smrita (Sansekerta) = dikenang; charita (Sansekerta) = cerita; smrita + charita = cerita untuk dikenang ... karena gajah selalu ingat!
Sunday, August 18, 2019
When in Doubt, Learn!
Jadi dengan tenang Ibunya Nara ini membahas tentang konflik mendasar pada kelompok usianya itu, serta menjelaskan bahwa saat usianya memasuki tahap perkembangan selanjutnya konflik itu insyaAllah selesai. Plus menekankan bahwa “kekuatan pikiran” dan “niat” akan membantunya menyelesaikan konflik dan membawanya ke arah hasil yang ia inginkan. Ibunya memberikan Harry Potter & the Sorting Hat sebagai analogi, dimana kekuatan niat Harry untuk masuk Gryffindor berhasil meyakinkan si Topi untuk TIDAK memasukkannya ke Slytherin
Dasar Nara anak ibunya! Tetap saja dia tidak yakin dan bertanya balik, “Memangnya kenapa kalau aku terus-terusan mikir hasil yang aku nggak mau? Apakah akan bisa terjadi?
Ibunya nggak mati gaya, dong! Langsung keluar teori tentang “self-fulfilling prophecy”, dimana hasil buruk yang terjadi seringkali adalah akibat seseorang terlalu memikirkan hal tersebut.
“Contohnya kamu takut tertabrak mobil, Mas. Kamu terlalu memikirkan itu, sehingga sewaktu menyeberang kamu sudah tidak sadar keadaan sekeliling. Nggak lihat deh ada mobil, sehingga tertabrak. Padahal jika kamu nggak mikirin itu, kamu akan lebih hati-hati saat menyeberang”.
Obrolan panjang ini membuat si jejaka kecil lebih tenang, sehingga riang kembali setelah dipeluk ibunya (eheem!)
Nah ... kasus ibu-anak ini kok rasanya paaas banget kalau digunakan untuk membahas pernyataan kontroversial seorang tokoh yang baru-baru ini viral mengenai salib umat Kristiani. Menonton videonya, sebenarnya sang tokoh bisa menjawab si penanya dengan alur yang sama dengan alur saya menjawab kekhawatiran Nara. Cuma konfliknya yang beda ... tergantung usia si penanya.
Semisal usia si penanya adalah 21 - 39 tahun, bisa jadi ini manifestasi konflik “intimacy vs isolation”. Untuk usia yang lebih tua, ini bisa jadi masalah dalam mencapai “kemampuan untuk peduli (care” atau “kebijaksanaan (wisdom)” sebagai capaian nilai yang diharapkan dalam tugas perkembangan selanjutnya. Saya dapat mengajukan beberapa skenario munculnya pertanyaan ini sebagai akibat konflik terkait, tetapi sebaiknya tidak diulas di sini. Kan psikolog tidak boleh punya prejudice. HAHAHAHA ....
Sayangnya mungkin si tokoh tidak pernah belajar psikologi, sehingga tidak bisa melihat dari kemungkinan lain.
Kalau begitu, syukurlah dia berangkat sekolah lagi. Semoga sekali ini wawasannya lebih berkembang sehingga lebih adem dan bijak dalam berbicara dan menjawab pertanyaan di forum.
Referensi:
1. Psychosocial Development Theory (Erik H Erikson)
2. Self-fulfilling Prophecy
NB: gambar tidak ada hubungannya dengan tulisan. Cuma mau pamer kopi cantik yang jarang-jarang gw minum. LOL
Saturday, May 01, 2010
I Want to Ride My Bicycle...
Yup! Gw tidak mencarikannya mobil2an tenaga aki yang banyak dijual di berbagai sentra sepeda maupun mal itu. As usual, selera gw kan vintage... hehehe.... Selalu mencari barang2 yang nggak ada di pasaran ;-)
Ada beberapa alasan kenapa gw ngotot cari sepeda berbentuk mobil. Alasan pertamanya melankolis abis: supaya Nara punya kenangan masa kecil yang manis dengan sepedanya seperti gw :-) Sepeda masa kecil gw dulu juga unik, dan membuat gw banyak berimajinasi. Bentuknya kapal terbang. Ada kursi kecil di atas kabinnnya, dengan roda di bawah kokpit serta belakang sayap. Kalau sudah naik sepeda kapal terbang, gw berimajinasi terbang kemana2. It feels like being on top of the world!Alasan kedua lebih ilmiah... hehehe... gw dan bapaknya sama2 nggak highly value mobil2an tenaga aki. Itu bukan mainan anak2 pilihan kami ;-) Bukaaaan... bukan karena harganya! Toh sekarang mobil2an aki itu harganya nggak jauh beda dengan sepeda biasa. Di Pasar Gembrong dan Pasar Rumput, mobil aki dan sepeda harganya bersaing.
Bukan juga karena faktor keamanan yang menghalangi kami. Mobil2an beraki tersebut sekarang tersedia dengan remote control. Harganya cuma beda 100rb-an kalau pakai remote control ;-) Dengan bisa dikendalikan oleh orang dewasa, tentu keamanan si anak cukup terjamin. Juga terjaminlah nasib mobil2 tetangga yang suka parkir sembarangan di pinggir jalan.
*hmmm... untuk yang kedua ini, gw agak menyesalkan, sebenarnya. Kan jadi nggak ada alasan buat bikin lecet mobil tetangga yang ngeselin... hehehe... oops... ;-)*
Yang jadi pertimbangan kami adalah manfaatnya buat anak. Dengan dikendalikan remote control, dan kakinya nggak harus nggenjot, lantas anak belajar apa? Beda banget dengan sepeda, yang mengasah motorik kasar anak .... selama dibiarkan nggenjot, dan nggak didorong2 doang seperti kebiasaan orang tua sekarang ;-)
Kami makin enggan membelikan mobil2an aki karena Nara sejak kecil punya kaki yang kuat. Dan dia sudah cukup pintar menggenjot sepeda roda tiga warisan kakaknya (yang sekarang udah mulai kekecilan buat dia). Jadi... sayang banget kalau potensi kakinya yang kuat ini lantas dilemahkan dengan mainan "malas" macam ini :-) Siapa tahu kan, kaki Nara bakal jadi mahal seperti kakinya Lionel Messi ;-)
Dengan keputusan mantap bahwa kami ingin membelikan sepeda mobil2an untuk hadiah ultahnya, dimulailah perburuan gw. Gw menyusuri tempat2 berjualan sepeda - baik dalam arti kiasan maupun harafiah ;-) Kiasan, dalam arti menyusuri kanal maya. Harafiah, dengan kelayapan di Pasar Rumput, Pasar Gembrong, dan ITC Kuningan di sela2 waktu istirahat mak-si.
Hasilnya?
Nihil di perburuan harafiah ;-) Gw malah diketawain para penjual di Pasar Rumput dan Pasar Gembrong... hehehe.... Katanya mobil kayak gitu udah nggak jaman ;-) Well, di Pasar Gembrong sih sebenarnya gw nemu mobil2an genjot seperti ini. Harganya juga murah, cuma 150rb dan masih bisa ditawar. Tapi.... bukan sepeda impian gw :-) Nggak cocok buat melatih kaki calon pengganti Messi... hehehe.... Lagian, nggak bisa dipakai di jalanan, karena rodanya plastik :-(
Di Pasar Rumput, ada satu pedagang yang bilang dia punya. Tapi barangnya nggak ada, mesti diambil dulu di gudangnya. Dia mencontohkan sebuah go-kart aki seperti ini, dan mengatakan bahwa sepeda go-kartnya persiiis sama. Cuma beda bermesin vs. tidak bermesin. Tapi... gw buru2 pergi deh! Selain dia tidak bisa menunjukkan barangnya, buka harganya juga nggak masuk akal menurut gw! Mosok, kata dia sepeda go-kart itu harganya cuma 100rb lebih murah daripada yang aki! Katanya, karena body dan bahannya sama, cuma beda di mesin dan bukan mesin doang! Lha, bukannya yang bikin mahal mesinnya ya? Kalau bermesin harganya bisa nyaris 2x lipat? Gw langsung yakin dia nggetok harga.
Lagian, gw kurang naksir sama go-kartnya itu! Rodanya plastik abis, dan cuma ada lapisan karet di tengahnya yang nggak sampai 2cm lebarnya. Udah gitu, lapisan karetnya tipis pula! Deuh, kalau dipakai di jalan raya, roda plastiknya bakal cepat rusak kena aspal!
