Wednesday, July 25, 2007

Agama itu bernama IPDN

Bikin entry yang bisa membuat gw tenar lagi aaah ;-)

IPDN bikin ulah lagi. Kali ini korbannya bukan sesama praja, melainkan seorang tukang ojek. Dan seperti kejadian yang lalu, blogosphere ramai lagi dengan tuntutan Pembubaran IPDN. Fakta terhadap IPDN yang belum juga insyaf digunakan sebagai justifikasi bahwa yang dibutuhkan adalah pembubaran IPDN. Bahkan Kang Kombor, salah satu Panglima Petisi Online Pembubaran IPDN, mengatakan bahwa Kita Semua Goblok:

Kita semua memang Goblok! Selalu memberi kesempatan kepada lembaga pembuang uang rakyat penghasil pembunuh dan pangreh praja. Sudah bukan saatnya mencetak birokrat-birokrat yang kerjanya dilayani melainkan waktunya untuk mencetak birokrat-birokrat yang melayani.

Semoga yang dulu mencemooh dengan amat sangat Petisi Online Pembubaran IPDN masih konsisten untuk mencemooh petisi tersebut. Huh!

Yah, gw setuju. Kita semua goblok. Tapi bukan karena alasan yang diberikan si Akang ;-)

Menginsyafkan calon pangreh praja (baca: Praja IPDN) adalah mengubah budaya organisasi. Setiap organisasi punya budayanya masing2, yang berasal dari sejarah kolektif sebuah organisasi. Levelnya bawah sadar, dan menyangkut core values serta beliefs kita. Yup! Core values dan beliefs, seperti dalam agama. Jadi, menginsyafkan IPDN adalah setara dengan membujuk seseorang untuk berpindah agama. Seluruh sistem nilainya harus dihancurkan.

Dan bagaimana caranya? Yang jelas tidak hanya dengan membubarkan sesuatu. Sejarah membuktikan, semakin sebuah agama dilarang, semakin umat mau menjadi martir. Memaksa seseorang berpindah agama memang bisa membuatnya pindah, tapi.. apakah bisa membuatnya beriman? Belum tentu :-)

Itu sebabnya disebutkan bahwa mengubah budaya itu sulit dan membutuhkan waktu lama. Sama seperti kita mencoba membujuk seorang umat yang taat untuk berpindah mengikuti ajaran agama kita ;-)

Dari situs ini, ada tips tentang 4 langkah yang perlu dilakukan untuk dalam masa yang panjang dan sulit itu.

1. Uncover core values and beliefs. These may include stated values and goals, but they are also embedded in organizational metaphors, myths, and stories, and in the behaviors of members.

2. Acknowledge, respect, and discuss differences between core values and beliefs of different subcultures within the organization.

3. Look for incongruencies between conscious and unconscious beliefs and values and resolve by choosing those to which the organization wishes to commit. Establish new behavioral norms (and even new metaphor language) that clearly demonstrate desired values.

4. Repeat these steps over a long period of time. As new members enter the organization, assure that they are surrounded with clear messages about the culture they are entering. Reinforce desirable behavior.

So, mau menginsyafkan Praja IPDN? Boleh2 saja. Tapi tidak dengan sekedar membubarkan, karena kalau cuma dibubarkan dengan mudah akan muncul sekte2nya. Kita mau menginsyafkan, ya mari dimulai dengan menghancurkan belief system-nya, membangun norma perilaku baru, dan menguatkan perilaku yang diinginkan.

Sejauh yang gw lihat, Tahap 1 sudah dilalui oleh IPDN. Jelas sudah bahwa core value mereka adalah kemachoan yang diindikasikan dengan kekuatan fisik. Dan termasuk dalam belief system mereka bahwa semakin tangguh seseorang bertahan atas serangan/hajaran fisik, maka semakin macho-lah dia. Dalam belief system mereka, menyiksa adalah sesuatu yang benar karena berkaitan dengan menunjukkan core value: macho.

Tahap 2 juga sudah dilalui. Kita sudah lihat bagaimana sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara sub-culture dalam IPDN. Sub-culture yang dimaksud di sini adalah praja, pengajar, pengelola. Dengan jelas kita melihat bahwa mereka yang berwenang di IPDN cenderung menutupi kejadiannya.

Menurut gw, inilah titik lemah yang harus “dihajar” kalau kita mau menginsyafkan calon pangreh praja (baca: Praja IPDN). Buat perbedaan core value dengan menegakkan norma moral yang baru. Ini yang harus dilakukan. Ini yang seharusnya dilakukan oleh pucuk pimpinan baru. Jadi.. mengganti pucuk pimpinan itu bukan sekedar mengganti. Harus diganti the whole regime dengan orang2 yang punya norma moral berbeda.

