Friday, June 30, 2006

Perhaps Blog

Blog to some is like a cloud
To some as strong as steel
For some a way of living
For some a way to feel
..
And some say blog is everything
And some say they don’t know

(diplesetkan dari Perhaps Love, John Denver)

Bermula dari suatu sore, blogwalking di links teman2nya Zilko. Ada ibu2 yang hampir tiap hari cerita tentang anak tirinya yang bandel ;-). Ada mantan penyanyi yang blognya mirip brosur Europe Tour di biro perjalanan ;-). Semua sedang saling melemparkan topik posting pada yang lainnya: segala tentang 4 (4 tempat tinggal, 4 tempat kerja) dan segala tentang 6 (6 kesedihan, 6 kebahagiaan). Bikin gw mikir: blognya kayak bul-bo Friendster ya, kalau gitu bul-bo Friendsternya kayak apa ;-)? Dan tentunya bikin gw mikir lebih jauh lagi: kenapa ya mereka melakukan ini terhadap blog-nya? Apa arti blog buat mereka?

Beberapa hari setelah sore itu, gw terlibat sebuah enlightening discussion tentang product positioning. Dasar diskusinya adalah buku The Hero and The Outlaw: Building Extraordinary Brands through the Power of Archetypes (M Mark & CS Pearson). Dalil di kantor gw: if marketing is a religion, then this book adalah kitab sucinya ;-). Buku ini ngebahas sisi jiwa konsumen yang mana yang dipanggil oleh sebuah brand tertentu.

Langsung deh ingat diskusi dengan Luigi beberapa bulan lalu tentang kepribadian sebuah blog dikaitkan dengan kepribadian penulisnya dan kepribadian pembacanya, yang mirip sama hubungan antara produk-manufaktur-konsumen. Iseng2 gw memetakan blog2 yang sering gw baca ke dalam archetypal theory.. ;-). Dan.. memang, terlepas dari kepribadian penulis maupun pembacanya, blog ternyata punya identitasnya sendiri.

Well.. gw kasih tabelnya aja ya, untuk dapat gambaran tentang brand archetype:

Archetypes and Their Primary Function in People’s Lives

Archetype

Helps people to:

Brand Example

Blog Example

Creator

Craft something new

Williams-Sonoma

 

Caregiver

Care for others

AT&T

 

Ruler

Exert control

American Express

 

Jester

Have a good time

Miller Lite

Hans’

Regular Guy

Be OK just as they are

Wendy’s

Zilko’s

Lover

Find and give love

Hallmark

 

Hero

Act courageously

Nike

Revolusi Hidup

Outlaw

Break the rules

Harley-Davidson

Intan’s

Magician

Affect transformation

Calgon

 

Innocent

Retain or renew faith

Ivory

KC’s

Explorer

Maintain independence

Levi’s

Okke’s

Sage

Understand their world

The Oprah Show

My Blog

(Kolom 1 – 3 dikutip dari hal. 13, kolom ke-4 tambahan dari gw)

Tentang alasan klasifikasi blog di atas, kapan2 gw bahas deh (kalau gak keburu basi atau gw kehilangan minat.. ;-)). Tapi.. kalau baca bukunya, maka akan terang benderang seperti bintang kenapa gw menggunakan blog2 tersebut sebagai contohnya. Sekarang gw bahas aja kenapa gw menggunakan blog ini sebagai contoh untuk The Sage.. ;-)

Well.. jelas alasannya bukan karena gw adalah orang bijak. Semua orang yang kenal gw bakal bilang bahwa gw bukan si bijak.. ;-) Alasannya lebih karena ternyata fungsi utama blog ini gw harapkan sama dengan fungsi utama The Sage brands terhadap kehidupan orang. Atau lebih gampangnya: sama fungsinya seperti The Oprah Show: memanggil sisi the sage yang ada pada setiap individu.. ;-)

Setiap manusia punya kedua belas sisi di atas, sehingga otomatis punya sisi the Sage. Mungkin sisi ini tidak dominan, tapi tetap ada di dalam dirinya. Sisi ini adalah sisi yang percaya pada kemampuan manusia untuk belajar dan berkembang hingga pada titik untuk mengubah dunia. Sisi yang membutuhkan kesempatan untuk berpikir secara mandiri dan memiliki serta mempertahankan pendapatnya sendiri. Sisi ini bukanlah sisi yang senang diberi petunjuk; berperan pasif menjadi penerima tips. Sisi ini adalah sisi yang senang diberi pengetahuan yang tepat, untuk kemudian menggunakan proses elaborasinya sendiri untuk mendapatkan personal insight.

Untuk memuaskan sisi yang ini, bukan tips atau petunjuk yang diberikan. Sisi ini akan lebih puas dengan tantangan2. The challenge of the mind to think, guess, and/or imagine.

Dan hal itulah yang sukses dielaborasi oleh Oprah. Dengan formula empathy-analyze-work through yang dititikberatkan pada empathy dan analyze, Oprah bisa memuaskan penontonnya. Buat penonton2nya, yang terpenting bukan bagaimana seorang tamu Oprah menyelesaikan masalahnya. Itu hanyalah nice to know information! Mereka lebih tertarik untuk memahami dinamika kasus itu untuk kemudian mencari insight sendiri tentang apa yang akan mereka lakukan jika mereka mengalami hal itu. Empathize with the problem, and then analyze the situation.. ;-) Then I’ll work through the problem myself!

Gw tentu saja bukan Oprah. Tapi moga2 blog gw bisa berfungsi beda2 tipis, sehingga orang yang selesai baca blog gw selangkah lebih bijak. Bijaknya bukan karena apa yang gw tuliskan pasti benar! Tapi.. karena kemampuan mereka sendiri untuk berpikir, berimajinasi, dan menganalisa yang kebetulan terprovokasi oleh pendapat gw. Insight yang didapat tiap orang bisa berbeda, karena memang gw gak ingin menyetir pendapat orang. Gw cuma pingin cerita aja, membuat pembaca bisa berempati dan menganalisa dengan kasus yang gw tulis, untuk kemudian work through the problem yourself. Kalau perlu, kita work through together, supaya gw juga dapat insight baru.. ;-)

So.. gw pingin positioning blog gw menjadi seperti plesetan lagu tadi:

Perhaps (my) blog is like a window
Perhaps an open door
It invites you to come closer
It wants to show you more
And even when you lose yourself
And don’t know what to do
The memory of (my) blog will see you through

But it’s for you to work through.. ;-). You may not agree with me.. and when that happens, it means I successfully challenge you to think, guess, or imagine ;-).

