Thursday, August 10, 2006

Terpaksa Outing

“Terus, Vin, dia bilang kalau nggak ikut outing jatah cutinya dipotong”

‘Ohya??? Serius loe? Potong cuti???”

“Iya! Gw nggak bohong. Tadi di meeting dibilangin kok! Bayangin! Outing kan 3 hari kerja! Potong cuti 3 hari, plus libur bersama tahun ini yang 5 hari itu, tinggal berapa sisanya, coba? Tinggal 4 hari kan? Dia mah enak, manajer ke atas kan jatah cutinya 18 hari setahun. Masih ada 10 hari, biar kata nggak ikut. Lha kita? Udah cuti cuma 12 hari, dipotong2 pemerintah, eeh.. direktur masih ikut2an motong lagi!”

“Alasannya apa? Kok cuti dipotong?”

“Katanya, kantor kan udah membiayai outing. Jadi hitungannya outing ini adalah tugas kantor. Kalau nggak mau ikut outing, mau berlibur di rumah sama keluarga, ya silakan. Tapi potong cuti”

“Hah? Gitu?”

“Iya! Kalau nggak mau ikut outing, dengan alasan yang bukan karena assignment dari kantor, itu namanya mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan kantor. Oleh karena itu jatah cuti kita dipotong”

“Lha?? Kok gitu sih? Bukannya cuti itu hak kita?”

“Yaelah.. hare gene loe ngomong hak dan kewajiban? Kalo bicara hak dan kewajiban, yang namanya outing juga bukan kewajiban kita kok! Tapi diwajibkan juga kan? Nah.. kalau dia bisa mewajibkan yang tidak wajib, kenapa heran kalo dia tidak mengakui hak yang merupakan hak?”

“Iya juga sih. Padahal..”

“Padahal, kalau gak ikut outing terus disuruh jaga kantor, loe juga mau kan? Tapi kantornya tutup karena outing kan, jadi nggak bisa juga loe ngantor, bukan karena pingin berlibur”

“Hehehe.. Iya. Maksud gw gitu. Kok kita dihukum, seolah-olah maunya kita dapat hari libur. Terus.. gimana tuh kayak si Rinda? Dia ikut juga? Bayinya gimana?”

“Itu tuh yang bikin meeting tadi agak panas jadinya. Si Rinda udah mau nangis. Dia kan baru 3 minggu ini selesai maternity leave. Biar kata udah nggak nyusuin, namanya ibu baru, gimana sih rasanya disuruh ninggalin bayinya? Si Melly juga nyolot tadi. Loe tahu aja, dia kan paling nggak mau pisah sama dua krucilnya. Selesai ngitung tutup buku jam 3 pagi aja dia jabanin pulang ke Cikarang”

“Jadi Melly terpaksa ikut dong?”

“Ya enggak lah! Dia bilang sama si Ibu itu silakan potong cutinya. Daripada dia disuruh pisah sama anaknya 4 hari 3 malam, mendingan cutinya tekor.. hehe..”

“Hehehe.. emang tuh, si Melly berani sekali. Tapi emang iya sih, kayaknya kok jadi semena2 gini. Outing kok malah dijadikan beban. Padahal, apa ruginya sih kantor kalo kita nggak ikut outing? Kok sampai kayak harus maksa2 gini dengan ancaman memotong hak kita. Kalau kita sering mangkir dari kantor sih wajar ya kena sanksi, tapi.. ini gak ikut outing doang gitu loh!”

