Tuesday, August 15, 2006

A True Friend

Browsing di perpustakaan langganan untuk cari The Known World yang direkomendasikan seorang teman, gw malah nemu buku2nya Yukio Mishima. Hehehe.. After the Banquet yang gw incar udah ada lagi! Tapi sayang, yang dijual sekarang adalah cetakan baru yang mahal harganya, sementara dulu gw ngincar used book-nya yang cuma Rp 15,000. Yah, gw tunggu 2-3 tahun lagi aja kali ya, sampai buku baru ini jadi bekas ;-) *kikir dot com*

Hmm.. ingat Yukio Mishima, jadi ingat biografi singkatnya yang ada di tiap buku. Mishima ini hidupnya penuh sensasi lho! Selain pernah menang Nobel kesusastraan, dia juga tercatat sebagai pelaku seppuku terakhir. Seppuku (=hara-kiri, tradisi bunuh diri Jepang dengan menyobek perut) kan lazimnya dilakukan oleh para samurai. Tapi dengan sensasionalnya Mishima melakukan itu tahun 1970 ;-)/

Gw selalu terkesima dengan budaya Jepang, termasuk juga dengan tradisi seppuku ini. Seppuku adalah cara mati yang sangat tidak nikmat. Bayangkan saja, perut kok disobek (dari kiri ke kanan), lantas dari kanan disobek lagi ke atas untuk mengeluarkan organ2 tubuh. Hii.. mengerikan! Tapi, buat samurai2 Jepang, ini adalah cara mati yang terhormat. Daripada menyerah di tangan musuh dan dipermalukan (baca: disiksa sampai mengkhianati atasan), lebih baik mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyakitkan.

Beruntung, seorang samurai yang akan melakukan seppuku, boleh memilih seorang kaishakunin. Kaishakunin adalah seorang samurai lain yang ditunjuk untuk mengakhiri penderitaan pelaku seppuku dengan memenggal kepalanya. Yang menarik: yang ditunjuk sebagai kaishakunin biasanya adalah sahabat si pelaku seppuku itu sendiri, yang dipercaya mampu melakukan itu pada dirinya. Di kasus lain, yang ditunjuk adalah lawan yang dipercayai akan cukup terhormat tidak membiarkan lawannya mati menderita.

Menarik sekali ya, bagaimana kita memilih orang yang bisa kita percaya? Bukan dari manisnya tutur kata di depan kita seumur hidup. Tapi dari keberaniannya untuk melakukan hal2 yang seolah2 nggak mengenakkan buat kita, padahal sangat kita perlukan.

A true friend stabs you in the front, demikian bunyi kutipan Oscar Wilde yang terkenal. Banyak orang terfokus pada kata friend dan (to) stab. Dua kata ini memang seolah2 bertolak belakang. Seorang teman tidak akan pernah menikam dirimu. A true friend will never stab you. Sedikit yang mau fokus pada inti sesungguhnya: in the front.

Ya, kadang, ada keadaan yang tidak terhindari dimana seseorang harus ditikam. Dan yang membedakan teman dari musuh adalah DIMANA mereka menikamnya. An enemy backstabs you; but a true friend stabs you in the front. Tikaman di belakang selalu dilakukan pada saat seseorang tidak siap, menimbulkan kesakitan yg amat sangat, dan sering kali korbannya mati tanpa pernah tahu siapa yang menikamnya. Tikaman di depan bukannya tidak menyakitkan, tapi memberikan kesempatan yang lebih besar bagi seseorang untuk membela diri. Jika pun si korban akhirnya mati, setidaknya dia melihat siapa yang menikamnya dan punya kesempatan untuk memahami kenapa dia ditikam.

Tapi tampaknya nggak gampang cari orang2 yang mampu stab you in the front. Rata2 orang memilih untuk menghindari konflik dengan tidak memegang pisau sama sekali. Atas nama perdamaian dan harmoni, mereka memilih diam. Parahnya, setelah mereka tidak bisa lagi diam, yang dilakukan adalah backstabbing. Nggosip di belakang ;-) Padahal, kalau dia bilang di depan, kasih kritik di depan, belum tentu masalahnya berlarut2. Dan itu memang yang harusnya dilakukan seorang teman: mengingatkan teman secara terang2an di depan, walaupun itu mungkin menyakitkan buat si teman.

Hehehe.. banyak orang heran kalau gw menyebutkan bahwa teman2 terbaik gw adalah teman2 berantem gw. Mereka heran kenapa gw malah menganggap orang yang tiap hari beradu pendapat sama gw, kadang sampai panas benar diskusinya, kadang sampai ada yang ngambek (ada yg ambang ngambeknya lebih rendah daripada gw, tapi banyak yang ambangnya lebih tinggi daripada gw ;-)) adalah my true friends.

Hmm.. jawaban gw: why not? Gw sangat menghormati orang2 ini karena mereka sudah menunjukkan bahwa mereka dare to stab me in the front ;-). Kadang tikamannya memang menyakitkan, tapi gw lebih mudah belajar dari tikaman2 itu. Buat gw, ini lebih baik daripada mereka yang let me bleed to death karena mereka nggak tega menikam gw dari depan, atau yang lebih buruk lagi: mereka yang backstab me ketika gw tidak siap.

Ih.. postingan gw kali ini penuh kekejaman ya.. hehehe.. Tapi, singkirkan segala kata tikam dan darah itu, dan yang tersisa adalah ciri2 utama dari a true friend ;-)