Saturday, June 10, 2006

Leonardo

Mohon kebesaran hati teman2 yang beragama Katholik untuk melihat tulisan ini sebagai ulasan buku fiksi semata, bukan komentar terhadap ajaran agamanya

Bahwa Leonardo da Vinci adalah seorang jenius, itu gw udah tahu dari dulu.  Siapa sih yg nggak tahu Monalisa yang misterius, sejak kecil gw sudah hafal lagu tentangnya: Do you smile to tempt a lover, Monalisa? Or is it your way to hide a broken heart?. Kakak sepupu gw yang arsitek juga pernah cerita tentang Vitruvian Man, sketsa Da Vinci yang dianggap sebagai signature arsitektur (mirip seperti huruf Yunani Psy yang dianggap signature psikologi). Ketika baca Da Vinci Code, gw tambah takjub sama kejeniusan Da Vinci serta kesukaannya bermain dgn teka-teki. Kok bisa ya, lukisan2nya begitu misterius sampai bisa diinterpretasikan begitu?

Tapi baru setelah baca The Secret Supper (Javier Sierra) gw berniat nyembah si Leonardo ini.. ;-) Gilaaaaa.. misteri yang dibahas di Da Vinci Code aja udah bikin gw takjub! Ternyata.. di lukisan yang sama, bisa interpretasikan misteri lain yang sama canggihnya!

Pertama buku ini muncul di berbagai toko buku, gw takut ini sekedar Da-Vinci-Code-wanna-be. Novel2 yang dibuat untuk ndompleng kesuksesan bukunya Dan Brown. Makanya, gw tunggu dulu sampai bukunya muncul di perpustakaan langganan. Namun ternyata buku ini bukan DVC-wanna-be. Memang sih obyek bahasannya sama; kode2 tersembunyi di lukisan The Last Supper dan Virgin of the Rock. Tapi pendekatannya beda dan gaya bertuturnya beda. Gaya menulis dan pendekatan yang diambil Signor Sierra malah mengingatkan gw pada Umberto Eco di The Name of the Rose, dan gw menjadi lebih mudah baca buku ini karena settingnya sudah gw kenal dari The Family karangan Mario Puzo.

OK.. gw mau cerita tentang isi bukunya sekarang. Jadi.. buat yang pingin beli/baca bukunya, mendingan jangan baca apa yg gw tulis di bawah ini.. ;)

Pada intinya buku ini juga bercerita tentang Leonardo da Vinci dan his secret brotherhood yang menganggap bahwa Katholik Roma merupakan penyimpangan dari agama Katholik yang sesungguhnya. Da Vinci di buku ini juga diceritakan memasukkan kode2 tertentu yang mengarah pada pemurnian Katholik dalam lukisan2nya; kode2 yang akan membawa umat pada ajaran asli yang dipercayai ada di tangan Maria Magdalena dan Yohanes, yang baru diberikan setelah kebangkitan Yesus karena Maria Magdalena dan Yohaneslah yang setia mengikuti Yesus hingga wafat disalib, dikuburkan, dan bangkit kembali (sementara murid2 Yesus yang lain berpencaran pergi, bahkan Petrus sampai menyangkal sebagai murid Yesus). Bedanya, kalau DVC memfokuskan cerita pada Maria Magdalena sebagai The Holy Grail, istri Yesus, maka TSS ini tuduhannya lebih subtle: hanya mengatakan ada injil Yohanes yang hilang, yang disebut Interrogatio Johannis.

OK, yang mau lihat lukisannya, gw rekomendasikan klik di sini.

Cerita dimulai dengan adanya desas-desus bahwa lukisan The Last Supper sebenarnya tidak menggambarkan adegan perjamuan terakhir. Dalam gambar tidak ada daging dan cawan anggur yang mencikalbakali Sakramen Ekaristi, Yesus dan para orang suci itu tidak digambarkan dengan halo, serta yang paling menjengkelkan bagi para biarawan masa itu: Leonardo da Vinci, yang wajahnya dipakai bagi Tadeus (nomor 2 dari kiri), jelas2 membelakangi Yesus; alih2 menyimak omongan Yesus, malah sibuk ngobrol sendiri (hehehe.. ternyata yang namanya murid dimana2 sama aja ya, gurunya ngejelasin, muridnya sibuk ngobrol). Belum lagi Petrus, yang nantinya menjadi Paus pertama, digambarkan membawa belati, sebuah simbol pengkhianatan dan kejahatan.

