Tuesday, August 01, 2006

In the Name of the Psychology

Tadinya pingin nulis tentang Israel yang nge-bom dan korbannya anak2 di Palestina, dan gak ada sanksi apa2 yg diberikan pada mereka, sementara saat Iran baru mau bikin senjata nuklir aja banyak yg udah ribut. Tapi.. gw biarkan para blogger ahli politik yg ngebahas itu deh.. ;-) Gw cakupannya belum secanggih itu.

Jadi gw mau ngomentarin aja artikelnya Audifax yg beredar di berbagai milis ini. Sengaja nulisnya di blog aja, karena penyebarannya kemana2. Jadi.. daripada mengikuti jalur distribusi mereka, gw memutuskan bikin supply sendiri dan membiarkan orang yg datang ke blog gw.. ;-) Sekalian untuk memperkenalkan psikologi, karena ternyata masih banyak aja yang merancukan psikologi dengan psikiatri, dan tidak memahami sebenarnya psikologi itu bagiannya apa aja.. ;-) Psikolog masih hanya dibilang spesialis ngurusin orang gila.. ;-)

Ohya, artikelnya nggak gw edit sama sekali, tapi emang gw potong2 sesuai apa yg ingin gw komentari.. ;-)

***

IN THE NAME OF PSYCHOLOGY (comment)

OLEH: MAYANOTO

Peneliti di sebuah marketing research agency, Penulis blog SmritaCharita

IN-THE-NAME-OF-THE-PSYCHOLOGY

OLEH: AUDIFAX

Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku "Mite Harry Potter"(2005,Jalasutra)

Psikologi, adalah sebuah disiplin ilmu yang hingga saat ini masih sering mendengung-dengungkan kemampuannya untuk understanding human being. Menariknya, di tengah rentetan permasalahan bangsa yang makin menunjukkan nirhumanitas, mulai kerusuhan Mei dan perkosaan massal di dalamnya, pembantaian etnis di Sambas dan Sampit, Ambon, berbagai pengeboman, RUU APP, berbagai isyu pornografi yang makin meresahkan dan mengancam sejumlah pihak karena agresivitas pihak-pihak tertentu, hingga demo buruh yang baru saja terjadi; justru tak banyak orang-orang psikologi yang menunjukkan perannya, terutama mengungkapkan solusi atau penjelasan pada semua hal yang jelas-jelas berhubungan dengan psike dan human being itu.

Saya yakin teman2 saya di Yayasan PULIH, berbagai lembaga nirlaba yang mengurusi masalah2 ini, akan sedih membaca hal ini. Saya pernah terlibat dalam salah satu program intervensi psikososial yang diadakan oleh Yayasan PULIH. Mereka melakukan semua yg mereka bisa, psychology way, untuk memberikan solusi. Tapi yang sering dilupakan (atau tidak diketahui orang) adalah bahwa psikologi itu bukan sesuatu yang instan dan bahwa masalah2 psikologis itu tidak kasat mata. Dengan demikian, orang masih sering berharap bahwa psikologi memberikan solusi yang cespleng seperti obat sakit kepala: begitu sakit kepala, diberi obat, langsung sakit kepala hilang.

Dalam keterlibatan saya yang singkat itu saya melihat betapa orang salah kaprah mempersepsikan dan menerima intervensi psikososial itu. Sebuah sesi mendengar aktif yang diadakan, yang dilakukan dengan meminta korban menceritakan pengalaman traumatisnya, dianggap sebagai mengorek2 luka lama yang ingin dilupakan. Menyakitkan, bukan menyembuhkan. Padahal, sesi ini dibutuhkan untuk memberikan solusi. Obat bagi masalah psikologis itu ada dalam diri masing2 orang, yang dilakukan oleh psikolog adalah membangkitkan, memotivasi, sehingga obat ini muncul dan bekerja. Salah satu caranya adalah dengan mengorek luka lama itu.

