Tuesday, July 31, 2007

Memorius Migrenicus

Kata orang, gw punya ingatan yang kuat. Amin.

Gw pikir.. yaaah.. ada benernya juga sih. Yang jelas gw cenderung ingat nama panjang orang sampai bertahun2 kemudian. Nama2 teman sekelas gw aja masih bisa gw ingat urut alfabet. Beberapa kali nulis testimonial buat teman2 lama di Friendster, dan sering dapat komentar balik seperti ini, ”Gila loe, May, masih inget aja. Gw udah lupa hampir semua hal yang loe tulis”. Yang jelas.. bapaknyaima juga sering exasperated sama gw, apalagi kalau lagi berantem, karena gw ingat hal2 kecil yang dia aja udah nggak ingat.

*Ohya, di tangan gw, ingatan itu bisa menjadi senjata mematikan.. oops ;-)*

Dulu, gw kira, hal ini adalah efek samping karena ibu dengan teganya named me after an elephant. Gajah selalu ingat, gitu kan katanya ;-)? Atau bisa juga karena faktor keturunan. Gw ingat, almarhum bapak dulu juga selalu bilang bahwa ibu punya photographic memory. Nggak boleh salah ngomong, karena pasti terekam dalam ingatan dan kemudian bisa menjadi bumerang di masa depan ;-).

Tapi.. kemarin jadi punya teori baru. Jangan2, ingatan gw kuat karena gw sering migren ;-)

Iya, gw baru baca kolom Medical Update di Reader’s Digest edisi August 2007 (halaman 63, edisi yang bahasa Inggris ya) sebuah temuan menarik tentang migren:

Researchers from Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health found that while migraineurs scored lower on memory tests at the start of their study, they showed 17% less cognitive decline than non-migraineurs 12 years later.

Uhm.. gw nggak tahu persis penelitiannya gimana. Yang jelas di sini dituliskan bahwa respondennya 1.448 orang, 204 di antaranya penderita migren, dan selama 12 tahun terakhir dilakukan tes ingatan berulang kali. Menilik metodologinya, gw rasa hasilnya cukup bisa dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya dijelaskan juga secara ilmiah tentang asumsi mengapa migrain bagus untuk ingatan:

”Migraine medications such as ibuprofen, which might have protective effect on memory, might be partially responsible,” says study author Dr Amanda Kalaydjian on the surprise finding. “But it seems more likely that there may be an underlying biological mechanism, such as changes in blood vessels or differences in brain activity”

Mungkin sih. Soalnya, berpatokan pada apa kata Wiki ini, ibuprofen ditengarai punya asosiasi dengan rendahnya resiko Parkinson’s Disease. Kalau memang ibuprofen mempengaruhi sistem syaraf pusat, bukan tidak mungkin punya pengaruh terhadap ingatan juga toh?

Tapi kalau buat gw sendiri, penjelasan yang nomor dua lebih kena. Mungkin saja migren itu mengubah sedikit mekanisme biologis yang mendasari ingatan, sehingga blessing in disguise-nya adalah menjaga ingatan. Soalnya, gw sendiri jarang minum obat kalau kumat. Paling tidur aja seharian. Jadi kecil kemungkinannya si ibuprofen memberikan pengaruh pada ingatan ibunyaima

*Sorry, nggak tahan untuk nggak menemukan kesamaan antara kedua kata itu.. HAHAHA.. *

Lucu juga ya? Ternyata apa yang bikin kita kesal kadang2 turn out to be sesuatu yang sangat berguna buat kita? Padahal gw biasanya kesal banget lho, kalau migren gw kumat. Apalagi kalau kumatnya pas gw mesti bikin report. Ternyata, ada bagusnya juga gw sering migren ;-)

Well.. kalau mau tahu lebih banyak tentang hal ini, silakan baca2 aja artikel terkait berikut ini:

1. Female migraine sufferers have better memories

2. Migraine may boost memory

Masih banyak sih artikelnya, googling aja sendiri. Berhubung gw belum baca semua, jadi gw kasih yang udah gw baca aja ya ;-). Dan.. ohya, ini baru temuan dari satu studi sih.. masih harus dibuktikan lagi. Untuk saat ini, it’s quite promising finding ;-)

***

Anyway.. kenapa gw sering migren?

Dulu pernah diperiksakan secara medis juga, dan.. kemungkinan gw sering migren karena waktu kecil sering jatuh. Jatuh dengan kepala duluan. Waktu umur gw 4 tahun, gw pernah jatuh dari atap mobil karena kepleset sabun cuci (my own fault, bapak lagi nyuci mobil, gw malah manjat ke atapnya, bapak nggak lihat). Umur 6 tahun, gw jatuh dari pohon jambu klutuk di depan rumah eyang (my own fault juga, nggak hati2 milih dahan untuk pijakan waktu ngejar sepupu2 gw – semua cowok – yang lagi manjat pohon. Tapi sepupu2 gw yang disidang ortu masing2 karena dikira ngajakin gw manjat ;-)). Dua2nya bikin gw pingsan, tapi nggak gegar otak.. hehehe..

Biarpun gw nggak sampai gegar otak (ya, ya, gw tahu kalian mau bilang apa. Mau bilang bahwa kepala gw keras banget kan ;-)?), tapi ada pengaruhnya juga. Yang jelas, gw harus pakai kacamata karena syaraf mata gw ”sedikit” rusak setelah jatuh yang terakhir itu.. ;-)

Well.. cukup cerita tentang gw. Sekarang gw mau kasih tantangan a la Fear Factor buat mereka2 yang pingin punya ingatan kuat seperti [ehmm..] gw. Coba bentur2kan kepala ke dinding sampai migren.. siapa tahu ingatan jadi lebih kuat.. HAHAHAHA.. Sekalian untuk ngebantu si peneliti membuktikan temuannya ;-)

Friday, July 27, 2007

For the Greater Good

“I guessed. But my guesses have usually been good,” said Dumbledore happily..

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 710)

***

Akhirnya, khatam juga baca buku terakhir Harry Potter. Untunglah.. ;-) Soalnya sudah banyak death eater berkeliaran siap memberikan spoiler. Sampai2 tongkat sihir gw nggak bisa lagi memproduksi patronus ;-)

WARNING!
Buat yang masih ingin menyelesaikan membaca Harry Potter & the Deathly Hallows, ini saatnya untuk berteriak, “Protego!”, atau “Reducto Spoiler!

Buku ke-7 ini memang paling gw tunggu2. Bukan saja karena buku ini adalah the saga finale, tapi karena apa yang gw tulis 2 tahun lalu ini. Buat gw yang paling bikin penasaran bukan siapa yang hidup siapa yang mati, tapi.. why Severus Snape membunuh Albus Dumbledore. Ohya, buat sebagian orang, aksi Severus Snape membunuh Albus Dumbledore adalah bukti bahwa dia, sebagai double agent, menaruh kesetiaan lebih besar pada Dark Lord. Dilihat dari tindakannya, itu adalah bukti nyata. Ditilik dari motifnya, semakin kuat dugaan bahwa dia jahat. Tapi, dari awal gw menolak untuk mempercayainya, karena something doesn’t add up.

Buat gw, yang namanya sebuah tindakan itu belum tentu bisa dinilai secara kasat mata. Kadang seseorang terpaksa melakukan sesuatu (yang tidak disukainya), semeyakinkan mungkin, for the greater good. Dan saat membaca adegan fenomenal itu, gw menduga bahwa JK Rowling ingin menempatkan Snape dalam posisi seperti ini.

Tapi waktu itu gw juga nggak sepenuhnya yakin. Takut juga bahwa ini masalah denial aja, seperti yang dikatakan seorang teman pencinta HarPot juga. Severus Snape is always one of the characters I like. Mungkin, kalaupun dia benar2 jahat, agak susah buat gw menerima bahwa pilihan gw salah ;-)

So.. betapa senangnya gw tadi malam ketika membaca baris demi baris percakapan ini:

“.. Ultimately, of course, there is only one thing to be done if we are to save him from Lord Voldemort’s wrath”

Snape raised his eyebrows and his tone was sardonic as he asked, “ Are you intending to let him kill you?”

