Showing posts with label Points to Ponder. Show all posts
Showing posts with label Points to Ponder. Show all posts

Sunday, August 18, 2019

When in Doubt, Learn!

Beberapa hari yang lalu Nara punya kekhawatiran yang di matanya tampak sebesar gunung es. Di mata ibunya sih hal ini hanya konflik internal normal “identity vs role confusion” yang diulas Erik H Erikson sebagai bagian perkembangan psikososial pada remaja usia 12 - 18 tahun. Nara memang baru 11 tahun, tetapi ... yaaah ... age is just a number toh? Perkembangan adalah proses, bukan hitungan matematis.

Jadi dengan tenang Ibunya Nara ini membahas tentang konflik mendasar pada kelompok usianya itu, serta menjelaskan bahwa saat usianya memasuki tahap perkembangan selanjutnya konflik itu insyaAllah selesai. Plus menekankan bahwa “kekuatan pikiran” dan “niat” akan membantunya menyelesaikan konflik dan membawanya ke arah hasil yang ia inginkan. Ibunya memberikan Harry Potter & the Sorting Hat sebagai analogi, dimana kekuatan niat Harry untuk masuk Gryffindor berhasil meyakinkan si Topi untuk TIDAK memasukkannya ke Slytherin

Dasar Nara anak ibunya! Tetap saja dia tidak yakin dan bertanya balik, “Memangnya kenapa kalau aku terus-terusan mikir hasil yang aku nggak mau? Apakah akan bisa terjadi?

Ibunya nggak mati gaya, dong! Langsung keluar teori tentang “self-fulfilling prophecy”, dimana hasil buruk yang terjadi seringkali adalah akibat seseorang terlalu memikirkan hal tersebut.

“Contohnya kamu takut tertabrak mobil, Mas. Kamu terlalu memikirkan itu, sehingga sewaktu menyeberang kamu sudah tidak sadar keadaan sekeliling. Nggak lihat deh ada mobil, sehingga tertabrak. Padahal jika kamu nggak mikirin itu, kamu akan lebih hati-hati saat menyeberang”.

Obrolan panjang ini membuat si jejaka kecil lebih tenang, sehingga riang kembali setelah dipeluk ibunya (eheem!)

Nah ... kasus ibu-anak ini kok rasanya paaas banget kalau digunakan untuk membahas pernyataan kontroversial seorang tokoh yang baru-baru ini viral mengenai salib umat Kristiani. Menonton videonya, sebenarnya sang tokoh bisa menjawab si penanya dengan alur yang sama dengan alur saya menjawab kekhawatiran Nara. Cuma konfliknya yang beda ... tergantung usia si penanya.

Semisal usia si penanya adalah 21 - 39 tahun, bisa jadi ini manifestasi konflik “intimacy vs isolation”. Untuk usia yang lebih tua, ini bisa jadi masalah dalam mencapai “kemampuan untuk peduli (care” atau “kebijaksanaan (wisdom)” sebagai capaian nilai yang diharapkan dalam tugas perkembangan selanjutnya. Saya dapat mengajukan beberapa skenario munculnya pertanyaan ini sebagai akibat konflik terkait, tetapi sebaiknya tidak diulas di sini. Kan psikolog tidak boleh punya prejudice. HAHAHAHA ....

Sayangnya mungkin si tokoh tidak pernah belajar psikologi, sehingga tidak bisa melihat dari kemungkinan lain.

Kalau begitu, syukurlah dia berangkat sekolah lagi. Semoga sekali ini wawasannya lebih berkembang sehingga lebih adem dan bijak dalam berbicara dan menjawab pertanyaan di forum.

Referensi:
1. Psychosocial Development Theory (Erik H Erikson)
2. Self-fulfilling Prophecy

NB: gambar tidak ada hubungannya dengan tulisan. Cuma mau pamer kopi cantik yang jarang-jarang gw minum. LOL

Thursday, February 26, 2015

"Jamie is sure something wonderful died... and I'm still hurting"

Ketika setuju menemani Ima menonton The Last 5 Years, gw menganggapnya sebagai sekedar motherly duty. Meski si gadis mengatakan, "You're gonna like it, Mum, this is a MUSICAL", tapi... well... gw menata harapan dengan mengingat bahwa tidak semua musical adalah sekelas Les Misérables. Atau Rent. Atau The Phantom of the Opera.  After all, there was High School Musical ;-)

Lagu pertama yang dibawakan Anna Kendrick cukup mengusik gw. Lagu sendu patah hati ini tidak 'seringan', apalagi seceria, HSM. Puitis dan manis, meski menyayat hati. Padahal Anna Kendrick tidak membawakannya sebaik Lea Salonga di klip berikut ini:


Lagu kedua membuat gw agak ilfeel. Entah mengapa gw merasa agak terganggu dengan penampilan Jeremy Jordan. Oh, he's a good-looking fellow, indeed... but... kesan pertamanya kurang nendang! Dia tampil seperti bocah yang jatuh cinta dan mengambil keputusan terburu2. Definitely not my type of man... dan gw mulai tambah yakin bahwa ini cerita cinta monyet dua bocah kecil yang berakhir buruk.

Namun antena gw mulai tegak ketika di lagu ketiga gw menyadari gaya bertutur yang tak biasa di film ini. Gaya bertutur back-and-forth. Bukan sekedar kilas balik, tetapi bolak-balik. Baiklaaah... gw pasang mata untuk film ini.

... dan itu merupakan keputusan yang tepat, karena isi film ini ternyata sangat pantas direnungkan.

[SPOILER ALERT. Stop if you don't want to know]

Film ini menggunakan dua sudut pandang yang disajikan dalam urutan terbalik. Sudut pandang Cathy - sang istri - disajikan dengan urutan descending (akhir ke awal), sementara sudut pandang Jamie  - sang suami - disajikan dengan urutan ascending (awal ke akhir).

Itu sebabnya di awal kita mulai dengan patah hatinya Cathy karena Jamie pergi meninggalkannya. Itu sebabnya Cathy tampak begitu dewasa, dan sangat mudah bagi penonton (ehmmm... atau mungkin gw aja ya?) untuk men-judge Jamie sebagai pria brengsek kekanak-kanakan yang tidak cukup dewasa untuk setia pada komitmen. But in my defense, how could I ignore the statement like the following:

"Jamie arrived at the end of the line
Jamie's convinced that the problems are mine
Jamie is probably feeling just fine
And I'm still hurting

What about lies, Jamie?
What about things
That you swore to be true
What about you, Jamie
What about you"


Apalagi lagu ini disambung dengan penampilan pertama Jamie yang bak bocah yang pipis aja belum lurus tapi sudah sok tahu tentang cinta ;-)

Seiring berjalannya kisah, terlihatlah bagaimana Cathy bukan hanya korban. Dalam kisah yang dibalik, kita dapat melihat bahwa bagaimana seorang gadis penuh keyakinan bahwa "I Can Do Better than This" pelan-pelan menjadi frustrasi dan kehilangan mimpi - terpinggirkan oleh jalan hidup sang suami yang bertolak belakang.

Dan Jamie... bocah ini bukan saja berkembang menjadi penulis laris, melainkan juga menjadi pria dewasa yang sangat mencintai istrinya. Pria sukses yang tentu saja mendapatkan banyak godaan.

Begitu cintanya ia pada istrinya hingga akhirnya dia harus meninggalkan sang istri karena "kehabisan tali" untuk "menyelamatkan" sang istri dari "kepahitan"nya. Dan pahit, I must tell you, adalah sesuatu yang menular. Perlahan tapi pasti kepahitan sang istri meresap kepadanya dan melilitnya bak tali.