Fakultas-fakultas Psikologi terus bermunculan, hingga saat ini tercatat 64 Fakultas Psikologi. Bayangkan jika dalam satu semester masing-masing dari mereka meluluskan 10 orang saja, maka per enam bulan ada 640 ilmuwan psikologi, dalam setahun ada 1280 ilmuwan psikologi. Itu dengan asumsi masing-masing hanya meluluskan 10, pada kenyataannya dalam satu semester satu fakultas saja ada yang bisa meluluskan hingga ratusan. Dan semestinya, sejak ada lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan understanding human being ini sudah menghasilkan ratusan ribu bahkan jutaan lmuwan yang menggeluti ilmu ini. Pertanyaannya: Ada di mana mereka semua?

Jawaban: dari sekian ribu itu, ada yg jadi konsultan perusahaan, jadi psikolog pendidikan, jadi terapis dan konsultan anak autis, ada yang jadi marketing researcher seperti saya, ada yang jadi media planner.. ;-)

Yang harus diingat, Fakultas Psikologi itu memiliki 6 bagian: Industri & Organisasi, Sosial, Klinis, Perkembangan Anak, Pendidikan, dan Eksperimen. Walaupun lulus sebagai psikolog umum, dalam career path-nya orang akan menekuni salah satu jalur saja. Masalah intervensi sosial seperti ini mungkin lebih banyak diurusi oleh mereka yang mengambil career path Sosial atau Klinis. Kalaupun kita bagi rata, hanya sepertiga dari seluruh lulusan Fakultas Psikologi. Padahal, kita tidak mungkin membagi rata, karena yang menekuni bidang bisnis lebih banyak daripada yang mengambil bidang ini.

Dan menurut saya, itu bukan hal yang salah. Psikolog memang tidak hanya dicetak untuk mengurusi masalah sosial. Tidak seperti dokter yang memang dicetak untuk menyembuhkan orang.

Pertanyaan di atas sama saja mempertanyakan: kemana saja para insinyur, kok negara kita bikin pesawat terbangnya masih memble? Lha, memang tidak semua insinyur dicetak untuk bikin kapal terbang. Ada insinyur yang jurusannya bikin bangunan, ada yang jurusannya ngurusin listrik, ngurusin hardware dan software komputer, ngurusin kimia.. ;-)

Psikologi, ternyata justru turut berperan menimbulkan nirhumanitas dalam kehidupan masyarakat. Dunia psikologi, berikut pendidikannya, sedikit banyak telah berubah menjadi institusi penjinak manusia melalui mekanisme pendisiplinan. Kita bisa melihat bahwa manusia mulai dibentuk dalam platform-platform tertentu yang menafikkan perbedaan dan keunikan. Platform-platform ini muncul dari cara berpikir yang berbasis pengategorian. Manusia yang sejatinya unik, coba dikategorikan. Lalu berlomba-lombalah orang psikologi membuat cara pengategorian: psikotes, observasi, Kitab PPDGJ, foto aura dan banyak cara lagi. Bahkan manusia yang memiliki keunikan ekstrim pun coba dikategorikan dengan melabelnya indigo, golden, dll. Semakin sophisticated pengategorian berikut penamaannya, semakin menjual. Psikologi yang mengedepankan pengategorian ini, lupa bahwa psike itu takpernah sama antara individu satu dengan yang lain. Lupa bahwa masing-masing psike ini memiliki alur kisah yang terbangun secara diakronis dan idiosinkretis. Lupa bahwa hal-hal yang nomotetik dan sinkronik tak bisa dilepaskan dari apa yang diakronis dan idiosinkretis.

Psikologi sudah saatnya berhening dari hingar-bingar industri yang menempatkan manusia tak lebih dari sekrup sebuah mesin besar. Psikologi sudah saatnya merenungkan dosa-dosanya, seberapa banyak nasib manusia yang telah secara salah diputuskan melalui berbagai pengategorian di dalamnya. Psikologi sudah saatnya memberi perhatian pada bagaimana individu-individu unik ini, berkisah tentang dirinya.

