Tuesday, August 22, 2006

Get Smarter with Pop Culture!

Di Free! Magazine edisi 15 ada review tentang sebuah buku berjudul Everything Bad is Good for You (Steven Johnson). Gw belum baca bukunya; di Limma belum ada yg bisa disewa, dan rasanya sayang juga keluar Rp 146,000 untuk membelinya di Aksara ;-) *well, seperti layaknya isi majalah lifestyle seperti ini, everything comes with a price tag ;-)*

Tapi gw bener2 tertarik membaca resensinya! Mulai sekarang kita tidak perlu lagi merasa bersalah jika menghabiskan akhir pekan di depan layar TV menonton episode demi episode dari DVD serial TV kesayangan selama berjam2, demikian salah satu kalimat di resensi itu. Hmm.. sesuai banget sama pandangan gw yg selama ini ya ;-)?

.. Penulis buku ini dengan cerdas dapat membuktikan kalau hal2 yang selama ini dianggap sebagai guilty pleasure atau yang sering dicap sebagai mindless entertainment ternyata sebenarnya bisa membuat kita lebih pintar. Buku ini membahas  serial-serial TV yang selama ini membuat kita ketagihan untuk menontonnya secara berkesinambungan, ternyata cukup berisi. Mulai dari .. ER, Six Feet Under, Lost, 24, Scrubs, bahkan sampai Desperate Housewives (betul sekali, sebelumnya saya tidak pernah berpikir kalau serial yang satu ini bisa membuat saya jadi lebih pintar)..

Hehehe.. sebelum buku ini dibahas, gw udah sering teriak2 di blog tentang apa yang gw pelajari dari film2 yg gw tonton atau buku2 yg gw baca. Nggak melulu film2 yg canggih dan bermutu, atau buku2 sastra dan filosofi; tapi juga film yang dibilang ecek2 dan buku2 novel ringan pengisi waktu luang. Dari dulu gw udah belajar banyak dari Desperate Housewives; karena film ini terlihat banget membentuk karakter2 tokohnya dengan kuat. Belajar, memang tidak melulu harus secara formal. Sebenarnya, apa pun yang ada di sekitar kita bisa jadi bahan pelajaran, asal kita mau terbuka pada informasi dan menggunakan informasi itu secara tepat.

Tahu caranya bikin surat rahasia? Pakai air jeruk sebagai tinta, tulisan gak akan kelihatan kecuali kalo kertas disetrika. Atau pakai batangan sabun sebagai alat tulis, maka kalimat baru terlihat kalau kertasnya dibasahi. Dan darimana gw dapat pengetahuan praktis itu? Dari serial Pasukan Mau Tahu karangan Enid Blyton.. ;-)

Tebak binatang apa yang struktur fisiknya paling mirip dengan manusia, tapi bukan sejenis primata! Jawabannya: BABI. Yup! Babi, aka the pig (English) aka das Schwein (Deutsch). Nggak nyangka ya? Tapi bener kok, babi itu mirip manusia. Makanya, kalau mau membuktikan memar atau senjata yg mematikan korban, yang dipakai sebagai percobaan adalah babi. Pengetahuan ini tidak gw dapatkan dari ensiklopedi, tapi dari pop culture: sebuah novel thriller (sayang gw lupa judulnya) dan beberapa episode CSI.

*hehehe.. jadi tambah setuju kenapa secara spesifik babi disebut sebagai makanan yg diharamkan. Kalau struktur fisiknya mirip manusia, kan menyantap babi seolah2 jeruk makan jeruk ;-)*

Ada lagi yang menarik! Pernah ngerasa bingung nggak dengan istilah Defense Attorney (pengacara) dan District Attorney (yang sering jadi prosecutor alias jaksa)? Padahal kalau di Indonesia kan beda banget antara Jaksa dan Pengacara; di Indonesia pengacara memang bisa menuntut pihak lain dalam kasus perdata, tapi dia nggak jadi penuntut umum (=prosecutor) dalam kasus pidana. Gw jadi bingung dengan istilah District Attorney di sini; kenapa harus disebut District Attorney kalau sehari2nya berperan sebagai prosecutor? Kenapa nggak disebut prosecutor aja?

Kebingungan gw baru terjawab ketika suatu hari membaca novel tentang empat orang ex-con yang menuntut ganti rugi pada City of New York. Di kasus perdata seperti ini, District Attorney yang biasanya menjadi prosecutor di kasus pidana, ternyata beralih fungsi menjadi Defense Attorney bagi City of New York. Oooh.. ternyata, di legal system Amrik, pembagiannya adalah berdasarkan PROFESI-nya, bukan berdasarkan FUNGSI-nya toh! Jadi, pembagiannya bukan jaksa dan pengacara, tapi.. attorney yg bekerja untuk negara atau attorney yang bekerja untuk swasta. Ini menjelaskan kenapa sidang di sana selalu disebut sebagai City of [nama kota] vs. [nama tersangka], sementara sidang di sini selalu disebut sebagai persidangan kasus [nama kasus]. Di sistem Indonesia, jaksa ya jaksa, pengacara ya pengacara. Kalau ada warga negara yg merasa dirugikan oleh negara, dia boleh menuntut ganti rugi pada negara, tapi negara ya cari pengacara, bukan jaksanya disuruh jadi pengacara ;-).

Well.. masih banyak lagi hal2 yang gw pelajari secara nggak sengaja dari pop culture. Pop culture indeed makes me smarter ;-) Gw sudah menyadari ini sejak dulu. So.. rada nggak rela juga kalo di review tsb dikatakan bahwa ini adalah teori baru dari Steven Johnson. Si Pak Johnson ini cuma mematenkan duluan.. hehehe.. ;-)

Ada satu lagi yang gak gw setujui dari review itu. Di sana tertulis bahwa: mungkin Steven Johnson belum menonton pop culture di Indonesia. Kalau sudah melihat pop culture kita, mungkin Steven Johnson akan berubah pendapat. Hehehe.. menurut gw sih sebenernya pop culture kita juga sama mencerdaskannya seperti pop culture yang dibahas Pak Johnson. Cuma.. cara mencerdaskannya beda! Kalau nonton CSI, Star Trek, atau South Park, gw dapat pengetahuan baru. Nah.. kalau nonton Pintu Hidayah, Tersanjung 8, atau pop culture kita lainnya, gw berkesempatan untuk menguji ulang pengetahuan yg udah gw dapat.. hehehe.. Anggaplah nonton CSI itu sesi teorinya, maka nonton Tersanjung adalah sesi prakteknya ;-) Praktek menempatkan teori2 yang sudah kita dapat untuk membuktikan ketidaklogisan yang ada pada pop culture kita.. HAHAHA..

Beneran kok! Gw bener2 merasa mendapat ujian untuk menjelaskan pada Ima tentang ketidaklogisan2 yang ada di sinetron2 kita. Gw harus putar otak untuk mentransfer pengetahuan2 gw dengan bahasa yang dimengerti Ima untuk membuktikan bahwa sinetron2 kita itu gak logis. Itu suatu bentuk getting smarter juga kan ;-)?

Hmm.. Steven Johnson belum mematenkan pendapat yg ini kan? Kalau gitu.. bisa gw patenkan aja kali ya? Lucu juga kalo gw bikin buku sequel-nya Pak Johnson, sesuai dengan budaya dan keadaan Indonesia.. hehehe.. ;-)

*Mimpi kali yee.. kapan juga gw sempet bikin buku.. HAHAHAHA.. ;-)*