Tuesday, July 10, 2007

The Paradox of Curhat

Elo suka curhat? Gw enggak.

Kalau stres, gw lebih seneng katarsis. Nyetel lagu sambil nyanyi keras2 di kamar kerja yang tertutup. Atau ke tempat sepi dan teriak. Atau.. daripada curhat, gw lebih seneng mancing keributan.. HAHAHAHA.. Cari musuh untuk beradu argumen. Dengan beradu argumen, gw “dipaksa” untuk bertahan di level kognitif, dan dengan sendirinya kecenderungan untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hati tuh berkurang. Pikiran menormalkan lonjakan2 emosi yang ada. Makanya, can’t agree more dengan apa yang ditulis fertob tentang: Anda Harus Punya Musuh. My enemy is my true friend, hehehe.. tepuk tangan dulu buat para musuh2-dalam-tanda-kutip gw ;-)

Tapi, kadang gw juga suka curhat colongan. Maksud gw, nyolong2 curhat pada orang asing.

Orang asing? Well.. mungkin bukan benar2 orang asing yang gw tangkap di jalan. Orang yang udah gw kenal juga, tapi bukan yang deket banget sama gw. Curhatnya juga kadang nggak heboh bersimbah air mata kayak di Oh Mama Oh Papa gitu.. cuma nge-gong-in ceritanya dia yang kebetulan mirip (kalau nggak mirip, gw juga jago kok untuk mirip2in biar bisa nyolong curhat ;-)). Intinya, gw malah jarang curhat sama orang2 yang “dekat” dengan gw.

Kenapa kok nggak curhat sama sahabat? Well.. for one thing, I’m a loner. Bisa dibilang gw nggak punya banyak sahabat. Teman gw dari dulu ya itu2 aja.. hehehe.. Gw emang susah berteman baik dengan orang karena gw loner. Beberapa orang menjadi dekat dengan gw karena chemistry yang pas saja, bukan karena gw berusaha melakukan sesuatu untuk mempertahankan hubungan baik, apalagi meningkatkan hubungan baik menjadi persahabatan. Yang kedua.. gw juga nggak pingin curhat ke orang2 terdekat karena biasanya gw curhat kalo udah nggak bisa menormalkan lonjakan2 emosi dengan cara yang lain. Jadi.. gw nggak pingin banget suatu hari, ketika keadaan darurat sudah berlalu, lantas orang2 di sekitar gw masih ingat apa yang gw curhatkan. I feel like they invade my privacy, hehehe.. ;-)

Sebenernya, ada benarnya juga bahwa mendingan kita curhat pada orang asing. Kalau menggunakan reflective (active) listening dari Carl Rogers ini, memang lebih tepat kalau curhat dengan orang asing. Orang curhat itu buat apa sih? Buat didengar uneg2nya, itu yang pasti. Tapi.. on a higher level, mereka juga ada keinginan untuk keluar dari masalahnya. Naah... Opa Rogers ini percaya bahwa pada dasarnya semua organisme di dunia ini (dan itu termasuk manusia), tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Jadi.. sebenarnya segala macam obat, terapi, dan lain2 itu nggak perlu2 amat, karena semua “jawaban” atas masalah itu ada di dalam diri manusia itu sendiri. Hanya saja, seringkali manusia tidak sadar dia sudah memiliki jawaban atas pertanyaannya itu, solusi atas masalahnya itu, karena sibuk terpaku pada hal lain. Untuk membantu klien2nya menemukan jawaban, Rogers fokus pada “How does this person see themselves and their situation?” Dia berperan sebagai cermin; membimbing kliennya untuk melihat dengan jelas dirinya dan situasinya sendiri. Jika si klien sudah melihat dengan jelas, otomatis si klien akan mendapatkan insight yang paling cocok untuk dirinya dalam menyelesaikan masalah tersebut.

*Note: eh, Jeng, ini sekaligus memenuhi janji memberikan bahan tentang Mendengar Aktif ya ;-)*

Naah.. orang2 asing (baca: orang yang tidak terlalu dekat dengan kita, yang tidak emotionally involved dengan kita) justru lebih besar kemungkinannya untuk menjadi cermin yang baik. Tanpa emotional involvement, mereka lebih bisa menempatkan diri sebagai cermin yang jernih, yang membantu kita melihat masalah dengan lebih tepat. Itu sebabnya yang namanya psikolog tidak disarankan untuk menjadi terapis bagi keluarga sendiri.. hehehe.. dan ada istilah “psikologi untuk Anda” (bukan untuk saya ;-)), karena memang kalau sudah berada di dalam masalahnya itu sendiri, agak susah (eh.. susah banget!) to think outside the box.

Masalahnya.. ada paradoks dalam curhat nih!

Curhat, pada dasarnya kan pertukaran emosi dan kepercayaan. Biarpun pada orang asing sekalipun, ada sebagian dari diri kita yang kita percayakan pada orang asing itu. Dan di situlah masalahnya: pertukaran emosi dan kepercayaan itu adalah dasar dari sebuah hubungan yang lebih baik, hubungan yang emotionally involved ;-) So, while it helps to talk to stranger, the talking will also bring intimacy towards that stranger. Setelah beberapa sesi, bisa jadi muncul emotional bond. Transference, proses yang kata Freud adalah mentransfer perasaan terhadap significant figure di masa lalu terhadap figur di depan mata, berawal dari sini. Yaah.. transfer, seperti mentransfer perasaan kita terhadap pacar lama ke teman curhat di depan mata, atau mentransfer kekaguman kita pada tokoh ayah/ibu ke teman curhat di depan mata, atau sebaliknya.. si teman curhat melihat sosok lemah yang ingin dilindunginya di depan mata, atau sosok adik kecil yang hilang di depan mata ;-)

Pedang bermata dua ya, curhat itu? Jadi.. gimana dong enaknya? Nggak usah curhat2an aja? HAHAHAHA..

Nggak papa sih.. curhat aja. But know when to stop. Ini berlaku dua arah, untuk yang dicurhati dan yang suka curhat: tahulah kapan harus berhenti curhat/mendengarkan curhat. Kecuali kalo memang ada hidden agenda lho ya.. hehehe.. kalo transference memang merupakan target yang ingin dicapai.. HAHAHAHA..

BTW, tentang curhat to stranger ini, seorang teman pernah menulis cerpen yang kemudian dimuat di The Jakarta Post. Ini adalah versi asli di blog-nya, dan ini versi yang dimuat di TJP. Enjoy!