"We build a treehouse
I keep it from shaking
Little more glue every time that it breaks
Perfectly balanced
And then I start making
Conscious, deliberate mistakes

I grip and she grips
And faster we're sliding
Sliding and spilling
And what can I do?"


Jika lagu pembuka Cathy menyayat hati gw, maka lagu penutup Jamie melumatkan apa yang sudah tersayat-sayat itu:

"It's not about another shrink
It's not about another compromise
I'm not the only one who's hurting here
I don't know what the hell is left to do
You never saw how far the crack had opened
You never knew I had run out of rope and

I could never rescue you

No matter how I tried
All I could do was love you
God, I loved you so
So we could fight
Or we could wait
Or I could go..."


[SPOILER ENDS]

Mari kita bicara tentang tali. Tali yang membelit Jamie. Dari mana tali itu? Tali itu terbentuk karena Jamie sangat ingin mempertahankan treehouse-nya. Keep it from shaking by adding glue here and there every time it breaks. Maybe no one tells him that 'too much glue will kill you'... and it did! He started making mistakes.

But why does the treehouse keep shaking? Rentankah "rumah pohon" itu? Jika ditilik dari betapa bersemangat dan percaya dirinya Cathy di awal 5 tahun lalu, "rumah pohon" itu tidak lemah. Namun ia dilemahkan oleh rasa tak berdaya melihat bahwa life is not all unicorns and rainbows. Karena tidak siap bahwa it's not happily ever after.

...Or rather: because they do not realise that the description of 'happily ever after' constantly changes. It should be adjusted and revised every step of their life.

Mereka terlalu sibuk mengejar definisi mereka tentang "happiness". Sadly, it's a race they'll never win. And it costs them their relationship.

***
Saat film ini dimulai hanya ada 18 orang di dalam bioskop. Mungkin itu sebabnya BlitzMegaplex tidak segera memutar filmnya meski sudah 10 menit berlalu dari jadwal ;-). Dalam 15 menit pertama setelah film dimulai 3 pasang penonton bergabung. Namun.... belum lagi film diputar selama 45 menit, setidaknya 8 orang sudah hengkang.

I guess musical is never everyday dish for Indonesians ;-) Or perhaps the story is too heavy to digest ;-)

Sayang sekali. Padahal film yang diadaptasi dari kisah nyata sang komposernya, Jason Robert Brown, memberikan bahan renungan mengenai hakikat sebuah hubungan. Anyway.... filmnya terakhir tayang hari ini di bioskop, tapi sample lagu-lagunya bisa disimak di sini.

Wednesday, August 21, 2013

Kotak-kotak Pikiran

Jadi, MUI membuat pernyataan kontroversial lagi dengan mengatakan Tes Keperawanan Perlu Masuk UU. Serentak dunia maya bergejolak. Semua mengecam. Semua mengatakan betapa tak masuk akalnya ini. Dan seorang teman men-tagged gw pada sebuah artikel untuk mempertanyakan apakah berita ini benar.

Pertanyaan itu berbuntut panjang...

Karena seperti biasa gw punya pikiran yang [mungkin buat banyak orang] "nyeleneh". Anti-kemapanan ;-) Suka bikin rumit hal yang sepele ;-)

Sebab meski gw tak setuju dengan kebijakan Tes Keperawanan ini - karena toh perempuan tidak belajar dengan menggunakan selaput dara - namun... gw masih bisa menerima jika sekolah memberikan sanksi pada murid yang kedapatan hamil / menghamili rekannya.

I was grilled by the society for this... which made me excited ;-)

Dasar pemikiran gw sederhana saja. Jika seorang anak usia sekolah kedapatan hamil / menghamili, maka satu hal yang pasti: anak itu (atau sepasang anak itu) tidak dapat mengamalkan apa yang dipelajarinya di sekolah dengan baik.

Kejadian ini hanya mungkin terjadi jika:

  1. Sepasang anak ini melakukan hubungan seks tanpa membekali diri dengan pemahaman yang memadai. Which means ignorance, I must say, because information is EVERYWHERE. You just need to google. Or read your Science textbook at school about reproduction.
  2. Mereka berdua abai terhadap tanggung jawab. Di kepala mereka hanya ada kenikmatan. To tell you the truth, buying condoms in this republic is easier than finding a paddy field. Serius! Minimarket seperti Indomaret atau Alfamart ada di tiap tikungan. Kadang di satu jalan mereka dempet-dempetan. Circle K dan 7-Eleven juga banyak. Dan tiap-tiap dari mereka menjual kondom secara bebas. Dengan harga terjangkau. Kalau nggak mampu beli Durex atau merek import lainnya, beli aja merek Sutra ;-) Jadi... kalau mereka nggak pakai kondom, itu bukan karena nggak bisa. Karena mereka nggak mau!! Karena kalau pakai kondom gesekan yang terjadi kurang natural, berasa plastiknya! ;-) So, itu membuktikan bahwa mereka melupakan tanggung jawab toh?
Itu alasan terjadinya kehamilan remaja. Mereka hamil / menghamili karena "suka sama suka". BULLSHIT! Secara usia mental, berapa banyak bocah umur 16 - 18 tahun itu yang siap punya bayi? Yang berencana punya bayi? Kalaupun ada, apakah itu benar-benar karena ingin memiliki keturunan, atau sekedar emosional sesaat akibat kasmaran? Wong menurut teori Erikson tentang perkembangan psikososial, bocah-bocah ini masih di transisi antara menentukan identitas dan membentuk hubungan dekat dengan lawan jenis kok. 

Nah, dengan alasan itu, menurut gw sudah pantas dan selayaknya jika mereka diberi sanksi. Termasuk jika sanksi itu adalah mengeluarkan mereka dari sekolah.

Hmm... really? Begitu mungkin sebagian besar dari masyarakat kita bertanya.

Perlukah mereka diberi sanksi? Bukankah sudah cukup berat menjadi seorang remaja hamil untuk meneruskan sekolah? Bayangkan semua rasa terhina itu, bagaimana dia tidak dapat mengikuti pelajaran olahraga karena perut yang membesar... Perlukah masa depan mereka diputus dengan menghentikan mereka dari sekolah? Padahal mereka tidak merugikan orang lain. If my friend is pregnant, I'm surely not inspired to fall pregnant either! 

Begitu kurang lebih argumen balik yang gw dapat. Argumen yang bagus. Tidak salah. Hanya... menurut gw... kurang menyeluruh ;-)

Begini dasar pikiran gw: 
  1. Betul. Adalah sangat berat bagi seorang remaja hamil untuk menyelesaikan sekolahnya. Sama beratnya dengan pecandu zat terlarang untuk menyelesaikan sekolahnya. Bayangkan... mereka dijauhi semua orang karena dianggap junkies. Mereka harus bertarung dengan kesadaran yang menurun. Bertarung dengan konsentrasi yang selalu hilang. Bertarung dengan rasa sakit fisik ketika sakaw. Dengan demikian... apakah sebaiknya penggunaan zat terlarang dibiarkan saja? Nggak perlu diberi sanksi? You tell me ... ;-)
  2. Betul. Seorang remaja hamil tidak merugikan orang lain. Seorang pengguna zat terlarang pun tidak merugikan siapa pun selain dirinya sendiri. Setidaknya... sampai dia kehabisan uang untuk membeli obat terlarang, sehingga dia kemudian mencuri uang keluarga atau melakukan tindak kriminal lainnya. Dan yakinkah Anda hal yang setara tidak akan terjadi pada remaja hamil juga? Kalau dia lulus pas-pasan, nggak bisa cari duit cukup, lantas nggak ngemis kiri-kanan, membuat orang tuanya harus membiayai anaknya, BAHKAN melakukan tindak kejahatan jika perlu? You tell me again...  ;-) 
  3. Betul. If my friend get pregnant, I'm not inspired to fall pregnant either. Tapi kan sudah gw bilang di atas bahwa kehamilan remaja kecil urusannya dengan "inspirasi"? ;-) Dan... bagaimana jika menjadi inspirasi adalah "hidupmu tidak akan berubah meski kamu hamil"? Sehingga mereka terinspirasi untuk memuaskan hasrat tanpa memikirkan birth control? :-) Are you sure it will not happen? 
Dan satu lagi hal yang membuat gw merasa argumen balik ini kurang menyeluruh: seluruh argumen ini dilandaskan HANYA kepada sisi seorang remaja putri yang hamil. Padahal, argumen awal gw selalu menyebut "hamil / menghamili", yang berarti mencakup sanksi pada si remaja putra ;-) Bukan hanya makhluk naif yang membiarkan dirinya dibuahi, tapi juga makhluk tolol yang menolak pakai kondom ;-)