“Nah itulah! Outing is supposed to be fun, right? Plis deh! What is the meaning of the maksud, kalau pesertanya berangkat dengan rasa terpaksa”

“Tapi mungkin terpaksa itu pas berangkatnya aja kali, Ty. Kalau udah sampai di tempat outing juga mereka ikut menikmati”

“Hmm.. bisa jadi sih, Vin. Tapi kalau kasusnya Rinda sama Melly kayaknya enggak deh. Pasti bakal inget terus sama anak2nya. Ntar deh, loe kalo punya anak juga bakal ngerasain. Gw juga dulu kalo ninggalin anak gw lebih dari 2 hari aja udah kelimpungan”

“Iya juga sih”

“Terus.. ada lagi, Vin! Si Sandra tadi nanya, boleh nggak kalo dia berangkatnya nyusul? Kan rencananya kita berangkat naik kereta Argo. Bapaknya ultah malam itu, jadi dia mau nyusul pakai pesawat pagi aja. Minta jatah tiket keretanya, untuk nambah2 beli tiket pesawat. Kan kalo naik model Wings Air atau Adam Air gitu nambahnya gak banyak”

“Boleh tuh, sama si Ibu?”

“Ya enggak lah! Loe nggak nyimak dari tadi betapa diktatornya si Ibu itu? Katanya, kalau mau nyusul naik pesawat ya silakan bayar sendiri. Kantor hanya akan membayari pegawai2 yang mau berangkat bersama, bukan yang mau berlibur sendiri, atau menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kantor!”

“Heh???? Gila! Si ibu itu ngomong gitu???”

“Sumpah! Semua orang juga dengar!”

Gokil! Kerja sih kerja, tapi kan bukan berarti kita nggak boleh punya kehidupan sosial. Lagian, udah bagus si Sandra mau nyusul pagi2! Masih usaha untuk ikutan”

“Ember! Apa ruginya sih buat kantor? Tinggal gak pesenin tiket Sandra aja, terus mentahnya kasih ke Sandra. Gitu aja kok repot! Eh, Vin, loe pernah nonton Tears of the Sun?”

[Vina menggelengkan kepala]

“Itu film tentang perang saudara di satu negara Afrika gitu. Ada satu adegan dimana tentara salah satu suku menangkap beberapa penduduk sipil dari suku lawannya”

“..”

“Terus, penduduk sipil yang tertangkap itu disuruh nyanyi2 bergembira. Sambil nari2 gitu. Siapa yang berhenti menari dan menyanyi langsung ditembak, atau setidaknya digebukin”

“Maksud loe paan sih?”

“Yah, maksud gw, gw jadi inget film itu gara2 meeting tadi. Gw jadi berasa kayak penduduk yang tertangkap tentara lawan, dan dipaksa nari2 dan nyanyi2 dengan ancaman ditembak mati. Biar kata gw suka menari dan menyanyi, udah nggak ada fun-nya lagi karena melakukannya dengan perasaan terpaksa. Padahal, outing is supposed to be fun

“Hahaha.. gilingan loe, Ty! Ada benernya juga sih, tapi.. mosok segitu parahnya sih?”

“Yah, outing itu kan untuk menyegarkan pikiran, lepas dari rutinitas, sehingga diharapkan kita bisa kerja lagi dengan lebih baik setelah outing. Tapi yang bikin kita segar itu adalah lepas dari rutinitas untuk melakukan hal yg kita sukai. Bukan outing-nya. Nggak ikut outing, kalau dia di rumah seneng2 sama anaknya, hasil akhirnya bisa sama dengan para bujangan yang ikut outing dan menikmati outing karena memang belum punya keterikatan sama keluarga”

And?”

“Sebaliknya, outing kalau dengan rasa terpaksa, nggak nikmat, apakah bisa bikin kita segar dan siap kerja lagi? Jangan2 malah kantor cuma buang2 duit aja ngebiayain orang2 ini”

“Yah, gimana ya, Ty? The way you see the problem is the problem kan? Dan di kasus ini, kayaknya kantor nggak melihat dari segi hasilnya terhadap para pegawai. Mereka lebih sibuk ngitung berapa duit yang harus dikeluarkan. Nggak mau rugi, mereka udah keluar duit, mereka harus dapat apa yang mereka mau. Nggak mikir bigger picture-nya. Nggak mikir bahwa apa yg fun buat mereka bisa jadi beban buat yang lain..”

*based on true conversation; deliberately fictionalized with a little exaggeration here, there, and everywhere ;-)*