“Certainly not. You must kill me.”

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 682 - 683)

I was right all along. I missed the details (mind you, everyone, I’m a psy*********, not a psychic ;-)), but I saw the big picture right.

Hehehe.. nggak penting ya? It’s just a fiction, a very good one, but still.. it’s not real. Tapi.. buat gw ini penting. Sangat2 penting.

Gw percaya bahwa sebuah kisah, walaupun hanya berbentuk dongeng, adalah representasi dari ide2 yang ada di kepala manusia. Ide2 yang muncul baik dari pikirannya, maupun dari perasaan. Seorang penulis yang baik [seperti JK Rowling] bisa menghidupkan tokohnya dengan nyata, sehingga memahami tokoh tersebut tidak banyak bedanya dengan memahami manusia sesungguhnya. Dan dengan demikian, jika gw berhasil memahami kisah yang sebenarnya, setidaknya it gives me confidence that I can still trust my judgment in the real world ;-)

SPOILER SELESAI ;-)
Tuh, kan, gw gak jahat2 amat ;-) Spoiler-nya dikit ;-)

Dalam kehidupan nyata, sering kita melihat hal2 seperti ini juga. Orang2 yang kita sayangi, melakukan sesuatu terhadap kita yang bisa kita interpretasikan sebagai tidak menyayangi. Seperti tulisannya ini, yang kemudian memberinya insight ini, serta entry nampol dari AJ's dan burung kecil ini. Kadang (nggak selalu lho, yaa ;-)).. we come to that conclusion only because we fail to see the big picture.

Ngelihat the big picture ini susah2 gampang. Eh, atau gampang2 susah ya? Yang jelas.. gw sendiri bukan ahlinya. Kata bapaknyaima, itu karena temperamen kepribadian gw adalah NT Rationale. Makanya, walaupun gw seringkali know intuitively that something is wrong, biasanya gw susah untuk meyakinkan diri sendiri (apalagi orang lain) bahwa something is really wrong. Soalnya, gw selalu butuh supporting data yang bisa gw pikirin keterkaitannya. Dicari dari segala sudut; bukan cuma tindakan/kata2 dan motif si pelaku, tapi juga karakteristik si korban. Gitu kan cara berpikirnya para agen Criminal Minds? Always ask about the whys.. Why the victim?

Cumaaa.. nggak selalu gw bisa mendapatkan supporting data yang lengkap. Jadi, di sana-sini, selalu ada missing link yang bikin gw nggak yakin. Semakin dipikirin, kadang2 malah bikin gw semakin nggak yakin. Soalnya datanya suka saling bertentangan gitu.

Dan ini yang sering jadi kelemahan gw.. atau dimanfaatkan orang2 untuk meyakinkan gw the other way ;-) Misalnya aja, beberapa bulan lalu waktu gw tanya pada seorang teman apakah everything’s okay, dia malah ganti nanya: emang kenapa loe nanya gitu? Dan pas gw bilangin hal2 apa yang bikin gw punya perasaan gitu, dia malah jawab: emang apa yang salah dengan itu? Hehehehe.. teruuus aja gitu sampai gw nggak yakin apakah benar2 ada yg gak OK, or I was just being paranoid. Eeeh, terbukti beberapa hari kemudian bahwa I was right all along. Dasar! Menghancurkan konsep diri gw aja.. HAHAHAHA.. Sekalian bikin gw merasa bersalah karena nggak sensitif pada penderitaan teman ;-)

Tapi gw ngerti kok. Biasanya, orang2 suka berlaku begitu for the greater good. Ada hal2 yang nggak boleh ketahuan dulu, for the greater good.

Dan mesti diakui, seringkali gw terlalu nosy. Hehehe.. mungkin ada hubungannya dengan kecintaan gw pada kucing. Curiousity kills the cat, gitu kata pepatah. Hanya saja, mungkin kucing memang tidak pernah khawatir kehilangan nyawa karena – walaupun mereka nggak bikin horcrux – konon kabarnya mereka punya 9 nyawa ;-)

Anyway.. gw cukup senang bahwa ternyata, seperti Dumbledore, my guess has been good. Tapi mesti belajar supaya lebih mirip lagi sama Dumbledore, atau pada Severus Snape, yang bisa diam seribu bahasa sampai saatnya tepat. Terharu banget .. *eh, kasih tanda spoiler lagi dulu ;-)*

SPOILER LAGI!
Muffliato!

Terharu banget baca bagian yang ini:

”Harry must not know, not until the last moment, not until it is necessary, otherwise how could he have the strength to do what must be done?”

..

“So the boy.. the boy must die?” asked Snape quite calmly.

“And Voldemort himself must do it, Severus. That is essential.”

Another long silence. Then Snape said, “I thought.. all these years.. that we were protecting him for her. For Lily.”

(Harry Potter and the Deathly Hallows, Scholastic: p. 685 - 686)

Dan Snape, lepas dari kekecewaannya, menunggu hingga detik2 terakhir, sampai nyawanya hampir hilang, sebelum memberikan informasi yang dibutuhkan Harry. For the greater good.

*ikutan mellow kayak middle name-nya Jenny ;-)*

Ohya, soal buku terakhirnya sendiri, gw puas. It’s definitely what I want to see in a saga finale. Pertempurannya seru. Pertanyaan2 yang muncul dari buku2 sebelumnya terjawab semua. Jawabannya juga masuk akal banget, alias sampai sekarang gw belum bisa nemu kontradiksinya. Dan gw suka caranya menghilangkan ”kesan sempurna” Dumbledore, dengan menceritakan kesalahan2nya di masa muda. Good job, Rowling!

UPDATE 5 Agustus 2007:

Buat yang udah baca sampai selesai, dan penasaran dengan apa yang terjadi antara bab terakhir dan epilog, nih gw nemu transkrip wawancara dengan JK Rowling. Di situ dibahas komplit tentang apa yang terjadi dalam rentang waktu 19 tahun itu: apa aja karir masing2 orang pasca Hogwarts, siapa nikah sama siapa, dan beberapa minor why and what next dalam cerita yang belum terjawab (walaupun mungkin nggak sulit untuk diduga - seperti parseltongue-nya Harry pasca pertempuran). It's quite fun.. for those who really love this saga ;-) Enjoy!

Wednesday, July 25, 2007

Agama itu bernama IPDN

Bikin entry yang bisa membuat gw tenar lagi aaah ;-)

IPDN bikin ulah lagi. Kali ini korbannya bukan sesama praja, melainkan seorang tukang ojek. Dan seperti kejadian yang lalu, blogosphere ramai lagi dengan tuntutan Pembubaran IPDN. Fakta terhadap IPDN yang belum juga insyaf digunakan sebagai justifikasi bahwa yang dibutuhkan adalah pembubaran IPDN. Bahkan Kang Kombor, salah satu Panglima Petisi Online Pembubaran IPDN, mengatakan bahwa Kita Semua Goblok:

Kita semua memang Goblok! Selalu memberi kesempatan kepada lembaga pembuang uang rakyat penghasil pembunuh dan pangreh praja. Sudah bukan saatnya mencetak birokrat-birokrat yang kerjanya dilayani melainkan waktunya untuk mencetak birokrat-birokrat yang melayani.

Semoga yang dulu mencemooh dengan amat sangat Petisi Online Pembubaran IPDN masih konsisten untuk mencemooh petisi tersebut. Huh!

Yah, gw setuju. Kita semua goblok. Tapi bukan karena alasan yang diberikan si Akang ;-)

Menginsyafkan calon pangreh praja (baca: Praja IPDN) adalah mengubah budaya organisasi. Setiap organisasi punya budayanya masing2, yang berasal dari sejarah kolektif sebuah organisasi. Levelnya bawah sadar, dan menyangkut core values serta beliefs kita. Yup! Core values dan beliefs, seperti dalam agama. Jadi, menginsyafkan IPDN adalah setara dengan membujuk seseorang untuk berpindah agama. Seluruh sistem nilainya harus dihancurkan.