*kalo nulis gini, gw udah cukup narsis belum.. ;-)?*

---

Special thanks to SAW (boss gw yang cukup narsis untuk memakai inisial highly associated with Nabi Muhammad) untuk diskusinya ;-)

Tuesday, June 27, 2006

The Penalty

Dari awal juga gw gak berharap kesebelasan Australia bakal menang lawan Italia. Sebagus2nya penampilan mereka, sebagus2nya Guus Hidink, Italia tetap menang kelas dan menang pengalaman. Siapa sih Australia? Di FIFA aja gak ada peringkatnya.. :) Sembilan puluh dua menit permainan juga menunjukkan bahwa seharusnya Italia yang menang. Passingnya Australia jelek banget, kalau udah pegang bola dan mau nembak suka tabrak2an sendiri, bikin kemelut sendiri, sehingga bola tercuri pemain2 Italia yang emang lebih jago.

Tapi tetap saja merupakan ganjelan tersendiri melihat perjuangan the underdog Australia terhenti hanya karena tendangan penalti di detik2 terakhir. Segala perjuangan Australia yang sepanjang itu, prestasi luar biasa menahan salah satu rajanya sepakbola selama hampir 2 babak, membuat pemain2 Italia satu per satu kepancing untuk dapat kartu kuning, akhirnya musnah gitu aja.

Yah.. memang begitulah sepakbola! Sepanjang dua babak menguasai pertandingan, satu kesalahan kecil bisa bikin runtuh segalanya. Karena at the end yang dinilai adalah statistiknya: jumlah gol. Sepakbola memang membuat kita menikmati permainan yang indah, menikmati skill individu, menikmati kegantengan pemain (eh.. yang ini khusus buat cewek2 kali ye.. ;)), tapi.. kalau udah bicara maju ke babak selanjutnya, bukan ukuran kualitatif lagi yang dipakai. Murni kuantitatif.

Seperti juga hidup. Kadang, gak perduli betapa besarnya usaha kita, betapa berhasilnya kita melakukan sesuatu, nilai kita dihitung dari sebuah kegagalan atau keberhasilan di detik terakhir saja. Apa yg kita lakukan dengan baik itu gak hilang begitu aja sih.. akan ada orang2 yang tetap menghargai dan menikmati usaha kita. Tapi.. tetap aja itu gak akan membantu kita memasuki babak kehidupan selanjutnya. Ya seperti pemain2 Australia itu tadi! Beberapa orang akan membicarakan betapa lumayannya, betapa gak terduganya Australia bisa menahan si juara dunia 3x. Tapi yang tercatat dalam sejarah adalah kegagalan mereka. Di masa mendatang, jika Australia ketemu Italia lagi, yang akan diingat adalah hasil akhirnya, skor 1:0.

Nggak adil ya? Emang enggak sih. Tapi.. siapa juga yang bilang bahwa hidup itu adil? Reality bites, rite? And when it happens, we can only say c’est la vie!

Saturday, June 24, 2006

Living with Guilty Feeling

Ada orang2 yang dikaruniai kepekaan luar biasa; langsung tahu aja kalau ada yg nggak beres dari orang di sekitarnya. Kayak bapaknya Ima tuh, dari dulu gw gak bisa bohong kalau sama dia, soalnya pasti ketahuan. Tapi ada juga orang yang bebal luar biasa kayak gw; all brain and emotion, but no feeling, sehingga selalu telat tahu kalau ada sesuatu yang nggak beres pada orang2 sekitar gw.

Di banyak kasus, my brain helps me untuk memprediksikan kemungkinan terjadinya sesuatu. Bahwa bila faktanya gini, gini, dan gini, maka kemungkinannya gini, gini, dan gini, dan tanda2 jika kemungkinan itu terjadi adalah gini, gini, dan gini. Tapi.. ya, karena gw bebal itu tadi, karena gak sensitif tadi, kadang malah gw gak mengenali pola yang sudah gw perkirakan itu. Apalagi, gw tuh bisa dibilang voluntary autism, alias gak terlalu senang ngobrol sini sana, nanya kabar sini sana. Lengkaplah sudah: sensitivitas nol, keterbukaan informasi nol juga, gimana mau tahu perkembangan?

And at the end, it always makes me feel bad kalau sesuatu terjadi pada orang2 di sekitar gw, di depan mata gw, tanpa gw menyadarinya.

Seminggu yang lalu seorang teman kehilangan ayahnya. Dan walaupun dia sudah mempersiapkan diri sejak lama, I know it would be hard for him. Nggak perduli dia pernah merasakan kehilangan yang lain! Setiap kehilangan adalah pengalaman yang berbeda; tidak bisa sebuah pengalaman sebelumnya dijadikan acuan.

And when his tears started falling, where was I?

I was in Pasar Rumput; having a good time with my friend Dian, buying a new bicycle for my daughter and her nephew, and having the most delicious gudeg for lunch!

Kami pernah dekat. Kami pernah berbagi cerita dan saling belajar banyak dari masing2. Sampai kini, gw masih merasa bahwa dia salah seorang teman terbaik yang pernah gw punya. And, still, when the moment came,  I knew nothing. I knew nothing until I read his blog a week later.

Gw ngerasa jadi teman yang sangat buruk. Terrible friend. Teman macam apa yang nggak tahu temannya kesusahan? Terlebih lagi ketika gw sadar bahwa terakhir kami ngobrol adalah ketika bapaknya mulai sakit lagi. Bebalnya gw, gw gak tahu bahwa bapaknya mulai sakit lagi. Bebalnya gw, gw malah menyangka dia berhenti ngobrol karena marah sama gw. Stupid, selfish me! I should have seen the pattern that day, if only I know how to open my heart!

Sepanjang hari kemarin gw gak bisa kerja. Report dan proposal gw terpaksa menunggu hingga akhir minggu. The guilty feeling was tormenting me; rasa bersalah karena terlambat tahu, rasa bersalah karena tidak menyadari apa yang dibutuhkannya 6 bulan terakhir ini, .. rasa bersalah karena tidak menjadi teman yang baik. Bukan salah Mbak Maya, kata seorang teman, mungkin dia sendiri juga nggak nyaman cerita tentang hal itu. Bukan salah Mbak Maya, kata teman yang lain, gak semua orang punya kepekaan kok! Still, I think it was my fault. I should have been wiser in things of heart.

Walaupun terlambat, I finally did what a friend should’ve done. I call him to show my condolence. Serta membacakan Yasin dan tahlil untuk arwah almarhum, untuk ketabahan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkannya. Itu tidak bisa menghentikan rasa bersalah gw, tapi moga2 itu ada gunanya bagi dia dan almarhum ayahnya.

