sangkar sudah meningkat ;-) Kalau mau jadi penghias sangkar, kan gak bisa cuma jadi burung gagak ;-)? Apalagi kalau mau jadi penghias sangkar emas ;-)

Well.. kalau memang benar begitu, kasiiiiiaan deh perempuan Indonesia modern.. ;-) Cuma mengalami kemajuan semu ;-)