Nah! Itu! Bayangkan... APA yang terjadi pada si remaja putra ini jika tidak kita beri sanksi? Pelajaran apa yang didapatnya? Bahwa it's OK to impregnate your girlfriend? Bagaimana jika ini menginspirasi mereka untuk MENGULANGI tindakannya. Since it's OK, why don't we do it again? Pacar pertama hamil, mari kita cari pacar berikutnya untuk dihamili? 

Itu baru inspirasi pada si pelaku. Bayangkan jika inspirasi ini terjadi pelajar-pelajar putra lainnya. Berapa banyak remaja putri yang akan hamil? Berapa banyak orang tua yang harus membiayai cucu sebelum waktunya?

Trust me... Sex Education might remind them that intercourse without condom could result in pregnancy. But... if they have seen that it's OK to impregnate / get pregnant, this knowledge will not trigger them to wear condom ;-)

***

So, tulisan ini gw mulai dengan artikel mengenai pernyataan tidak populernya MUI. Tapi sepanjang tulisan gw malah ngomongin hal lain: kehamilan remaja. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah pada perlunya kita think out of the box. Berpikir di luar batas. Mendobrak batas-batas pikiran kita sendiri untuk mendapatkan bird eye's view. Pandangan dari atas yang menyeluruh. Pandangan holistik.

Masyarakat Indonesia mencerca MUI yang berpikirnya cupet. Cuma memikirkan seputar selangkangan. Kita menganggap diri kita lebih baik, karena bisa melihat apa yang tidak dilihat MUI.

Tapi benarkah kita sudah melihat secara menyeluruh? Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya terjebak di kotak pikiran yang lebih besar? Kita merasa sudah bebas dari berpikir sebatas selangkangan, tetapi ternyata kita masih belum terbebas dari sebatas simpati pada perempuan atau sebatas melihat aktivitas seksual sebagai hak pribadi? :-)

Ironisnya, gw mesti mengatakan bahwa banyak masyarakat kita yang sesungguhnya masih terjebak pada kotak yang lebih besar. Kotak bernama solidaritas kepada perempuan. Kotak bernama solidaritas hak azasi. Kotak yang membatasi kita melihat bagaimana perempuan jika dikaitkan dengan gender lainnya. Yang membatasi kita melihat bahwa hak azasi pun dibatasi oleh hak azasi lainnya ;-)

Dan gw pun menjadi cemas.... dimanakah batas pandangan gw? Masihkah gw terjebak di sebuah kotak... meskipun kotak itu sudah lebih besar?

Sunday, January 20, 2013

Les Misérables: I Didn't Watch One Time Then Die

Mari kita bicara tentang "bencana". Nope, bukan bicara tentang banjir yang melanda beberapa hari lampau dan membuat ibukota tercinta berada dalam status darurat hingga 27 Januari. Banjir itu memang bencana, tapi... ah, sudahlah! Toh Mas Joko sudah turun langsung siang-malam jadi mandor di tanggul Kanal Barat yang jebol itu. Semoga tanggul lekas selesai perbaikannya, dan Mas Joko bisa konsentrasi ke langkah selanjutnya dalam mencegah banjir Jakarta. Biar orang2 macam ALAY ini tidak bisa komentar aneh2 lagi ;-)

Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.

Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).

Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?

Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:

 **SPOILER ALERT! Run, reader, run! And don't come back ;-)*

1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya. 

Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!

Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.

In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.

2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo

Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)

Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)

Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum  pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)

So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:

"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"

Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.

Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.

Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.

Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.

Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.

Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah  Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!

Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!

Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)

Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?

Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".

Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God" 

Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.

3. The Full Circle

Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)

*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*

Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).

Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.

Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)

Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?

Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal  kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:

"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"
- page 42
Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.

Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)

-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.

Tuesday, October 30, 2012

F*** the V*****!

Do I get your attention now? Yes? Good. Now I'm telling you the big secret: the title is not what you think ;-) Well, in a way, it is. But it isn't. I'll tell you more when I've finished.

The reason I wrote this article is: this morning I played "Grammar Nazi" to someone. Again. This friend wrote "aktifitas" and "efektifitas" as a substitute for "activity" and "effectivity" in Bahasa Indonesia. This is wrong, since the right term in Bahasa Indonesia is "aktivitas" and "efektivitas". Use the V-word, although we end the word original adjective with an F.

Then a friend of this friend commented back:

Saya perlu guru bahasa Indonesia juga nih. Kata2 serapan itu aturan tatabahasanya gimana sih? Inggrisnya: "active" > "activist", "effective"> "effectivity", dalam bahasa Indonesia, repotnya kita menghindari huruf "v" tapi tidak kosisten... jadi bingung deh.

That what set me off and triggered this article ;-)

OK, let's start with what our founding father, Ir. Soekarno, our first president said: JAS MERAH. Literally means "red jacket", this word is actually abbreviation from  Jangan Sekali-kali Meningggalkan Sejarah (Don't ever leave our history). That's the first thing that set me off ;-)

Well... we did have our brief history with the British Empire. Sir Thomas Stamford Raffles was here for approximately 3 years. One of our national flowers, Rafflesia Arnoldii, was named after him. And he buried his first wife here. But that's it! Our history with the Brits is as short as, but not as (traumatically) memorable as, our history with the Japs.

So, it will be a numero uno mistake to try understanding our language with the reference to theirs. We don't have that connection ;-) Not like the Malaysians. Or Singaporeans. Probably for that same reasons, many kids of my generation still refer to Raffles as "ruff-less", instead of sounding like "battles" ;-)

In relation to Jas Merah, we actually should refer our understanding of Bahasa Indonesia to Dutch. Yes. Dutch. We were their colony for three and a half bloody centuries.... so, yes, that is the language we should refer to in understanding our language.

Mind you, once we relate those words with Dutch, it makes PERFECT SENSE why we should use "aktivitas" and "efektivitas" instead of "aktifitas" and "efektifitas". In Dutch, the words are like this (check it on Babelfish, or just google them ;-)):

  • Effektief, and it will change into effectiviteit
  • Actief, and it will change into activiteit

So, should we still hang on to the Dutch, while "English is the new Dutch"? Hmmm.... I don't think it's a matter of what language rules now. It's a matter of root. A tree might grow into different mutation. But we cannot change the root, can we? It's always "root before branches". As FinChel of Glee sang:
Oh, why do
I reach for the stars
When I don't have wings
To carry me that far?
I gotta have
Roots before branches
To know who I am
Before I know
Who I wanna be

To know who I am, before I know who I wanna be ;-)

I love my root. And it is heartfelt to see many of the younger generations do not know how to speak proper Bahasa Indonesia anymore :-(

How can they reach for the stars, if they don't have the wings to carry them that far?

***
So... what the F*** is the title about? Well... one of the possibilities is: "Find the Verses" ;-) What verses? Hmmm... that song I attached has verses, right ;-)? The verse about root, and branches, and wings, and stars....

*Gotcha!*

Find the Verses... and live by it, will you?