Jelajah kanal maya lebih membuahkan hasil. Di website-nya Sarana Sepeda, gw nemu go-kart ini. Letaknya di Jatinegara. Gw berniat mau nelepon, tapi bapaknya Nara punya ide lebih cemerlang: dia datang langsung ke tokonya ;-)
Itu go-kart impian, dan... rodanya dilapis karet lumayan tebal dan lebar! Tapi..... stoknya habis! Dan entah kapan bakal masuk lagi :-(
Kata Pak Pedagangnya, kalau minat, silakan mencari di kota2 kecil ;-) Mainan ini nggak banyak masuk di Jakarta, banyaknya di...... Karawang, Cikampek, dan kota2 satelit lainnya :-(
Huh! Hampir tuh dijabanin oleh bapaknya ke Cikampek... hehehe... Untung, salah satu mahasiswa bapaknya kasih tahu bahwa ada mobil sejenis di Pasar Suryakencana, Bogor. Sedikit lebih dekat lah, daripada Cikampek ;-)
Hari Sabtu lalu, akhirnya bapaknya Nara berkelana ke Bogor mencari mobil impian. Dan dasar jodoh, di situ tinggal ada 2 mobil tersisa :-) Satu langsung diboyong bapaknya Nara ke rumah.
Rodanya memang dari plastik, tapi... lapisan karetnya lumayan lebar, dan tebal. Kurang lebih lebarnya 6cm, dan tebalnya 8mm. Lumayan, jadi kalau berkendara di jalan nggak gampang merusak roda. Karena karetnya kena aspal duluan. Yaaah... sebenarnya sih gw berharap dapat go-kart yang rodanya karet mati, seperti punya adik gw jaman kecil dulu. Tapi.... this is the best I can have. Daripada yang di Pasar Rumput kemarin, kan?
Dan... lihatlah tongkrongannya ;-) Nggak tahu mana yang lebih keren: go-kartnya atau my little boy ;-) Isn't he adorable? He looks like a future F1 Champion to me... hehehe... Sementara ibunya sih F10 Champion aja deh, alias sebentar2 mencet F10 kalau lagi pegang kompie... hehehe...Puas dengan hasil pencarian ini, baru gw mulai berpikir: kenapa ya, di Jakarta susah cari mobil2an seperti ini? Demand-nya kurang? Kenapa kurang? Karena nggenjot sepeda kelihatannya kurang keren dibandingkan mobil2an aki? Mobil genjot dianggap kuno, sementara mobil2an aki modern?
Duuuuh.... kalau saja orang2 tua Jakarta tahu betapa berharganya menggenjot sepeda itu. Betapa ada hal2 yang tak tergantikan oleh mobil2an aki pada mobil2an manual seperti ini. Yang jelas, kekuatan kaki dan motorik kasar secara umum lebih terasah dengan mobil2an manual seperti ini. Koordinasi tangan - kaki - mata juga lebih terasah, daripada kalau pakai remote control.
Apa yang ditawarkan oleh mobil2an aki? Fantasi? Imajinasi? Trust me, fantasi dan imajinasi itu juga ada di mobil2an manual ini ;-)
***
Ngomongin sepeda, membuat gw ingin mengutip lagunya Queen: Bicyle Race ;-)
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like
You say black I say white
You say bark I say bite
You say shark I say hey man
Jaws was never my scene
And I don't like Star Wars
You say Rolls I say Royce
You say God give me a choice
...
In a deeper sense, riding "something" should be like what Queen has described in this song: brave enough to speak his opinion. Dan menurut gw, itu didapat kalau si anak biasa belajar bahwa dirinya "in control"
Lha, kalau naik mobil2an aja udah "disetir" orang lain yang bawa remote control, gimana dia bisa belajar bersikap ;-)? Gimana bisa belajar mandiri ;-)?
And so, that's the other reason why we chose this product: to give our son an obstacle, a hurdle, he must master ;-)
There's a lot behind something your kid rides on. Masih mau memilih mobil2an aki ;-)?
Thursday, April 08, 2010
Ad Hoc Moms
that you have to live to fully understand"
(Rachel Weisz, in Reader's Digest)
***
Itu adalah sebuah kutipan di Reader's Digest edisi Maret 2010. Pada edisi bahasa Inggris ada di halaman 112, dan merupakan jawaban Rachel terhadap pertanyaan mengenai bagaimana menjadi seorang ibu mentransformasi kehidupannya. Kata Rachel, tidak ada jawaban yang bisa menggambarkannya, karena menjadi seorang ibu itu begitu unik, tak terbayangkan. Harus dijalani agar dimengerti.
And as a mother of two, I have nothing to say but "Amen" to that... ;-)
Ya, yang namanya jadi ibu itu pengalaman yang sangat unik. Tidak peduli berapa banyak anak yang dilahirkan, menjadi seorang ibu [lagi] adalah pengalaman yang baru. Nggak ada yang namanya "experienced mother", atau "ibu berpengalaman", karena pengalaman nggak banyak gunanya dalam menghadapi masing2 anak ;-)
Itulah pelajaran yang gw dapat dalam beberapa bulan terakhir... hehehe...
Waktu hamil Nara dulu, gw sudah agak jumawa bahwa ngurusin adiknya Ima bakal jadi sesuatu yang gancil ;-) Emang sih, 9 thn jeda itu mungkin bikin gw agak karatan sedikit, tapi.... gw sih yakin yang namanya jadi ibu itu seperti belajar nyetir atau belajar naik sepeda: nggak peduli berapa lama jeda, kemampuan itu nggak akan hilang ;-) Yang gw lupa: anak itu bukan sepeda, ataupun bukan mobil. Jadi, faktor kesulitannya pasti beda2 ;-)
Hari2 pertama gw sudah membuktikan betapa pengalaman nggak ada artinya. Dan... ternyata, semakin hari, semakin terlihat bahwa pengalaman memang nggak ada artinya. Yang paling nyata adalah: dalam gaya pengasuhan untuk menstimulasi kecerdasan.
Gw sudah berencana sejak awal untuk menggunakan lagu anak2 untuk menstimulasi kemampuan berbahasa Nara. Itu cara yang gw lakukan pada Ima juga: menyanyikan lagu anak2 untuk memperkenalkan isi dunia. Bedanya, tidak seperti ketika Ima akan lahir, gw tidak berusaha meng-update khazanah lagu anak2 gw. Gw cukup pede bahwa koleksi gw akan cukup buat Nara. Gw cukup pede punya semua lagu untuk semua menjawab semua keinginantahuan anak kecil tentang dunia di sekitarnya.
Jumawa? Iya sih... tapi..... berapa banyak sih ibu2 yang hafal ketiga bait lagu "Tik-tik-tik Bunyi Hujan" seperti gw ;-)? Lagian, gw kan sudah berpengalaman! Dulu gw selalu punya lagu kok untuk Ima: lagu "Lampu Merah Mobil Harus Berhenti" untuk memperkenalkan lalu lintas, lagu "Kulihat Awan" untuk memperkenalkan awan, dll :-)
Tetapi ... ya itulah! Anak memang bukan mobil atau sepeda :-) Apa yang cukup buat Ima, belum tentu juga cukup buat Nara :-) Seperti juga apa yang cukup buat Ima, kadang menjadi berlebih untuk Nara.
Dalam konteks lagu2 ini, awalnya memang khazanah pengetahuan gw mencukupi. Seperti Ima, Nara cukup senang dinyanyikan lagu apa saja. Baru, setelah Nara belajar bicara, gw kewalahan menghadapi song request-nya :-)
Betapa tidak? Ima tuh dulu selalu request lagu yang dia kenal. Jadi... it was up to me untuk memperkenalkan lagu apa saja, dan itu yang kemudian menjadi referensi lagu yang ingin didengar Ima. Ibaratnya, gw jadi kayak iPod aja deh; bisa di-shuffle atau dipilih, sesuai maunya Ima :-)
Nara punya ide yang berbeda tentang acara mari menyanyi ini. Kalau buat Nara, ibunya ini YouTube! Jadi, dikasih keyword apa aja, lagunya harus ada :-) Kalau bisa malah ada pilihan versinya! Dia sama sekali tidak mau diganti dengan lagu lain; harus lagu sesuai keyword.
Dan susahnyaaaa..... keyword-nya Nara itu bisa apa aja. Semua informasi yang didapat panca indra bisa diminta lagunya. Lihat badak di Animal Planets, ya langsung teriak, "Ibu, nanyi (=nyanyi) badak!" Lihat Mang Min, tukang sayur langganan, ya langsung minta lagu Mang Min. Dengar ibunya mau makan rambutan, ya langsung minta nyanyi rambutan :-)
Awalnya sih, gw masih bisa mencocok2kan keyword dengan database gw. Misalnya aja, kalau dia minta lagu "rambutan", gw bisa pilih antara lagu "Paman Datang" atau "Pepaya Cha Cha". Antara "... dibawakannya rambutan, pisang, ...." atau ".. pepaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku, dan lain2nya..." Nara sudah cukup senang kalau ada kata pilihannya di lagu itu.
Tapi... kalau lagunya udah mulai aneh2 seperti Mang Min, atau Oom Am** (tetangga depan rumah), atau Mbak Yanti (PRT kami), terpaksa deh gw harus berkreasi. Benar2 top of mind song yang harus gw ubah.
