Friday, July 13, 2007

Pintu Jaka Sembung

Ada satu berita lucu di Kompas edisi hari ini, 13 Juli 2007. Baca deh! Gw sampai terbahak2 membacanya ;-) Artikelnya ada di halaman pertama, di pojok paling kanan. Judulnya “Transportasi: Pintu untuk Sopir Bus Ditiadakan” (thanks, Ikram, buat tautannya ;-))

Lucunya apa? Yaaa.. yang paling lucu sih logikanya. Logical fallacy banget ;-)

Nih, gw kutipkan sebagian beritanya:

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan mengeluarkan instruksi penghilangan pintu untuk sopir bus angkutan umum.. Iskandar (Dirjen PU – red) menegaskan, ketentuan ini sudah mulai berlaku minggu ini. Dia menjelaskan kebijakan ini diambil untuk meningkatkan standar keselamatan penumpang. Dalam beberapa kasus kecelakaan, banyak penumpang terjebak di dalam bus, sementara sopirnya melarikan diri dari pintu sopir..

Udah lihat dimana letak logical fallacy-nya ;-)?

Kalau untuk meningkatkan standar keselamatan penumpang, gw nggak ngerti kenapa kebijakannya kok menghilangkan pintu untuk sopir bus angkutan umum. Bukannya lebih efektif dilakukan dengan melakukan pengecekan rem, gas, dan segala yang berhubungan dengan mesin ya? Atau kalau dari segi sumber daya manusianya, bukankah lebih efektif dengan memberlakukan seleksi pengemudi ya? Atau.. kalau mau ditarik ke masalah psikososial, dimana bus sering kecelakaan karena ugal2an, dan ugal2an itu karena si sopir mengejar setoran, akan lebih efektif dengan mengubah sistem remunerasinya ya?

Lha.. kenapa malah pintu dipikirin?

Kalau pintu sopir ditiadakan, standar keselamatan penumpang nggak banyak berubah, kayaknya. Yang berubah: sopir jadi lebih sulit kabur kalau bus-nya kecelakaan. Tapi.. sebenernya nggak perlu mahal2 ngerubah pintu bus, lho, kalau cuma mau bikin sopir bus susah kabur. Ada yang lebih murah! Beli aja rantai sama gembok. Terusss.. gunakan rantai dan gembok itu sebagai “sabuk pengaman” buat si sopir (pengaman biar dia nggak kabur, maksudnya ;-)). Jadi.. biarpun ada pintu di sebelahnya, it takes time to fly from the crime scene ;-) Lebih murah meriah, tapi efektif juga kan ;-)?

Hehehe.. gw pikir alasan naif nggak pakai sabuk pengaman karena “kalau mobil ini kecelakaan, kan malah jadi susah keluarnya?” hanya ada di iklan radio doang. Cuma ide kreatifnya orang iklan doang. Ternyata.. iklan radio itu cerminan kehidupan nyata toh ;-) Tepatnya, mungkin diadaptasi dari kebijakan nyata ;-)

Lepas dari kenaifan alasan tersebut, gw kok prihatin sekali dengan kenyataan bahwa seorang pucuk pimpinan mengeluarkan kebijakan seperti itu. Waktu Bang Sut (yeah, I know, the real term is Bang Yos, but I like Bang Sut better ;-)) bikin kebijakan mengubah stadion jadi Taman Kota, biarpun gw gak setuju, gw masih ngerti logika berpikirnya. Waktu Bang Sut menghentikan pembangunan monorail (yang udah bikin hidup gw sengsara kena macet di depan kantor) dan menggantikannya dengan busway (yang bikin hidup gw tambah sengsara, karena tambah macet di depan kantor), gw juga masih ngerti alasannya – biarpun gw nggak sepenuhnya setuju.

Tapi.. urusan pintu ini bener2 suatu [kalau pinjam istilahnya Dinda Aramichi] contoh berpikir tidak sistematis. Antara masalah dan penyelesaiannya bener2 jaka sembung ngisep tembakau, kagak nyambung lah yauw.. ;-)

Dan lagi.. di jaman Psikologi Positif gini, dimana kita mulai menekankan pada bagaimana membuat orang bahagia agar bisa bekerja lebih baik dan lebih efektif, eeeh.. kok malah Dirjen Perhub memainkan psikologi negatif yang melihat semua sopir bus sebagai "penjahat" yang harus di-restrained.

Separah inikah kemampuan analisa masalah pemimpin2 kita?

Sorry, sekali ini nulisnya nggak panjang.. hehehe.. Udah mati ucap mau nulis apa lagi saking takjubnya. Cumaaa.. kalo boleh saran, ada baiknya kali, para pemimpin ini dikasih pelatihan tentang analisa masalah dan penyelesaian masalah. Sama pelatihan tentang leadership, tentang memotivasi bawahan, atau menumbuhkan rasa tanggung jawab bawahan. Jadi, kebijakannya nggak high cost low effectivity ;-)

Eh, tapi nggak tahu juga ya.. siapa tahu gw yang salah sementara beliau benar. Jangan2, fungsi pintu memang buat nge-rem supaya nggak terjadi kecelakaan. Pantesan, standar keselamatan penumpang mobil lebih tinggi daripada penumpang motor. Soalnya, mobil punya 4 pintu, malah ada yang 5 pintu, sementara motor nggak punya pintu ;-)

SUNTINGAN SORE:

Eh, to be frank, tadi gw menghilangkan sebuah detil penting pada berita ini lho ;-) Detil pentingnya adalah: "Regulasi itu juga mewajibkan semua bus menyediakan satu pintu darurat di bagian tengah kendaraan"

Naaah.. kalo bagian regulasi yang ini emang cocok arahnya dengan standard keselamatan penumpang yang lebih tinggi. Moga2 aja si pintu darurat itu bisa dijaga agar tetap mudah dibuka dan benar2 bisa difungsikan kalau [amit2] terjadi kecelakaan ;-)

Ngomong2, baru sadar nih.. ternyata tulisan kemarin bertanggal Friday the 13th ya ;-) Duh, tanggalnya cocok sama topiknya ;-)