____
Credit Title: Thanks to Mas R and Mbak B for the inspiration ;-)

Saturday, November 05, 2011

Pain

Sejujurnya, hari raya Idul Adha selalu menjadi momok mengerikan buat gw. Sekian puluh tahun hidup di dunia, tetap gw nggak bisa membiasakan diri dengan ritual keagamaan ini. As a little girl, I firmly asked my daddy to directly escort the goat to the mosque. Pokoknya kambing nggak boleh mampir ke rumah gw... karena gw tahu bahwa begitu si kambing pernah tinggal di rumah, pernah gw lihat, pernah gw kasih makan, ... maka it would hurt to even know that he was dead.

Masalahnya, gw menikahi orang yang salah... HAHAHAHA.... Suami gw berasal dari keluarga santri yang punya tradisi menyembelih hewan qurbannya sendiri - seperti disunnahkan. Sesuatu yang selalu membuat gw bergidik ngeri :-)

Saking ngerinya, sampai sekarang gw selalu menolak datang ke rumah mertua right after shalat Ied. Pokoknya... tunggu barang 4 - 5 jam dulu! Pastikan qurbannya sudah mati dan darah sudah dibersihkan, baru gw mau sowan ke sana :-)

For years, gw selalu mendapati diri gw diledek karena "empati" gw terhadap hewan qurban ini :-) Banyak yang berkata bahwa gw kurang Islami. Bahwa sebenarnya hewan2 qurban ini "bersyukur" karena dapat pahala. Bahkan pernah ada yang mengatakan gw anti-Islam karena ketidakmauan gw berurusan dengan hewan qurban ini.

Tapi bertahun2 juga... gw selalu tidak merasa pas dengan dikotomi pemahaman tentang qurban. Seperti terurai di atas, gw jelas tidak pas berada di dikotomi yang mengatakan bahwa qurban is one hell of happy festival; the poor is happy to receive some meat, the rich is happy to provide for the poor, and the cattles are happy to fulfill their purpose of life ;-)

Sebaliknya, gw juga nggak merasa pas berada di posisi penentang penyembelihan massal ini. Gak sepakat juga dengan mereka yang menganggap qurban adalah the massacre . This festival might include slaughtering, yes, but I can't agree that it is unnecessary. Jelek2 gini gw masih percaya agama... hehehe... sehingga buat gw, gw percaya bahwa kalau diharuskan oleh Tuhan, ya pasti sesuatu yang bagus. Meskipun gw gak bisa lihat dimana bagusnya :-)

... Kebimbangan itu bertahan hingga hari ini. Hingga gw membaca kul-twit menarik dari Goenawan Mohammad. Kul-twitnya ada 10 bagian, sila disimak dari sini hingga sini.

Bagian yang paling "nampol" buat gw ada dua, yaitu yang #2:

2. Kita cenderung hanya melakukannya dgn sikap praktis: beli kambing/sapi, kirim ke pembantaian. Tanpa lagi rasa belas dan empati.#q

dan yang #6:

6. Keiklhasan paling dalam ketika berkorban justru ketika kita menghayati bhw kita harus melakukan tindakan yg sebenarnya kejam.#q

Touche! You might've guessed where it's going ;-)

Ya, kedua bagian itu membuat gw memahami mengapa dianjurkan menyembelih qurban sendiri (atau kalau dalam versi modern: hadir saat qurban kita disembelih panitia). Sebab justru itulah makna kita berqurban. Di situ letak keikhlasan kita.

Nabi Ibrahim AS harus melakukan sesuatu yang maha sulit ketika Allah SWT meminta Ismail diqurbankan. Hanya keimanan, dan keikhlasan luar biasa, yang membuat seorang ayah mampu melakukan itu.

Sekarang, kita hanya diminta berqurban ternak, bukan anak. Tapi... apa esensi qurban itu? Hanya agar kita bisa membagikan makanan gratis pada kaum dhuafa? Agar kaum dhuafa dapat merasakan daging meski setahun sekali? I'm sorry to say this... but it sounds very shallow to me :-( Sangat tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Ibrahim AS.

Tapi bagaimana jika kita sendiri yang harus menyembelih qurban itu sendiri? Walaupun tidak sebanding dengan Ibrahim AS, tidakkah kita merasakan suatu konflik yang berat juga? Karena kita harus melakukan sesuatu yang menurut logika kita adalah "kejam" demi sesuatu yang "cuma" kita percaya. Tidakkah hal2 seperti itu yang menguji iman, yang membuat kepercayaan kita goyah mengenai apakah kita sudah melakukan hal yang benar? Sudah percaya pada hal yang benar?

Dan tentu, makna ini menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali, jika kita hanya mengartikannya sebagai kewajiban menyembelih qurban dan memberikan dagingnya bagi kaum dhuafa. Karena dengan demikian proses menjadi tak penting lagi. Merasakan konflik yang membuat Ibrahim AS [mungkin] berada di persimpangan keimanan.

Dengan mudahnya kita akan mengambil cara yang praktis, seperti pada poin #2: kita cuma perlu beli sapi/kambing, antar ke tempat penyembelihan. Biarkan panitia yang menyembelih dan membagikan; sementara kita duduk manis di rumah untuk menunggu sepotong paha kambing yang sudah dibersihkan sebagai bukti qurban kita sudah disembelih. Atau dalam bahasa Goenawan Mohammad: menjadikan hewan qurban "sekedar" komoditi.

So, this essay of his is an eye opener for mine ;-) Mengingatkan gw kembali bahwa it is important to endure the pain. Mereka yang berqurban harus juga merasakan "pain" itu. Psychological pain of doing something "cruel": killing another being.

Karena di situ letak makna qurban itu sendiri ;-)

Makanya, gw ingin mengutip penutup dari kul-twit di atas:

Salah mengatakan orang yg berqurban tak punya hati nurani. Justru intinya bukan menyembelih, tapi menghayati bagaimana berharganya hidup

Mudah2an para penentang ritual qurban dapat melihat hal tersebut juga ;-)

***

Bagaimana dengan gw sendiri? Apakah setelah ini gw akan dengan senang hati datang ke penyembelihan qurban? Ikut merasakan the psychological pain of killing another being? Sorry, I'm still gonna pass... HAHAHAHA... I now understand the importance of slaughtering your own qurban, tapi tetap gw belum mau jadi bagian dari itu. Gw cukup mengubah mindset gw aja bahwa it is necessary.

Lagipula... bukankah yang disuruh berqurban adalah Ibrahim AS? Waktu itu Siti Hajar gak disuruh juga kan ;-)?

Sunday, October 23, 2011

That's What FRIENDZ Are For

Pada Juni 2011, adik2 gw ini menikah. Dan sebagai kakak yang baik, gw membantu menyebarkan pengkabaran online-nya. Pada milis yang selama 7 tahun terakhir ini kami jaga kelestarian dan kemurniannya (iya, meskipun milisnya sudah gak aktif, tapi gw dan jurukunci lainnya masih galak: nge-ban member yang nge-post dagangan atau info gak nyambung lainnya). Serta pada Group FB yang dibuat ketika milis sudah gak happening, sementara FB masih membatasi Private Message hanya bisa dikirim ke 20 orang saja (sementara jaringan pertemanan kami sudah terbentuk sekitar hampir 40an saat itu).

Kabar pernikahan mereka menyebar dengan cepat. Dan sekonyong2, bermunculanlah orang2 tak kami kenal yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar kedua adik gw ini. Beberapa dari mereka mencoba mendekatkan diri dengan gw. Dengan beberapa teman yang juga aktif membantu kedua adik ini.

Tentu... kami senang mendapat teman baru. Gw senang mendapat teman baru. Namun... seiring dengan banyaknya message yang gw terima, gw mulai menyadari bahwa cara pandang kami berbeda.

