Thursday, July 19, 2007

Dan Kematian Makin Akrab

Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga: - Matiku muda -

Ketika mendengar berita kematian Taufik Savalas beberapa hari lalu, gw ngerasa biasa2 aja. Sedikit prihatin karena meninggalnya disebabkan kecelakaan, tapi nggak sedih2 amat. Ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rojiun pun muncul lebih karena otomatis, feel obliged to, bukan karena penghayatan mendalam.

Yang pertama terpikir justru, ”Memang, orang baik itu dipanggilnya cepat”.

Gw nggak kenal Taufik personally, ketemu aja belum pernah. Tapi, gw pernah harus mewawancarai sekelompok mantan peserta pada acara yang dipandunya. And I’m impressed, di kota mana saja gw bertanya, pada siapa saja (ibu2, bapak2, mbak2, mas2), semua memberikan jawaban seragam: Taufik is –err..was- as humble and friendly as seen on TV. Suatu testimoni yang menurut [perasaan] gw jujur, menilik dari cara mereka bicara dan ekspresi wajahnya. Lagipula, dari pengalaman gw mewawancara orang, nggak biasanya seorang selebritis yang turun langsung berinteraksi dengan orang banyak mendapatkan testimoni positif sekonsisten ini.

Rasa baru mulai bermain ketika tadi pagi melihat tayangan infotainment. Sepasang putra-putri almarhum bermain sepeda di dekat karangan bunga tanda duka cita untuk ayahnya. Si gadis kecil bahkan dengan riang berseru pada temannya, kira2 begini, ”Ini kan bunga untuk aku, kan papaku meninggal”

Ah.. mereka belum mengerti, bahwa selanjutnya mereka tidak akan pernah lagi bertemu bapaknya. Semua kehidupan yang nyaman akan berubah, sedikit atau banyak.

Dan tiba2 gw berpikir akan kematian gw sendiri :-) Betapa kematian dan ketidakmatian gw akan berpengaruh pada orang2 sekitar.

Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua

Gw sebenarnya nggak terlalu takut mati. Gw nggak terlalu takut untuk pindah dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Bukan karena gw yakin bisa masuk surga. Plis deh! Kalau masuk surga itu seketat kompetisi Piala Dunia Sepakbola (iya, Dol, jaman sebelum penyisihannya 8 grup..;-)), maka gw termasuk tim underdog yang harus berebut sisa tiket ke putaran selanjutnya. Dan.. dengan hobby gw nyilet sana nyilet sini, it would be lucky if my name is on that short list of nominees ;-)

**[Uhm.. numpang promosi sedikit: Ingin dukung Maya ke surga? Caranya gampang! Ketik SRG [spasi] Maya dan kirim ke 9*** sebanyak2nya. SMS yang kamu dapat, langsung dari HP Maya]**

Oops, back to topic ;-)

Dengan segala kekurangan gw itu, gw tidak takut pada kematian itu sendiri. Pun jika gw harus mati muda. I’m ready with the consequences of what I’ve done during my short pathetic life. Let God be my judge ;-).

Tapi.. terus terang, kalau boleh memilih, ada tiga kondisi [duniawi] yang gw inginkan supaya bisa die in style.. uhm.. mati dengan nikmat, maksud gw ;-)

Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji adalah kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan

Yang pertama, gw nggak pingin mati sebelum tanggung jawab gw selesai. Tanggung jawab gw yang utama, tentunya, adalah 25-year-plan gw untuk Ima. Oh ya, gw tahu bahwa rejeki itu sudah diatur, dan bahwa meskipun gw mati sekarang, rejekinya Ima nggak langsung putus. Cumaa.. gimana ya, gw nggak pingin aja tinggal gelanggang colong playu (meninggalkan arena terbirit2). Kalau sesuatu sudah dipercayakan kepada gw, at least, gw pingin menyelesaikannya dengan baik sebelum move on.

Ada juga sih hal2 lain yang gw anggap sebagai tanggung jawab gw. Tapi.. seperti biasa, I’m open to any negotiation, kok ;-)

Yang kedua, kalau boleh milih, gw pingin meninggal dengan cepat. Nggak pakai terminal illness bertahun2 yang membuat repot orang2 terdekat gw. Oh, bukaaaaan.. bukannya gw meragukan ketulusan orang2 terdekat untuk merawat gw. Tapi.. I know that it’s hard to be a caregiver. The illlness will eat your dearest ones’ life inside out, emotionally and financially. Ya, ya, gw tahu dan percaya bahwa semua ada hikmahnya, all the yadda yadda bla bla bla.. but I’m talking about now, not about then, the future ;-)

Yang ketiga, well, ini adalah kondisi yang paling egois. Kalau yang dua tadi ada unsur2 orang lainnya, yang ini bener2 hanya mikirin gw sendiri.. hehehe.. Gw takut buta. Yup! Dari semua cacat, semua penyakit, semua gangguan, yang paling gw takuti adalah buta. Can’t imagine my life without reading. So, help me God, when the time has come, please take my soul directly ;-)

Ada juga sih hal2 lain berkaitan dengan [jalan menuju] kematian yang gw takutkan. Gw takut mati tenggelam, hehehe.. Sumpah deh, biarpun gw bisa berenang, gw nggak yakin bisa survive kalau jatuh di laut. Makanya gw nggak pernah berani naik kapal :-) Gw juga takut mati terbakar (or worse: dibakar massa) seperti jenazah2 gosong yang gw lihat bergelimpangan di RSCM Mei’98. Gw takut mati kecelakaan, ketiban potongan2 besi pesawat dan berhari2 tidak bisa bergerak. Gw takut mati disiksa; disetrum, dipukuli, diinjak2. Gw takut mati dijerat garrotte (duh, fantasi gw kinky banget deh ;-)), ..

Tapi, yaaa, gimana maunya Tuhan aja lah, cara ngambil gw-nya. Nggak bisa negosiasi terlalu banyak juga kan ;-)? Boleh milih tiga yang terpenting aja udah alhamdulillah banget.

Kira2 yang tiga tadi berlebihan, nggak ya? Tuhan berkenan nggak ya?

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak

tertawa..

----

Credit Title:

Judul tulisan dan semua penggalan puisi dicuplik dari “Dan Kematian Makin Akrab” karya Subagio Sastrowardoyo.

Walaupun terlambat, turut berduka cita atas meninggalnya Taufik Savalas. Semoga mendapatkan tempat layak di sisi-Nya. And thanks for reminding me about death, with your own death.

----

SUNTINGAN 20 Juli 2007:

Eh, tau nggak. Barusan aja, sekitar 10 menit lalu, ada pedagang buku yang nyari gw. Nyari gw-nya sih nggak aneh.. emang gw beberapa kali beli buku sama dia. Yang bikin gw nambahin suntingan ini adalah: salah satu buku yang ditawarkan adalah Ziarah ke Alam Barzakh.

Pas banget ya? Baru kemarin gw mikirin kematian.. hari ini ditawarin buku ini. Dan.. ya, bukunya gw beli ;-) Petunjuk harus diikuti kan? Hehehe..

*Gw yakin kok Pak Penjual Buku ini bukan pembaca blog yang memanfaatkan posting terakhir gw untuk cari profit ;-)*