Penyelidikan demi penyelidikan para biarawan itu menemukan hasil yang mengejutkan. Sisi sebelah kanan lukisan digambarkan lebih bercahaya, menandakan bahwa di situlah letak kebenaran.  Simon, di ujung kiri lukisan, berwajahkan Plato; tokoh panutan Leonardo da Vinci tentang logika. Dengan demikian, salah satu interpretasinya adalah bahwa Plato (logika) harus dijadikan panutan utama daripada Yesus (religi). Ini yang dianggap salah satu bukti kemurtadan Da Vinci.

Selanjutnya, ada pernyataan Da Vinci bahwa walaupun dia menggunakan wajahnya, tapi dia menjadikan dirinya hanya Omega dari Kristus sang Alpha. Akhir dari sebuah awal. Mula2nya orang bingung maksudnya apa, sampai seorang gadis bisa menunjukkan bahwa jika Alpha diartikan sebagai huruf A (dari postur Yesus), maka Omega harus diartikan sebagai huruf O.  Dan O adalah julukan Tadeus: Occultator, he who conceals. Pas banget ya? Wajah Da Vinci si penyembunyi kode dipakai pada murid Yesus yang dijuluki Occultator, si penyembunyi.

Satu persatu akhirnya lukisan itu dijabarkan sebagai representasi huruf dari kiri ke kanan (sesuai urutan tokoh):

Bartolomeus

Mirabilis

He who is Miraculous

James

Venustus

He who is Full of Grace

Andreas

Temperator

He who Prevents

Yudas Iskariot

Nefandus

The Abominable One

Petrus

Exosus

He who Hates

Yohanes

Mysticus

He who Knows the Mystery

YESUS

ALPHA

 

Thomas

Litator

He who Placates the God

James (tua)

Oboediens

He who Obeys

Filipus

Sapiens

He who Loves High Matters

Mateus

Navus

He who is Dilligent

Tadeus

Occultator

He who Conceals

Simon

Confector

He who Fulfills

Baca huruf depan julukan itu dari kiri ke kanan: MVTNEMALOSNOC.

Gak ada maknanya ya? Banyak konsonan ya? Ohya, lupa, dalam huruf Romawi, U sering ditulis V. Jadi.. sekarang bunyinya: MUTNEMALOSNOC

Masih nggak ada artinya? Hehehe.. tokoh utama novel ini, Father Agostino Leyre, tiba2 menyadari posisi tangan Simon seolah2 menyilahkan orang untuk melihat adegan itu sekali lagi. Dan.. jangan lupa.. Simon di sini berwajah Plato, ahlinya logika. Harus diingat2 lagi bagaimana getolnya Da Vinci berteka-teki, bagaimana dia sering menggunakan teka-teki dengan menulis secara terbalik. Yup! Menulis secara terbalik, dari kanan ke kiri. So.. bacalah sekali lagi dari kanan ke kiri, maka sekarang huruf2 itu berbunyi: CONSOLAMENTUM

Nah.. tadi sudah diceritakan bagaimana inti cerita ini adalah sekelompok orang yang berpatokan pada Interrogatio Johannis. Dan dalam kepercayaan mereka, mereka hanya mempercayai satu sakramen, yang merupakan gabungan dari Sakramen Permandian (baptis), Sakramen Ekaristi (komuni), dan Sakramen Perminyakan (sakramen akhir untuk pertobatan dan pengampunan dosa sebelum meninggal). Sakramen tunggal ini yang disebut CONSOLAMENTUM. Inilah kode tersembunyi dalam lukisan Leonardo da Vinci.. ;-) Suatu petunjuk akan “kemurnian” ajaran.

Hehehe.. cool, eh?

Ceritanya asyik ya? Bisa2nya orang mikir sampai serumit ini.. ;-). Tapi yang lebih menakjubkan buat gw adalah: bisa2nya Leonardo da Vinci melukis sesuatu yang multi-interpretasi begini! Kalau hanya Dan Brown yang nulis tentang ini, well, mungkin Dan Brown yang kelewat kreatif. Tapi.. begitu ada Javier Sierra yang bisa bikin interpretasi baru.. well, selain Mr Brown dan Signor Sierra kreatif, tentunya Da Vinci lebih hebat lagi!

I wonder.. benarkah Leonardo da Vinci, si jenius, sengaja memasukkan simbol2 yang bisa dianalisa orang? Atau manusia ini segitu jeniusnya sehingga melukis tanpa mikir panjang pun bisa dianalisa.. HAHAHAHA.. ;-)

Sayang, beliau sudah wafat sehingga gw gak bisa berguru padanya.. ;-) Kalau saja dia masih hidup, tentu gw bisa tanya apakah teka-teki iseng gw di posting ini sudah cukup belibet untuk dipecahkan. Tipsy, dear Howard, o ion!