Perbedaan cara pandang yang paling utama adalah mengenai SIAPA kedua adik gw itu :-)

Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun ini, pasangan pengantin ini adalah adik/teman tersayang. Kebetulan saja mereka pernah happening dalam skala nasional, tapi... intinya mereka adalah adik/teman yang sama dengan adik/teman kami lainnya :-) Namun teman2 baru kami masih melihat pasangan pengantin ini sebagai the living icons. Dua selebriti yang dipuja, dikagumi, dan diketahui detil kehidupan pribadinya

Maka bermunculannya pernyataan2 yang membuat dahi gw berkerut, seperti:

"kapan ya idola kita(nia & adit) bisa muncul bareng di tv lagi"

"Yang punya info ttg mereka tiap harinya ato paling ngak info terbaru dari mereka tolong di bagi2 ama kita di sini ya teman2....makasih"

Hal lain yang juga mengganjal adalah perbedaan pandangan tentang kedekatan kami. Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun terakhir, menjadi "dekat" dengan mereka adalah sesuatu yang alamiah. We're friends, of course we're close to each other ;-) Buat teman2 baru yang masih memandang mereka sebagai idola, ini adalah suatu aspirasi. Bahkan sumber iri. Seperti yang diungkapan salah satu mereka berikut ini:

"seneng y jd mbk maya bsa msuk daftar org spesial di hatinya mbk nia....*pinginn dee* tp syang mbk nia gk kenal ak :("

"wah seneng bgt mba bisa knal k'nia lbih dekat bgt jd iri,hehe.."

Dan komentar2 ini lah yang kemudian mendorong gw untuk menuliskan posting ini :-) Untuk meluruskan padangan2 di atas :-)

***

Apakah dekat dengan mereka adalah sesuatu yang membuat senang? Tentu saja :-) Nia is really a one sweet little creature. Depan/belakang kamera ya anaknya kayak gitu itu: polos, nggak pernah mikir buruk sama sekali, dan malah saking polosnya kadang2 naif :-) Adit? Di balik gayanya yang rame dan sok funky itu tersembunyi laki2 perasa... HAHAHAHA... Sangat intuitif :-) Juga sangat pintar :-) Nggak banyak orang yang bisa langsung "nangkap" penjelasan atau joke gw yang kadang (eh, seringnya ;-)) terlalu belibet. Adit gak pernah kesulitan menangkap langsung ke intinya :-) Personally, buat gw, adalah keasyikan tersendiri ketemu teman yang "nyambung" :-)

Tapi apakah kedekatan ini terbentuk dengan mudah? Semata2 karena kami punya akses dan gampang bertemu dengan mereka? NO! Sama sekali tidak ;-) Kedekatan yang terjalin antara kami semua ini adalah hasil kerja keras, usaha, dan penyesuaian diri selama 7 tahun :-)

Di masa awal2, ketika mereka masih jadi icon skala nasional, tak terhitung friksi antara kami. Seorang teman pernah sangat tersinggung karena Adit yang sedang moody tak sengaja menyepelekannya. Teman yang lain pernah sakit hati karena kepolosan dan tidak panjangnya pikiran Nia. Beberapa teman juga pernah agak sebal karena Nia & Adit tidak melayat ketika salah satu dari kami meninggal dunia. Atau ketika merasa tidak mendapat terima kasih yang pantas setelah apa yang dilakukannya di pesta kejutan untuk ulang tahun Adit.

Salah satu "drama" perseteruan kami pernah gw tulis di sini (ehmmm...)

Tapi seiring waktu kami semua - baik Nia& Adit maupun gw & teman2 lain - belajar menyesuaikan diri. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing2. seiring waktu kami belajar melihat mereka sebagai bagian dari kami. Bukan sebagai sepasang icon yang terpisah dari kami. Belajar melihat mereka sebagai "teman". Belajar menerima bahwa berteman adalah [seperti gw tuliskan pada posting tertaut di atas] "accept and endure any pain for his/her friend". Berteman itu tidak menuntut, tidak berharap something in return... tapi simply... menerima dan ikut menjalani any pain for his/her friend. Termasuk sakit yang disebabkan si teman :-)

Dan waktu menguji segalanya :-)

Sedikit demi sedikit, tirai mulai tertutup bagi Nia & Adit. Mereka yang mengaku sebagai penggemar sedikit demi sedikit tak muncul lagi. Sibuk dengan icon-icon baru yang bermunculan. Sehingga akhirnya tersisa kumpulan yang bisa dibilang 4L: loe lagi, loe lagi :-)

Sebagai perbandingan: puluhan orang hadir di pesta ulang tahun kejutan untuk Adit 3 November 2004 di New York Cafe. Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti Kuis Siapa Berani, mengumpulkan 18 orang untuk peserta aja sulitnya bukan main... hehehe... Dan ketika Nia dan Adit meluncurkan mini-albumnya tahun 2008, dengan band Friendz yang namanya masih Djawa dan susunan personilnya masih beda jauh dari Friendz sekarang, yang mau datang nggak sampai 18 orang :-) Itupun yang dua hasil culikannya Mbak Wiet, ya Mbak :-)?

Tapi ini adalah seleksi alam. Survival of the fittest. Atau tepatnya survival of the strongest loyalty :-) Pada akhirnya yang tersisa adalah kumpulan kecil yang mau ikut susah dengan Nia dan Adit :-) Bukan yang cuma mau menunjukkan kepada dunia bahwa dia pernah dekat dengan Pasangan Favorit AFI-2 :-)

Kami yang tersisa ini yang ikut susah payah mengumpulkan tanda tangan ketika Nia & Adit mencoba peruntungannya di Fourth Monkey, dengan janji akan rekaman jika bisa mengumpulkan 1000 pendukung. Kami yang jumlahnya tidak sampai 18 ini mencoba segala cara untuk mengumpulkan yang mau dicatatkan sebagai pendukung. Hema dari Bengkulu sampai membujuk semua teman sekantornya untuk vote :-) Kalau mereka malas vote sendiri, Hema meminjam password email mereka saja, agar bisa vote :-)

*Pada masa itu, jika Hema diculik oleh hacker, dijamin bubar dunia... HAHAHAHA... Berapa password aja tuh ada di tangan dia ;-)*

FourthMonkey memang belum jadi rejeki Nia & Adit. Tapi kami membukukan sukses, karena dalam kurun waktu singkat melakukan the impossible: dari posisi ke sekian puluh, melejit ke posisi kedua di bawah Barry Likumahua :-) Pada akhirnya hanya Barry yang diproduseri, tapi... kami mendapatkan sesuatu yang tak kalah baiknya: PERSAHABATAN.

***

So, jika sekarang ada teman2 baru yang mengatakan betapa irinya mereka pada kami, atau betapa beruntungnya kami bisa "dekat" dengan kedua "idola" ini, gw hanya ingin mengatakan sesuatu: we EARN it :-) We earn this FRIENDSHIP :-)

Ingin seperti kami? Caranya mudah... :-) EARN it :-) Jangan cuma muncul saat mereka tenar, saat mereka diingat orang. Tapi beradalah di samping mereka setiap saat. Dalam suka dan sedih :-) Dalam tenar dan redup :-)

Dan saat berada di samping mereka, stop treating them like idols. Treat them like friends :-) Berhenti berharap mendapatkan "sesuatu" dari/tentang mereka. Tapi berilah sesuatu pada mereka :-)

In good times or bad times,
I'll be on your side forever more
That's what FRIENDZ are for
;-)

Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)

Wednesday, August 17, 2011

Simple

Terinspirasi oleh seseorang yang lagi senang2nya dengan yang simple, atau simply, hari ini mau nge-post tentang sesuatu yang simple juga ah ;-)

Pertama2, yuk, lihat video tari yang simple ini dulu. Judulnya "Peace". Dikoreografikan oleh Wade Robson, dengan lagu "Waiting for the World to Change" dari John Mayer. Video ini sudah lama, terbitan tahun 2007 kalau nggak salah, sebagai bagian dari acara So You Think You Can Dance musim ketiga. Saking lamanya, sekarang acara itu sudah selesai dengan musim ke-8 ;-)


Pas ditampilkan pertama kali, koreografi ini sempat jadi kontroversi, karena dianggap memprogandakan anti perang padahal Amerika Serikat baru menyerang Iraq. Well... mungkin benar sih, but even if it was... I don't mind. I even agreed with them ;-)

Lho... kontroversi. Propaganda. World to Change. This post has all the wrong keywords for something simple ya... hehehe... Jadi, simple-nya dimana dong?

