Thursday, August 03, 2006

Sinkretisme dan Asimilasi

Gw punya teka-teki buat para penggemar Star Trek: Apa persamaan antara suku bangsa Jawa (tengah) dan Borg?

Jawabannya: keduanya sama2 suka melebur sesuatu di depan mata menjadi bagian dari dirinya.. ;-)

***

Beberapa kali gw tulis di blog ini bahwa ras yang gw suka di Star Trek adalah ras Borg: setengah manusia setengah mesin yang hobi sekali mengasimilasi ras2 lain. Tiap kali mereka menemukan pesawat berawakkan spesies baru yang menarik, sudah pasti mereka teriak: We are Borg. You will be assimilated. Resistance is futile! Lantas berikutnya spesies itu akan diasimilasi; dijadikan setengah mesin dengan dipasangi implant untuk menjadikan kebudayaannya terhubung dengan collective knowledge ras Borg.

Gw pikir2.. in a way.. suku Jawa (tengah) juga punya kecenderungan begitu.. ;-)

Teori ini terbersit bertahun2 lalu waktu gw suka memperhatikan eyang berdoa. Eyang muslim, tapi berdoanya tidak shalat 5 waktu. Gw baca buku doanya, full bahasa Jawa, jelas bukan doa2 Islam atau ayat Al Quran, tapi gw mengenali nama-nama nabi di situ. Belum lagi pas eyang cerita gelar yang dipakai raja-raja Jawa; gelar panjangnya itu menyebut2 juga Sayidin Panatagama Khalifatullah, tentu, maksudnya adalah khalifah (yang ditunjuk) Allah untuk menata/mengepalai agama. Padahal jelas raja2 Jawa itu bukan salah satu pemuka agama seperti (misalnya) Wali Sanga.

Dari pelajaran sejarah, gw tahu bahwa ini yang disebut sinkretisme. Melebur unsur baru ke dalam unsur yang lama menjadi entity yang baru. Dalam hal ini, agama Islam dilebur ke dalam kepercayaan sebelumnya (yang dipengaruhi Hindu) dan melahirkan entity baru yang kita kenal sebagai Kejawen. Inilah kekhususan yang ada di tipikal masyarakat Jawa; mereka menerima unsur2 baru, tapi mereka tidak menyesuaikan diri dengan unsur baru itu. Unsur baru itulah yang disesuaikan dengan irama mereka, dengan pakem yang sudah mereka punya. Ini yang nggak ada di suku bangsa lain. Tengok di ranah Minang, misalnya, masuknya Islam membuat mereka punya istilah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (=adat bersendikan syariah, syariah bersendikan kitab suci, CMIIW). Atau tengok bumi Aceh.. setelah Islam masuk, kini mereka jadi Serambi Mekah. Hanya di Jawa (tengah), di tanah kerajaan Mataram, Islam disinkretiskan menjadi Kejawen; di Jawa Barat pun tidak, di Jawa Timur apalagi.. ;-)

Bertahun2 kemudian, tepatnya tahun ini, gw menemukan bahwa kekhususan ini masih melekat juga di tanah Jawa. Lepas dari segala globalisasi, hal ini tetap ada pada mereka, dan muncul di aspek2 kehidupannya.

Beberapa bulan yang lalu gw melakukan product trial untuk sebuah inovasi baru di sebuah kota di Jawa Tengah. Inovasi baru ini diharapkan mampu mengubah ritual mereka dalam menyiapkan dan mengkonsumsi suatu produk (dan tentu aja UUD: ujung2nya duit, alias klien gw dapat share pasar yang lebih gede.. ;-) Sukur2 kita kebagian buahnya juga.. ;-)). Kepada tiap responden diberi beberapa prototype inovasi baru tersebut beserta selembar kartu instruksi untuk mengubah ritual mereka.

Hasilnya?

Gw yakin banget kartu instruksi itu nggak dibaca.. hehehe.. Dan ketika diwawancara, terbukti 100% dari mereka tetap menggunakan cara lama. Biarpun format produk baru itu beda banget dari produk yang biasa mereka pakai, tetap saja mereka kekeuh pakai pakemnya. Produk itu yang harus bisa menyesuaikan diri dengan cara mereka; itu saran utama mereka untuk perbaikan produk itu.

Padahal, waktu diuji coba di Sumatera, responden di sana nggak ada kesulitan untuk mengubah kebiasaannya selama masa percobaan. Padahal lagi, responden di Sumatera itu nggak dibekali dengan instruksi seperti di Jawa (tengah) ini.

Hehehe.. klien gw berkata bahwa responden yang di Sumatera lebih mau berpikir. Tapi kalau gw pikir mungkin masalahnya lebih dalam daripada itu: ini adalah suatu bentuk sinkretisme khas Jawa.. ;-) Agama aja disinkretiskan, apalagi cuma produk baru.. hehehe..