Sunday, July 15, 2007

Inside His Mind

Kalau gw lagi seneng2nya nonton Criminal Minds, bukan karena kecewa dengan season finale CSI: Crime Scene Investigation atau Heroes. Well.. memang sih, both season finales suck! Setelah satu musim penuh bikin teka-teki tentang the doll house murder, eeeeh.. akhirnya cuma gitu doang? Padahal tokoh female serial killer dan psychosis itu bisa dielaborasi secara mendalam. Belum lagi.. ternyata yang berhasil menemukan trigger pembunuhan Hodge, bukan salah satu CSI :-( Dan Heroes.. Duuuh.. setelah satu musim nungguin pertarungan akbar antara Peter Petrelli dan Sylar.. kok akhirnya gitu doang sih? Sampai sekarang gw nggak ngerti kenapa Peter Petrelli nggak menyerap kemampuan teleport Hiro Nakamura. Kalo iya, kan dia bisa memindahkan diri sendiri ke tempat jauh. Nggak perlu diterbangkan oleh Nathan.

Tapi enggak.. kesukaan gw pada Criminal Minds ini bukan karena itu. Emang filmnya asyik buat ditonton.

Seperti bisa dibaca di situsnya ini, film ini bercerita tentang sepak terjang para agen FBI pada Behavioral Analysis Unit (BAU). Buat yang demen novel2nya Michael Connelly, unit ini adalah nama baru untuk Behavioral Science Unit, setting untuk cerita2 bertokoh Terry McCaleb dan Rachel Walling. Sesuai dengan nama unit itu, para agen di BAU ini menganalisa perilaku serial criminal. Berdasarkan apa yang mereka lihat di tempat kejahatan, mereka membangun profil psikologis dan mempersempit kemungkinan tersangka.

Bedanya apa dengan CSI? Uhmm.. CSI kan lebih sensoris-induktif, sementara Criminal Minds lebih menekankan pada intuitif-deduktif. Ibarat main jigsaw puzzle, agen BAU mulai dengan melihat dulu contoh gambarnya, kemudian untuk tiap keping yang muncul akan diperkirakan letaknya berdasarkan contoh gambar itu. Sebaliknya, kalau CSI main jigsaw puzzle, mereka akan mulai dengan memperhatikan semua kepingnya, melihat apakah kepingan ini cocok untuk diletakkan di sebelah kepingan sebelumnya, dengan memperhatikan warna dan lekukan. Demikian seterusnya hingga gambarnya terbentuk. That’s why kalau kita nonton film2nya CSI, kemurnian TKP itu penting banget. Nggak boleh berubah sedikit pun, karena letak sehelai rambut pun jadi bahan analisa mereka. Hal ini tidak nampak di Criminal Minds. Mereka tidak bicara tentang that kind of details. Mereka lebih melihat pola antar kejahatan, detil perilaku yang tampak (disebut sebagai signature behavior)

Jadi.. kalau gw bayangkan nih.. para agen BAU ini menghabiskan separuh jam kerjanya untuk meneliti perilaku2 orang dan membuat tipologinya, lantas menggunakan separuh jam kerjanya untuk menggunakan tipologi itu menangkap orang yang tepat. Kok kayak kerjaan gw ya ;-)? Walaupun tipologi dan “korban” yang ditangkap berbeda ;-)

Anyway.. pada episode2 awal, gw kira film ini akan melulu bicara tentang menangkap serial killer. Ternyata, film ini cukup cerdik untuk tidak terjebak pada stereotip tersebut. So.. ceritanya mulai beragam. Yang penting: selalu bercerita tentang bagaimana see inside this unsub’s head, and think like him.

Salah satu episode bercerita tentang bagaimana agen BAU bernegosiasi dengan penderita psikosis yang menyandera satu gerbong. Penderita psikosis ini mengalami delusi dan paranoia, menganggap pemerintah telah memasukkan sejenis microchip ke dalam tubuhnya. Nah lho! Gimana coba, bernegosiasi dengan orang yang nggak punya kontak realita? Kalau nego sama pembajak biasa mah kita tahu apa yang dia mau.. lha.. kalo sama penderita psikosis? Yang takut pada sesuatu yang tak nyata ;-)? Tentu pertama kali kita harus kembali pada profil seorang psikosis, memahami what ticks them, mencari secara spesifik trigger pada individu ini, dan kemudian menggunakan apa yang kita tahu itu untuk think like them and speak their language. Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ntar kapan2 gw bahas per episode deh.. kalau nemu emotional push yang cocok sama ceritanya ;-) Pendeknya, film ini asyik banget buat yang tertarik psikologi. Sekalian untuk melihat bagaimana kondisi2 seorang penderita paranoia, skizofrenia, narsistik, atau gangguan2 kejiwaan lain. Film ini menggambarkan gangguan dengan ilmiah kok! Atau sekedar melihat bagaimana psychological impact dari sebuah aksi yang “kelihatannya” kecil saja. Beberapa episode menggambarkannya dengan bagus sekali.. dan emosional sekali.

Dan kutipan wise words pada setiap episodenya.. bener2 bikin film ini tambah “gue banget” ;-) Kutipan itu digunakan untuk membingkai, atau membangun kerangka, atau menegaskan benang merah cerita. Dari Friedrich Nietzsche sampai Ernest Hemmingway, dari Rose Kennedy sampai Peter Ustinov.. kata2nya dipinjam untuk membingkai cerita. Nice touch!

***

Ngomong2 soal Criminal Minds, kayaknya ada seorang teman yang ngajak mensimulasikan cerita ini dalam kehidupan nyata deh ;-) Meskipun dia nggak bilang terang2an, berasa aja diajakin main seperti ini ;-) Mungkin karena dia tahu cita2 gw dulunya jadi profiler, dia dengan baik hati bersedia menjadi unsub. Atau mungkin karena dia merasa jadi nemesis gw ya? Biasanya pemeran utama selalu punya nemesis kan? Itu lho.. kayak Professor Moriarty-nya Sherlock Holmes. Atau Vera Rossakoff-nya Hercule Poirot. Atau The Fisher King, yang merupakan nemesisnya BAU di akhir season pertama.

Seperti layaknya nemesis, hobinya adalah memberikan teka-teki. Harus ditebak, nggak boleh nyerah. A nemesis can never stop, he should be stopped, gitu kan katanya ;-)? Dan seperti The Fisher King, we should play by his rule. No negotiation ;-)

Nah.. teka-teki terakhirnya adalah tentang calon “korban” berikutnya. Udah dari 3 Desember 2005 nih, gw disuapin clues tentang calon korban itu, tapi nggak ketebak2 juga sama gw.. hehehe.. Entah gw yang bolot, atau clue-nya yang terlalu samar.

In order to save the victim, I have to solve the puzzle, kayaknya.. hehehe.. Selama gw nggak berhasil nebak, nemesis gw tetap bernyanyi ala Mike Tramp di You’re All I Need:

I know that she's waitin'
for me to say forever
I know that I sometimes
just don't know how to tell her
..

I see her face before me
I look in her eyes
Just wondering why
she doesn't know

Nggak tahu juga, kenapa penting banget buat dia agar gw bisa memecahkan sebelum he moves on (hey, who do you think I am? Your mother? You need my blessing, eh? Hehehe.. ). Atau.. jangan2 seperti di kasus2 Criminal Minds juga: this is a cry for help.. for his fear for commitment problem ;-) Iyaaa.. kalau gw nggak berhasil2 nebak, kan dia punya alasan kenapa nggak nembak2 ;-)