Hmm... pertama2, koreografinya simple banget. Nggak banyak macem2. Bajunya juga simple banget. Kaos-celana putih dengan sablonan logo peace di depan dan satu kata di belakang. Sablonannya juga dari cat semprot hitam biasa.

Koreografi yang sama ini ditarikan sebagai solo oleh Top 10 Finalist. Masing2 cuma "mengusung" satu kata di kaosnya. Dan... walaupun koreografinya sama persis, latar belakang masing2 finalis yang berbeda membuat detilnya berbeda. Pasha, misalnya, membuat beberapa gerakan agak kaku dengan kaki yang perfectly straights - sesuai latar belakangnya sebagai penari ballroom. Lauren lain lagi: nuansanya agak hip-hop. Neil, membuatnya benar2 kontemporer... dan... the b-boy Dominic Sandoval menutup pose akhir dengan gerakan menyentuh dadanya yang [menurut gw] membuatnya berbau tarian anak gank banget :-)

Gabungkan hal2 di atas dengan judul lagunya: Waiting for the World to Change.... dan di situlah letak simple-nya :-) Change the world could be as simple as that: just do what you have to do with the best purpose in mind. With peace. With honesty. With patience, understanding, trust, hope, and love. Support it with good communication. And don't forget to always have humility. Hasilnya beda2? Nggak apaaa... kalau digabungkan bagus juga kok ;-)

Simple kan ;-)? Se-simple mengatakan, "Wade Robson, I heart you for this!" ;-)

***

Dan karena hari ini negeri tercinta ulang tahun, ke-simple-an ini mungkin juga berlaku untuk "mengubah" Indonesia tercinta ;-)

Me and all my friends
We're all misunderstood
They say we stand for nothing and
There's no way we ever could

Now we see everything that's going wrong
With the world country and those who lead it
We just feel like we don't have the means
To rise above and beat it

So we keep waiting
Waiting on the world country to change
We keep on waiting
Waiting on the world country to change

It's hard to beat the system
When we're standing at a distance
So we keep waiting
Waiting on the world country to change
...

One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world country to change

Selamat ulang tahun, Indonesia ;-)

Sunday, April 17, 2011

Pluralisme Periferal

I love Hanung Bramantyo's movies!

Beberapa di antaranya, seperti Jomblo, memang benar2 gw nikmati. Sisanya? Selalu bisa membangkitkan gairah gw untuk mengulasnya ;-)

Lantas, film "?" bagaimana?

Hmm... film ini juga hebat lah! Buktinya, bisa membuat gw kembali menulis setelah membiarkan blog ini mati suri selama hampir setengah tahun ;-)

Tidak seperti film terakhirnya yang gw ulas ini, setidaknya "?" tidak bikin gw ngantuk. Pencahayaan dan pengambilan gambarnya juga cukup gw nikmati. Tapi... secara keseluruhan... terpaksa gw cuma kasih nilai 3 dari skala 0 - 10. 

Ada dua hal yang membuat kantuk tak sempat mampir di mata gw selama film berlangsung. Yang pertama adalah karena sepanjang film sikap gw berganti2 antara menolak, memahami, mendukung, menolak lagi, memahami lagi, mendukung lagi penfatwaan haram ;-)

Di awal2 cerita, sikap gw adalah menganggap film ini cukup aman. Kalau yang dikhawatirkan adalah degradasi keimanan [Muslim] akibat nonton film ini, rasanya agak jauh. Karakter Rika yang pindah agama menjadi Katholik itu menurut gw sama sekali nggak kuat dan gak inspiratif untuk memotivasi pindah agama. Alasannya pindah agama, tampaknya, cuma karena suaminya kawin lagi. Menghindari poligami dengan masuk ke agama yang mengharamkan poligami (dan perceraian), as stupid simple as that meskipun alasan resminya adalah karena, ".. Tuhan akan menyembuhkan aku".  Nggak perlu lah, film ini diharamkan... hehehe... Cukup bikin sekuelnya aja: tokoh Rika ini menikah kembali dengan seorang pria dan merasa "aman" karena tidak akan pernah dipoligami lagi. Tapi ternyata pria ini pelaku KDRT, dan pembatalan pernikahan yang ditunggu tak kunjung datang.

Plot sekuel yang bodoh? Yaaah... untuk menangkis inspirasi "bodoh" pindah agama gara2 masalah suami-istri, ya ciptakan counter-inspirasi yang sama "bodoh"-nya saja ;-) Gitu aja kok repot ;-)

Sikap gw menjadi cenderung ke pro fatwa haram ketika adegan beranjak ke nasihat si Ustad bahwa it's OK bagi Surya masuk gereja dan berperan menjadi Yesus dalam acara "sakral" umat Katholik: Ibadah Jalan Salib. Hmmm... semasa 13 tahun sekolah di sekolah Katholik, gw juga keluar masuk gereja - meskipun gw Muslim.  I have nothing against the idea of a Moslem entering a church. Tapi... entering a church as the Christ during this devotion is more complicated than that, isn't it? Bagi umat Katholik, Ibadah Jalan Salib itu adalah devosi. Prosesi renungan sengsara Yesus sejak ditangkap hingga wafat di kayu salib. Entering this sacred procession is totally intrusive... and pointless, if you talk about pluralism!

Betuuul... seperti kata Dedi Soetomo yang berperan sebagai Pastor di film itu, "Apa ada keimanan yang runtuh hanya karena sebuah drama?". Tapi pertanyaan saya, Romo, adalah, "Apakah benar Ibadah Jalan Salib itu hanya sebuah drama?"

Gw rasa cukuplah menunjukkan pluralisme dengan kesediaan si Menuk-yang-namanya-Jawa-tapi-logatnya-gak-Jawa-babar-blas itu mengurusi katering di gereja. Gadis berjilbab mengurus katering di gereja, itu sudah suatu bentuk pluralisme. Pun sudah dengan ada Banser NU yang menjaganya. Gak perlu kebablasan dengan menjadikan seorang Muslim berperan sebagai Kristus pada suatu ritual ibadah.

Swear, gw melihatnya ini malah sebagai penghinaan terhadap umat Katholik lho! Mosok sampai untuk ibadah pun mereka harus diintrusi oleh orang lain? Memangnya nggak ada umat Katholik yang bisa berperan jadi Kristus? Memangnya umat Katholik sedangkal itu, hingga harus bayar aktor demi berperan menjadi Tuhannya dalam perayaan mereka sendiri - agar dramanya "bagus"?

*Uhmm... lagian, sejak kapan sih untuk drama di gereja itu pakai casting dan terima orang luar? Setahu gw, ini selalu jadi acara internal deh!*

Gw jadi semakin memahami jika MUI mau mengharamkan film ini ketika adegan Soleh dkk menyerbu restoran tempat Menuk bekerja. Soleh, yang anggota Banser NU, memprovokasi orang2 untuk menyerbu restoran HANYA karena mereka buka di hari lebaran kedua? Hadooooh... Hanung, what a stupid plot! Gw tahu sih ada ormas yang mudah diprovokasi untuk sweeping rumah makan saat Ramadhan, tapi... itu nggak pas ditaruh di konteks lebaran kedua, Mas!