Kami tak bisa ngobrol banyak di telfon kemarin. Dia sedang mengendarai mobil. Mungkin, kalaupun dia punya waktu banyak, it’s not easy to talk about this.  Or to be exact: it’s not easy to talk about it with me. Tapi.. tetap ingin gw katakan padanya: kalau ada yang bisa aku bantu, just let me know. I lost my father nearly 7 years ago, I know what it’s like.

Dan satu lagi yang ingin gw sampaikan padanya: it’s okay to cry, to feel sad, to mourn the loss.. It doesn’t mean that we don’t accept God’s gift. It just means that we are human.

As you said, it’s your new beginning.

*dedicated to PIS, my deepest condolence for the departure of your beloved father*

Thursday, June 22, 2006

Ima dan Sepeda Roda Dua

TO LEON WERTH

I ask the indulgence of the children who may read this book for dedicating it to a grown-up. I have a serious reason: he is the best friend I have in the world. I have another reason: this grown-up understands everything, even books about children. I have a third reason: he lives in France where he is hungry and cold. He needs cheering up. If all these reasons are not enough, I will dedicate the book to the child from whom this grown-up grew. All grown-ups were once children--although few of them remember it. And so I correct my dedication:

TO LEON WERTH WHEN HE WAS A LITTLE BOY

(Antoine de Saint-Exupery in Little Prince)

------------

Ima baru mulai bisa naik sepeda roda dua. Dikatakan baru mulai bisa, karena dia masih belum lancar mengayuh pedal di awal perjalanan. Ima masih harus mengais2kan kaki kiri untuk menggerakkan sepeda dan memperoleh momentum keseimbangan sebelum mulai mengayuh pedal. Tapi hari Minggu yang lalu bapaknya dengan santai berkata pada Ima:

“Sudah bisa naik sepeda kan, Mbak? Tolong ke warung dong, beli rokok buat bapak”

Gw kontan panik! Sebenernya sih warung itu nggak seberapa jauh dari rumah. Masih di jalan yang sama, hanya berjarak sekitar 500m. Tapi, untuk mencapai warung, Ima harus melintasi perempatan utama kompleks kami. Lha, kalau ada mobil ngebut gimana? Kalau Ima nggak bisa nge-rem sepeda sebelum nyebrang perempatan gimana?

Biar aman, pengasuhnya gw suruh mengikuti Ima ke warung. Tapi Ima jelas protes! Bapaknya ikut protes juga! So, akhirnya, kata sepakat adalah si Mbak hanya berdiri di depan rumah, mengawasi Ima, sambil dalam posisi siap berlari kalau ada hal2 yang tidak diinginkan.

Ternyata Ima bisa menjalankan tugas dengan baik. Dia kembali ke rumah dengan selamat, tanpa jatuh, tanpa nabrak, tanpa ditabrak. And you have to see her expression! Seperti atlit yang baru memenangkan medali emas di kejuaraan penting! Kelihatan sangat bangga sudah berhasil menyelesaikan tugas itu.

Iya ya, tugas itu kalau buat gw sih enggak ada susah2nya acan. Tapi.. buat anak umur 7 tahun yang naik sepedanya aja belum lurus, tugas ini membutuhkan usaha keras dan perjuangan.

Gw jadi ingat saat pertama kali dipercaya untuk nyetir mobil dulu. Waktu itu umur gw 17 tahun, baru 2 minggu dapat SIM. Itu pun SIM gw sebenernya masih disita sama Bapak, karena gw belum becus ngganti ban sendiri dan masih belum lancar menjalankan mobil setelah berhenti di tanjakan.

*Bapak tuh orangnya perfeksionis kayak gw. Harus selalu prepare for the worst! SIM dari beliau lebih susah dapatnya daripada SIM nasional, karena Bapak menetapkan standard kelayakan yang lebih tinggi dari polisi, semisal: harus bisa berhenti di tanjakan tanpa rem tangan, dengan posisi setengah kopling, dan begitu jalan lagi gak boleh mundur sedikit pun ;-)*

Makanya gw kaget benar pada waktu Bapak tiba-tiba bilang: “Mbak, masih libur kan? Setirin Bapak ke kantor!”

Lha, kok bisa-bisanya berubah pendapat? Padahal minggu sebelumnya SIM gw disita lantaran latihan tanjakan di daerah Kebayoran masih gak memenuhi standard Bapak. Tapi ya namanya dikasih kesempatan mosok gw tolak? Kaki udah gatel tuh mau nginjek gas dan kopling.. ;-)

So.. biarpun deg-degan, panik, gw sok cool aja jadi sopirnya Bapak. Asli, sumpah, jarak Cipinang-Kebayoran itu jadi kerasa jauuuuuuuuuuhhhh banget! Dan phieww.. ketika akhirnya bisa memarkir mobil dengan tepat, rasanya lega dan bangga sekali!

*ohya, kalau sama Bapak, markir mobil juga kudu bener! Harus lurus, nggak boleh nginjak garis pembatas, dan posisi roda gak boleh miring sedikit pun ;-)*

Gw pikir2, perasaan gw dan ekspresi gw saat itu tentunya sama dengan Ima ya? Nyetir mobil kan bukan sesuatu yang susah, tapi buat then-seventeen-year-old-Maya kan suatu perjuangan besar.

Pas gw cerita gitu kepada bapaknya Ima, dengan santai dia cuma bilang:

“Memang, orang tua tuh sering lupa bahwa mereka pernah jadi anak2. Nggak ingat bahwa waktu masih jadi anak2 mereka juga pingin bisa bangga, bisa dipercaya melakukan sesuatu yang menurut orang tuanya bahaya.”

Hehehe.. iya ya? Kenapa juga gw bisa lupa bahwa dulu gw selalu pingin dipercaya bisa melakukan sesuatu yang berat? Kenapa bisa lupa ya, bahwa dulu gw jengkel banget kalau Bapak atau Ibu mencoba melindungi gw dengan melarang gw melakukan sesuatu (yang gw yakin bisa)?

Hhhhh… ternyata benar apa yang dikatakan Little Prince dulu: most grown-ups were too concerned with matters of consequence to understand anything that was beautiful or true.

*duuh.. selamatkan gw dari menjadi the grown up dong.. hehehe.. ;-)*

Wednesday, June 21, 2006

Yang, Jerman menang lagi!

I miss Sideblog! Gara2 situs itu kadaluwarsa, gw gak bisa nge-post topik2 yg cuma pingin gw bahas sebaris dua baris. Ya seperti sekarang ini, gw kepaksa nge-post di halaman utama. Padahal niat gw hanya pingin nulis:

Yang, Jerman menang lagi!