Dan bagaimana caranya? Yang jelas tidak hanya dengan membubarkan sesuatu. Sejarah membuktikan, semakin sebuah agama dilarang, semakin umat mau menjadi martir. Memaksa seseorang berpindah agama memang bisa membuatnya pindah, tapi.. apakah bisa membuatnya beriman? Belum tentu :-)

Itu sebabnya disebutkan bahwa mengubah budaya itu sulit dan membutuhkan waktu lama. Sama seperti kita mencoba membujuk seorang umat yang taat untuk berpindah mengikuti ajaran agama kita ;-)

Dari situs ini, ada tips tentang 4 langkah yang perlu dilakukan untuk dalam masa yang panjang dan sulit itu.

1. Uncover core values and beliefs. These may include stated values and goals, but they are also embedded in organizational metaphors, myths, and stories, and in the behaviors of members.

2. Acknowledge, respect, and discuss differences between core values and beliefs of different subcultures within the organization.

3. Look for incongruencies between conscious and unconscious beliefs and values and resolve by choosing those to which the organization wishes to commit. Establish new behavioral norms (and even new metaphor language) that clearly demonstrate desired values.

4. Repeat these steps over a long period of time. As new members enter the organization, assure that they are surrounded with clear messages about the culture they are entering. Reinforce desirable behavior.

So, mau menginsyafkan Praja IPDN? Boleh2 saja. Tapi tidak dengan sekedar membubarkan, karena kalau cuma dibubarkan dengan mudah akan muncul sekte2nya. Kita mau menginsyafkan, ya mari dimulai dengan menghancurkan belief system-nya, membangun norma perilaku baru, dan menguatkan perilaku yang diinginkan.

Sejauh yang gw lihat, Tahap 1 sudah dilalui oleh IPDN. Jelas sudah bahwa core value mereka adalah kemachoan yang diindikasikan dengan kekuatan fisik. Dan termasuk dalam belief system mereka bahwa semakin tangguh seseorang bertahan atas serangan/hajaran fisik, maka semakin macho-lah dia. Dalam belief system mereka, menyiksa adalah sesuatu yang benar karena berkaitan dengan menunjukkan core value: macho.

Tahap 2 juga sudah dilalui. Kita sudah lihat bagaimana sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara sub-culture dalam IPDN. Sub-culture yang dimaksud di sini adalah praja, pengajar, pengelola. Dengan jelas kita melihat bahwa mereka yang berwenang di IPDN cenderung menutupi kejadiannya.

Menurut gw, inilah titik lemah yang harus “dihajar” kalau kita mau menginsyafkan calon pangreh praja (baca: Praja IPDN). Buat perbedaan core value dengan menegakkan norma moral yang baru. Ini yang harus dilakukan. Ini yang seharusnya dilakukan oleh pucuk pimpinan baru. Jadi.. mengganti pucuk pimpinan itu bukan sekedar mengganti. Harus diganti the whole regime dengan orang2 yang punya norma moral berbeda.

Yang saya lihat dari tahun ke tahun, IPDN hanya diganti pucuk pimpinannya. Tapi norma moral yang diusung sami mawon. Ya nggak bakal ada perubahan. Cuma ganti orang, bukan ganti ideologi. Boro2 akan memberlakukan Tahap 4, memberikan reinforcement untuk perilaku yang diinginkan. Lha, perilaku [baru] yang diinginkan aja nggak ada ;-) Akhirnya kita terjebak dengan perubahan yang tidak signifikan. Seolah2 ada perubahan, padahal tidak ada ;-)

Mengubah Budaya Organisasi ini adalah sebuah utopia? Harusnya dengan unique radicalism atau revolusi budaya?

Nggak masalah ;-) Revolusi Budaya pun boleh. Beda antara Mengubah Budaya Organisasi yang gw jabarkan di atas dengan Revolusi Budaya, menurut gw, cuma jangka waktu yang dibutuhkan aja. Revolusi lebih cepat. Tapi pada intinya sama saja: hancurkan core value dan belief system yang ada.

Hehehe.. gw pikir Revolusi Budaya Cina juga nggak dibangun hanya dengan Mao Zedong membubarkan satu dua hal. Mao Zedong harus menancapkan core value dan belief system baru dan menghancurkan yang lama secara sistematis ;-)

*Soal Revolusi Budaya ini ada jagonya, Intan. Well, Neng, mau komentar? ;-) *

So, balik lagi ke masalah yang itu2 juga. Yang udah gw tulis beberapa bulan lalu. It’s okay membubarkan IPDN. I don’t have any problem with that. Tapi.. apakah ini adalah yang utama? Kalau demi keselamatan anak2 bangsa negeri ini.. well, I still think that it won’t make any significant differences ;-) Selama core value dan belief system tidak diubah, akan muncul institusi baru yang beda nama tapi sami mawon ;-)

Dan.. uhmm.. kalau yang dijadikan alasan adalah IPDN tidak mau berubah, sudah diberi kesempatan, well.. come on, guys! Rome was not built in one day ;-) Dari April 2007 – Juli 2007 itu cuma 3 bulan. Revolusi apa pun nggak akan menghasilkan perubahan instan dalam 3 bulan ;-). Bahkan jika arah perubahannya pun sudah jelas, 3 months is a too short time. Apalagi dalam 3 bulan ini arah perubahannya belum jelas2 amat.

*Maaf, Pak Ryaas Rasyid, saran2 yang Anda ajukan tampaknya belum mengarah pada revolusi budaya atau perubahan budaya organisasi yang tepat*

So.. kalau mengutip judul si Akang.. yup! Kita semua goblok ;-) Kita goblok karena terfokus pada perubahan instan, bukan pada bagaimana caranya mendapatkan perubahan itu. Dan kita goblok, mau meng-convert orang, kok maunya instan ;-). Sama dengan kegoblokan kita ketika berharap lengsernya Pak Harto akan membawa perubahan instan.

Nope! Perubahan itu tidak pernah instan. Perubahan itu harus dirancang dengan tepat, dengan strategis, dan butuh waktu tidak sebentar. Tak perduli kita mau pakai revolusi atau mau alon2 waton kelakon ;-)

---

PS: Gilaaa.. two entries in one day! The symptom of acute hypergraphia ;-)

---

SUNTINGAN 26 Juli 2007:

Baru kepikiran semalam menjelang bobo'.. pengeroyokan Praja IPDN pada seorang tukang ojek, hanya 3 bulan berselang dari heboh besar tentang kematian prajanya akibat penganiayaan, apa bukan merupakan suatu bentuk displacement ya? Displacement adalah mekanisme pertahanan diri dengan memindahkan perasaan (dan perilaku) pada obyek yang lebih aman. Ini perilaku subconscious, bukan disengaja, dan biasanya dilakukan untuk mengurangi anxiety.

Ini bukan sesuatu yang baik, tapi terjadi secara alamiah.

Kalau mengacu pada budaya organisasi di atas, dimana core value dan belief system mereka mengajarkan bahwa tidak ada yang salah pada perilaku terhadap Cliff Muntu dkk, maka tidak heran jika selama kurun 3 bulan ini mereka mengalami anxiety. Tak bisa melampiaskannya pada "musuh2 mereka" (baca: mereka yang dirasa memojokkan IPDN), terjadilah displacement pada obyek yang lebih aman: si tukang ojek.

So.. gw balik ke premis awal: jika ini dilakukan tanpa mengubah core value dan beliefs mereka, maka yang kita hasilkan adalah bahaya laten. Akan muncul displacement2 lain di masa datang; kita hanya menundanya saja.

