Tuesday, June 20, 2006

Review Yang Terlewat

Waktu pertama kali nonton Crash atas rekomendasi bapak ini, gw lagi nggak punya waktu buat nge-review. Setelah punya waktu, rasanya gak perlu di-review krn toh udah menang Oscar dan dapat pujian dimana2. The quality speaks for itself. Tapi.. gara2 baca tulisan jeng ini, jadi ngerasa pingin lagi menuliskannya.

Seperti diulas dimana2, film ini benar2 menunjukkan putihnya hitam dan hitamnya putih. Nothing is purely black or purely white, as everything concerning human being comes in the shade of grey. Sesuatu yg hitam, seperti rasisme, ternyata berawal dari sesuatu yg putih. Sesuatu yg putih, seperti anti-rasisme, ternyata bisa juga menjadi hitam. Dan itu yang bikin gw terkesima banget sama film ini: betapa tipisnya batas antara hitam dan putih, antara baik dan buruk, antara benar dan salah.

Tengok Officer John Ryan yang diperankan Matt Dillon. Melihat kerasisannya, yang sampai bela2in ngejar mobil yg jelas bukan mobil yg dimaksud, mungkin kita berpikir bahwa dia dibesarkan dalam keluarga yg rasis. Atau setidaknya di lingkungan yg rasis. Tapi.. ternyata dia dibesarkan oleh seorang bapak yg sangat humanistis, yang mempekerjakan begitu banyak pegawai kulit hitam. Rasisme John Ryan berawal ketika persamaan hak bagi afro-american mulai berdengung, ketika pegawai bapaknya mulai satu persatu meninggalkan usaha, hingga bapaknya sakit dalam keadaan bangkrut karena tidak ada pegawai. Secara tidak sadar, John Ryan menyalahkan para pegawai yang tidak mau tetap bekerja pada bapaknya sebagai penyebab sakitnya sang ayah. Dan dalam frustrasinya, dia menyalahkan persamaan hak yg ada, karena kalau saja para pegawai itu tidak punya kesempatan untuk pergi, mungkin ayahnya tidak akan semenderita itu.

Atau tengok si polisi baik, partnernya John Ryan, yang merasa gak bisa hidup dgn kerasisan partnernya. Secara tidak sadar, prejudice itu juga ada pada dirinya, sehingga ketika si anak laki2 kulit hitam yg diberinya tumpangan itu mengambil sesuatu dari kantong, reaksi cepatnya adalah menembak si anak. Secara tidak sadar, di luar kemauannya, dia tetap mengasosiasikan kulit hitam dgn kejahatan, dan dengan demikian tindakan merogoh kantong diasosiasikan secara spontan dengan mengambil senjata. Padahal, si anak ini hanya ingin mengambil sebuah patung orang suci pelindung perjalanan.

Atau tengoklah Graham Waters yang diperankan Don Cheadle. The model police, polisi ideal, yang karirnya melesat cepat. Dia menyenangkan semua orang, tapi gagal membahagiakan ibunya sendiri. Bagi ibunya, dia adalah anak sulung yg gagal mengayomi adiknya, anak sulung yang gagal memperhatikan ibunya.

Batasnya tipis sekali antara dua dikotomi. Mungkin.. memang karena dikotomi hanyalah dua buah titik dari sebuah gradasi yang panjang. Yang sangat tidak adil jika kita membagi segala sesuatunya berdasarkan titik dikotomi, karena esensinya adalah pada gradasi itu sendiri.

Satu hal lagi yang membuat gw terkesima dengan film ini: betapa pun tipis batas antara dikotomi itu, at the end kita tetap kembali pada esensinya. Jika esensinya lebih putih, maka keindahan yang kita dapatkan, walaupun ada hitam dalam hidup kita. Sebaliknya, jika esensinya lebih hitam, maka keburukan yg kita dapatkan, walaupun ada sisi putih dalam hidup kita.

Seperti si pemilik toko Persia itu; yang kehilangan segala2nya, tanpa bisa diganti asuransi. Dalam putus asanya, sempat dia berniat menembak mati si ahli kunci, yang dianggapnya membuat segalanya hilang. Sebuah tembakan tepat ke jantung, ketika anak si tukang kunci melompat melindungi ayahnya, dan.. suatu keajaiban terjadi: peluru itu tidak mengenai siapa pun. At the end, Yang di Atas tetap melindungi kebaikan yg ada padanya; dia tidak jadi berubah menjadi pembunuh, walaupun pikiran itu sempat muncul.

Atau tengoklah tokoh John Ryan (lagi). At the end, apa yg ditanamkan orang tuanya, apa yg aslinya ada pada dirinya, tetap muncul ke permukaan. Walaupun dia mencoba menjadi pembenci kulit berwarna, at the end dia tetap menolong si kulit berwarna yang hampir mati terbakar. Dalam keadaan terdesak muncullah kebaikan yg selama ini tersembunyi.

Sebaliknya, tokoh yang selama film dikasihani karena terlindas mobil yang dibawa dua remaja bandel, yang membuat penonton bernapas lega karena nggak jadi mati, ternyata akhirnya tetap tidak menimbulkan simpati. Di akhir cerita, baru terlihat bahwa van yang dibawanya berisi gadis2 Asia yang hendak dijual secara illegal; entah sebagai pelacur ataupun sebagai budak.

Gw jadi ingat omongan yang selalu diucapkan almarhum Eyang Putri gw: Gusti Allah ora sare (= Tuhan tidak tidur). Semua hal yang kita lakukan, baik-buruk, benar-salah, akan dibalas setimpal suatu hari nanti. Jangan percaya angka awal, jangan putus asa kalau usaha gak berhasil, karena suatu hari pasti akan diberi yang setimpal. Juga jangan jumawa kalau keburukan yg kita lakukan tidak menimbulkan dampak apa2, karena suatu hari akan datang balasannya juga.

Well.. akhirnya gw hanya bisa bilang: Crash adalah salah satu film terbaik yang pernah gw tonton. Salah satu film yang benar2 bisa mengajarkan banyak hal pada kita. So.. kalau ada yang masih protes, bilang film koboi homo (atau tepatnya koboi biseksual, kan akhirnya kawin sama cewek juga.. ;-)) itu yang harusnya menang.. maka.. gw mau nyanyiin lagunya Ima: telor, telor, ulat, ulat, kepompong, kupu-kupu.. kasiaaaan deh loe!