Psikologi, jika masih mengklaim sebagai ilmu yang understanding human being, maka ia harus memberi perhatian pada bagaimana masing-masing dari manusia harus berkisah dan bagaimana manusia bisa menerima kisah dari manusia lain. Manusia, hanya bisa berkisah untuk memberi gambaran siapa dirinya, dan sungguh sayang jika manusia tak mampu berkisah, terbisukan oleh narasi-narasi yang mengatakan dirinya indigo, schizophrenia, superior, borderline, dsb. Psikologi (yang understanding human being itu] dapat menyumbang bagi tumbuhnya humanitas jika mampu mengajak manusia untuk [berani] berkisah dengan tulus, dengan caranya masing-masing, sesuai hidupnya masing-masing. Psikologi dapat mengambil peran dalam humanitas hanya jika mampu mengajak mereka yang terbisukan oleh kekuasaan, untuk mampu berkisah dan mendengarkan kisah.

Banyak teman lama saya yang mungkin masih ingat bagaimana saya terus-menerus mengingatkan bahwa setiap individu adalah unik. Selalu mencoba mengingatkan bahwa hasilnya bisa sama, behaviornya bisa sama, tapi alasannya beda, tujuannya beda, karena setiap manusia adalah unik. Karena hal itulah yg saya pelajari di psikologi.

Benar, psikologi memang membuat pengklasifikasian. Namun, pengklasifikasian itu adalah untuk memudahkan kita memahami masing2 individu yang unik. Bukan untuk memulai segala sesuatunya dengan label. Manusia itu sekrup besar dalam mesin, tapi sekrup yg unik. Yang gak bisa dipasangkan dengan sembarang mur.. ;-) Klasifikasi itu baru untuk menentukan ini sekrup yg ukuran berapa dengan bentuk ulir seperti apa. Baru setelah kita tahu hal itu, kita bisa menentukan mur mana yg cocok, kalau mur itu nggak cocok harus diganti dengan mur yang seperti apa, lantas sekrup itu cocoknya ditaruh di bagian mana dari mesin.. ;-)

Sayangnya, psikologi justru turut bermain dalam kekuasaan yang membisukan manusia dalam narasi-narasi besar. Psikologi, bahkan mulai menjadi prototype agama. PPDGJ, sabda para tokoh dan teorinya, UU Profesi, Psikotes dan sejumlah hal lain, [diperlakukan] tak ubahnya bagai dogma, kitab suci, litani dan pujian layaknya dalam agama. Melalui itu semua, psikologi juga bicara "dosa" dengan menempatkan manusia sebagai devian, schizo, paranoid, borderline, dan sejenisnya. Inilah sebabnya dalam segala permasalahan nirhumanitas pada bangsa ini, psikologi tak mampu bicara banyak. Ini karena sama dengan agama, psikologi juga turut memberi kontribusi bagi nirhumanitas tersebut.

Secara pribadi, saya justru merasa bahwa klasifikasi psikologi yang dibuat oleh psikolog untuk membantu memahami manusia itu sering dilacurkan oleh orang2 yang tidak mengerti tentang psikologi. Dengan gampangnya mengatakan seorang anak menderita autisme, misalnya, padahal mungkin dia menderita Rhett Disorder atau sekedar mengalami gangguan perkembangan, yang ciri-cirinya memang mirip. Secara gampang, misalnya, main togel2an mengklasifikasikan seseorang sebagai INTJ atau ESTP, tanpa benar2 memahami filosofi dari klasifikasi tersebut. Padahal, kalau orang tahu, klasifikasi MBTI itu dibuat untuk memahami bagaimana cara berhubungan dengan orang tersebut, bagaimana seseorang bisa memahami orang lainnya, bukan untuk melabelnya.. ;-).

Tentunya kita masih ingat kasus seorang oma yang beberapa waktu lalu berkeliaran di berbagai milis. Dikatakan bahwa oma ini menderita kepribadian ganda alias Multiple Personality..