Dalam berkreasi inilah gw merasa bersyukur dianugrahi kemampuan [asosiasi] verbal di atas rata2... HAHAHAHA.... Sebab itu membantu banget untuk menyesuaikan lagu dengan request. Untuk lagu "Mang Min", misalnya, ya tinggal gw ubah aja "Paman Datang" menjadi "Mang Min Datang". Asosiasi verbal, karena Mamang artinya Paman. Lagian, cocok banget dong kalau Mang Min si tukang sayur "membawakan rambutan, pisang, dan sayur mayur segala rupa" :-)
Lagu "Mbak Yanti" agak lebih susah... hehehe... Tetapi untungnya gw ingat lagu lama berjudul "Aryati" yang bisa dimodifikasi sedikit jadi, "Mbak Yanti.... dikau mawar asuhan rembulan". Untung Nara nggak suka iramanya; jadi setelah beberapa kali gw nyanyikan, dia kapok minta lagu Mbak Yanti ;-)
Naaah... kalau lagu "Oom Am**", ini sekalian lahan defense mechanism gw terhadap tetangga gw yang ngeselin itu ;-) Tepatnya seperti bahasan Freud dalam The Joke and Its Relation to the Unconscious, ini adalah cara gw coping dengan kebiasaan tetangga gw yang bikin gw bertanduk itu :-)
Tahu lagu "Amri Membolos" kan ;-)? Gw senaaaaanggg banget nyanyi keras2 dengan syair yang gw sesuaikan:
Am** membolos
Kata Bu Guru,
"Jangan membolos,
Menyusahkan Ibu!"
Kesannya sih memenuhi permintaan Nara, tapiiii... sambil nyanyi, yang terbayang di benak gw adalah syair lainnya:
Am** mengklakson
Di tengah malam
Jangan mengklakson!
Ganggu tidur Ibu!
Atau syair lainnya:
Am** memarkir
Depan rumahku
Jangan disitu!
Ganggu parkir Ibu!
Hehehe... daripada gw tiap hari bertanduk melihat kelakuannya, mendingan gw salurkan pada hal yang lucu. Lagian, gw juga udah capek bersikap asertif. Memory tetangga gw itu RAM semua... hehehe... Kalau dibilangin baik2 nggak pernah di-save ke harddisk :-)
Tetapi, lama-kelamaan permintaan Nara makin absurd! Baru2 ini dia sedang senang dibacakan buku sains populer milik kakaknya, yang judulnya "Aduh, Kakiku Berdarah!" Dia senang sekali melihat gambar jantung dan darah di buku itu, karena darahnya dianalogikan dengan bis kota warna merah.
Daaaan.... seperti telah diduga, hobby ini memicu pada sebuah permintaan:
"Ibu.... Nyanyi 'Darah'!"
Nah, lho! Mau cari dimana lagu "darah"? Hehehe.... Top of mind song gw yang mengandung kata "darah" adalah "Darah Muda". Tapi mosok mau gw nyanyikan lagu itu sih? Selain cengkok dangdut gw gak bagus (halah!), kayaknya syairnya juga nggak cocok deh buat anak umur 2 thn :-)
Sekali ini kreativitas gw buntu. Dan pengalaman nggak membantu sama sekali, secara Ima nggak pernah minta lagu aneh2 kayak gini.
Tetapi gw mendapatkan hal baru dari kasus ini: meskipun pengalaman nggak banyak membantu secara langsung dalam menghadapi anak, anak yang sudah kita besarkan sebelumnya bisa menjadi resource untuk mendapatkan insight dan membentuk kreativitas baru. Dalam kasus ini, Ima - si pra remaja yang lagi hobi2nya mendengarkan radio itu - memberikan solusi untuk sesuatu yang membuat gw buntu. Karena... "di radio, dia dengar lagu [berikut ini]":
Indonesia, merah darahku
Putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu
...
Kebyar-kebyar ...
Hehehehe.... that sounds better ;-) Lebih cocok buat anak umur 2 thn. Apalagi ada kata "tulang" yang dia sudah kenal juga dari buku sains lainnya :-) Nggak perlu dangdutan deh gw... HAHAHAHA....
Jadi begitulah, ibu2 sekalian... Yang namanya motherhood itu adalah ad hoc project; setiap anak membawa faktor kesulitannya sendiri, dan perlu tailor-made solution. Pengalaman dan jam terbang belum tentu berperan banyak... hehehe... Yang lebih penting adalah kreativitas, serta mampu memanfaatkan segala resources di sekitar kita... ;-)
Atau kalau mengacu pada kutipan di awal tulisan: motherhood is something you have to live to fully understand ;-)
Saturday, March 21, 2009
Feel like an H
Ya, akhir2 ini memang Nara makin suka head bang. Kalau dulu hanya pada saat sakit dan dipaksa minum obat saja, sekarang setiap ada kesempatan dia menunjukkan kebolehannya. Nggak suka disuruh duduk manis, head bang. Minta digendong Mbak-nya, head bang. Nggak boleh ikut eyangnya, head bang. Pokoknya, dia harus dapat apa yang dia mau dengan cara menunjukkan kebolehannya sebagai headbanger sampai bikin orang ngeri ;-)
Sebagai ortu, kami sih melihatnya sudah mulai tanda2 nggak sehat, nih! Bocah ini harus mulai belajar untuk "mau diatur" bukan "ngatur". Dan mulailah dicanangkan bahwa akan ada waktu dimana dia didisiplinkan kalau menunjukkan aksi head bang.
Kesempatan mendisiplinkan itu datang tadi malam. Gara2 tidur terlalu sore dari pukul 5 sampai 9, Nara segar bugar jam 10 malam. Lha, kami semua kan mau tidur. Dan mulailah Nara pasang aksi karena ditinggal main sendiri nggak mau, tapi tidur juga nggak mau.
OK, that's it, boy! You're gonna learn who the boss is ;-)
Jam 10:30 malam, setelah dia nggak tidur2 juga walaupun sudah menghabiskan 2 botol susu dan digendong Mbak-nya, dia langsung gw "kandangkan" di baby box-nya. Tidak ada juru selamat! Mbak-nya gw usir dari kamar, dan pintu kamar gw kunci. Gw mau kuat2an sama anak gw... hehehe... He's gonna stay in the box until he stops crying. Nggak diam, nggak gendong. Simple policy ;-)
Pengalaman dengan Ima dulu, biasanya cukup 10 menit untuk mendisiplinkan Ima. Paling molor jadi 15 menit. Jadi, gw perkirakan Nara butuh 30 - 45 menit untuk disiplin.
Ternyata?
Sampai 60 menit, Nara belum nyerah juga! Padahal suaranya sudah sampai serak lantaran teriak2 on the top of his lungs dan kakinya pasti pegal karena mencoba memanjat dan menendang box-nya. Terakhir2 dia malah sudah sampai gumoh, setelah tersedak air liurnya sendiri.
Melihat gumohannya, dan mendengar teriakannya yang memilukan (not to mention that it was 11:30pm... half hour to midnight!), rasanya gw udah mau nyerah. Gw ngebayangin tetangga2 di sekitar rumah udah siap2 mau nelfon polisi dengan tuduhan penyiksaan anak... HAHAHAHA... Tapi, gw nggak bisa nyerah! Kalau gw nyerah, dia merasa menang, dan akan mengulangi perilakunya lagi. Worse, kalau gw nyerah, Nara akan mendapatkan pelajaran bahwa dia bisa ngambek untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Dalam hati, gw udah memohon2, "Please dong, Nak, nyerah dong! Berhenti nangis, Nak! Jangan sampai muntah"
Tapi Nara memang anak gw ;-) Keras kepalanya sama persis dengan gw! Gw juga kalau udah punya mau, nggak bisa dibilang enggak. Maju terus pantang mundur, rawe2 rantas malang2 putung ;-) Jadilah, malam itu menjadi pertarungan panjang.
Sambil "kuat2an" sama Nara, satu hal yang terlintas di kepala gw: oooh... gini ya, rasanya orang kalau udah eyel2an sama gw ;-) Mendingan nyerah, daripada babak bundhas (= luka parah) dan belum tentu menang juga.
Akhirnya, gimana caranya gw menang lawan Nara?
Well... I didn't ;-) Akhirnya Nara berhasil "dijinakkan" hanya setelah dikeroyok dua orang.. hehehe... Pada menit ke-75, bapaknya masuk ke kamar and playing the good parent. Luluhlah Nara menerima "negosiasi' dari bapaknya ;-) Jam 00:10 akhirnya Nara menerima tawaran damai, gw gendong, dan tertidur di pundak gw. The bad parent turns into a shoulder to sleep on ;-)
Siang tadi, Nara menunjukkan tanda2 hampir head bang lagi. Begitu melihat gw, dia mengurungkan niatnya. Moga2 selamanya pun demikian, sehingga gw nggak perlu menyiksa dia lagi ;-)
Sebab... satu hal yang membuat gw merasa bersalah jika harus mendisiplinkannya: bagaimana gw harus mendisiplinkan, desensitize a bad action, yang gw tahu banget menurun dari gw ;-)?
