Saturday, June 24, 2006

Living with Guilty Feeling

Ada orang2 yang dikaruniai kepekaan luar biasa; langsung tahu aja kalau ada yg nggak beres dari orang di sekitarnya. Kayak bapaknya Ima tuh, dari dulu gw gak bisa bohong kalau sama dia, soalnya pasti ketahuan. Tapi ada juga orang yang bebal luar biasa kayak gw; all brain and emotion, but no feeling, sehingga selalu telat tahu kalau ada sesuatu yang nggak beres pada orang2 sekitar gw.

Di banyak kasus, my brain helps me untuk memprediksikan kemungkinan terjadinya sesuatu. Bahwa bila faktanya gini, gini, dan gini, maka kemungkinannya gini, gini, dan gini, dan tanda2 jika kemungkinan itu terjadi adalah gini, gini, dan gini. Tapi.. ya, karena gw bebal itu tadi, karena gak sensitif tadi, kadang malah gw gak mengenali pola yang sudah gw perkirakan itu. Apalagi, gw tuh bisa dibilang voluntary autism, alias gak terlalu senang ngobrol sini sana, nanya kabar sini sana. Lengkaplah sudah: sensitivitas nol, keterbukaan informasi nol juga, gimana mau tahu perkembangan?

And at the end, it always makes me feel bad kalau sesuatu terjadi pada orang2 di sekitar gw, di depan mata gw, tanpa gw menyadarinya.

Seminggu yang lalu seorang teman kehilangan ayahnya. Dan walaupun dia sudah mempersiapkan diri sejak lama, I know it would be hard for him. Nggak perduli dia pernah merasakan kehilangan yang lain! Setiap kehilangan adalah pengalaman yang berbeda; tidak bisa sebuah pengalaman sebelumnya dijadikan acuan.

And when his tears started falling, where was I?

I was in Pasar Rumput; having a good time with my friend Dian, buying a new bicycle for my daughter and her nephew, and having the most delicious gudeg for lunch!

Kami pernah dekat. Kami pernah berbagi cerita dan saling belajar banyak dari masing2. Sampai kini, gw masih merasa bahwa dia salah seorang teman terbaik yang pernah gw punya. And, still, when the moment came,  I knew nothing. I knew nothing until I read his blog a week later.

Gw ngerasa jadi teman yang sangat buruk. Terrible friend. Teman macam apa yang nggak tahu temannya kesusahan? Terlebih lagi ketika gw sadar bahwa terakhir kami ngobrol adalah ketika bapaknya mulai sakit lagi. Bebalnya gw, gw gak tahu bahwa bapaknya mulai sakit lagi. Bebalnya gw, gw malah menyangka dia berhenti ngobrol karena marah sama gw. Stupid, selfish me! I should have seen the pattern that day, if only I know how to open my heart!

Sepanjang hari kemarin gw gak bisa kerja. Report dan proposal gw terpaksa menunggu hingga akhir minggu. The guilty feeling was tormenting me; rasa bersalah karena terlambat tahu, rasa bersalah karena tidak menyadari apa yang dibutuhkannya 6 bulan terakhir ini, .. rasa bersalah karena tidak menjadi teman yang baik. Bukan salah Mbak Maya, kata seorang teman, mungkin dia sendiri juga nggak nyaman cerita tentang hal itu. Bukan salah Mbak Maya, kata teman yang lain, gak semua orang punya kepekaan kok! Still, I think it was my fault. I should have been wiser in things of heart.

Walaupun terlambat, I finally did what a friend should’ve done. I call him to show my condolence. Serta membacakan Yasin dan tahlil untuk arwah almarhum, untuk ketabahan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkannya. Itu tidak bisa menghentikan rasa bersalah gw, tapi moga2 itu ada gunanya bagi dia dan almarhum ayahnya.

Kami tak bisa ngobrol banyak di telfon kemarin. Dia sedang mengendarai mobil. Mungkin, kalaupun dia punya waktu banyak, it’s not easy to talk about this.  Or to be exact: it’s not easy to talk about it with me. Tapi.. tetap ingin gw katakan padanya: kalau ada yang bisa aku bantu, just let me know. I lost my father nearly 7 years ago, I know what it’s like.

Dan satu lagi yang ingin gw sampaikan padanya: it’s okay to cry, to feel sad, to mourn the loss.. It doesn’t mean that we don’t accept God’s gift. It just means that we are human.

As you said, it’s your new beginning.

*dedicated to PIS, my deepest condolence for the departure of your beloved father*