Atau kalau mau revolusi.. ya jadi raja tega sekalian aja.. ;-) Bubarkan, dan nyatakan jadi institusi terlarang, lantas paksa Depdagri bikin kebijakan bahwa mulai sekarang PNS diambil dari universitas2 biasa. Praja yang ada sekarang? Drop out. Kasihan dong? Lhaa.. kalau dibiarkan, nanti mereka bikin organisasi baru, bikin partai, lalu menjadi kuat, dan melakukan hal yang sama dalam lingkup yang lebih luas gimana? Kalau mau revolusi, mau rekonstruksi total, ya harus total. Jangan separuh2. Jangan kasih pihak lawan kesempatan mengobarkan dendam dan menjadi besar :-)

Kidnap Katrina

Kita disapparate dulu dari keriuhan Harry Potter ke-7. Habis.. pada nggak sopan! Banyak yang ngasih spoiler terselubung di comment box gw ;-) Coba ya, orang-orang, gw baru sampai Chapter XIV. Dan besok gw punya presentasi yang amat sangat penting.. yang harus gw persiapkan hari ini.. hehehe.. can’t afford to lose it kalau gw ngeyel baca HarPot ;-)

Hari ini mari kita bicara tentang penculikan saja.

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, gw dengar Seno Isa membacakan sebuah berita koran tentang penculikan anak di Gading Serpong. Pelaku penculikan minta tebusan 20jt, yang harus ditransferkan melalui rekening BCA. Cerita berakhir happy sih, setelah ditransfer, si anak pulang ke rumah. Katanya dia memang diturunkan di suatu tempat dan disuruh pulang oleh penculiknya.

Yang menarik buat gw adalah metode pembayaran tebusannya. Lewat rekening BCA?

Setahu gw, kalau bikin rekening di bank, kita pasti disuruh menunjukkan kartu identitas. Kartu identitas itu bahkan akan difotokopi dan disimpan sebagai arsip. So, menjadi mengherankan buat gw ketika seseorang melanggar hukum, tapi memberikan nomor rekening yang sesuai hukum untuk pembayarannya. Kok berani ya? Bukannya dengan demikian, uang yang diterimanya nggak akan bertahan lama? Polisi kan tinggal minta data nasabah kepada bank yang bersangkutan dan kemudian menyergap alamat tersebut?

Ohya, memang bank terikat pada janji untuk menjaga kerahasiaan nasabah. Tapi.. seingat gw, pasal ini bisa digugurkan jika ada indikasi rekening tersebut digunakan untuk melakukan tindak kejahatan. Dan.. kalau kita transfer uang, pasti ada slip setorannya kan? Biarpun cuma lewat ATM. Jadi.. sangat kuat bukti hitam di atas putih untuk membuat pihak bank memberikan data nasabah pada yang berwenang. Kalaupun perlu surat penggeledahan, pihak yang berwenang pasti mau memberikannya.

Atau.. jangan2, transfer itu harus ditujukan pada rekening BCA milik korban ya? Bisa jadi sih begitu. Jadi si penculik minta nomor rekening dan password supaya bisa ngambil duitnya.

Iih.. jadi ngeri :-(

Dan gw tambah ngeri.. ternyata bukan sekali ini saja terjadi penculikan dengan pembayaran tebusan dilakukan melalui rekening BCA. Waktu gw googling, berita yang gw dengar tadi pagi malah belum ada. Yang ada ialah berita sejenis, seperti kasus penculikan di Kelapa Gading ini dan kasus di Daan Mogot ini.

Lepas dari rekening mana yang dipakai, gw kok jadi mikir.. fenomena apa ini? Dulu2 orang kalau menculik, bikin sistem pembayaran tembusannya rumiiit banget. Kalau di film2, kayak Kidnapped! itu, kan metodenya rumit banget. Kadang menuntut duitnya harus dengan nomor seri ngacak lah, ditaruh di tempat tertentu lah.. pokoknya, serumit mungkin. Kalau di kejadian nyata nggak tahu ya. Gw googling sana-sini nggak nemu metode tebusannya gimana. Bahkan untuk kasus penculikan sefenomenal John Paul Getty III! Mungkin itu termasuk informasi berbahaya ya, takut memberi inspirasi untuk kriminal2 lain melakukan penculikan ;-)

Anyway.. intinya, penculik kan nggak pingin tertangkap. Jadi, semua kerumitan itu dilakukan supaya mereka nggak gampang tertangkap. Padahal, waktu itu, sistem perbankan mungkin juga belum canggih2 amat. ATM mungkin belum menjamur dimana2. Nge-track down masih [relatif] lebih sulit karena belum canggihnya teknologi.

Lha, sekarang, setelah teknologi makin canggih, bukannya metode harus lebih rumit lagi? Kalau dulu aja udah takut transaksi lewat bank (padahal bank belum canggih2 amat), bukannya mestinya sekarang lebih takut lagi transaksi lewat bank? Lha, kok, malah anomali ya? Malah sekarang penculik berani minta tebusan ditransfer?

Apakah ini menunjukkan bahwa kita belum menguasai teknologi dengan baik? Sehingga para kriminal dengan tenang menggunakannya untuk bertransaksi, tanpa kita bisa berbuat apa2? Menunjukkan kecanggihan berpikirnya kriminal2 jaman sekarang? Daripada susah2 ngambil duit tebusan di kota se-crowded Jakarta, beresiko tertangkap dan digebukin rame2, dan belum tentu duitnya nggak dikasih GPS, maka mendingan pakai rekening BCA aja? Kan nggak lucu kalau udah susah2 ngambil tebusan, udah gitu langsung ketahuan lokasinya dari Google Earth ;-)

Atau.. justru ini menunjukkan maraknya penculik2 amatir? Yang nggak merancang strateginya dengan seksama? Yang hanya berpikir berapa jumlah yang mereka inginkan, tanpa mampu berpikir rumit tentang sistem pelacakan pada alat2 elektronik (dalam hal ini ATM)?

Kalau dilihat dari jumlah tebusan yang [relatif] nggak seberapa, plus kebaikhatian penculik untuk memulangkan si korban, kesannya sih yang bermain memang amatir. Mereka2 yang perlu duit, dan nggak [merasa] punya pilihan lain. Bikin miris, karena itu berarti bertambah banyak lagi korban tuntutan perut. Mereka2 yang menjadi ”penjahat” karena kemiskinan. Yang tidak lagi merasa harus terikat dengan norma2 baik, atau setidaknya merasa punya justifikasi yang sahih untuk meninggalkan norma2 itu. Poverty frees them from ordinary standards of behavior, begitu kata George Orwell dalam Down and Out in Paris and London.

Iya sih.. baru kemarin lihat demo buruh Nike lewat di depan kantor dan memacetkan jalanan depan kantor. Berarti, makin bertambah lagi jumlah orang2 yang mungkin akan being freed from the ordinary standards of behavior.

Tapi.. walaupun bikin miris, setidaknya hal itu masih melegakan toh? Setidaknya kita tahu bahwa pelakunya adalah orang2 yang didera kemiskinan. Dan.. kemiskinan, gw yakin, adalah sesuatu yang masih bisa diatasi oleh pembesar2 negeri ini. If they decide to put all efforts there ;-)

Yang lebih mengerikan adalah jika ternyata anomali ini terjadi karena kemungkinan pertama: the hunted is more sophisticated than the hunter. Naaah.. kalau itu yang terjadi, seriously, we are in a big, big, big trouble. Gimana bisa kita membuat negeri ini aman kalau penjaganya is outwitted by the criminals?