Hhhh.... setelah Ima berhasil membuat gw feel like an H, sekarang giliran adiknya yang membikin gw feel like an H ;-) Bedanya, Ima membuat gw feel like a hippopotamus, sementara adiknya membuat gw feel like a hypocrite ;-)
Susah ya, jadi orang tua ;-)?
***
Ngomong2 soal feel like an H, ternyata memang karma selalu menemukan jalannya ya ;-)? Bukan saja Nara yang sukses membuat gw merasa begitu, melainkan juga sebuah baliho yang gw temui di depan Al Azhar Bumi Serpong Damai tadi pagi ;-)
Inget celaan gw pada poster2nya caleg di sini ;-)? Well, setelah mencela2, ternyata......
... paman gw sendiri juga memajang pas fotonya yang segede gaban di BSD! Duh, jadi nggak enak... HAHAHAHAHA....
Thursday, November 13, 2008
Wednesday Night Fever
Sembilan tahun menjadi ibu, gw masih bisa jumawa mengatakan bahwa kutukan Ibu tidak terbukti ;-) Ima, my sweet little girl, nggak pernah macem2. Nggak keras kepala seperti gw, atau tepatnya tidak sekeras kepala gw. Masih nurut deh dijajah sama ibunya ;-) Mungkin karena temperamennya Ima lebih kalem, kayak bapaknya ya? Makanya nurut sama gw. Lha, biangnya aja (baca: bapaknya) nurut sama gw, apalagi cindilnya ;-)
But the day Nara was born, I knew my karma has come... ;-)
Belum genap 4 jam umurnya, Nara sudah menunjukkan kekeraskepalaannya dengan memancing keributan di kamar bayi. Nara menangis sekeras2nya, dan menolak untuk diam apa pun upaya yang dilakukan si suster penjaga, sehingga semua bayi kaget dan ikut menangis. Solusinya? Nara buru2 dilarikan ke kamar gw!
Itu cerita di balik layar mengapa suster memaksa gw menyusui Nara jam 12 malam! Padahal, gw masih setengah sadar setelah dioperasi, dan lazimnya bayi bisa survive beberapa hari tanpa ASI karena masih menyimpan sisa makanan dari plasenta. Rupanya ada lobster di balik mashed potato... hehehe...
Makin hari, keras kepalanya Nara makin kelihatan. Dan puncaknya adalah pekan lalu, tepatnya Rabu malam Kamis. Gw menyebutnya Wednesday Night Fever ;-)
Disebut begitu, karena Rabu malam Kamis itu Nara memang kena demam. Malam sebelumnya dia memang sudah nggak bisa tidur karena tidak enak badan. Badannya sumeng, alias hangat. Tetap gw tinggal ke kantor karena tidak parah, setelah memberi instruksi memberikan obat penurun panas. Tapi... jam 6 sore Eyangnya telepon dengan panik karena kini panas Nara mencapai 39 derajat Celcius, dan beberapa kali muntah.
Malamnya, setelah mendapat obat dari Pak Dokter, gw jadi sedikit lebih tenang. Bukan karena panasnya turun, tapi karena gw jadi tahu kenapa seharian Nara muntah. Tampaknya bukan karena mual seperti yang gw khawatirkan (catatan: panas dan mual adalah gejala yang selalu gw rasakan selama 3x kena demam berdarah ;-)). Ternyata... muntahnya Nara adalah karena... keras kepala nggak mau menelan obat! Setiap kali diberi obat, Nara langsung melancarkan aksi head banger! Kepala dibanting ke atas ke bawah sekuat tenaga. Jelas aja langsung muntah... hehehe...
Jadi, cocok kan, kalau dibilang Wednesday Night Fever? Sebab, selain emang kena fever, aksinya Nara juga bak John Travolta di Saturday Night Fever... hehehe... Cuma kalau John Travolta musiknya disko, Nara musiknya techno ;-)
Besoknya, Mbak Pengasuhnya yang mati akal, direstui oleh ibunya Nara yang gak kalah mati akal karena semalaman obat tetap nggak berhasil masuk, mengambil langkah pemaksaan. Mulutnya Nara dipaksa terbuka, obat dimasukkan melalui sendok, dan rahangnya dikatupkan secara paksa juga dengan posisi setengah tengadah. Cara ini duluuuuu berhasil untuk Ima.
Buat Nara? Ya nggak berhasil! Dengan keras kepala dia menahan obat di mulutnya, untuk disemburkan setelah rahang tak lagi terkatup! Percobaan kedua, dengan menahan rahang lebih lama, juga nggak berhasil ;-) Memang percobaan kedua itu berhasil membuat Nara terpaksa menelan obatnya, tapi.... dasar keras kepala, dia langsung memaksa tenggorokannya memuntahkan lagi obat yang masuk.
Dengan putus asa, gw menatap lemari obat. Eeeeh... untung, gw ingat masih menyimpan sebuah medicine dispenser. Yang soft tip, tapi soft tip-nya sudah gw buang karena leleh. Iyaaaa.... lelehnya juga karena inkompetensi gw mengurus barang2 bayi... hehehe... karena medicine dispenser ini gw rebus dalam rangka sterilisasi ;-) Barangnya persiiis seperti di bawah ini, cuma beda warna aja. Punya Nara warnanya biru muda, bukan hijau-kuning-ungu begini.
Gambar dipinjam dari sini
Gw coba memberikan obat melalui medicine dispenser ini. Disemprot sedikit ke arah pipi seperti petunjuknya. Eh! Berhasil! Karena cuma sedikit, ternyata Nara mau saja menelannya. Nggak terlalu sakit hati, rupanya, karena nggak dipaksa2 mengatupkan rahang ;-)
Karena soft tipnya sudah gw buang, gw gak tega menggunakan medicine dispenser ini lagi. Jadi, begitu gw melihat respons positifnya Nara, gw buru2 ke toko bayi beli medicine dispenser baru. Yang model soft tip nggak ada, adanya yang seperti di bawah ini.
Kalau yang ini gambarnya dari sini
Tadinya gw agak ragu beli yang model ini. Selain bentuknya sama dengan medicine dispenser yang dipakai Ibu buat kucing2nya (agak nggak terima gw, Nara pakai barang yang sama dengan kucing... hehehe...), gw juga khawatir melihat ujungnya yang besar dan tidak lembut. Apa nggak susah memasukkan benda sebesar dan sekeras ini ke mulut Nara dan berharap dia tidak berontak? Apalagi, instruksinya menyebutkan bahwa fungsi bidang datar itu untuk menekan lidah. Walah! Bisa ada sequel dari Wednesday Night Fever nih!
Tapi karena nggak punya alternatif lain, terpaksa gw beli deh. Coba2. Ternyata.... hasilnya menggembirakan! Nara mengira medicine dispenser ini adalah teething ring. Jadi dia nggak masalah lidahnya ditekan sedikit, malah dengan semangat menggigit2nya. Menggigit medicine dispenser-nya, bukan menggigit lidah ;-) Alhasil, dengan masuknya obat, besoknya Nara sudah sembuh.
Hehehe... ternyata, masih bisa juga gw "memaksakan kehendak" pada bayi keras kepala ini. Thanks to the best innovation for the entire human race bernama medicine dispenser ini ;-) Dan secara khusus mengenai produk yang ini, gw senang karena bisa direbus tanpa jadi leleh ;-) Biar deh bentuknya sama dengan yang dipakai kucingnya Ibu, tapi keuntungannya banyak ;-)
*OOT buat teman yang nanyain cara ngasih obat ke binatang kesayangannya: yang sudah terbukti sih medicine dispenser ini berhasil dipakai untuk kucing. Jadi mestinya untuk anjing juga bisa. Tapi kalau untuk binatang yang lebih besar, sapi misalnya, apalagi gajah, nggak tahu juga ya apakah bisa berhasil ;-)*
Satu masalah teratasi. Satu "hukum karma" terlewati. Tapi... tetap saja gw jadi was-was. Mulai deh gw menghitung daftar dosa yang pernah gw lakukan sebagai anak kecil dulu... hehehe.... Dan bersiap2 melihat history repeats itself pada Nara. Hmmm.... let's see what's in store for me:
- Umur 3 thn, nyemplung ke kolam kotor di Senayan, gara2 pingin jalan di air seperti bebek.
