Wednesday, July 18, 2007

Tentang Pilihan

Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,

(R Frost, The Road Not Taken)

***

Puisi Robert Frost itu pertama kali gw dengar di Dead Poets Society, one of the greatest movie I’ve ever seen. Gara2 film ini, gw jadi rajin baca puisi2nya Frost, Dickinson, Whitman.. apalagi waktu itu lagi deket sama a writer-to-be, whose idea of romantic hang out adalah nongkrong di Taman Ismail Marzuki buat ngumpulin puisi (oopss ;-) Moga2.. eh.. yakin kok, bahwa yang dirasanin nggak baca. Dia sudah cukup repot, ya kan Pak Kandidat Doktor ;-)?) Oh ya, beberapa puisi yang ada di DPS bisa dilihat di sini.

Sebenernya, gw lebih suka dengan She Walks in Beauty. Tapi, The Road Not Taken, terutama bait terakhirnya, selalu menimbulkan visualisasi tertentu buat gw. Sebuah tempat terbuka di hutan, teduh karena rapatnya dedaunan di pohon yang tinggi, sinar matahari menembus sela2 pepohonan.. dan.. tepat di depan gw ada dua cabang jalan; yang di sebelah kiri mulus seperti jalan tol, sementara yang di sebelah kanan berbatu2, nggak rata, di sana-sini ada rumput liar tinggi yang mengganggu.

Yang kiri menawarkan kemudahan.. yang kanan menawarkan tantangan, although both might lead to the same destination. Ini yang bikin gw suka pada puisi ini, dan membuat gw sering mengutipnya buat teman2 yang berada di persimpangan jalan.

Tapi itu sebelum Barry Manilow memberikan interpretasi baru tentang jalan bercabang ;-) Bahwa mungkin kedua jalan itu bukan hanya mencapai tujuan yang sama.. yang satu hanyalah crescent road dari yang satunya. Manilow bilang begini:

But somewhere down the road
Our roads are gonna cross again
It doesn't really matter when

(B. Manilow, Somewhere Down the Road)

Yup! Kadang kalau kita memilih jalan, bukan berarti nanti2 kita ketemu di tujuan yang sama. Kadang.. baru beberapa meter jalan (atau beberapa kilometer deh biar jauhan dikit).. eeeh, ketemu lagi! It turns out that the roads are not two. We just think that they are two different roads ;-)

Oh.. atau mungkin, sebenernya, memang dua jalan itu adalah jalan yang berbeda. Tapi.. seperti seorang tokoh tidak tetap dalam Lost bilang:

The universe has a way to recourse its destination

(Episode#56, Flashes Before Your Eyes)

Makanya.. no matter what road you take, you’ll reach the destination designed by the universe. Gitu kali ya? Hehehe.. You just need a little faith ;-)

Uhm.. apa kata Kesuke Miyagi dulu? Lies only become true when person choose to believe? Hehehe.. kalau saja Miyagi adalah tokoh nyata, kayaknya dia cocok sekali berteman dengan Paulo Coelho. Coelho juga bilang sesuatu yang mirip: truth resides where there is faith ;-) Ada di By The River Piedra I Sat Down and Wept, hal. 79 ;-)

Ah ya, sudahlah.. ternyata pilihan itu [nggak terlalu] penting kayaknya ;-) Makanya, mendingan nyanyi aja tentang sesuatu yang [kayaknya] lebih penting:

As long as we keep on givin’
we can take anything that comes our way
Baby, rain or shine, all the time
We got each other
Sharin’ the laughter
..

(S. Dorffs/J. Bettis, As Long as We Got Each Other)

Itu lagu diambil dari theme song sebuah sit-com tentang keluarga. Nggak sejadul The Brady Bunch kok.. kira2 satu dasawarsa lebih muda. ;-) Nyambung nggak ya, sama bahasan di atasnya? Ah, ya nyambung aja! Kalau nggak lihat nyambungnya.. well, that’s your problem, not mine ;-)

Ngomong2 soal pilihan, tadi pagi gw membuat pilihan yang [seolah2] salah. Gw hari ini pakai blus merah dan celana putih!

Lho, [seolah2] salahnya dimana? Kan cocok sama warna bendera kebangsaan kita?

Iya sih.. cocok warnanya dengan Sang Saka. Tapiiii... tadi barusan dengar di radio bahwa hari ini yang kostumnya merah-putih-putih tuh Korea Selatan, sementara tuan rumah Indonesia pakai seragam kedua yang warnanya putih-hijau-putih ;-)

Still, teori gw terbukti kan? Pilihan tidak pernah salah, karena kalaupun salah, the universe will correct it for you ;-) Apa pun pilihan Anda.. sampai juga kok ke Senayan. Cumaa.. kalau tadinya harus duduk di bangku supporter Indonesia, sekarang kayaknya lebih cocok di bangku supporter Korsel. But it doesn’t matter.. toh tempatnya di Senayan juga ;-)