(note: Yayang di sini bisa siapa aja, yang tadinya ngeledekin gw Jerman bakal kalah.. ;-))

HAHAHAHA.. iya, tadi malam Jerman menang dari Ekuador dengan skor 3:0. Emang sih, tim Ekuador tadi malam turun hanya dengan lapis keduanya, jadi emang gak gitu bagus. Dan iya juga sih, tadi malam kalau saja yang jaga gawang bukan Jens Lehmann, mungkin Jerman udah kebobolan. Tapi tetap aja gw seneng Jerman menang. Terutama setelah seharian kemarin denger komentar dan prediksi orang2:

Malam ini malamnya Ecuador, tulis brondong ini di status YM-nya.

Gw pegang Ecuador, status YM-nya Mas Boy

Jerman bakal simpan pemainnya untuk di perdelapan final lawan Inggris, mereka juga manusia, pingin menang, kata brondong yang tadi lagi!

Iiiih.. udah dibilangin jangan pernah meremehkan Jerman. Jangan pernah menghitung skor Jerman sebelum peluit panjang akhir babak berbunyi.. hehehe.. Inget Polandia yang kebobolan di injury time beberapa hari lalu? Itu kan mengulang kisah Mexico yang ditekuk di menit terakhir World Cup 2002. Ingat juga nggak, Euro 1996, Jerman udah ketinggalan 1:0 hampir 90 menit penuh di final lawan Ceko (tim yang sudah mengalahkannya di penyisihan grup juga), tapi akhirnya bisa menyamakan kedudukan di injury time dan golden goal Bierhoff menjadikannya juara Eropa? Bikin Karel Poborsky dan Patrick Berger nangis sesenggukkan. Dan yang pasti.. penggemar bola dimana pun ingat Der Wunder von Bern kan? Waktu Jerman udah ketinggalan 2:0, tapi tetap bisa menang jadi juara dunia?

Emang.. Jerman gak selalu menang. Ada masa-masa mereka nggak jaya. But my point is.. do not ever underestimate German team! Mereka tuh sekelompok orang ngeyel yang maju terus pantang mundur sampai titik darah penghabisan. Who knows what miracle they can achieve? Dengan anggota tim yang udah masuk klasifikasi Jurrasic Park, compang-camping, di atas kertas gak bakal lolos dari klasemen grup, mereka melaju ke final World Cup 2002. Modalnya? Selain keberuntungan, juga kengeyelan.. ;-).

Anyway.. kemenangan mereka atas Ecuador bisa dianggap kado ultah spesial dari my cinta. Danke schoen, Herr Klinsmann, Sie sind mein Held! In Ihre Hand steht so vieles was mir hofft! Helfen Sie bitte uns das Deustchenlied singt an der Ende!

Iya, biarpun Klose dan Podolski yang bikin gol, biarpun Ballack yang memimpin komando permainan, biarpun Lahm yang lumayan bagus di barisan belakang (yang tak sekuat biasanya), tapi tetap revolusi gaya permainan dari Klinsmann yang bikin hasilnya beda.

"He recognised that the team was limited in certain areas and he tried something different to improve the team. Klinsmann puts great value on the mental factor and motivation. A generation of players is growing and that is important," Ballack said. "The older players now have fun when they travel with the national team.

(dikuti dari artikel ini)

He-eh banget! Dia nyadar barisan belakangnya payah! Makanya daripada ngotot memperbaiki pertahanan, dia mengajarkan menyerang.. ;-)

Ngomong2 soal Klinsmann, ada beberapa teman yang nanya kenapa gw tergila2 banget sama si bapak ini. Emang cakepnya si Klinsi dimana sih? Well.. gw cuma bisa bilang: secara fisik sih Klinsmann gak cakep! Hidungnya kepanjangan, mukanya penuh kerut merut gak jelas, rambutnya suka salah mode sehingga kelihatan kayak jamur kuping.. tapi menurut gw dia punya karakter yang kuat dan inner beauty yang membuatnya jadi cakep banget di mata gw.. hehehe.. ;-). Hal2 seperti ini nih yang bikin gw suka sama dia:

Klinsmann would drop by the U.S. team's training camp when it was in the area and in January 2004, he says he asked Arena if he could "observe and do an internship basically," when the team held a camp in Carson, Calif. "That time no one had an idea that a half a year later I would be head coach of the German national team," Klinsmann says. Klinsmann says he also wants to talk to Anson Dorrance, the women's soccer coach at 17-time NCAA champion North Carolina "to pick his brain" about training methods he read in Dorrance's book.

My son is joking sometimes and says, 'Dad, you can be our assistant coach.' And I say, 'I don't know if your head coach would like me to be an assistant coach.' "

(dikutip dari artikel ini)

Ah.. Klinsmann mengingatkan gw pada seorang teman yang juga rendah hati dan punya built-in altruism juga; yang dari kecil kemana2 bawa kotak P3K untuk nolong orang, dan setelah dewasa hidupnya cuma ngebantuin oraaaaaaang melulu… ;) It matters more than physical handsomeness, rite?

BTW, ada satu yang aneh dari kesukaan gw pada Klinsmann. Perhatikan potongan artikel ini:

He says it's "a great privilege" to live in Southern California. "I think in general people in America approach things in a positive way. Is the glass half-empty or half-full? We sometimes in Germany forget that you can have a glass half-full. In Germany, we have the mentality that you always need to justify yourself whatever you do. Here you don't need to justify what you do; here you do it. Week by week, they want me to justify: Why do we have an American fitness coach? Why do we have a sports psychologist? Why change from hotels outside the city to hotels downtown? And all that stuff." Klinsmann pauses, before adding, "Who cares?"

(dikutip dari artikel ini lagi)

Hehehe.. aneh ya? Seumur2 gw mengagumi gayanya bangsa Jerman yang selalu membutuhkan justifikasi untuk apa pun juga, selalu mempertanyakan the whys. In fact, I try to LIVE their lives all the time. Tapi kenapa justru gw malah suka sama Klinsmann yang try to break the clutter ya.. ;)?

Tuesday, June 20, 2006

Review Yang Terlewat

Waktu pertama kali nonton Crash atas rekomendasi bapak ini, gw lagi nggak punya waktu buat nge-review. Setelah punya waktu, rasanya gak perlu di-review krn toh udah menang Oscar dan dapat pujian dimana2. The quality speaks for itself. Tapi.. gara2 baca tulisan jeng ini, jadi ngerasa pingin lagi menuliskannya.