BTW, sampai tulisan hampir habis gini, ada yang nanya nggak, kenapa judulnya Kidnap Katrina? Yaah.. nggak ada hubungannya sih. Cuma.. kan lagi ngomongin penculikan, dan beberapa hari lalu inget bahwa Kidnap Katrina itu nama band-nya Anang waktu masih bujangan.. HAHAHAHA.. Jadi enak aja dijadiin judul ;-) *nggak penting banget et yahu dot ko dot ai di*

--------

APDET 26 Juli 2007:

Berita tentang penculikan di Gading Serpong itu bisa dibaca di sini. Thanks to Jenny for the link ;-). Tetap nggak dikasih tahu ya, Jen, rekening BCA-nya itu atas nama si penculik atau korban? Hehehe.. Bener2 informasi yang berkaitan dengan ketahanan dan keamanan nasional kayaknya ;-)

Monday, July 23, 2007

Menjemput Harry

Seperti adegan penjemputan Harry Potter dari 4 Privet Drive dalam bab awal Harry Potter & the Deathly Hallows, adegan penjemputan buku ketujuh ini juga nggak kalah serunya. Yang sedikit berbeda adalah: kalau penjemputan Harry Potter berakhir tragis, penjemputan bukunya cuma ironis aja ;)

Ironi #1:

Bangun pagi2 hari Sabtu, 21 Juli 2007, karena ingin buru2 jemput si Harry. Jam 8, Ima gw paksa bangun dan mandi, dan langsung diseret ke Kinokuniya Plaza Senayan. Nggak pakai sarapan! Ibunya takut telat ;-)

Sampai Plaza Senayan jam 9:32. Satpamnya aja masih apel pagi, belum jaga pintu.. hehehe.. Masih 28 menit sebelum pintu dibuka; terlalu lama buat nunggu di mobil, tapi takut telat juga kalo nongkrong sarapan dulu. Berhubung bawa si krucil yang sudah gw siksa nggak sarapan, akhirnya diputuskan untuk sarapan dulu.

It took around 30 minutes to decide what to order and wait for the meal. And it took another 30 minutes to let Ima finished her breakfast. Akhirnya, gw baru sampai di Kinokuniya jam 10:35.. hehehe.. There goes my perfect timing ;-)

Ironi #2:

Gw dapat diskon 10% karena pre-order. Awalnya udah seneng aja.. hehehe.. Lumayan, bo, bisa buat ongkos beli yang lain2.

Tapi.. pada hari penjemputan.. Ima's breakfast and my cup of Mexicano coffee at the cafe which-name-I-forgot-to-store-in-my-long-term-memory costed more than the 10% discount. Jadi.. akhirnya malah jatuhnya lebih mahal ya ;-)? Damn!

Yaaah... setidaknya, sosisnya enak deh.. kebagian sepotong dari Ima ;-)

Ironi #3:

Sambil menghirup segelas kopi yang sebenernya nggak masuk dalam to-do list, dan harganya nggak masuk akal itu (eh, sebenernya harganya masuk akal untuk ukuran cafe. Gw aja yang pelit ;-)), gw menemukan satu ironi lagi. Buku yang gw bawa untuk teman menunggu adalah: Down and Out in Paris and London.

That, people, is George Orwell's book on poverty ;-). Yaaah.. I found it very ironic, while I spent my hard-earned money for such an unnecessary luxury, I read a book which contained this line:

You discover what it is like to be hungry. With bread and margarine in your belly, you go out and look into the shop windows. Everywhere there is food insulting you in huge, wasteful piles; ..,baskets of hot loaves, great yellow blocks of butter, strings of sausages, mountains of potatoes..

(page 18 - 19)
Langsung nggak nikmat tuh kopi rasanya ;-)

Ironi #4: The Prequel

Udah kayak Star Wars.. hehehe.. udah keluar trilogi, baru bikin prequelnya ;-)

Couldn't help remembering about why I pre-ordered the book at Kinokuniya Plaza Senayan. PS jelas2 bukan tempat main gw. Jauh! Tapi, tanggal 16 Februari 2007 itu, kebetulan gw mesti ke PS untuk ketemuan dengan seorang teman and her the one [who was not to be]. Daripada nungguin si teman yang nearly 3 hours late itu, gw kelayapan di Kinokuniya dan.. nemu bahwa mereka sudah buka pemesanan. Out of impulsivity, gw pesan deh ;-)

Ironisnya dimana? Yaaah.. it's quite ironic that the relationship ended even before I got the book.. HAHAHAHA..

*Hey, the two of you, I know that I've promised you not to mention about this again.. That I promise you to let go. But.. it's quite ironic, don't you think? My pre-order slip lasts longer than your supposed-to-be happily ever after dream ;-) *

Ironi #5: The Aftermath

OK, here we go. The last part of the irony ;-)

Waktu sampai di depan Kinokuniya, gw udah hepi berat lihat 3 macam cover Harry Potter and the Deathly Hallows. Yipiii! Bisa milih nih! Gw mau milih yang Bloomsbury, Children Cover Edition aaaah! It fits my collection beautifully ;-)

Lha, kok, gw langsung disodori yang Scholastic Edition? Nggak mau! Mau yang Bloomsbury. Children Cover.

"Nggak bisa, Bu. Semua yang pre-order itu untuk Scholastic. Yang Bloomsbury untuk yang pembelian langsung."
Huaaaaaa...!!! *nangis bombay*

Buku 1-5 semua Bloomsbury! Buku ke-6 memang Scholastic. Tapi itu kecelakaan.. hehehe.. pesannya di QB. Waktu itu QB bilang kalau yang pesan Bloomsbury mestinya beli di Kinokuniya. I've been making a mental note about that for the past 2 years! Eeeeh.. sekarang gw pesan ke Kinokuniya, dan dapatnya Scholastic lagi :-(

Aaaah.. ya sudahlah. Memang nggak semua hal bisa direncanakan dengan baik. Eh, maksud gw, semua hal bisa direncanakan dengan baik, but shit happens on the way to heaven ;-)

Anyway.. finally, I proudly present my complete range of Harry Potter collection. Satu sampai tujuh. Nanti kalau udah besar Ima boleh pinjam. Sekarang sih.. ada 2-metres-distance-restriction ya ;-) Kalau dilanggar, dia gw format ulang.. HAHAHAHA..

Sekarang mau baca buku ke-7 dulu sampai khatam. Moga2 akhir ceritanya nggak mengecewakan seperti beberapa season finale yang akhir2 ini gw tonton. Harusnya enggak lah ya, JK Rowling kan merancang ceritanya dengan seksama. Dia bukan model yang suka ngerubah cerita di akhir kalau terdesak, atau bikin ceritanya open end biar bisa dipanjang2in kapan2. Dia kan bukan penulis skenario sinetron .. hehehe..

---

PS: Awas ya! Jangan ada yang berani2 kasih spoiler di comment box gw.. HAHAHAHA.. Gw kirim ke Azkaban lho!

Expecto Patronum! *melindungi diri sendiri dari spoiler ;-) *

UPDATE 4 Agustus 2007:

Ohya, ini ada sedikit (tapi signifikan) spoiler ;-) Jangan dibaca kalo masih nunggu yang edisi bahasa Indonesia ;-)

Thursday, July 19, 2007

Dan Kematian Makin Akrab

Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga: - Matiku muda -

Ketika mendengar berita kematian Taufik Savalas beberapa hari lalu, gw ngerasa biasa2 aja. Sedikit prihatin karena meninggalnya disebabkan kecelakaan, tapi nggak sedih2 amat. Ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rojiun pun muncul lebih karena otomatis, feel obliged to, bukan karena penghayatan mendalam.

Yang pertama terpikir justru, ”Memang, orang baik itu dipanggilnya cepat”.

Gw nggak kenal Taufik personally, ketemu aja belum pernah. Tapi, gw pernah harus mewawancarai sekelompok mantan peserta pada acara yang dipandunya. And I’m impressed, di kota mana saja gw bertanya, pada siapa saja (ibu2, bapak2, mbak2, mas2), semua memberikan jawaban seragam: Taufik is –err..was- as humble and friendly as seen on TV. Suatu testimoni yang menurut [perasaan] gw jujur, menilik dari cara mereka bicara dan ekspresi wajahnya. Lagipula, dari pengalaman gw mewawancara orang, nggak biasanya seorang selebritis yang turun langsung berinteraksi dengan orang banyak mendapatkan testimoni positif sekonsisten ini.

Rasa baru mulai bermain ketika tadi pagi melihat tayangan infotainment. Sepasang putra-putri almarhum bermain sepeda di dekat karangan bunga tanda duka cita untuk ayahnya. Si gadis kecil bahkan dengan riang berseru pada temannya, kira2 begini, ”Ini kan bunga untuk aku, kan papaku meninggal”

Ah.. mereka belum mengerti, bahwa selanjutnya mereka tidak akan pernah lagi bertemu bapaknya. Semua kehidupan yang nyaman akan berubah, sedikit atau banyak.