- Umur 4 thn, mendeklarasikan diri mau berhenti sekolah karena bosan pelajarannya cuma nyanyi dan main2 melulu (padahal gw udah lancar membaca sejak umur 3,5 thn). Perlu beberapa hari bagi Bapak & Ibu, serta seorang Budhe yang Psikolog Anak, untuk membujuk gw kembali ke sekolah ;-)
- Umur 8 thn, kelas 2 SD, gw kabur dari rumah naik sepeda gara2 dimarahin Ibu. Niat gw mau berkelana.. hehehe... Ulah gw sempat bikin semua orang panik, Ibu naik becak sesorean mencari gw, dan Bapak mencari gw dengan mobil ;-)
- Umur 9 thn, gw lari2 di atap rumah tetangga mengejar layangan putus. Rumah gw kan kompleks tuh, jadi atapnya saling bersinggungan. Dari atap rumah gw, gw bebas lompat ke atap tetangga, dan dengan asyiknya gw ngejar layangan putus dari atap ke atap. Tak kurang dari 10 rumah gw injak atapnya, dan Bapak kerepotan menerima protes tetangga.
Itu dulu ya, daftarnya... hehehe... Empat aja gw udah keburu ngeri... HAHAHA... Kayaknya kudu sungkem minta ampun sama Ibu & Bapak deh... hehehe...
Tuesday, July 29, 2008
Imunisasi Penyedot Dana [bukti] Ibu Sayang Pada Anak
Dalam dunia kesehatan balita, singkatan itu memang benar2 ada. Namun kepanjangannya tentu berbeda. IPD adalah singkatan dari Invasive Pneumococcal Disease. Sesuai berbagai artikel ini, IPD adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (Streptococcus pneumoniae). Serangan infeksinya sangat cepat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasive), serta dapat menimbulkan meningitis (radang otak), pneumonia (radang paru), hingga infeksi darah atau radang telinga akut.
Lho, meningitis? Pneumonia? Kalau begitu, apa bedanya dengan HiB, Haemophilus influenzae type b? Virusnya beda, walaupun akibatnya bisa sama dan sama2 masuk melalui saluran pernapasan atas.
Jadi, walaupun bayi sudah mendapat imunisasi HiB, tetap disarankan mendapatkan imunisasi IPD. Disarankan banget... karena IPD ini bisa muncul dalam bentuk simtom2 yg dianggap nggak berbahaya. Simtom Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) biasa, yaitu batuk, pilek, dll.
Jaman Ima bayi dulu, IPD ini belum happening ;-) Gw nggak punya pengalaman sam-sek dengan vaksin ini. Tapi, karena dokternya Nara juga dokter anak yang ngurusin Ima sejak lahir, gw sih percaya2 aja sama rekomendasinya. Ditanya mau nggak Nara divaksin IPD (yang notabene bukan vaksin wajib), gw sih hayoook aja. Nggak nanya lebih lanjut. Gw pasrah bongkokan pada Pak Dokter ini ;-)
Well.. vaksin ini memang mencegah ISPA pada bayi. Tapi.. ternyata ada "efek sampingnya". Efek sampingnya adalah: membikin ibunya kena ISPA temporer ;-) Yep! Gw langsung sesak nafas, tersedak, dan susah menelan begitu disuruh bayar ongkos imunisasi ;-)
Yak! Kesalahan bukan pada layar monitor Anda, Saudara-saudara ;-) WYSiWYG ;-) Vaksin 0.5ml itu harganya satu jeti lebih, bow! Di luar ongkos dokternya ;-)
Dan yang lebih bikin keselek lagi, bow, vaksinnya ini berulang 3x setiap 2 bulan sekali.. hehehe... Serta 1x lagi booster di usia sekitar 15 bulan ;-) Do your math!
Pffff... moral of the story, saudara-saudara, adalah: teliti sebelum membeli ;-) Terutama telitilah jumlah digit harganya ;-)
Setelah tersedak di depan kasir, gw sempat browsing ke RS-RS lain, sekalian ke internet. Takutnya, harga segitu cuma di rumah sakit tertentu aja. Tapi... ternyata, harganya juga beda2 tipis di mana pun.
*Gw mulai bertanya2... dulu tulisan di atas pintu kamar bayi di RS tuh apa ya? Beneran tulisannya "Nursery"? Atau... jangan2 Lasciate ogne speranza, voi ch'intrate, seperti di gerbang inferno ;-)*
Emang sih, vaksin ini nggak wajib. Baca di internet, banyak juga ibu2 yg nggak mau ambil imunisasi ini. Justifikasinya: penelitian tentang IPD ini kan di luar negeri, jadi kumannya belum tentu sama. Hmmm... bener juga sih. Tapi.. kalau gw sih ambil aman aja! Siapa yang jamin juga vaksin yang dikembangkan di sana tidak mempan buat vaksin di sini kan?
Jadi... yaaah... kesimpulannya: demi anak, samudera kusebrangi, gunung 'kan kudaki, apalagi cuma bayar imunisasi. Yang lain dipangkas lagi, buat bayar imunisasi. Bubye DVD bajakan, bubye buku2 yg harganya mahalan (hmm... gw jadi bertanya2: jangan2 nyebrangin samudera dan mendaki gunung lebih gampang ya ;-)).
***
Hehehe... beberapa hari lalu ada yang nyebut2 Goin' to the Bank ;-) Waktu pertama kali dengar, gw lupa lho bahwa itu salah satu lagunya grup lawas The Commodores ;-) Cuma ingat pernah ada lagu berjudul itu. Maklum, gw lebih suka Thank You, yang ternyata kalah ngetop sama Three Times a Lady ;-). Thank You itu lagu jaman gw bangeeeet... iya kan, Na ;-)?
Anyway... kayaknya lagu Goin' to the Bank itu cucok sekali untuk ilustrasi musik entry ini.. hehehe... Yang mau sing-along monggo lhooo... ;-)
He knows I want him
He knows I need him
He knows he got my love.
But I'm apprehensive
He's so expensive, boy!
...
Goin' to the bank
He got me goin' to the bank.
He keeps me runnin' to the bank
He got me
Got me.
...
"Can I help you today?"
"Yeah, I'd like to make another withdrawal"
"Again?"
"Yeah, again"
"Well, as you know by now, there is a substantial penalty for early withdrawal"
Now I'm afraid to see what tomorrow brings.
...
If love is just a big charge account
Why'd it have to be mine?
Lirik asli ada di sini ya ;-)
So... jelas kan, kenapa gw harus kerja? HAHAHAHA... Kalau sekarang ada yang nanya, buat apa sih gw kerja? Jawabannya jelas: buat bayar biaya imunisasi anak ;-)
Tapi.. buat yang belum punya anak, atau malah yang belum nikah, jangan jadi jiper punya anak ya ;-) Parenthood bukan inferno cuma mirip purgatory aja kok. Kan tinggal dicanangkan saja sejak sekarang:
Bing, beng, bang, yuk, kita ke bank!
Bang, bing, bung, yuk, kita nabung.
Tang, ting, tung, hey, jangan dihitung
Tiap bulan tahu-tahu dapat untung
Dari kecil kita mulai menabung
Sudah dewasa hidup beruntung
Mau k'liling dunia ada uangnyaAtau untuk membuat istana
Atau BAYAR IMUNISASI-nya
Jaman Tante Titiek Puspa bikin lagu ini, harga2 belum mahal. Imunisasi juga paling BCG doang, kalee. Jadi.. nabung tuh buat bikin istana ;-). Kalau sekarang mau bikin istana sih kudu nabung sampai mati, reinkarnasi, nabung lagi, baruuuuu bisa bikin istana ;-)
Thursday, June 19, 2008
ASI itu Mahal, Jenderal!
*Gw sadar bahwa posting ini akan membuat Umminya Ankaa menjitak gw, lantaran dianggap sejenis kampanye anti-ASI ;-)*
***
Minggu ini gw menemukan pengetahuan baru: ternyata, di republik ini, harga ASI bisa jadi sama mahal (atau bahkan lebih mahal) daripada susu formula ;-)
Ceritanya, minggu lalu daerah rumah gw kena pemadaman listrik. Entah bergilir, entah tidak direncanakan. Yang jelas, tiba2 mati jam 9:00 pagi, dan sampai hampir jam 11:00 belum nyala lagi. Yang bikin panik gw tentunya adalah timbunan ASI di freezer. Memang sih, menurut petunjuk dari berbagai situs yang dapat dipercaya, ASI itu punya daya tahan cukup baik. Dalam suhu ruang bisa tahan 4 – 5 jam. Dalam kulkas bisa tahan 24 – 48 jam. Dalam freezer bisa tahan hingga 3 bulan. Dan.. dalam deep freeze bisa tahan hingga 6 bulan.
Menurut situs2 itu juga, kalau mati lampu 2 jam aja sih nggak apa2... selama freezer tidak dibuka, ASI tetap beku dan tidak turun kualitasnya. Yang perlu diwaspadai adalah kalau ASI-nya cair, sebab.. sekali ASI beku mencair, haram hukumnya untuk dibekukan lagi. Anti-oxidantnya sudah hilang, dan malah berbahaya untuk bayi.