Dari sekilas membacanya saja, indikasinya kuat bahwa ini adalah masalah kriminal biasa, bukan masalah psikologis. Namun media merasa lebih gagah jika memberi label Multiple Personality. Mereka bahkan tidak merasa perlu mewawancarai psikolog yg cukup paham tentang hal ini.. ;-)

*hmm.. salah satu bukti bahwa di mata awam semua psikolog adalah sama: keahliannya adalah mengurusi gangguan kejiwaan.. ;-)*

Well, we do not even call it multiple personality anymore.. the right psychological term is DID (Dissociative Identity Disorder).. ;-) Jadi.. kalau litany muncul, pendapat saya pribadi adalah lebih karena orang senang jika menggunakan istilah gagah khas psikologi.

Psikologi dapat menjadi "understanding human being" hanya jika mengurangi bicara tentang "dosa-dosa". Jika para dosennya memberi contoh dan mengajarkan pada para mahasiswanya bagaimana secara tulus berhadapan denganpluralitas. Jika psikologi mampu melepaskan dari narasi-narasi besar tentang etika semu dalam berbagai label seperti "profesi", "master", "guru besar" dan mulai mengembangkan serta berkompetisi berdasarkan keunikan kemampuan masing-masing. Jika psikologi bisa mengajarkan bagaimana untuk berkisah dan mendengarkan kisah dengan segala ketulusan.

Well.. dalam pendidikan profesi, terutama di bagian Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Sosial, mewawancarai (= membuat mereka harus berkisah) dan mendengar aktif (= mendengarkan kisah mereka) adalah menu utama sehari2. Jauh lebih penting daripada tes psikologi.. ;-)

Tapi.. memang seperti dikatakan oleh almarhum senior saya yang baru meninggal 2 hari lalu: Psikologi yang diajarkan di dalam kelas hanya 10%, kalau mau belajar psikologi, keluar dari kelas, belajar di kehidupan nyata, dan banyak baca buku.. ;-)

Hmm.. saya rasa Audifax benar. Psikologi MEMANG seperti agama ;-). Yang bisa diajarkan hanya 10%, sisanya harus dipelajari sendiri dalam kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, ada yg berhasil mempelajarinya, tapi ada yang tidak. Tapi.. seperti agama juga, apakah itu menjadi dosa agamanya? Apakah agamanya yang harus diubah?

It is for you to judge.. ;-)

Psikologi semestinya malu bahwa segala masturbasi dengan label-label "S.Psi", "profesi", "master", "guru besar" di tengah-tengah silang-sengkarut masalah bangsa, seperti pemerkosaan massal perempuan Cina, Sampit, Sambas, Poso, RUU APP, Playboy, Inul, Kartun Nabi, Kartun SBY, Papua, Aceh. Malu karena tak banyak [bahkan bisa dibilang hampir tak ada] dari orang psikologi yang bisa mengemukakan solusi atau penjelasan akar masalah dari hal-hal yang jelas-jelas menyangkut psike atau understanding human being ini. Atau lebih tajam lagi tak ada yang bisa mengambil peran kunci untuk memberi suatu understanding pada semua masalah nirhumanitas itu. Setiap ada peristiwa, baik itu pemerkosaan massal, Bom Bali, Tsunami (dan mungkin nanti meletusnya Merapi), saya hanya melihat "kawanan psikologi" datang dengan panji-panji institusinya, berlomba satu sama lain mempertontonkan metode sulap psikologi yang menjadi ciri institusinya, namun tak pernah menyentuh akar permasalahannya, apalagi menghasilkan solusi.

Malu? Malu seperti Persatuan Insinyur harus malu karena hanya sebagian kecil insinyur yang mampu bikin pesawat terbang? Atau malu seperti Kedokteran karena hanya sedikit dokter yang bisa melakukan cangkok jantung?