Dan tiba2 gw berpikir akan kematian gw sendiri :-) Betapa kematian dan ketidakmatian gw akan berpengaruh pada orang2 sekitar.

Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua

Gw sebenarnya nggak terlalu takut mati. Gw nggak terlalu takut untuk pindah dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Bukan karena gw yakin bisa masuk surga. Plis deh! Kalau masuk surga itu seketat kompetisi Piala Dunia Sepakbola (iya, Dol, jaman sebelum penyisihannya 8 grup..;-)), maka gw termasuk tim underdog yang harus berebut sisa tiket ke putaran selanjutnya. Dan.. dengan hobby gw nyilet sana nyilet sini, it would be lucky if my name is on that short list of nominees ;-)

**[Uhm.. numpang promosi sedikit: Ingin dukung Maya ke surga? Caranya gampang! Ketik SRG [spasi] Maya dan kirim ke 9*** sebanyak2nya. SMS yang kamu dapat, langsung dari HP Maya]**

Oops, back to topic ;-)

Dengan segala kekurangan gw itu, gw tidak takut pada kematian itu sendiri. Pun jika gw harus mati muda. I’m ready with the consequences of what I’ve done during my short pathetic life. Let God be my judge ;-).

Tapi.. terus terang, kalau boleh memilih, ada tiga kondisi [duniawi] yang gw inginkan supaya bisa die in style.. uhm.. mati dengan nikmat, maksud gw ;-)

Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji adalah kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan

Yang pertama, gw nggak pingin mati sebelum tanggung jawab gw selesai. Tanggung jawab gw yang utama, tentunya, adalah 25-year-plan gw untuk Ima. Oh ya, gw tahu bahwa rejeki itu sudah diatur, dan bahwa meskipun gw mati sekarang, rejekinya Ima nggak langsung putus. Cumaa.. gimana ya, gw nggak pingin aja tinggal gelanggang colong playu (meninggalkan arena terbirit2). Kalau sesuatu sudah dipercayakan kepada gw, at least, gw pingin menyelesaikannya dengan baik sebelum move on.

Ada juga sih hal2 lain yang gw anggap sebagai tanggung jawab gw. Tapi.. seperti biasa, I’m open to any negotiation, kok ;-)

Yang kedua, kalau boleh milih, gw pingin meninggal dengan cepat. Nggak pakai terminal illness bertahun2 yang membuat repot orang2 terdekat gw. Oh, bukaaaaan.. bukannya gw meragukan ketulusan orang2 terdekat untuk merawat gw. Tapi.. I know that it’s hard to be a caregiver. The illlness will eat your dearest ones’ life inside out, emotionally and financially. Ya, ya, gw tahu dan percaya bahwa semua ada hikmahnya, all the yadda yadda bla bla bla.. but I’m talking about now, not about then, the future ;-)

Yang ketiga, well, ini adalah kondisi yang paling egois. Kalau yang dua tadi ada unsur2 orang lainnya, yang ini bener2 hanya mikirin gw sendiri.. hehehe.. Gw takut buta. Yup! Dari semua cacat, semua penyakit, semua gangguan, yang paling gw takuti adalah buta. Can’t imagine my life without reading. So, help me God, when the time has come, please take my soul directly ;-)

Ada juga sih hal2 lain berkaitan dengan [jalan menuju] kematian yang gw takutkan. Gw takut mati tenggelam, hehehe.. Sumpah deh, biarpun gw bisa berenang, gw nggak yakin bisa survive kalau jatuh di laut. Makanya gw nggak pernah berani naik kapal :-) Gw juga takut mati terbakar (or worse: dibakar massa) seperti jenazah2 gosong yang gw lihat bergelimpangan di RSCM Mei’98. Gw takut mati kecelakaan, ketiban potongan2 besi pesawat dan berhari2 tidak bisa bergerak. Gw takut mati disiksa; disetrum, dipukuli, diinjak2. Gw takut mati dijerat garrotte (duh, fantasi gw kinky banget deh ;-)), ..

Tapi, yaaa, gimana maunya Tuhan aja lah, cara ngambil gw-nya. Nggak bisa negosiasi terlalu banyak juga kan ;-)? Boleh milih tiga yang terpenting aja udah alhamdulillah banget.

Kira2 yang tiga tadi berlebihan, nggak ya? Tuhan berkenan nggak ya?

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak

tertawa..

----

Credit Title:

Judul tulisan dan semua penggalan puisi dicuplik dari “Dan Kematian Makin Akrab” karya Subagio Sastrowardoyo.

Walaupun terlambat, turut berduka cita atas meninggalnya Taufik Savalas. Semoga mendapatkan tempat layak di sisi-Nya. And thanks for reminding me about death, with your own death.

----

SUNTINGAN 20 Juli 2007:

Eh, tau nggak. Barusan aja, sekitar 10 menit lalu, ada pedagang buku yang nyari gw. Nyari gw-nya sih nggak aneh.. emang gw beberapa kali beli buku sama dia. Yang bikin gw nambahin suntingan ini adalah: salah satu buku yang ditawarkan adalah Ziarah ke Alam Barzakh.

Pas banget ya? Baru kemarin gw mikirin kematian.. hari ini ditawarin buku ini. Dan.. ya, bukunya gw beli ;-) Petunjuk harus diikuti kan? Hehehe..

*Gw yakin kok Pak Penjual Buku ini bukan pembaca blog yang memanfaatkan posting terakhir gw untuk cari profit ;-)*

Wednesday, July 18, 2007

Tentang Pilihan

Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,

(R Frost, The Road Not Taken)

***

Puisi Robert Frost itu pertama kali gw dengar di Dead Poets Society, one of the greatest movie I’ve ever seen. Gara2 film ini, gw jadi rajin baca puisi2nya Frost, Dickinson, Whitman.. apalagi waktu itu lagi deket sama a writer-to-be, whose idea of romantic hang out adalah nongkrong di Taman Ismail Marzuki buat ngumpulin puisi (oopss ;-) Moga2.. eh.. yakin kok, bahwa yang dirasanin nggak baca. Dia sudah cukup repot, ya kan Pak Kandidat Doktor ;-)?) Oh ya, beberapa puisi yang ada di DPS bisa dilihat di sini.

Sebenernya, gw lebih suka dengan She Walks in Beauty. Tapi, The Road Not Taken, terutama bait terakhirnya, selalu menimbulkan visualisasi tertentu buat gw. Sebuah tempat terbuka di hutan, teduh karena rapatnya dedaunan di pohon yang tinggi, sinar matahari menembus sela2 pepohonan.. dan.. tepat di depan gw ada dua cabang jalan; yang di sebelah kiri mulus seperti jalan tol, sementara yang di sebelah kanan berbatu2, nggak rata, di sana-sini ada rumput liar tinggi yang mengganggu.

Yang kiri menawarkan kemudahan.. yang kanan menawarkan tantangan, although both might lead to the same destination. Ini yang bikin gw suka pada puisi ini, dan membuat gw sering mengutipnya buat teman2 yang berada di persimpangan jalan.