Naah.. berhubung sudah mati selama hampir 2 jam, tentu gw mulai panik akan kelangsungan pasokan makan Nara tersebut. Dalam kurun kurang dari 2 bulan ini, gw sudah berhasil mengumpulkan logistik sebanyak hampir 3 liter, yang dimasukkan dalam kantong2 es mambo dalam satuan 60ml – 120ml (tergantung produksi yg terkumpul). Kalau sampai cair, rugi bandar dong!
Maka langkah2 penyelamatan ASI segera dijalankan ;-)
Beberapa hari setelah Nara pulang dari RS, gw memang sudah menyusun Standard of Procedure penyelamatan ASI ;-) SOP itu disusun lantaran kena pemadaman listrik juga. Waktu itu memang ASI yang terkumpul belum banyak, baru sekitar 400ml, tapi.. secara gw ini kikir dan gak mau rugi, langsung aja deg2an ngebayangin harus membuang modal sebesar 400ml itu. Langsung bikin Plan A sebagai berikut:
1. Pasrah menunggu hingga kapan listrik menyala lagi
2. Jika listrik menyala, TAMPUNG ASI beku yang terlanjur mencair dalam satu botol untuk diminumkan kepada Nara sesegera mungkin
3. Sisanya, yang masih beku, dimasukkan kembali ke dalam freezer.
Tapi, setelah krisis berlalu, gw mulai memikirkan Plan B. Sayang dong kalau tiap kali ASI yang sudah susah payah disimpan harus dibuang sebagian? Apalagi kalau listriknya sering mati. So.. Plan B yang gw susun adalah sebagai berikut:
1. Blue Ice harus selalu dibekukan di freezer.
2. Manakala listrik sudah mati selama 1 jam 45 menit, segera masukkan ASI ke dalam cooler box bersama blue ice,
3. TITIPKAN KE FREEZER yang tidak kena pemadaman listrik
Beruntung cooler box dan blue ice gw, yang gw beli 9 thn lalu saat masuk kantor lagi setelah maternity leave, masih berfungsi dengan baik. Mungkin karena mereknya Coleman.. hehehe.. kata Umminya Ankaa yang hobi kampanye ASI ini, merek itu memang yahud ;-) Dan iya, memang di toko2 sekarang susah banget menemukan Coleman ;-)
Beruntung juga, ada lokasi penyelamatan ASI yang dekat dengan rumah: Warung Ayam Taliwang “RINJANI” milik adik gw ;-) Jaraknya kurang dari 4km dari rumah, atau kurang dari 10 menit perjalanan dengan mobil (kalau macet jadi 15 menit sih ;-)). Dan.. karena gardu listriknya beda, besar kemungkinan warung tersebut tidak mati listrik secara bersamaan dengan rumah kami.
Jadi begitulah!
Akhirnya Plan B ini terlaksana minggu lalu. Setelah terjadi pemadaman listrik, ASI segera pindah ke warung Oom-nya Nara. Disimpan bareng tumpukan ayam beku .. hehehe.. tapi nggak papa, kan kompartemennya beda ;-) Baru diambil lagi jam 17:30, setelah listrik menyala. Krisis teratasi dengan baik!
Tapi.. kemudian.. timbul satu masalah baru ;-)
Ternyata, adik gw nggak punya genset di warungnya. Baru niat beli, tapi belum kesampaian. Sementara.. ada kabar burung bahwa minggu2 depan akan terjadi pemadaman listrik bergilir lagi. ADA KEMUNGKINAN SELURUH JAKARTA TIMUR MATI LISTRIK, yang artinya perbedaan gardu antara rumah dan warung adik gw nggak akan bermanfaat.
Terpaksa bikin Plan C: beli genset untuk dipasang di rumah ;-)
Begitulah... ;-) Gw mulai browsing internet dan jalan2 ke ACE Hardware hendak melihat2 keramaian yang ada harga genset. Sekalian melihat2 harga deep freeze. Maklum, produksi sudah mulai banyak, sampai2 daging dan ikan nggak kebagian tempat di freezer ;-) Dan inilah perkiraan harga Plan C gw:
Harga genset 1.500 watt + pemasangan | Rp 3.600.000 |
Harga deep freeze 100lt | Rp 1.400.000 |
Bensin untuk genset 15lt | Rp 90.000 |
Program ASI Eksklusif & Kesejahteraan Nara | Priceless! |
Hehehe.. jadi ingat iklannya Mastercard nggak? There are some things money can’t buy. For everything else, there’s Mastercard ;-)
Hanya saja.. jargonnya sedikit berbeda: there are some things money can buy. For everything else, just be reasonable and rational ;-)
Iya.. gw pikir nggak rasional kalau harus mengeluarkan Rp 5.090.000 untuk investasi 4 bulan.. hehehe.. ASI Eksklusif kan sampai 6 bulan, alias 4 bulan dari sekarang. Setelah itu, Nara sudah makan makanan pendamping. Artinya, kalau Nara sudah 6 bulan, gw nggak perlu terlalu khawatir kehilangan ASI, karena bisa diganti makanan lain sementara.
Nah, kalau untuk investasi 4 bulan aja gw mesti keluar Rp 5.090.000, berarti kan nilai investasi gw sebulan Rp 1.272.500? Kalau beli susu formula termahal yang kemarin gw lihat, Morinaga BMT (yang premium), bisa dapat 11 kaleng yang 800gr. Siapa yang butuh 11 kaleng susu per bulan? Emangnya Nara cowok metroseksual yang suka mandi susu? Hehehehe..
Itu sebabnya gw gak jadi beli genset ;-) Dan.. mungkin itu sebabnya si bayi di emperan stasiun Tanah Abang minum susu formula, nYam ;-). Ibunya nggak sanggup beli genset dan freezer ;-) Jatuhnya lebih murah minum susu formula.. HAHAHAHAHA...
So, nambahin kampanye ASI Eksklusifnya nYam: mestinya PLN juga diingatkan untuk segera meningkatkan produksi listrik. Biar nggak pemadaman bergilir melulu ;-) Pemadaman listrik bergilir itu merupakan bentuk kampanye anti-ASI eksklusif ;-)
Sunday, June 15, 2008
How Deep is Her Love?
"Ibu, aku udah pesan kue susu sama Adela. Mamanya Adela pinter deh bikin kue susu. Rasanya enaak deh. Aku pesan buat Ibu. Harganya 5 ribu"
"Aku nggak jajan apa2 hari ini. Uang jajanku kupakai buat bayar kue susu pesananku yang buat Ibu. Kuenya baguusss deh, Bu, bentuknya es krim. Nanti di rumah aku kasih Ibu"
"Ini, Bu. Kue susu bentuk es krim-nya. Enak lho...!"
"Ini kue bentuk es krim atau bentuk wafel sih, Mbak? Atau seperti wafel-nya AW ya, yang dimakan pakai es krim di atasnya?"
"Bukan, Ibu. Itu bentuk es krim. TAPI TINGGAL CONE-NYA aja. Tadinya di atas cone-nya ada es krimnya, warnanya pink, kuning, sama putih. Tapi sudah kumakan."
"Iya, tadinya aku cuma mau makan choco-chip yang ada di es krimnya aja. Tapi susah nyopotnya. Jadi kumakan es krimnya"
Dua ekor kelinci berebut sepotong roti
Minta tolong kepada kera
Roti dibelah menjadi dua
Ditimbang-timbang berat yang mana
Berat yang kiri, digigit
Berat yang kanan, digigit
Lama-lama rotinya habis
Dua ekor kelinci lalu menangis
"Tapi nggak apa-apa kan, Bu, tinggal cone-nya? Kan cone-nya masih gede"
***
Ingat cerita kanak-kanak tentang seorang raja yang bertanya pada putri-putrinya tentang sedalam apa cinta mereka kepadanya? Para putri berebut menganalogikan betapa besar cinta mereka kepada ayahnya. Ada yang bilang seluas samudera, ada yang bilang seindah permata yang paling mahal, dll. Hanya putri bungsu yang mengatakan: cintaku kepada ayah sebesar sebutir garam ;-)
Yaah.. seandainya gw si raja, dan Ima si putri, maka mungkin jawabannya: cintaku pada Ibu sekenyang perutku ;-) Bahasa puitisnya: Cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak selama perut kenyang ;-) Atau... bisa juga: perutku kenyang ibu disayang, perut tidak kenyang kue buat ibu melayang ;-) Hayooo.. ada yang tahu peri[h]bahasa aslinya nggak ;-)?