Sweeping saat Ramadhan adalah karena mereka percaya bahwa tidak puasa di bulan Ramadhan adalah dosa. Stupid, maybe, but it is not groundless. Lha, kalau restoran buka di hari lebaran kedua, salahnya apa? Lebaran kedua, lho, Mas, tanggal 2 Syawal. Nggak ada kewajiban kita untuk mengistimewakan hari itu dengan libur/tutup. Tanggal 2 Syawal itu semua sudah kembali ke semula lagi.... malah puasa Syawal aja udah boleh mulai kok! Masalah silaturahmi bisa dilakukan hingga sebulan ke depan. Nggak perlu lebaran kedua libur ;-)

Bener deh! Sengaja atau tidak, Hanung malah mendegradasi any dignity left in Moslem dengan adegan ini. Muslim tidak saja digambarkan sebagai suka kekerasan, melainkan juga "goblok to the max" ;-) Mau2nya diajak nyerbu restoran cuma karena seorang laki2 cemburu, padahal nggak ada dalil/dasarnya dalam agama :-)

***
Hehehe... cukup untuk menjabarkan alasan pertama kenapa gw tetap terjaga selama film. Sekarang kita masuk ke alasan kedua ;-)

Alasan gw yang kedua adalah: selama film gw pingiiiinnn sekali menarik Hanung Bramantyo ke sebuah ruangan kecil, mendudukkannya di kursi, dan.... melakukan tes MBTI kepadanya ;-) Asumsi gw: dia perceiving characteristic-nya [S]ensing banget, nggak ada i[N]tuiting-nya ;-)

Asumsi ini terbangun lantaran filmnya ini jauh panggang daripada api ;-) Maksudnya, pluralisme itu kan isyu yang "dalem". Agar film ini bisa menyentuh hati, menurut gw sih mestinya penggambarannya depth banget. Nggak perlu banyak plot, tapi masing2 plot-nya "dalam". Masih inget film Children of Heaven? Film ini bisa menyentuh justru karena bermain2 dengan konflik dan emosi pemerannya, bukan karena banyak plotnya. Atau contoh lain adalah Paradise Now. Setidaknya, kalau mau bikin film yang plotnya berjejalan kayak pasar, coba seperti Crash. Setidaknya seperti Identity. Atau kalau mau versi Indonesianya, Daun di Atas Bantal

Ah... ya. "Crash". Seharusnya ini jadi referensi yang baik saat membuat film "?". Isyunya pun mirip sebenarnya, antara rasis dan pluralisme. Sayang, alih2 membuat gw keluar gedung bioskop dengan insight baru seperti film peraih Oscar itu, "?" malah membuat gw merasa habis nonton sinetron yang dipadatkan: plotnya kebanyakan, karakter dan plotnya nggak mendalam, dan detil2nya banyak yang mengganggu logika ;-)

Beberapa detil yang mengganggu logika, selain ketika Rika menawari Surya ikut casting drama Paskah, adalah ketika Menuk melarang Surya makan sebelum Jalan Salib selesai, karena, "... Mas, masih puasa!". Sumpah, pingin ngakak gw... HAHAHAHA... Soalnya, setahu gw, puasa pra-paskah itu dilakukan dengan berpantang sesuatu (biasanya daging) pada hari2 tertentu. Jadi, lucu aja kalau ada orang yang dilarang makan, bolehnya nanti kalau sudah selesai acara, karena masih "puasa". Emang loe kira puasa Ramadhan, kalau udah bedug boleh buka? HAHAHAHA...

Lagi, ketika si Menuk nangis2 karena suaminya minta cerai ;-) Ya ampyuuuuunnnn.... yang bisa menjatuhkan cerai suami, bukan? Istri punya hak untuk minta talak cerai karena nggak ridha suaminya sudah menyalahi taklik talak, tapi kalau gak mau cerai juga gak apa2. Jadi... ngapain istrinya jerit2 histeris cuma karena suaminya "minta" cerai? Kalau emang suaminya mau menceraikan, gak perlu suami yang "minta", lageee ;-) Aneh!

Dan yang membuat jidat gw berkerut sepanjang acara adalah: mosok iya, ada restoran sekecil itu punya standar kualitas yang sedemikian tinggi? Memisahkan perlengkapan dan peralatan buat babi dan non-babi sedetil itu kan sama aja seperti punya 2 restoran. Lha, emang restoran ini omzetnya berapa sih sehari, sampai mampu membiayainya? Lagian, dari sisi bisnis, apa iya worth it untuk punya 2 business line yang bertentangan begitu? Emang berapa banyak dalam sehari Muslim taat yang masuk ke restoran itu, sampai dibela2in ada peralatan/perlengkapan khusus?

***
Jadi, jelas kan kenapa gw hanya kasih nilai 3 dari skala 0 - 10? Ide ceritanya menarik, mau menyorot dan mengkampanyekan pluralisme. Tapi eksekusinya benar2 payah-to-the-max deh! Plotnya kebanyakan, penggambarannya lebay.

Terus terang, menurut gw film ini gagal total menggambarkan pluralisme. Film ini cuma menempelkan peristiwa2 fanatisme dan menambahkan peristiwa2 yang bertentangan dengannya. Seolah2 pluralisme adalah antonim dari fanatisme ;-)

Menurut pemahaman gw, pluralisme justru bukan antonim fanatisme. Pluralisme adalah bukti bahwa kita telah melewati batas fanatisme. Ketika seseorang belajar agama, sampai pada penghayatan tertentu dia mungkin menjadi fanatik. IMHO, ini adalah "godaan" dalam belajar agama. Jika orang menyerah dan lantas tutup mata gak mau belajar lagi, maka dia akan menjadi fanatik buta. Tapi kalau dia mau belajar, mau membuka mata, maka tahap selanjutnya akan membuat dia melihat bahwa semua perbedaan itu fana. Bahwa keimanannya menembus perbedaan2 yang ada.

Pesan ini yang gagal ditampilkan oleh Hanung dalam film "?", karena tempelan peristiwa2nya justru menggambarkan orang2 yang belum benar2 mengerti agama. Mereka menafikan perbedaan karena mereka tidak menilai tinggi agama. Bukan karena menunjukkan pluralisme.

Contoh yang paling gamblang adalah tokoh Rika. Jika ia memang memahami agama, jika dia memang mengakui Tuhan itu tak dibatasi agama, dia tidak perlu pindah agama. Dia cukup mendalami agamanya, dan menemukan penyembuhan dalam agama yang dianutnya. Karena semua agama sama ;-) Kalau dia sampai pindah agama, itu justru menunjukkan bahwa dia masih belum bisa melihat bahwa semua agama itu sama ;-) Implikasinya: dia hanya tidak menunjukkan fanatisme, tapi belum tentu sampai pada level pluralisme.

Selama ini Gus Dur selalu disebut2 sebagai tokoh Pluralisme. Gw setuju dengan itu. Menurut gw Gus Dur sudah tahu begitu banyak sehingga sampai pada titik mampu menunjukkan pluralisme. Tetapi even seorang Gus Dur gw yakin tidak akan bertindak sejauh Romo yang menjadikan Surya pemeran Kristus, atau Ustad yang mengijinkan Surya menjadi bagian dari ritual ibadah ;-). Kalau Gus Dur masih hidup, gw gak yakin beliau akan mengijinkan non-Muslim menyembelih kambing/sapi qurban pada saat Idul Adha - meskipun mereka mampu dan mau menyembelih sesuai syariat Islam. Karena... dalam penyembelihan itu ada kandungan ibadahnya. Bukan cuma sekedar menyembelih tanpa makna.