Tapi itu sebelum Barry Manilow memberikan interpretasi baru tentang jalan bercabang ;-) Bahwa mungkin kedua jalan itu bukan hanya mencapai tujuan yang sama.. yang satu hanyalah crescent road dari yang satunya. Manilow bilang begini:

But somewhere down the road
Our roads are gonna cross again
It doesn't really matter when

(B. Manilow, Somewhere Down the Road)

Yup! Kadang kalau kita memilih jalan, bukan berarti nanti2 kita ketemu di tujuan yang sama. Kadang.. baru beberapa meter jalan (atau beberapa kilometer deh biar jauhan dikit).. eeeh, ketemu lagi! It turns out that the roads are not two. We just think that they are two different roads ;-)

Oh.. atau mungkin, sebenernya, memang dua jalan itu adalah jalan yang berbeda. Tapi.. seperti seorang tokoh tidak tetap dalam Lost bilang:

The universe has a way to recourse its destination

(Episode#56, Flashes Before Your Eyes)

Makanya.. no matter what road you take, you’ll reach the destination designed by the universe. Gitu kali ya? Hehehe.. You just need a little faith ;-)

Uhm.. apa kata Kesuke Miyagi dulu? Lies only become true when person choose to believe? Hehehe.. kalau saja Miyagi adalah tokoh nyata, kayaknya dia cocok sekali berteman dengan Paulo Coelho. Coelho juga bilang sesuatu yang mirip: truth resides where there is faith ;-) Ada di By The River Piedra I Sat Down and Wept, hal. 79 ;-)

Ah ya, sudahlah.. ternyata pilihan itu [nggak terlalu] penting kayaknya ;-) Makanya, mendingan nyanyi aja tentang sesuatu yang [kayaknya] lebih penting:

As long as we keep on givin’
we can take anything that comes our way
Baby, rain or shine, all the time
We got each other
Sharin’ the laughter
..

(S. Dorffs/J. Bettis, As Long as We Got Each Other)

Itu lagu diambil dari theme song sebuah sit-com tentang keluarga. Nggak sejadul The Brady Bunch kok.. kira2 satu dasawarsa lebih muda. ;-) Nyambung nggak ya, sama bahasan di atasnya? Ah, ya nyambung aja! Kalau nggak lihat nyambungnya.. well, that’s your problem, not mine ;-)

Ngomong2 soal pilihan, tadi pagi gw membuat pilihan yang [seolah2] salah. Gw hari ini pakai blus merah dan celana putih!

Lho, [seolah2] salahnya dimana? Kan cocok sama warna bendera kebangsaan kita?

Iya sih.. cocok warnanya dengan Sang Saka. Tapiiii... tadi barusan dengar di radio bahwa hari ini yang kostumnya merah-putih-putih tuh Korea Selatan, sementara tuan rumah Indonesia pakai seragam kedua yang warnanya putih-hijau-putih ;-)

Still, teori gw terbukti kan? Pilihan tidak pernah salah, karena kalaupun salah, the universe will correct it for you ;-) Apa pun pilihan Anda.. sampai juga kok ke Senayan. Cumaa.. kalau tadinya harus duduk di bangku supporter Indonesia, sekarang kayaknya lebih cocok di bangku supporter Korsel. But it doesn’t matter.. toh tempatnya di Senayan juga ;-)

Sunday, July 15, 2007

Inside His Mind

Kalau gw lagi seneng2nya nonton Criminal Minds, bukan karena kecewa dengan season finale CSI: Crime Scene Investigation atau Heroes. Well.. memang sih, both season finales suck! Setelah satu musim penuh bikin teka-teki tentang the doll house murder, eeeeh.. akhirnya cuma gitu doang? Padahal tokoh female serial killer dan psychosis itu bisa dielaborasi secara mendalam. Belum lagi.. ternyata yang berhasil menemukan trigger pembunuhan Hodge, bukan salah satu CSI :-( Dan Heroes.. Duuuh.. setelah satu musim nungguin pertarungan akbar antara Peter Petrelli dan Sylar.. kok akhirnya gitu doang sih? Sampai sekarang gw nggak ngerti kenapa Peter Petrelli nggak menyerap kemampuan teleport Hiro Nakamura. Kalo iya, kan dia bisa memindahkan diri sendiri ke tempat jauh. Nggak perlu diterbangkan oleh Nathan.

Tapi enggak.. kesukaan gw pada Criminal Minds ini bukan karena itu. Emang filmnya asyik buat ditonton.

Seperti bisa dibaca di situsnya ini, film ini bercerita tentang sepak terjang para agen FBI pada Behavioral Analysis Unit (BAU). Buat yang demen novel2nya Michael Connelly, unit ini adalah nama baru untuk Behavioral Science Unit, setting untuk cerita2 bertokoh Terry McCaleb dan Rachel Walling. Sesuai dengan nama unit itu, para agen di BAU ini menganalisa perilaku serial criminal. Berdasarkan apa yang mereka lihat di tempat kejahatan, mereka membangun profil psikologis dan mempersempit kemungkinan tersangka.

Bedanya apa dengan CSI? Uhmm.. CSI kan lebih sensoris-induktif, sementara Criminal Minds lebih menekankan pada intuitif-deduktif. Ibarat main jigsaw puzzle, agen BAU mulai dengan melihat dulu contoh gambarnya, kemudian untuk tiap keping yang muncul akan diperkirakan letaknya berdasarkan contoh gambar itu. Sebaliknya, kalau CSI main jigsaw puzzle, mereka akan mulai dengan memperhatikan semua kepingnya, melihat apakah kepingan ini cocok untuk diletakkan di sebelah kepingan sebelumnya, dengan memperhatikan warna dan lekukan. Demikian seterusnya hingga gambarnya terbentuk. That’s why kalau kita nonton film2nya CSI, kemurnian TKP itu penting banget. Nggak boleh berubah sedikit pun, karena letak sehelai rambut pun jadi bahan analisa mereka. Hal ini tidak nampak di Criminal Minds. Mereka tidak bicara tentang that kind of details. Mereka lebih melihat pola antar kejahatan, detil perilaku yang tampak (disebut sebagai signature behavior)

Jadi.. kalau gw bayangkan nih.. para agen BAU ini menghabiskan separuh jam kerjanya untuk meneliti perilaku2 orang dan membuat tipologinya, lantas menggunakan separuh jam kerjanya untuk menggunakan tipologi itu menangkap orang yang tepat. Kok kayak kerjaan gw ya ;-)? Walaupun tipologi dan “korban” yang ditangkap berbeda ;-)

Anyway.. pada episode2 awal, gw kira film ini akan melulu bicara tentang menangkap serial killer. Ternyata, film ini cukup cerdik untuk tidak terjebak pada stereotip tersebut. So.. ceritanya mulai beragam. Yang penting: selalu bercerita tentang bagaimana see inside this unsub’s head, and think like him.

Salah satu episode bercerita tentang bagaimana agen BAU bernegosiasi dengan penderita psikosis yang menyandera satu gerbong. Penderita psikosis ini mengalami delusi dan paranoia, menganggap pemerintah telah memasukkan sejenis microchip ke dalam tubuhnya. Nah lho! Gimana coba, bernegosiasi dengan orang yang nggak punya kontak realita? Kalau nego sama pembajak biasa mah kita tahu apa yang dia mau.. lha.. kalo sama penderita psikosis? Yang takut pada sesuatu yang tak nyata ;-)? Tentu pertama kali kita harus kembali pada profil seorang psikosis, memahami what ticks them, mencari secara spesifik trigger pada individu ini, dan kemudian menggunakan apa yang kita tahu itu untuk think like them and speak their language. Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ntar kapan2 gw bahas per episode deh.. kalau nemu emotional push yang cocok sama ceritanya ;-) Pendeknya, film ini asyik banget buat yang tertarik psikologi. Sekalian untuk melihat bagaimana kondisi2 seorang penderita paranoia, skizofrenia, narsistik, atau gangguan2 kejiwaan lain. Film ini menggambarkan gangguan dengan ilmiah kok! Atau sekedar melihat bagaimana psychological impact dari sebuah aksi yang “kelihatannya” kecil saja. Beberapa episode menggambarkannya dengan bagus sekali.. dan emosional sekali.

Dan kutipan wise words pada setiap episodenya.. bener2 bikin film ini tambah “gue banget” ;-) Kutipan itu digunakan untuk membingkai, atau membangun kerangka, atau menegaskan benang merah cerita. Dari Friedrich Nietzsche sampai Ernest Hemmingway, dari Rose Kennedy sampai Peter Ustinov.. kata2nya dipinjam untuk membingkai cerita. Nice touch!