Tapi nggak apa2, darling Ima ;-) Bukan besar kuenya yang menunjukkan rasa sayang, melainkan kesediaan nggak jajan demi memesankan sebuah kue buat ibunya ;-). Kerelaannya nggak jajan selama sehari itu yang menunjukkan rasa sayang. Rasa sayang yang besar sekali kan ;-)? Sampai rela [berniat] berlapar-lapar sehari ;-)
***
BTW, soal rasa sayang ada juga cerita tentang rasa sayang ibu pada Nara ;-) Peribahasanya: cinta ibu sebesar rela nggak konsentrasi nonton Jerman, cinta anak semoga tidak sepenggalan ;-)
Thursday, May 08, 2008
Nine and [minus] a Quarter Years
Kalau deja vu, pasti udah pada tahu artinya ya? Sensasi pernah berada dalam suatu keadaan yang sebenarnya belum pernah dialami. Tapi kalau jamais vu, mungkin ada yang belum tahu. Jamais vu adalah antonim dari deja vu. Artinya: sensasi BELUM pernah berada dalam suatu keadaan yang sebenarnya pernah dialami. Ada hubungannya dengan amnesia, meskipun tidak semua jamais vu disebabkan atau berkaitan dengan amnesia.
Nah.. being a new mother again after nine and [minus] a quarter years, membuat gw mengalami beberapa jamais vu ;-) Merasa tidak mengenali keadaan2 yang sebenarnya – gw tahu pasti – sudah pernah gw alami ;-)
Jamais Vu #1: Sibling Rivalry
Gw dan adik gw beda usianya cukup jauh: 5 thn. Seingat gw, dan boleh di-cek ke ibu juga, gak ada sibling rivalry sama sekali terhadap adik gw waktu dia bayi. Waktu adik gw udah agak gede sih kita emang gak cocok.. hehehe.. suka berantem ;-) Tapi.. bukan lantaran sibling rivalry. Gw sih cool abis pas punya adik ;-) Sayaaaanggg banget sama adik bayi gw. Saking sayangnya, gw pernah nilep bahan prakarya dari sekolah.. hehehe.. Waktu itu gw masih TK, dan bikin prakarya topi dari sejenis mangkok plastik. Bahannya dari sekolah. Karena sayang adik, dan pingin bikin buat adik, gw nilep satu bahan dari sekolah. Ketahuan deh.. hehehe.. gw sempat disetrap sama Bu Wanda, guru TK gw. Tapi kemudian, setelah mendengar alasan gw “mencuri”, gw dinasihati bahwa, “Sayang adik itu boleh, tapi mencuri tidak boleh. Untuk adik bisa dibuatkan dengan bahan lain, seperti tutup botol sirup yang ada di rumah.”
Berdasarkan pengalaman itu, gw haqqul yakin Ima nggak bakal sibling rivalry terhadap Nara. Apalagi kan Ima ingin sekali punya adik, dan.. sudah lebih gede daripada gw waktu punya adik dulu.
Ternyata salah, bow! Beda usia 9 tahun minus 2 bulan tidak menghilangkan kemungkinan sibling rivalry ;-). Cuma bentuknya aja beda.
Sibling rivalry-nya Ima memang tidak penuh kekerasan seperti anak2 yang lebih muda. Lebih ke bentuk seeking attention yang makin menjadi2. Dan karena dia juga sudah lebih besar, defence mechanism yang muncul lebih berupa reaction formation: mengubah kecemburuan menjadi opposite reaction, dengan luar biasa sayang pada adiknya. Habis deh, adiknya tiap hari diciumi dan maunya semua pekerjaan mengurus adik dikerjakan oleh Ima ;-)
Tapi tetap kelihatan bahwa sebenarnya dia nggak cool, karena tetap terlihat cemburu. Seperti misalnya: menjadi lebih sensitif kalau gw salah manggil, atau kalau gw kebanyakan nggendong Nara. Dan beberapa cerita lama gw pun backfire, seperti ketika Nara gw gendong setelah menangis, Ima agak marah, “Katanya dulu ibu tega mbiarin aku nangis biar nggak manja, kok sekarang Nara digendong? Biarin aja dia nangis, biar nggak manja!”
Yaah.. gw baru sadar, dulu gw bisa cool karena emang gw kan ‘anak bapak’ ;-) Jadi nggak terlalu terpengaruh ketika ibu menuangkan seluruh perhatian buat adik bayi. Gw cuek aja.. hehehe.. Beda dengan Ima yang udah jadi my best buddy selama 9 thn. Yang biasa gw temani tidur, dan ngobrol sebelum tidur. Tentu buat Ima lebih ‘berasa’ ketika ada bayi yang menyedot perhatian.
Awalnya gw agak2 mati angin juga menghadapi jealousy-nya Ima. Tapi setelah beberapa minggu, akhirnya bisa juga membagi waktu dengan baik ;-) Bisa multi-tasking, membagi perhatian buat Ima dan Nara. Jadi.. jangan heran kalau kapan2 melihat gw multi-tasking: tangan kiri menggendong dan menyusui Nara, tangan kanan main scrabble sama Ima.. hehehe.. atau tangan kiri menimang2 Nara, tangan kanan bikin soal matematika buat latihan Ima ;-)
Hehehe.. Oom gw yang nomor 6 pernah bilang bahwa falsafah perempuan Jawa tradisional tentang anak adalah 3G: ngGandheng, ngGendhong, nGandhut. Alias tangan kanan menggandeng balita, tangan kiri menggendong batita atau baduta, dan perut masih mengandung anak berikutnya. Multi-tasking ;-)
I guess, I just give the new meaning to that philosophy ;-)
Jamais Vu #2: Perawatan Bayi
Gw baru tahu bahwa bayi itu seperti... teknologi informasi ;-) Senantiasa berkembang dan ada update-nya ;-) Apa yang benar 1 dasawarsa lalu bisa jadi sudah ketinggalan jaman dan dianggap salah sekarang ;-)
Waktu melahirkan Ima, pakem yang diajarkan di rumah sakit adalah: harus pakai minyak telon biar bayi merasa hangat, boleh pakai bedak bayi dan lotion bayi sehabis mandi. Yang nggak boleh: membubuhkan bedak bayi setelah bayi buang air, karena dikhawatirkan bedak bayi masuk ke organ kewanitaannya dan menimbulkan sakit. Waktu itu, katanya, kalau bayi laki2 nggak apa2 dikasih bedak seusai pipis, tapi bayi perempuan jangan. Takut meningkatkan kemungkinan kena kanker rahim di masa depan.
Begitu Nara siap dibawa pulang, lho.. kok pakemnya udah berubah? Di antara pesan2 suster dari kamar bayi, yang digarisbawahi adalah: TIDAK BOLEH menggunakan minyak telon, bedak, lotion, cream, dll. Bayi cukup dimandikan dengan air dan sabun bayi. Kalau mau pakai minyak telon, bedak, lotion, dll, sebaiknya menunggu hingga 2 bulan, supaya kulit bayi sudah benar2 kuat dan tidak iritasi.
Nah lho! Pantesan aja jumlah paket produk perawatan bayi yang disertakan berkurang drastis ;-) Waktu Ima pulang dari rumah sakit dulu, koper gw penuh dengan paket gratis produk bayi dari segala major brands. Sekarang? Cuma dapat dua merek ;-)
Bener2 deh.. pengalaman gw 9 thn yang lalu ternyata nggak berarti apa2.. hehehe.. Terpaksa menghafalkan lagi pakem barunya. Walaupun gw pernah ‘been there’, tapi ternyata ada celah2 dimensi yang tidak terbayangkan ;-)
Anyway.. pesan suster yang ini gw abaikan. Nara tetap gw kasih minyak telon dan bedak bayi. Habiiisss.. kalo gak dikasih itu Nara kan nggak “bau bayi” ;-) Tanpa dua hal ini, bayi seperti pengantin tanpa ratus (itu lho, dupa yg dipakai untuk mengharumkan rambut pengantin perempuan). Atau kari tanpa jintan. Atau nasi uduk tanpa daun pandan. Atau bisa juga mie instan tanpa bumbu yg banyak MSG-nya itu. Kurang sedap ;-)
Jamais Vu #3: Penimbunan Logistik
Waktu menyusui Ima dulu, gw sudah mengunduh dan mempelajari Teknik Marmet, yaitu cara memeras ASI tanpa alat bantu. Cara yang enak banget, karena [seperti dipromosikan dalam situsnya] gratis, portable, ecological superior, dan.. terutama sekali yang penting buat gw adalah skin-to-skin contact: lebih alamiah dan nyaman dibandingkan harus pakai mesin atau pompa tangan yg berplastik itu.
Sembilan tahun berlalu, gw udah lupa langkah pasti dari teknik tersebut. Tapi toh teknik ini menjadi least priority gw untuk dipelajari kembali selama hamil. Jaman Ima dulu, ASI-nya sedang2 saja; kalau Ima lapar pasti ada, tapi nggak berlebihan untuk ditimbun. Baru sekitar 2 minggu menjelang cuti berakhir gw paksa2in ngejar setoran biar ada stok untuk hari pertama ngantor.
