Saturday, August 05, 2006

Kalau Saja Jerman Menang Perang

Habis nonton Der Untergang (aka Downfall), cerita tentang hari-hari terakhirnya Hitler dan Nazi, selain terharu gw juga jadi punya pikiran gila.

Terharunya adalah melihat ketabahan Frau Goebbels membius anaknya satu demi satu (anaknya ada 6, bo!), untuk kemudian memasukkan kapsul bunuh diri ke mulut mereka, memecahkan kapsul itu dengan gigi mereka, dan menyelimuti jenasah mereka satu persatu; sebelum dia dan suaminya Josef Goebbels minta dieksekusi oleh anak buahnya. Tindakan bunuh diri setelah Jerman dipastikan kalah, karena Goebbels adalah salah satu pucuk pimpinan Nazi. Yup! Terharu, karena di balik pandangan politik mereka yang dikutuk banyak orang, toh mereka tetap hanya manusia. Hanya orang tua biasa yang sayang pada anak2nya juga; yang memilih membunuh anaknya satu persatu daripada membiarkan mereka disiksa musuh untuk memeras informasi dari orang tuanya.

Pikiran gilanya: sayang ya, Nazi (baca: Jerman) kalah di Perang Dunia ke-2 ;-)

Hehehe.. pikiran gila ini muncul gara2 berbagai berita di koran. Coba kalau Jerman menang perang, mungkin Jeng Nadine nggak bakal diketawain orang karena bahasa Inggrisnya belepotan. Kan, bisa jadi, Jerman yang jadi bahasa internasional. Nah.. kalau bahasa yang satu ini, Jeng Nadine mah gape abis! Secara ibunya orang Jerman gitu loh, dan bahasa Jerman adalah lingua franca di rumahnya.. ;-)

Lalu, kalau Jerman menang, konflik Israel-Palestina nggak akan ada. Nggak ada zionisme, kan semua bangsa Yahudi yang tersisa masuk ke kamp konsentrasi.. ;-) Jadi Amerika Serikat nggak punya [meminjam analisa bapaknyaima] sekutu yang paling bisa diandalkan di Timur Tengah untuk menguasai minyak dunia. Jadi kehidupan Timur Tengah sana relatif tenang (baca: nggak ada perang, kecuali perang saudara kali ya.. ;-)).

Swear, gw bukan anti-semit. Holocaust malah merupakan salah satu topik yang gw suka, dan selalu bikin gw terharu. Jaman film ini dilarang diputar di Indonesia, gw sampai numpang nonton di kost salah satu mahasiswa yang berhasil menyelundupkan LD film ini langsung dari Amrik. Kalau ada buku atau film tentang holocaust gw buru2 cari. Gw juga kagum sama para survivors, terutama Elie Wiesel dan Viktor Frankl. Swear, gw juga bukan kelompok yang pikirannya penuh dengan keinginan jihad-dalam-tanda-kutip ke Palestina ;-) Gw termasuk yang skeptis kalau ada orang yg bicara bahwa konflik ini adalah konflik keagamaan. Hmm.. Amerika Serikat bantu Israel pasti lebih karena alasan ekonomi ;-)

Namun memang gw sepakat banget dengan Elie Wiesel di salah satu bukunya: Dawn. Sepakat dengan pertarungan batin Elisha, si holocaust survivor yang bergabung dengan jaringan zionisme pertama, ketika dia diperintahkan untuk mengeksekusi seorang tentara Inggris. Saat itu Elisha mempertanyakan mengapa mereka [bangsa Yahudi] yang baru saja lolos dari pembantaian malah melakukan tindakan yang baru saja mereka kutuk. Dia mempertanyakan kenapa mereka [bangsa Yahudi] yang merasakan sendiri tidak enaknya diperlakukan begitu, sekarang malah melakukan itu kepada orang lain.

Iya, lepas dari simpati gw terhadap apa yang dialami oleh bangsa Yahudi selama perang dunia II, gw tetap nggak bisa ngerti dan nggak bisa setuju sama berdirinya negara Israel di tanah Palestina. I mean.. gw mengerti bahwa setelah apa yang mereka alami, Yahudi ingin mendirikan negara sendiri *Mungkin kalo dibikin lagu pop bunyinya gini: Ku tak sanggup hidup di negara2 dimana ku pernah dikirim naik kereta sapi ke kamp konsentrasi ;-)* Gw juga bisa mengerti bahwa mereka pingin bikin negaranya itu di tanah yang dikuasai Palestina.. karena menurut apa yang mereka percayai, tanah itu adalah tanah terjanji buat mereka.