Dan itu yang membedakan sebuah pluralisme dari pluralisme periferal

Sunday, November 28, 2010

Modus Perampasan: Titi DJ Perlu Tas

Kemarin, sepulang mengantar Nara dari kelompok bermainnya di Kuningan, gw terpaksa pulang memutar lewat jalur Menteng - Salemba - Pramuka. Sejak sebelum Hotel Manhattan hingga Terowongan Casablanca banjir, sehingga jalannya kendaraan pamer pen*s. Padat merayap pengen nangis :-p

Jalur yang gw lalui lancar. Bahkan jalan Pramuka lengang sekali. Tetapi nggak lama setelah gw melewati Hotel Sentral, gw menyadari mobil di depan gw jalannya lambat banget. Padahal gw jalan di jalur kanan, jalur yang mestinya paling cepat. Gw, tentu saja, memberi lampu dan klakson, sebelum akhirnya menyalip dari kiri.

Tetapi... beberapa menit kemudian, mobil bernomor DG 99xx FE itu menyalip gw kembali dan menghentikan mobilnya. Beruntung gw selalu menjaga jarak, sehingga gw menghentikan mobil tepat waktu - dengan jarak cukup besar di antara kami. Khawatir pengemudi di depan mengalami kesulitan, gw tidak langsung ambil ancang2 menyalip. Gw menunggu dulu.

Ternyata... menunggu itu adalah suatu kesalahan!

Pengemudi sedan itu, seorang laki2 kekar berwajah sangar, menggebrak2 mobil gw, menyuruh gw buka jendela dan turun dari mobil. Instinktif, gw hanya membuka sekitar 2cm kaca jendela gw; cukup untuk bercakap2, tetapi tidak cukup untuk tangannya masuk.

"Ada masalah apa klakson2 dari tadi, hah?"

"Nggak ada masalah, Pak. Hanya kan Bapak di sebelah kanan jalannya lambat, jadi saya klakson supaya lebih cepat, atau pindah ke kiri"

"Turun loe dari mobil, kalau berani! Gw tonjok loe!"

Sebenarnya gw cukup naik darah dengan kelakuan ini. Tapi, gw menyadari bahwa gw cuma bertiga dengan Nara dan Mbak-nya Nara. Secara fisik, kami bukan lawan yang setara buat laki-laki sangar tersebut. Dan bagaimana kalau ternyata laki2 ini mencelakai Nara, hanya sekedar buat made his point?

Oleh karenanya, alih2 berdebat atau gantian memaki, gw memilih melakukan sesuatu yang "nggak gw banget": minta maaf padahal gw tidak bersalah.

"Kalau begitu saya minta maaf sudah mengklakson Bapak. Maaf ya, Pak, saya nggak bisa turun. Saya sedang bawa anak saya, harus pulang cepat"

"Turun loe!! Kalau enggak, gw kempesin mobil loe!!"

"Saya sudah minta maaf, Pak. Kalau Bapak mau memperpanjang, mari kita bicarakan di kantor polisi saja. Tetapi saya tidak bisa turun di sini"

Naik darah gw mulai bercampur ngeri. Orang ini mabok, stres, atau simply gila sih??? Urusan klakson aja sampai panjang begini. Kalau dia memaki sih gw masih terima ya.... Tapi nyuruh gw turun, apa urusannya?

"Kalau gitu STNK mana! Kasih ke saya!"


Walaupun ngeri dan sulit berpikir jernih, untungnya intuisi gw masih berperan besar menunjukkan sesuatu yang nggak beres, dan membantu mulut memberikan alasan.

"Bapak kan bukan polisi, dan saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Bapak tidak berhak minta STNK saya. Kalau mau lihat STNK saya, saya berikan di depan polisi. Tidak di sini!"


Pria sangar itu makin marah2 dan menggebrak mobil. Sebelah tangannya mengambil dompet di saku belakang. Dan... untuk sesaat, demi membuka dompetnya dia mengeluarkan tangan yang selama ini diselipkan di kaca jendela gw.

It happened for only a second or so, but it was enough for me to close the window. Thank God, for providing me a good reflex.

Begitu gw berhasil menutup jendela, gw segera menyalip mobil itu dan melaju kencang. Tujuan gw hanya satu: kantor polisi! Gw ingat bahwa di perempatan by pass ada kantor polisi, tapi entah kenapa tujuan gw adalah kantor polisi yang agak jauh di Jalan Pemuda. Sambil jalan, gw sesekali melihat ke belakang apakah mobil tersebut mengikuti; tapi karena mobilnya sedan hitam, dan banyak sekali mobil hitam di belakang gw, amatan gw tak terlalu jelas. Mbak-nya Nara bilang mobil itu tampaknya belok kanan di perempatan by-pass, pas di depan kantor polisi, but I can't be really sure.

Sampai kantor polisi, gw parkir mobil gw. Lima menit berlalu, lantas nyaris seperempat jam. Mobil itu nggak datang-datang hingga akhirnya gw memutuskan untuk pulang. So much for intimidating me ;-)

***

Seperti biasa, gw berbagi kisah itu dalam status FB. Semacam curcol aja, maksudnya ;-) But it turns out into an eye-opener experience: tanggapan Zilko membuat gw sadar bahwa ini mungkin suatu upaya tindak kejahatan. Seperti kata Zilko, aneh banget bahwa yang diminta adalah STNK, bukan SIM :) Emangnya gw pelaku curanmor, dimintain STNK segala?

And everything starts falling into place. Plat nomor Maluku Utara yang akan lebih menyulitkan melacak pelaku, kemarahannya yang lebay "cuma" karena klakson mobil, paksaannya agar gw turun dari mobil walaupun gw sudah minta maaf dan menunjukkan bahwa kami hanya 2 perempuan plus 1 balita....

Justru, karena kami hanya 2 perempuan plus balita, orang ini cari gara2 dengan gw. Samar2 gw bahkan mulai ingat bahwa dia menyalip mobil gw sebelum berjalan pelan2 yang mengakibatkan gw membunyikan klakson. Dia memang seorang diri mengendarai mobil itu, tapi... who knows, setelah gw turun dari mobil, menyerahkan STNK, mobil gw akan direbut oleh komplotannya? Bukankah modus operansi yang mirip pernah gw alami juga?

Gw langsung googling, dan menemukan beberapa modus operandi yang mirip. Salah satunya di cerita ini. Korbannya juga perempuan.

Tak henti2nya gw mengucap syukur atas perlindungan-Nya. Hanya atas kuasa-Nya saja gw - yang selalu tegangan tinggi - tak terpancing marah saat itu. Hanya atas kuasa-Nya, intuisi dan refleks gw berjalan tepat saat dibutuhkan.

... dan setelah membaca cerita tertaut di atas, gw sadar ada satu hal lagi yang dapat gw syukuri: cuma atas perkenan-Nya, gw entah kenapa memilih kantor polisi yang jauh, dan memilih tidak turun sebelum mobilnya datang. Tanpa gw sadari, itu adalah keputusan yang tepat: karena membawa si pelaku keluar dari tempat permainannya.

Alhamdulillah, segala puji untuk Allah atas perlindungan-Nya kemarin.

And since everything happens for a reason, there must be a reason why this story happens to a blogger. It's meant that the blogger should tell the story to the world :-)

Inilah kisahnya... agar lebih banyak orang yang tahu bahwa kalau Titi Kamal Anti Cinta, maka Titi DJ Perlu Tas ;-) Hati-hati Di Jalan, Perempuan Berlalu-lintas! Banyak yang mengincar Anda. Bukan hanya malam hari, tetapi juga saat mentari masih bersinar terang.