Seperti diulas dimana2, film ini benar2 menunjukkan putihnya hitam dan hitamnya putih. Nothing is purely black or purely white, as everything concerning human being comes in the shade of grey. Sesuatu yg hitam, seperti rasisme, ternyata berawal dari sesuatu yg putih. Sesuatu yg putih, seperti anti-rasisme, ternyata bisa juga menjadi hitam. Dan itu yang bikin gw terkesima banget sama film ini: betapa tipisnya batas antara hitam dan putih, antara baik dan buruk, antara benar dan salah.

Tengok Officer John Ryan yang diperankan Matt Dillon. Melihat kerasisannya, yang sampai bela2in ngejar mobil yg jelas bukan mobil yg dimaksud, mungkin kita berpikir bahwa dia dibesarkan dalam keluarga yg rasis. Atau setidaknya di lingkungan yg rasis. Tapi.. ternyata dia dibesarkan oleh seorang bapak yg sangat humanistis, yang mempekerjakan begitu banyak pegawai kulit hitam. Rasisme John Ryan berawal ketika persamaan hak bagi afro-american mulai berdengung, ketika pegawai bapaknya mulai satu persatu meninggalkan usaha, hingga bapaknya sakit dalam keadaan bangkrut karena tidak ada pegawai. Secara tidak sadar, John Ryan menyalahkan para pegawai yang tidak mau tetap bekerja pada bapaknya sebagai penyebab sakitnya sang ayah. Dan dalam frustrasinya, dia menyalahkan persamaan hak yg ada, karena kalau saja para pegawai itu tidak punya kesempatan untuk pergi, mungkin ayahnya tidak akan semenderita itu.

Atau tengok si polisi baik, partnernya John Ryan, yang merasa gak bisa hidup dgn kerasisan partnernya. Secara tidak sadar, prejudice itu juga ada pada dirinya, sehingga ketika si anak laki2 kulit hitam yg diberinya tumpangan itu mengambil sesuatu dari kantong, reaksi cepatnya adalah menembak si anak. Secara tidak sadar, di luar kemauannya, dia tetap mengasosiasikan kulit hitam dgn kejahatan, dan dengan demikian tindakan merogoh kantong diasosiasikan secara spontan dengan mengambil senjata. Padahal, si anak ini hanya ingin mengambil sebuah patung orang suci pelindung perjalanan.

Atau tengoklah Graham Waters yang diperankan Don Cheadle. The model police, polisi ideal, yang karirnya melesat cepat. Dia menyenangkan semua orang, tapi gagal membahagiakan ibunya sendiri. Bagi ibunya, dia adalah anak sulung yg gagal mengayomi adiknya, anak sulung yang gagal memperhatikan ibunya.

Batasnya tipis sekali antara dua dikotomi. Mungkin.. memang karena dikotomi hanyalah dua buah titik dari sebuah gradasi yang panjang. Yang sangat tidak adil jika kita membagi segala sesuatunya berdasarkan titik dikotomi, karena esensinya adalah pada gradasi itu sendiri.

Satu hal lagi yang membuat gw terkesima dengan film ini: betapa pun tipis batas antara dikotomi itu, at the end kita tetap kembali pada esensinya. Jika esensinya lebih putih, maka keindahan yang kita dapatkan, walaupun ada hitam dalam hidup kita. Sebaliknya, jika esensinya lebih hitam, maka keburukan yg kita dapatkan, walaupun ada sisi putih dalam hidup kita.

Seperti si pemilik toko Persia itu; yang kehilangan segala2nya, tanpa bisa diganti asuransi. Dalam putus asanya, sempat dia berniat menembak mati si ahli kunci, yang dianggapnya membuat segalanya hilang. Sebuah tembakan tepat ke jantung, ketika anak si tukang kunci melompat melindungi ayahnya, dan.. suatu keajaiban terjadi: peluru itu tidak mengenai siapa pun. At the end, Yang di Atas tetap melindungi kebaikan yg ada padanya; dia tidak jadi berubah menjadi pembunuh, walaupun pikiran itu sempat muncul.

Atau tengoklah tokoh John Ryan (lagi). At the end, apa yg ditanamkan orang tuanya, apa yg aslinya ada pada dirinya, tetap muncul ke permukaan. Walaupun dia mencoba menjadi pembenci kulit berwarna, at the end dia tetap menolong si kulit berwarna yang hampir mati terbakar. Dalam keadaan terdesak muncullah kebaikan yg selama ini tersembunyi.

Sebaliknya, tokoh yang selama film dikasihani karena terlindas mobil yang dibawa dua remaja bandel, yang membuat penonton bernapas lega karena nggak jadi mati, ternyata akhirnya tetap tidak menimbulkan simpati. Di akhir cerita, baru terlihat bahwa van yang dibawanya berisi gadis2 Asia yang hendak dijual secara illegal; entah sebagai pelacur ataupun sebagai budak.

Gw jadi ingat omongan yang selalu diucapkan almarhum Eyang Putri gw: Gusti Allah ora sare (= Tuhan tidak tidur). Semua hal yang kita lakukan, baik-buruk, benar-salah, akan dibalas setimpal suatu hari nanti. Jangan percaya angka awal, jangan putus asa kalau usaha gak berhasil, karena suatu hari pasti akan diberi yang setimpal. Juga jangan jumawa kalau keburukan yg kita lakukan tidak menimbulkan dampak apa2, karena suatu hari akan datang balasannya juga.

Well.. akhirnya gw hanya bisa bilang: Crash adalah salah satu film terbaik yang pernah gw tonton. Salah satu film yang benar2 bisa mengajarkan banyak hal pada kita. So.. kalau ada yang masih protes, bilang film koboi homo (atau tepatnya koboi biseksual, kan akhirnya kawin sama cewek juga.. ;-)) itu yang harusnya menang.. maka.. gw mau nyanyiin lagunya Ima: telor, telor, ulat, ulat, kepompong, kupu-kupu.. kasiaaaan deh loe!

Thursday, June 15, 2006

Menjelang Minggu

Ada berbagai alternative yang bisa gw beli untuk memanjakan diri sendiri di hari Minggu besok:

1.      Angels and Demons serta Da Vinci Code illustrated edition, yang masih nampang dengan manisnya di TGA Mal Kelapa Gading (nunggu gw beli ya.. ;-)?)