Tidak ada yang mengambil peran kunci? Hmm.. sekali lagi saya yakin teman2 saya di Yayasan PULIH ataupun lembaga2 nirlaba lainnya akan merasa sedih melihat betapa tidak dihargainya peran mereka. Betapa dinafikannya usaha mereka. Sesedih pohon duren yang dianggap tidak berguna karena belum pernah berbuah sementara pohon pisang yang ditanam pada hari yang sama sudah berganti 2x.. ;-)

Psikologi, dalam bentuk apa pun, tidak pernah menghasilkan solusi instan. Intervensi sosial tentu membutuhkan waktu yang lama. Benarkah psikologi tidak pernah menyentuh akar masalahnya, tidak menghasilkan solusi? Ataukah karena dianggap waktu sudah habis; karena para insinyur sudah selesai membangun rumah terakhir dan para dokter sudah membalut luka pasien terakhir?

Again, it is for you to judge.. ;-) But I advise you to judge it carefully.. ;-)

Saya mulai curiga, jangan-jangan psikologi ini [yang seperti saya singgung mulai jadi prototipe agama] mulai mengenakan pula atribut-atribut keagungan, keadilan, dan kerahiman "Allah". Berperan sebagai Bapa [Father] pengampun dan penolong, memilah yang suci dan berdosa, karena orang-orang psikologi ini bisa jadi merasa sama dengan "Allah Bapa", sama-sama menguasai "ilmu tentang manusia". Terapi-terapi psikologi atau training-training menjadi ajang 'pertobatan' atau 'api penyucian' agar mereka yang 'berbeda' merubah keberbedaannya dan konform dengan kerumunan. Berbagai orang psikologi sibuk berbisnis "penyembuhan Ilahi" ini, dengan membangun biro-biro, rumah-rumah terapi, klinik-klinik. Inilah psikologi yang berbicara tentang anak yanghilang dan bertobat pulang.

Wah! Saya setuju banget kalau psikologi dibilang seperti agama.. ;-)

Tapi saya merasa mungkin lebih dekat dengan ajaran Islam: bahwa setiap hal yg kita lakukan adalah ibadah. Training2, terapi psikologi, dan proses membantu mereka adalah sebuah ibadah. Dan tujuan ibadah adalah menjadi lebih baik.. ;-) Seperti dalam ajaran Islam pula, semua orang dapat menjadi imam. Tidak ada hirarki, apalagi merasa menjadi sama dengan Allah SWT. Psikolog hanya manusia biasa yang insya Allah membantu orang supaya lebih baik. Sama seperti salah seorang muslimin yang [karena bacaan Al Quran-nya paling lancar, surat2 yang dihapal paling banyak] kemudian mengimami shalat jamaah.. ;-)

Saya rasa perumpamaan ini tepat lho! Seperti saya ungkapkan di atas, dalam masalah psikologi, obat itu berada dalam diri manusia itu sendiri. Sama seperti kepercayaan Islam bahwa kalau mau dosa2nya diampuni ya harus usaha sendiri [salah satunya dengan berpuasa sebulan penuh dan meminta maaf pada orang yg pernah berinteraksi dengannya] tidak menunggu penebusan dosa.. ;-)

Apakah psikolog/ilmuwan psikologi hasil didikan 64 fakultas psikologi yang ada di Indonesia saat ini dapat menyumbang sesuatu dalam permasalahan nirhumanitas dan problem penerimaan kemajemukan yang tengah melanda bangsa ini? Saya pribadi berpendapat, dalam kondisi seperti sekarang, tak banyak yang bisa mereka lakukan. Bahkan oleh mereka yang telah menempuh magister atau doktoral sekalipun. Tak juga yang sekarang memegang posisi dosen atau guru besar. Satu-satunya kemungkinan agar psikologi dapat mulai menyumbang pada penyelesaian masalah nirhumanitas dan penerimaan kemajemukan bangsa ini, adalah dengan mulai belajar berpikir inklusif.