***

Ngomong2 soal Criminal Minds, kayaknya ada seorang teman yang ngajak mensimulasikan cerita ini dalam kehidupan nyata deh ;-) Meskipun dia nggak bilang terang2an, berasa aja diajakin main seperti ini ;-) Mungkin karena dia tahu cita2 gw dulunya jadi profiler, dia dengan baik hati bersedia menjadi unsub. Atau mungkin karena dia merasa jadi nemesis gw ya? Biasanya pemeran utama selalu punya nemesis kan? Itu lho.. kayak Professor Moriarty-nya Sherlock Holmes. Atau Vera Rossakoff-nya Hercule Poirot. Atau The Fisher King, yang merupakan nemesisnya BAU di akhir season pertama.

Seperti layaknya nemesis, hobinya adalah memberikan teka-teki. Harus ditebak, nggak boleh nyerah. A nemesis can never stop, he should be stopped, gitu kan katanya ;-)? Dan seperti The Fisher King, we should play by his rule. No negotiation ;-)

Nah.. teka-teki terakhirnya adalah tentang calon “korban” berikutnya. Udah dari 3 Desember 2005 nih, gw disuapin clues tentang calon korban itu, tapi nggak ketebak2 juga sama gw.. hehehe.. Entah gw yang bolot, atau clue-nya yang terlalu samar.

In order to save the victim, I have to solve the puzzle, kayaknya.. hehehe.. Selama gw nggak berhasil nebak, nemesis gw tetap bernyanyi ala Mike Tramp di You’re All I Need:

I know that she's waitin'
for me to say forever
I know that I sometimes
just don't know how to tell her
..

I see her face before me
I look in her eyes
Just wondering why
she doesn't know

Nggak tahu juga, kenapa penting banget buat dia agar gw bisa memecahkan sebelum he moves on (hey, who do you think I am? Your mother? You need my blessing, eh? Hehehe.. ). Atau.. jangan2 seperti di kasus2 Criminal Minds juga: this is a cry for help.. for his fear for commitment problem ;-) Iyaaa.. kalau gw nggak berhasil2 nebak, kan dia punya alasan kenapa nggak nembak2 ;-)

Friday, July 13, 2007

Pintu Jaka Sembung

Ada satu berita lucu di Kompas edisi hari ini, 13 Juli 2007. Baca deh! Gw sampai terbahak2 membacanya ;-) Artikelnya ada di halaman pertama, di pojok paling kanan. Judulnya “Transportasi: Pintu untuk Sopir Bus Ditiadakan” (thanks, Ikram, buat tautannya ;-))

Lucunya apa? Yaaa.. yang paling lucu sih logikanya. Logical fallacy banget ;-)

Nih, gw kutipkan sebagian beritanya:

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan mengeluarkan instruksi penghilangan pintu untuk sopir bus angkutan umum.. Iskandar (Dirjen PU – red) menegaskan, ketentuan ini sudah mulai berlaku minggu ini. Dia menjelaskan kebijakan ini diambil untuk meningkatkan standar keselamatan penumpang. Dalam beberapa kasus kecelakaan, banyak penumpang terjebak di dalam bus, sementara sopirnya melarikan diri dari pintu sopir..

Udah lihat dimana letak logical fallacy-nya ;-)?

Kalau untuk meningkatkan standar keselamatan penumpang, gw nggak ngerti kenapa kebijakannya kok menghilangkan pintu untuk sopir bus angkutan umum. Bukannya lebih efektif dilakukan dengan melakukan pengecekan rem, gas, dan segala yang berhubungan dengan mesin ya? Atau kalau dari segi sumber daya manusianya, bukankah lebih efektif dengan memberlakukan seleksi pengemudi ya? Atau.. kalau mau ditarik ke masalah psikososial, dimana bus sering kecelakaan karena ugal2an, dan ugal2an itu karena si sopir mengejar setoran, akan lebih efektif dengan mengubah sistem remunerasinya ya?

Lha.. kenapa malah pintu dipikirin?

Kalau pintu sopir ditiadakan, standar keselamatan penumpang nggak banyak berubah, kayaknya. Yang berubah: sopir jadi lebih sulit kabur kalau bus-nya kecelakaan. Tapi.. sebenernya nggak perlu mahal2 ngerubah pintu bus, lho, kalau cuma mau bikin sopir bus susah kabur. Ada yang lebih murah! Beli aja rantai sama gembok. Terusss.. gunakan rantai dan gembok itu sebagai “sabuk pengaman” buat si sopir (pengaman biar dia nggak kabur, maksudnya ;-)). Jadi.. biarpun ada pintu di sebelahnya, it takes time to fly from the crime scene ;-) Lebih murah meriah, tapi efektif juga kan ;-)?

Hehehe.. gw pikir alasan naif nggak pakai sabuk pengaman karena “kalau mobil ini kecelakaan, kan malah jadi susah keluarnya?” hanya ada di iklan radio doang. Cuma ide kreatifnya orang iklan doang. Ternyata.. iklan radio itu cerminan kehidupan nyata toh ;-) Tepatnya, mungkin diadaptasi dari kebijakan nyata ;-)

Lepas dari kenaifan alasan tersebut, gw kok prihatin sekali dengan kenyataan bahwa seorang pucuk pimpinan mengeluarkan kebijakan seperti itu. Waktu Bang Sut (yeah, I know, the real term is Bang Yos, but I like Bang Sut better ;-)) bikin kebijakan mengubah stadion jadi Taman Kota, biarpun gw gak setuju, gw masih ngerti logika berpikirnya. Waktu Bang Sut menghentikan pembangunan monorail (yang udah bikin hidup gw sengsara kena macet di depan kantor) dan menggantikannya dengan busway (yang bikin hidup gw tambah sengsara, karena tambah macet di depan kantor), gw juga masih ngerti alasannya – biarpun gw nggak sepenuhnya setuju.

Tapi.. urusan pintu ini bener2 suatu [kalau pinjam istilahnya Dinda Aramichi] contoh berpikir tidak sistematis. Antara masalah dan penyelesaiannya bener2 jaka sembung ngisep tembakau, kagak nyambung lah yauw.. ;-)

Dan lagi.. di jaman Psikologi Positif gini, dimana kita mulai menekankan pada bagaimana membuat orang bahagia agar bisa bekerja lebih baik dan lebih efektif, eeeh.. kok malah Dirjen Perhub memainkan psikologi negatif yang melihat semua sopir bus sebagai "penjahat" yang harus di-restrained.

Separah inikah kemampuan analisa masalah pemimpin2 kita?

Sorry, sekali ini nulisnya nggak panjang.. hehehe.. Udah mati ucap mau nulis apa lagi saking takjubnya. Cumaaa.. kalo boleh saran, ada baiknya kali, para pemimpin ini dikasih pelatihan tentang analisa masalah dan penyelesaian masalah. Sama pelatihan tentang leadership, tentang memotivasi bawahan, atau menumbuhkan rasa tanggung jawab bawahan. Jadi, kebijakannya nggak high cost low effectivity ;-)

Eh, tapi nggak tahu juga ya.. siapa tahu gw yang salah sementara beliau benar. Jangan2, fungsi pintu memang buat nge-rem supaya nggak terjadi kecelakaan. Pantesan, standar keselamatan penumpang mobil lebih tinggi daripada penumpang motor. Soalnya, mobil punya 4 pintu, malah ada yang 5 pintu, sementara motor nggak punya pintu ;-)

SUNTINGAN SORE:

Eh, to be frank, tadi gw menghilangkan sebuah detil penting pada berita ini lho ;-) Detil pentingnya adalah: "Regulasi itu juga mewajibkan semua bus menyediakan satu pintu darurat di bagian tengah kendaraan"

Naaah.. kalo bagian regulasi yang ini emang cocok arahnya dengan standard keselamatan penumpang yang lebih tinggi. Moga2 aja si pintu darurat itu bisa dijaga agar tetap mudah dibuka dan benar2 bisa difungsikan kalau [amit2] terjadi kecelakaan ;-)

Ngomong2, baru sadar nih.. ternyata tulisan kemarin bertanggal Friday the 13th ya ;-) Duh, tanggalnya cocok sama topiknya ;-)