2.      Segelas besar Starbucks’ Green Tea Frappuccinno dgn Caramel yang manis diikuti segelas sedang Sulawesi Coffee yang keras pahit. Boleh juga ditemani sama sepotong Cheesecake.. ;-)

3.      All-complete-7-seasons-DVD Star Trek The Next Generation, hasil karya the pirates of Hong Kong, yang masih menggoda gw di Ratu Plaza

Sayang.. manusia memang tidak pernah puas. Begitu banyak yang bisa gw beli, tapi gw justru paling menginginkan hal yang tidak bisa gw beli.

Memang, apa yang paling gw inginkan itu sudah tidak beredar di pasaran. Collectible item, limited edition. Hanya satu orang yang punya. Sayangnya, sudah berkali-kali gw bujuk, tetap aja dia nggak bergeming.

Beberapa kali sih si pemilik bertanya: will you pay the price?

Masalahnya, dia nggak pernah nyebut dengan pasti berapa harga yg dia minta untuk melepas koleksinya itu. Jadi mana bisa gw tahu gw bisa afford atau tidak. Gw pernah coba nawar sih, sejumlah yang sesuai kantong gw, tapi kayaknya yang gw tawarkan itu jauuuuuuuuhhhh dari maunya dia. Soalnya dia cuma mesam-mesem sambil bilang betapa absurdnya penawaran gw.. ;-)

Buset deh. Susah ya?

***

Sebenernya, kalau hasilnya bisa diprediksikan, harga atau kesulitan sebesar apa pun kan bisa dihitung sebagai investasi jangka panjang. Masalahnya gak segampang itu. Ada benda2 seperti lipstik misalnya yang baru ketahuan cocok atau enggak kalau udah dibeli. Kalau belum dibeli kan cuma bisa nyoba testernya di kulit tangan, belum ketahuan di bibir cocok atau enggak. Jangan sampai ngalamin kayak tulisannya Irfa yang lugas ini:

Aku ingin cinta ini jadi Tai! yang gw kluarin dari perut gw! trus gw flush di closet. abis itu...ahhhh!!! LEGA!!! gw jadi dah ga mikirin lo. apalagi berharap lo kembali.

tapi gimana caranya ya?? karna cinta ini spt nya udah jadi darah yang muter muter di seluruh tubuh gw, udah jadi oksigen yang gw butuhin yang memenuhi paru2 gw, hingga membantu kerja otak sinting ini! udah jadi lemak yang bikin gw capek saat lari ngejar kenyataan.

Nah.. susah ya? Kadang kita sudah mendapatkan apa yg kita inginkan, whatever the price is. Tapi ternyata setelah dicoba gak cocok. Nggak jadi happy juga deh, malah jadi tambah susah hidupnya, karena dia tetap harus hidup dengan hal yg tidak sesuai itu. Barang yang sudah dibeli kan tidak dapat ditukar atau dikembalikan.. hehehe.. ;-) Nggak ada after sales service buat barang2 tertentu ;-)

***

Jadi inget iklannya Mastercard. Yang tagline-nya: There is something in this world money can’t buy. For everything else: there’s Mastercard.. ;)

Hehehe.. uang [atau dalam hal ini: Mastercard] emang gak bisa beli segalanya ya? Katanya sih uang hanya bisa beli 99% dari segalanya.. HAHAHAHA.. ;-) Cuma, kadang2 emang yg 1%, yang nggak kebeli sama duit itu, yang paling berharga dan paling diidamkan.. ;-) Yang giliran udah didapat, terus gak sesuai dgn bayangan kita, lantas susah banget untuk dihilangkan dari hidup kita.. ;-)

So, gimana dong? Kata seorang teman, memang harusnya di dalam hidup ini pasrah aja, jangan pernah berharap, jangan pernah menginginkan sesuatu. Tapi.. gw kok gak bisa sepenuhnya setuju juga ya? Bukannya menginginkan sesuatu itu bakal jadi pemacu bagi kita untuk berusaha lebih baik?

Atau, mendingan berkiblat pada nyanyiannya Mariah Carey:

There can be miracles when you believe
Though hope is frail, it’s hard to kill
Who knows what miracle you can achieve?
When you believe, somehow you will
You’ll know when you believe

Hehehe.. berharap ada miracle yang bikin gw dapat apa yg gw inginkan, dengan harga yang gw inginkan, dan hasilnya sesuai dengan apa yg gw inginkan. Doooowwwh.. itu sih namanya maruk ya?

Tapi ngomong2, mau dilepas harga berapa sih tuh koleksi? Bukan harga mati kan.. ;-)

Wednesday, June 14, 2006

Celebrate the Day!

Ada masa-masanya gw cinta banget sama sepakbola. Tahun 1986 – 1998, semua pertandingan yg ada di TV pasti gw tonton! Gimana enggak? Jaman puber tuh, mana bisa melewati acara dimana ada 22 cowok berlarian kesana kemari? Hehehe..  Dari 22 orang itu, mosok sih gak ada yg ganteng? Jaman itu, definisi gw tentang cowok ganteng gak jauh2 dari Giuseppe Giannini dan Paolo Maldini.. ;-)

Tapi.. biarpun kesebelasan Itali adalah referensi gw tentang co-gan, tim favorit gw dari masa ke masa adalah Jerman (Barat). Der Panzer. Dan “cinta pertama” gw adalah striker Jerman (Barat): Juergen Klinsmann.

*hmm.. kalo dihitung2, gw udah jatuh cinta sama Klinsmann sebelum ketemu bapaknya Ima.. HAHAHAHA.. ;-)*

Kalau soal kenapa gw suka timnas Jerman (Barat), alasannya jelas. Der Panzer mainnya rapi, serangannya terorganisir banget. Kalau kehilangan bola, membangun serangannya lagi pasti dari awal. Seneng deh, lihat sesuatu yang rapi, prosedural, tapi hasilnya gak kalah dengan tim yg mengutamakan kreativitas individu dan permainan cantik seperti Brazil. Tipikal gw banget kan, maunya segalanya serba teratur rapi, ngikutin prosedur, tapi dengan hasil yang sempurna.

Nah.. kalau soal suka sama Klinsmann, gw juga gak jelas awalnya kenapa. Kalau soal tampang, standard aja kok, gak ganteng! Kalau soal permainan, well, sebagai pemain muda berbakat dia tidak sefenomenal Diego Maradona. Plus lagi, dia terlalu fair skin dan blonde.. hehehe.. dua atribut fisik yg gak gw sukai dari cowok. Tapi toh, gw kesengsem banget sama dia.