Tapi.. tetap yang gw nggak bisa ngerti, kok bisa-bisanya jalan yang ditempuh adalah seperti ini? Mereka nggak punya bukti de jure bahwa tanah Palestina itu diwakafkan Tuhan untuk mereka; itu kan hanya berdasarkan cerita turun temurun. De facto-nya adalah tanah itu sudah dihuni oleh bangsa lain; juga bukan karena merebut atau menjajah. So, kalau sekarang mereka ingin minta bagian, bukan begitu caranya. Bukan main rebut aja. Dan yang jelas: tidak dengan nge-bom bertubi-tubi secara sistematis dengan korban yang banyakan warga sipil! Kalau gini sih, namanya mereka memulai holocaust yang baru :-(

Seperti Elisha, gw jadi bertanya: kok bisa ya? Kok bisa ya, mereka melakukan sesuatu yang (setidaknya menurut gw) persis sama apa yang Nazi lakukan terhadap mereka? Apa pun alasannya bukankah mereka, of all the people in this world, paling tahu rasa sakitnya?

Well.. kalau katanya Mbakyu Indri, bossnya para-tukang-urus-masalah-kejiwaan di kantor ini, justru karena mereka pernah mengalami hal itu, makanya mereka melakukan hal yang sama pada orang lain. Teorinya lupa, maklum dengarnya juga hanya dari forward-an verbal bapaknyaima ;-) Yang gw tangkap sih penjelasannya Mbakyu Indri itu versi ilmiah dari penjelasan para profilers FBI di cerita2 tentang serial killer atau serial rapist: the hunted turns into the hunter. Justru karena mereka pernah disakiti, somehow mereka menemukan ketenangan dengan melakukan hal yang sama itu pada orang lain. Justru karena mereka pernah disakiti dan nggak bisa ganti menyakiti tormentor-nya, maka rasa sakit dan balasannya dialihkan pada orang lain. Ini proses yang sub-conscious; kalau ditanya pelakunya juga mungkin nggak menyadari, tapi kecenderungan itu ada.

Yup! Gw setuju sama pendapatnya Mbakyu Indri. Bisa jadi memang mekanismenya begitu. So, gw juga nggak bisa begitu kejam menghujat2 Israel, kali ya ;-)? Mungkin mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ;-)

Tapi.. gw jadi tempra sama Amerika Serikat nih! Kok ya bisa2nya menganakemaskan Israel, bisa2nya mendiamkan Israel yang serangannya begitu sistematis dan membunuhi warga sipil, bisa2nya membiarkan Israel get away dengan mengatakan kematian para pengungsi dan anak2 itu adalah kecelakaan SEMENTARA tidak sampai seminggu kemudian Israel sudah nge-bom warga sipil lainnya. Padahal, saat Ahmadinejad ngeyel dengan proyek nuklirnya, Amerika Serikat berkoar2 tentang bahayanya Iran. Hell, Ahmadinejad bahkan belum menggunakan senjata itu seperti Israel menggunakan senjatanya! Tak kurang dari Readers Digest mengomentari: are his nuclear ambitions as frightening as his rhetorics? Jadi, maunya Amerika Serikat apa sih? Mau bahwa Israel punya semua senjata, dan negara2 Arab di sekitarnya sama sekali nggak punya senjata?

Frankly, if this is the case, then you have turned into the Nazi you fought back in 1945.. ;-) Menjadi Nazi yang membunuhi bangsa Yahudi yang tak berdaya karena sudah tidak boleh memiliki apa2.. ;-) Kalau menurut gw, Nazi masih terhormat; Nazi membunuh karena percaya pada suatu pandangan (betapa pun anehnya pandangan itu.. ;-)). Lebih terhormat kan, daripada menghalalkan segala cara demi memperkaya diri ;-)?

Ayolah, Amerika Serikat.. lha wong Israel itu perlu bantuan kejiwaan, kok malah di-endorse perilaku menyimpangnya.. ;-) Ayo, segera berhenti sebelum dibilang sebagai accomplice for murder.. hehehe.. Jangan sampai lebih banyak lagi orang menyesali sejarah dan berkata: kalau saja Jerman yang menang perang.. ;-)