Thursday, June 22, 2006

Ima dan Sepeda Roda Dua

TO LEON WERTH

I ask the indulgence of the children who may read this book for dedicating it to a grown-up. I have a serious reason: he is the best friend I have in the world. I have another reason: this grown-up understands everything, even books about children. I have a third reason: he lives in France where he is hungry and cold. He needs cheering up. If all these reasons are not enough, I will dedicate the book to the child from whom this grown-up grew. All grown-ups were once children--although few of them remember it. And so I correct my dedication:

TO LEON WERTH WHEN HE WAS A LITTLE BOY

(Antoine de Saint-Exupery in Little Prince)

------------

Ima baru mulai bisa naik sepeda roda dua. Dikatakan baru mulai bisa, karena dia masih belum lancar mengayuh pedal di awal perjalanan. Ima masih harus mengais2kan kaki kiri untuk menggerakkan sepeda dan memperoleh momentum keseimbangan sebelum mulai mengayuh pedal. Tapi hari Minggu yang lalu bapaknya dengan santai berkata pada Ima:

“Sudah bisa naik sepeda kan, Mbak? Tolong ke warung dong, beli rokok buat bapak”

Gw kontan panik! Sebenernya sih warung itu nggak seberapa jauh dari rumah. Masih di jalan yang sama, hanya berjarak sekitar 500m. Tapi, untuk mencapai warung, Ima harus melintasi perempatan utama kompleks kami. Lha, kalau ada mobil ngebut gimana? Kalau Ima nggak bisa nge-rem sepeda sebelum nyebrang perempatan gimana?

Biar aman, pengasuhnya gw suruh mengikuti Ima ke warung. Tapi Ima jelas protes! Bapaknya ikut protes juga! So, akhirnya, kata sepakat adalah si Mbak hanya berdiri di depan rumah, mengawasi Ima, sambil dalam posisi siap berlari kalau ada hal2 yang tidak diinginkan.

Ternyata Ima bisa menjalankan tugas dengan baik. Dia kembali ke rumah dengan selamat, tanpa jatuh, tanpa nabrak, tanpa ditabrak. And you have to see her expression! Seperti atlit yang baru memenangkan medali emas di kejuaraan penting! Kelihatan sangat bangga sudah berhasil menyelesaikan tugas itu.

Iya ya, tugas itu kalau buat gw sih enggak ada susah2nya acan. Tapi.. buat anak umur 7 tahun yang naik sepedanya aja belum lurus, tugas ini membutuhkan usaha keras dan perjuangan.

Gw jadi ingat saat pertama kali dipercaya untuk nyetir mobil dulu. Waktu itu umur gw 17 tahun, baru 2 minggu dapat SIM. Itu pun SIM gw sebenernya masih disita sama Bapak, karena gw belum becus ngganti ban sendiri dan masih belum lancar menjalankan mobil setelah berhenti di tanjakan.

*Bapak tuh orangnya perfeksionis kayak gw. Harus selalu prepare for the worst! SIM dari beliau lebih susah dapatnya daripada SIM nasional, karena Bapak menetapkan standard kelayakan yang lebih tinggi dari polisi, semisal: harus bisa berhenti di tanjakan tanpa rem tangan, dengan posisi setengah kopling, dan begitu jalan lagi gak boleh mundur sedikit pun ;-)*

Makanya gw kaget benar pada waktu Bapak tiba-tiba bilang: “Mbak, masih libur kan? Setirin Bapak ke kantor!”

Lha, kok bisa-bisanya berubah pendapat? Padahal minggu sebelumnya SIM gw disita lantaran latihan tanjakan di daerah Kebayoran masih gak memenuhi standard Bapak. Tapi ya namanya dikasih kesempatan mosok gw tolak? Kaki udah gatel tuh mau nginjek gas dan kopling.. ;-)

So.. biarpun deg-degan, panik, gw sok cool aja jadi sopirnya Bapak. Asli, sumpah, jarak Cipinang-Kebayoran itu jadi kerasa jauuuuuuuuuuhhhh banget! Dan phieww.. ketika akhirnya bisa memarkir mobil dengan tepat, rasanya lega dan bangga sekali!

*ohya, kalau sama Bapak, markir mobil juga kudu bener! Harus lurus, nggak boleh nginjak garis pembatas, dan posisi roda gak boleh miring sedikit pun ;-)*

Gw pikir2, perasaan gw dan ekspresi gw saat itu tentunya sama dengan Ima ya? Nyetir mobil kan bukan sesuatu yang susah, tapi buat then-seventeen-year-old-Maya kan suatu perjuangan besar.

Pas gw cerita gitu kepada bapaknya Ima, dengan santai dia cuma bilang:

“Memang, orang tua tuh sering lupa bahwa mereka pernah jadi anak2. Nggak ingat bahwa waktu masih jadi anak2 mereka juga pingin bisa bangga, bisa dipercaya melakukan sesuatu yang menurut orang tuanya bahaya.”

Hehehe.. iya ya? Kenapa juga gw bisa lupa bahwa dulu gw selalu pingin dipercaya bisa melakukan sesuatu yang berat? Kenapa bisa lupa ya, bahwa dulu gw jengkel banget kalau Bapak atau Ibu mencoba melindungi gw dengan melarang gw melakukan sesuatu (yang gw yakin bisa)?

Hhhhh… ternyata benar apa yang dikatakan Little Prince dulu: most grown-ups were too concerned with matters of consequence to understand anything that was beautiful or true.

*duuh.. selamatkan gw dari menjadi the grown up dong.. hehehe.. ;-)*