Seiring gw suka sama dia, ngikutin berita2 tentang dia, baru deh gw melihat ternyata memang dia model orang yg bisa jadi magnet buat gw.. HAHAHAHA.. Karena dia punya karakter yg selalu gw kagumi; humble, smart, and compassionate. Yang pertama kali gw notice adalah sifat perduli pada orang lainnya. Seusai Piala Dunia 90 di Italia, ada berita kecil di koran: Klinsmann Mengusulkan Denda yang didapat dari Kartu Merah/Kuning disumbangkan untuk anak-anak korban Perang Teluk. Waktu itu memang sedang ramai2nya Perang Teluk, dan tentunya banyak anak yang jadi korban. Kala itu sih ada aja yang menuduhnya sekedar cari nama. Tapi toh, bertahun2 kemudian, Klinsmann memang mendirikan Agapedia, sebuah badan penyantun anak2.

Kali lain, gw dibuat takjub dengan kesederhanaannya. Biarpun sudah jadi bintang lapangan, dikontrak tim papan atas Inter Milan dgn biaya transfer lumayan, Klinsmann tetap naik VW Kodok (dan bukan tahun terbaru) kemana2. Sederhana saja alasannya; Volkswagen adalah mobil rakyat, buatan Jerman. Dia tidak memilih Audi atau Mercedes, yang sama2 buatan Jerman, tapi naik mobil rakyat. It is a quality in its own! Gw makin takjub sama si anak tukang roti ini.. ;-)

Satu lagi yang bikin gw takjub masa itu adalah bahasa Inggrisnya yang bisa dibilang sempurna. Pronounciation-nya bagus. Kalau diwawancara di TV, dia berbicara bahasa Inggris. Ini salah satu kualitas yang baik lagi, setidaknya menunjukkan bahwa dia pintar dan mau belajar. Tipikal orang Jerman, seperti juga orang Prancis, tidak suka mempelajari bahasa lain. Tapi Klinsmann mau. Dan bukan bahasa Inggris saja yang dipelajarinya, juga bahasa Italia.

Well.. bukan berarti Klinsmann gak ada punya kekurangan. Orangnya lumayan panasan juga ;-). Gw ingat awal 90-an, waktu memperebutkan Piala UEFA melawan Sporting Lisbon, Klinsmann menampar pemain lawan. Si defender Sporting Lisbon, Oceano, mendorong Klinsmann hingga terjungkal menabrak dinding iklan yg ada di pinggir lapangan. Spontan Klinsmann menampar Oceano, dan kalau nggak salah dapat kartu kuning. Klinsmann juga dikenal jago diving. Suka cari2 penalti kalau Jerman sudah terdesak. Klinsmann juga pernah diberitakan bertengkar hebat dengan Matthaeus di pesawat saat akan pertandingan internasional.

But still.. I love the overall quality in him. I think he’s a great guy.

Klinsmann gantung sepatu usai France’98. Sejak itu kabarnya gak banyak terdengar. Kabarnya sih di USA sempat buka toko roti sambil melatih klub sepakbola amatir di California sana. Sekarang, dia kembali muncul di kancah Piala Dunia sebagai pelatih Jerman. Sempat dikritik sana-sini karena lebih banyak berada di USA, daripada mengurusi tim Jerman yang masih belum sekuat dulu. Sempat dikritik sana-sini karena memilih pemain yang masih hijau. Still, I put my best bet on his judgment.. Gak tahu deh, ini kategorinya fanatisme buta atau enggak.. HAHAHAHA..

Yang jelas, permainan Jerman saat lawan Costarica kemarin asyik banget! Walaupun pertahanan keteteran, gak ada libero yg setangguh dulu, tapi permainan menyerang penuh akurasinya asyik banget! So.. terserah sampai babak mana Jerman melaju, yang jelas I’ve been celebrating the day since the opening of Germany’06: lihat tim kesayangan gw menjadi tuan rumah, diasuh sama jagoan abadi gw, dan mainnya lumayan OK.. ;-)

*Tinggal 1 kurangnya: Jerman jadi juara dunia. Kalau bener2 kejadian Jerman menang, namanya gw dapat jackpot.. ;-). Deutschland, Deutschland ueber alles. Ueber alles in der Welt*

Saturday, June 10, 2006

Leonardo

Mohon kebesaran hati teman2 yang beragama Katholik untuk melihat tulisan ini sebagai ulasan buku fiksi semata, bukan komentar terhadap ajaran agamanya

Bahwa Leonardo da Vinci adalah seorang jenius, itu gw udah tahu dari dulu.  Siapa sih yg nggak tahu Monalisa yang misterius, sejak kecil gw sudah hafal lagu tentangnya: Do you smile to tempt a lover, Monalisa? Or is it your way to hide a broken heart?. Kakak sepupu gw yang arsitek juga pernah cerita tentang Vitruvian Man, sketsa Da Vinci yang dianggap sebagai signature arsitektur (mirip seperti huruf Yunani Psy yang dianggap signature psikologi). Ketika baca Da Vinci Code, gw tambah takjub sama kejeniusan Da Vinci serta kesukaannya bermain dgn teka-teki. Kok bisa ya, lukisan2nya begitu misterius sampai bisa diinterpretasikan begitu?

Tapi baru setelah baca The Secret Supper (Javier Sierra) gw berniat nyembah si Leonardo ini.. ;-) Gilaaaaa.. misteri yang dibahas di Da Vinci Code aja udah bikin gw takjub! Ternyata.. di lukisan yang sama, bisa interpretasikan misteri lain yang sama canggihnya!

Pertama buku ini muncul di berbagai toko buku, gw takut ini sekedar Da-Vinci-Code-wanna-be. Novel2 yang dibuat untuk ndompleng kesuksesan bukunya Dan Brown. Makanya, gw tunggu dulu sampai bukunya muncul di perpustakaan langganan. Namun ternyata buku ini bukan DVC-wanna-be. Memang sih obyek bahasannya sama; kode2 tersembunyi di lukisan The Last Supper dan Virgin of the Rock. Tapi pendekatannya beda dan gaya bertuturnya beda. Gaya menulis dan pendekatan yang diambil Signor Sierra malah mengingatkan gw pada Umberto Eco di The Name of the Rose, dan gw menjadi lebih mudah baca buku ini karena settingnya sudah gw kenal dari The Family karangan Mario Puzo.