Numpang nanya: berpikir inklusif itu apa ya ;-)? Kalau dilihat konteksnya sih gabungan antara empati dan berpikir divergent ;-)

Saya justru merasa seorang Mbok Suminem di Ledok Sayidan, seperti dikisahkan Bernhard Kieser dalam diskusi di Jogja beberapa waktu lalu, jauh lebih bisa menyumbang bagi permasalahan nirhumanitas dan bagaimana menerima pluralitas. Rumah Mbok Sum menjadi warung, pagi hari ibu-ibu berkumpul di situ untuk belanja dan ngrumpi; malam hari tuan-tuan kampung bertemu di situ untuk ngopi dan ngrasani. Di rumah warung Mbok Sum dibangun ketetanggaan; di situ semua sama tahu; yang tidak cocok pun ketemu di situ, menjadi sesama warga.

Saya setuju bila dikatakan bahwa Mbok Suminem menyumbang bagi permasalahan nirhumanitas dengan cara seperti ini. Tidak perlu menjadi seorang psikolog kok untuk bisa menyumbang pada masalah nirhumanitas. Kemampuan untuk memahami manusia itu built-in pada setiap individu, ilmu psikologi hanya membantu meningkatkan kemampuan hal yg sudah built-in itu.. ;-)

Tapi.. saya kurang begitu setuju jika dikatakan bahwa Mbok Suminem LEBIH BISA menyumbang. Jika terjadi friksi sosial, misalnya, apakah bisa Mbok Suminem mengatasinya? Kalau ada yang kepercayaan dirinya runtuh karena dirasani, lantas hampir bunuh diri, apakah Mbok Suminem punya ide bagaimana mengatasinya ;-)? Jangan dipikir yg gini2 nggak mungkin terjadi lho.. ;-)

Jadi, penyelesaian masalah nirhumanitas dan bagaimana menerima kemajemukan pada bangsa ini, tidak membutuhkan kehadiran ribuan lulusan dari pendidikan psikologi manapun di Indonesia saat ini. Apa yang dibutuhkan Indonesia adalah berpuluh juta Mbok Sum untuk 200 juta jiwa penduduk yang terdiri dari sekian ribu etnis dan adat yang mencirikannya masing-masing, untuk lima agama dan berbagai kepercayaan berikut perbedaannya satu sama lain; untuk keunikan masing-masing manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya; serta untuk menjaga tetap hidupnya ke-Bhinneka-an bangsa ini dan bagaimana masing-masing bisa berkisah sesuai kehidupan dan keunikan diri.

Hmm.. katakanlah ada 5 orang Mbok Sum yang mencirikan masing2 agama. Lantas masing2 Mbok Sum ini punya warung. Lantas, suatu hari pelanggannya Mbok Sum Islam ada friksi sosial sama pelanggannya Mbok Sum Katholik. Terus, pertanyaannya: Mbok Sum yang mana yang harus mengatasinya ya ;-)?

Pertanyaan kedua: bagaimana ya, menciptakan ribuan Mbok Sum untuk kepentingan ini?

Pertanyaan ketiga: mana yang lebih visible ya, mengoptimalkan kerja psikolog yg mengambil career path sosial/klinis dengan memberinya masukan dan berdialog tentang need/expectation masyarakat, ATAU menciptakan ribuan Mbok Sum?

*Sebagai marketing researcher sih saya merasa memperbaiki kerja sebuah brand yang sudah exist (dengan serangkaian research untuk memahami kebutuhan konsumennya) lebih visible daripada membuat brand baru.. ;-)*

Audifax-4 Mei 2006

NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)

"I walk slow but I never walk back.."

mayanoto-1 Agustus 2006

NB: Saya mem-posting komentar ini ke blog saya saja, tidak ke Psikonet-UI, Psiko UI 91, Psi-Indonesia (the official mailing lists of psychology community.. ;-). Mungkin akan ada rekan-rekan yang membaca blog tersebut yang akan mem-forward komentar ini ke tempat lain, termasuk ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan.. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di blog atau email pribadi saya saja. Melalui komentar ini pula saya mengundang siapa pun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk mengirim email pribadi saja di mayanoto@gmail.com

::I know I ask perfection of a quite imperfect world, and fool enough to think that's what I'll find:: (The Carpenters; I Need to be in Love)