Yang saya lihat dari tahun ke tahun, IPDN hanya diganti pucuk pimpinannya. Tapi norma moral yang diusung sami mawon. Ya nggak bakal ada perubahan. Cuma ganti orang, bukan ganti ideologi. Boro2 akan memberlakukan Tahap 4, memberikan reinforcement untuk perilaku yang diinginkan. Lha, perilaku [baru] yang diinginkan aja nggak ada ;-) Akhirnya kita terjebak dengan perubahan yang tidak signifikan. Seolah2 ada perubahan, padahal tidak ada ;-)

Mengubah Budaya Organisasi ini adalah sebuah utopia? Harusnya dengan unique radicalism atau revolusi budaya?

Nggak masalah ;-) Revolusi Budaya pun boleh. Beda antara Mengubah Budaya Organisasi yang gw jabarkan di atas dengan Revolusi Budaya, menurut gw, cuma jangka waktu yang dibutuhkan aja. Revolusi lebih cepat. Tapi pada intinya sama saja: hancurkan core value dan belief system yang ada.

Hehehe.. gw pikir Revolusi Budaya Cina juga nggak dibangun hanya dengan Mao Zedong membubarkan satu dua hal. Mao Zedong harus menancapkan core value dan belief system baru dan menghancurkan yang lama secara sistematis ;-)

*Soal Revolusi Budaya ini ada jagonya, Intan. Well, Neng, mau komentar? ;-) *

So, balik lagi ke masalah yang itu2 juga. Yang udah gw tulis beberapa bulan lalu. It’s okay membubarkan IPDN. I don’t have any problem with that. Tapi.. apakah ini adalah yang utama? Kalau demi keselamatan anak2 bangsa negeri ini.. well, I still think that it won’t make any significant differences ;-) Selama core value dan belief system tidak diubah, akan muncul institusi baru yang beda nama tapi sami mawon ;-)

Dan.. uhmm.. kalau yang dijadikan alasan adalah IPDN tidak mau berubah, sudah diberi kesempatan, well.. come on, guys! Rome was not built in one day ;-) Dari April 2007 – Juli 2007 itu cuma 3 bulan. Revolusi apa pun nggak akan menghasilkan perubahan instan dalam 3 bulan ;-). Bahkan jika arah perubahannya pun sudah jelas, 3 months is a too short time. Apalagi dalam 3 bulan ini arah perubahannya belum jelas2 amat.

*Maaf, Pak Ryaas Rasyid, saran2 yang Anda ajukan tampaknya belum mengarah pada revolusi budaya atau perubahan budaya organisasi yang tepat*

So.. kalau mengutip judul si Akang.. yup! Kita semua goblok ;-) Kita goblok karena terfokus pada perubahan instan, bukan pada bagaimana caranya mendapatkan perubahan itu. Dan kita goblok, mau meng-convert orang, kok maunya instan ;-). Sama dengan kegoblokan kita ketika berharap lengsernya Pak Harto akan membawa perubahan instan.

Nope! Perubahan itu tidak pernah instan. Perubahan itu harus dirancang dengan tepat, dengan strategis, dan butuh waktu tidak sebentar. Tak perduli kita mau pakai revolusi atau mau alon2 waton kelakon ;-)

---

PS: Gilaaa.. two entries in one day! The symptom of acute hypergraphia ;-)

---

SUNTINGAN 26 Juli 2007:

Baru kepikiran semalam menjelang bobo'.. pengeroyokan Praja IPDN pada seorang tukang ojek, hanya 3 bulan berselang dari heboh besar tentang kematian prajanya akibat penganiayaan, apa bukan merupakan suatu bentuk displacement ya? Displacement adalah mekanisme pertahanan diri dengan memindahkan perasaan (dan perilaku) pada obyek yang lebih aman. Ini perilaku subconscious, bukan disengaja, dan biasanya dilakukan untuk mengurangi anxiety.

Ini bukan sesuatu yang baik, tapi terjadi secara alamiah.

Kalau mengacu pada budaya organisasi di atas, dimana core value dan belief system mereka mengajarkan bahwa tidak ada yang salah pada perilaku terhadap Cliff Muntu dkk, maka tidak heran jika selama kurun 3 bulan ini mereka mengalami anxiety. Tak bisa melampiaskannya pada "musuh2 mereka" (baca: mereka yang dirasa memojokkan IPDN), terjadilah displacement pada obyek yang lebih aman: si tukang ojek.

So.. gw balik ke premis awal: jika ini dilakukan tanpa mengubah core value dan beliefs mereka, maka yang kita hasilkan adalah bahaya laten. Akan muncul displacement2 lain di masa datang; kita hanya menundanya saja.

Atau kalau mau revolusi.. ya jadi raja tega sekalian aja.. ;-) Bubarkan, dan nyatakan jadi institusi terlarang, lantas paksa Depdagri bikin kebijakan bahwa mulai sekarang PNS diambil dari universitas2 biasa. Praja yang ada sekarang? Drop out. Kasihan dong? Lhaa.. kalau dibiarkan, nanti mereka bikin organisasi baru, bikin partai, lalu menjadi kuat, dan melakukan hal yang sama dalam lingkup yang lebih luas gimana? Kalau mau revolusi, mau rekonstruksi total, ya harus total. Jangan separuh2. Jangan kasih pihak lawan kesempatan mengobarkan dendam dan menjadi besar :-)