OK.. gw mau cerita tentang isi bukunya sekarang. Jadi.. buat yang pingin beli/baca bukunya, mendingan jangan baca apa yg gw tulis di bawah ini.. ;)

Pada intinya buku ini juga bercerita tentang Leonardo da Vinci dan his secret brotherhood yang menganggap bahwa Katholik Roma merupakan penyimpangan dari agama Katholik yang sesungguhnya. Da Vinci di buku ini juga diceritakan memasukkan kode2 tertentu yang mengarah pada pemurnian Katholik dalam lukisan2nya; kode2 yang akan membawa umat pada ajaran asli yang dipercayai ada di tangan Maria Magdalena dan Yohanes, yang baru diberikan setelah kebangkitan Yesus karena Maria Magdalena dan Yohaneslah yang setia mengikuti Yesus hingga wafat disalib, dikuburkan, dan bangkit kembali (sementara murid2 Yesus yang lain berpencaran pergi, bahkan Petrus sampai menyangkal sebagai murid Yesus). Bedanya, kalau DVC memfokuskan cerita pada Maria Magdalena sebagai The Holy Grail, istri Yesus, maka TSS ini tuduhannya lebih subtle: hanya mengatakan ada injil Yohanes yang hilang, yang disebut Interrogatio Johannis.

OK, yang mau lihat lukisannya, gw rekomendasikan klik di sini.

Cerita dimulai dengan adanya desas-desus bahwa lukisan The Last Supper sebenarnya tidak menggambarkan adegan perjamuan terakhir. Dalam gambar tidak ada daging dan cawan anggur yang mencikalbakali Sakramen Ekaristi, Yesus dan para orang suci itu tidak digambarkan dengan halo, serta yang paling menjengkelkan bagi para biarawan masa itu: Leonardo da Vinci, yang wajahnya dipakai bagi Tadeus (nomor 2 dari kiri), jelas2 membelakangi Yesus; alih2 menyimak omongan Yesus, malah sibuk ngobrol sendiri (hehehe.. ternyata yang namanya murid dimana2 sama aja ya, gurunya ngejelasin, muridnya sibuk ngobrol). Belum lagi Petrus, yang nantinya menjadi Paus pertama, digambarkan membawa belati, sebuah simbol pengkhianatan dan kejahatan.

Penyelidikan demi penyelidikan para biarawan itu menemukan hasil yang mengejutkan. Sisi sebelah kanan lukisan digambarkan lebih bercahaya, menandakan bahwa di situlah letak kebenaran.  Simon, di ujung kiri lukisan, berwajahkan Plato; tokoh panutan Leonardo da Vinci tentang logika. Dengan demikian, salah satu interpretasinya adalah bahwa Plato (logika) harus dijadikan panutan utama daripada Yesus (religi). Ini yang dianggap salah satu bukti kemurtadan Da Vinci.

Selanjutnya, ada pernyataan Da Vinci bahwa walaupun dia menggunakan wajahnya, tapi dia menjadikan dirinya hanya Omega dari Kristus sang Alpha. Akhir dari sebuah awal. Mula2nya orang bingung maksudnya apa, sampai seorang gadis bisa menunjukkan bahwa jika Alpha diartikan sebagai huruf A (dari postur Yesus), maka Omega harus diartikan sebagai huruf O.  Dan O adalah julukan Tadeus: Occultator, he who conceals. Pas banget ya? Wajah Da Vinci si penyembunyi kode dipakai pada murid Yesus yang dijuluki Occultator, si penyembunyi.

Satu persatu akhirnya lukisan itu dijabarkan sebagai representasi huruf dari kiri ke kanan (sesuai urutan tokoh):

Bartolomeus

Mirabilis

He who is Miraculous

James

Venustus

He who is Full of Grace

Andreas

Temperator

He who Prevents

Yudas Iskariot

Nefandus

The Abominable One

Petrus

Exosus

He who Hates

Yohanes

Mysticus

He who Knows the Mystery

YESUS

ALPHA

 

Thomas

Litator

He who Placates the God

James (tua)

Oboediens

He who Obeys

Filipus

Sapiens

He who Loves High Matters

Mateus

Navus

He who is Dilligent

Tadeus

Occultator

He who Conceals

Simon

Confector

He who Fulfills

Baca huruf depan julukan itu dari kiri ke kanan: MVTNEMALOSNOC.

Gak ada maknanya ya? Banyak konsonan ya? Ohya, lupa, dalam huruf Romawi, U sering ditulis V. Jadi.. sekarang bunyinya: MUTNEMALOSNOC

Masih nggak ada artinya? Hehehe.. tokoh utama novel ini, Father Agostino Leyre, tiba2 menyadari posisi tangan Simon seolah2 menyilahkan orang untuk melihat adegan itu sekali lagi. Dan.. jangan lupa.. Simon di sini berwajah Plato, ahlinya logika. Harus diingat2 lagi bagaimana getolnya Da Vinci berteka-teki, bagaimana dia sering menggunakan teka-teki dengan menulis secara terbalik. Yup! Menulis secara terbalik, dari kanan ke kiri. So.. bacalah sekali lagi dari kanan ke kiri, maka sekarang huruf2 itu berbunyi: CONSOLAMENTUM

Nah.. tadi sudah diceritakan bagaimana inti cerita ini adalah sekelompok orang yang berpatokan pada Interrogatio Johannis. Dan dalam kepercayaan mereka, mereka hanya mempercayai satu sakramen, yang merupakan gabungan dari Sakramen Permandian (baptis), Sakramen Ekaristi (komuni), dan Sakramen Perminyakan (sakramen akhir untuk pertobatan dan pengampunan dosa sebelum meninggal). Sakramen tunggal ini yang disebut CONSOLAMENTUM. Inilah kode tersembunyi dalam lukisan Leonardo da Vinci.. ;-) Suatu petunjuk akan “kemurnian” ajaran.

Hehehe.. cool, eh?

Ceritanya asyik ya? Bisa2nya orang mikir sampai serumit ini.. ;-). Tapi yang lebih menakjubkan buat gw adalah: bisa2nya Leonardo da Vinci melukis sesuatu yang multi-interpretasi begini! Kalau hanya Dan Brown yang nulis tentang ini, well, mungkin Dan Brown yang kelewat kreatif. Tapi.. begitu ada Javier Sierra yang bisa bikin interpretasi baru.. well, selain Mr Brown dan Signor Sierra kreatif, tentunya Da Vinci lebih hebat lagi!

I wonder.. benarkah Leonardo da Vinci, si jenius, sengaja memasukkan simbol2 yang bisa dianalisa orang? Atau manusia ini segitu jeniusnya sehingga melukis tanpa mikir panjang pun bisa dianalisa.. HAHAHAHA.. ;-)

Sayang, beliau sudah wafat sehingga gw gak bisa berguru padanya.. ;-) Kalau saja dia masih hidup, tentu gw bisa tanya apakah teka-teki iseng gw di posting ini sudah cukup belibet untuk dipecahkan. Tipsy, dear Howard, o ion!