Perhitungan gw, kalau dalam masa prime time aja stoknya pas2an, apalagi sekarang ;-) Jadi.. ntar2 aja dulu latihan lagi ;-). Ternyata, mungkin berkat diet ketat selama hamil yang benar2 bergizi tinggi dan rendah garam/lemak/kolesterol, sejak hari kedua di RS aja pasokan ASI sudah berlebih. Nggak sampai seperti air bah sih.. tapi beda2 tipis sama lumpur Lapindo yang nggak kunjung berhenti tersebut. Terpaksa terjadi penimbunan logistik. Alhamdulillah.. tapi sempat bikin gw kelabakan!
Di RS cuma tersedia pompa ASI bermesin, yang menurut gw lebih mirip alat penyiksaan.. hehehe.. Namanya juga mesin, nggak bisa mikir dan merasa. Dan sama sekali tidak memperhatikan keunikan tiap manusia ;-) Jadi sekali dipencet tombolnya ya gerak perasnya begitu. Sama rata buat semua orang. Beda dengan teknik Marmet yang – karena manual dan hanya butuh tangan si ibu – benar2 ‘mengerti Anda’ ;-)
Sempat nanya2 sama suster di RS, nggak ada yang tahu teknik tersebut. Waduh.. jadi berasa seperti ibu2 yang baru pertama kali melahirkan lagi deh, gagap informasi mesti ngapain ;-) Untung.. bapaknyaima&nara bawa notebook dan kartu Fren.. hehehe.. jadi bisa browsing sejenak.
Biar nggak lupa lagi, di atas ada tautan pada teknik tersebut. Bisa dilihat dan dipelajari sendiri buat yang berminat. Tekniknya sederhana. Kata kunci persiapannya: massage – stroke – shake. Sementara kata kunci untuk mengeluarkannya: push – roll – finish roll. Yang mesti dihindari adalah: squeeze – pulling – slide.
Sebenarnya ada rekaman demo-nya juga sih, bentuk file-nya MPEG dengan bintang utama gw.. hehehe.. Hasil jepretan Ima pakai HP waktu takjub menemukan hal baru. Cuma..., kata bapaknyaima&nara sebagai pemegang lisensi tunggal hak penayangan, file-nya nggak boleh di-upload ke blog gratisan. Bukan karena takut dituduh pornografi dan kena UU yang baru itu, tapi.. karena kategorinya pay per view.. HAHAHA..
Nah, sekarang tahu kan, kenapa judul entry-nya 9(-¼) Years? Soalnya, memang ada mirip2nya dengan film lawas Kim Basinger: 9½ Weeks ;-)
Ngomong2, moga2 aja pasokan logistik Nara masih tetap berlebih sampai saatnya masuk kantor lagi kelak. Jangan cuma beta version-nya aja yang bagus ;-) Dan moga2, pasokan minyak bumi berbanding lurus dengan pasokan makanannya Nara. Jadi harga BBM nggak naik2 melulu ;-)
Friday, April 25, 2008
A Little Prince called Nara
Yup, memang sejak sehari sebelum cuti, gw udah tahu harus melahirkan lebih cepat. Pada kontrol terakhir, ternyata pre-eklamsia gw sudah tidak terkendali. Obat penurun tekanan darah yang diberikan sudah tidak mempan, walaupun dibarengi dengan istirahat cukup. So, dokter mengambil keputusan untuk melakukan induksi hari Minggu pagi, 20 April. Melalui induksi diharapkan si bayi lahir normal Minggu siang atau sore, paling lambat Senin pagi.
Tapi rupanya gw emang badak banget. Diinduksi sejak jam 8 pagi, sampai jam 3 sore mules pun nggak ada. Boro2 ada pembukaan! Persis kayak Gunung Merapi aja, yang status siaganya nggak naik2 ;-) Yang ada malah tensi gw makin tinggi karena gw mulai cemas dengan tidak adanya kepastian (tsah!). Akhirnya, jam 4 sore diputuskan untuk bedah cesar, karena tensi gw sudah semakin tinggi, sementara detak jantung bayi mulai melemah akibat kurang oksigen.
Operasinya sendiri, alhamdulillah, berjalan lancar. Meskipun tensi gw sempat melonjak makin tinggi menjelang detik2 operasi. Dari cuma 150/110 saat diputuskan operasi, jadi 160/110 pas nunggu kamar disiapkan, dan jadi 170/120 saat mau dibius. Maklum, ngebayangin perut gw disilet2 aja udah efektif menaikkan tekanan darah.. hehehe.. apalagi langsung ingat adegan di Braveheart dan cerita tentang operasi cesar tanpa pembiusan di A Thousand Splendid Suns ;-)
Ohya, setelah dibius setengah badan (hanya dari perut ke kaki), gw sempat delirium dan mengalami "halusinasi". Gw agak disorientasi, antara berada di kamar operasi atau di Bukit Golgotta. Sebab, setelah kepala gw "dimahkotai" topi operasi, kaki gw dilumpuhkan, lantas... kedua tangan gw DIRENTANGKAN DAN DIIKAT seperti layaknya penyaliban! Gw udah takut aja bahwa berikutnya meja operasi itu akan diberdirikan.. hehehe.. sampai gw melirik ke kiri dan kekanan, mencoba memastikan gw disalib di sebelah kiri atau di sebelah kanan salib utama ;-)
Ternyata, nggak separah itu juga sih. Gw tidak dihukum mati dengan cara disalib. Cuma diperlakukan bagaikan terpidana mati dengan lethal injection. Sebab, setelah tangan gw direntangkan, kemudian tangan kiri gw disuntik sejenis obat. Belakangan gw baru tahu bahwa itu adalah suntikan morfin, yang bikin gw "fly" sampai hampir 20 jam. Hmm.. setelah merasakan morfin, gw heran kenapa junkies senang nyuntik.. hehehe.. wong gw disuntik sekali aja kapok dengan hangover-nya ;-)
Anyway.. jam 5 sore gw masuk ruang operasi, 9 menit berselang dengan bangga kami persembahkan:
Nararya Wimatsara Moertadho (Nara)
3170gram/50cm
RS Medistra, 20 April 2008, 17:09
Nama Nara diambil dari bahasa Sansekerta seluruhnya.
*Pemutakhiran 26 Desember 2008: arti namanya terpaksa gw hapus untuk menghindari calon orang tua nggak kreatif yang suka copy-paste nama dari internet ;-) Jangan sampai Nara mengalami nasib seperti kakaknya :-(*
Nama Nararya dipilih karena sejak dari awal Nara benar2 beat the odds. Wimatsara itu nama pilihan bapaknya dari beberapa alternatif yang gw sodorkan. Bapaknya memang senang dengan nama2 yang berbau perdamaian begitu (maklum, temperamennya NF, idealis pencinta damai, bukan gerwani kayak gw ;-)).
Karena nama adalah doa, semoga Nara benar2 menjadi seperti yang digambarkan namanya. Selalu berada di jalan kebenaran ya, Nak ;-).
***
Soal nama ini sempat bikin eyang kakungnya agak kecewa. Habis.. namanya kurang Islami, menurut beliau. Nggak ada satu kata pun yang diambil dari Al-Quran. Tapi.. gw punya alasan buat ngeles ;-) Biarpun namanya tidak berbau Arab, kan artinya mencerminkan nilai2 Islam. Jadi nggak bisa dibilang kurang Islami dong.. hehehe.. Daripada namanya tercantum di banyak surat, tapi kemudian melakukan hal2 yang bertentangan dengan nilai Islam seperti menerima uang sogokan dan sebangsanya. Mencuri hak milik orang lain. Itu kan malah mencemarkan agama, agama cuma dijadikan identitas sebatas nama saja.
Hayooo.. pilih mana, Pa, buat cucunya ;-)?
Lagipula, raja pertama Majapahit, penerus kejayaan Singosari, juga bernama Nararya. Nararya Sanggramawijaya, tepatnya, yang kemudian lebih terkenal sebagai Raden Wijaya. Kan cocok dengan statusnya Nara yang eyang kakungnya asal Singosari juga.. hehehe.. Penerus "kejayaan" Singosari di Jakarta ;-)
*Kalo ngeles, gw memang jagonya.. HAHAHAHA.. *
***
Meskipun nggak jadi lahir tanggal 234, tapi tanggal 20 April nggak kalah bagusnya. Masih "nomor cantik", dan bisa dijadikan tebak-cermat ;-). Urutannya kan 2042008, jadi bisa dijadikan soal matematika: berikan tanda matematika yang sesuai pada urutan angka berikut ini sehingga menghasilkan persamaan matematika yang benar. Hayo, tebak.. hehehe.. paling tidak ada 2 persamaan yang bisa dibentuk dari deretan tersebut ;-)
Menurut Wikipedia, Nabi Muhammad SAW juga [mungkin] lahir pada 20 April 570, walaupun diimbuhi catatan bahwa tanggal tersebut masih diperdebatkan. Yaah.. mungkin perdebatan klasik aja, bisa 20 April atau 19 April, tergantung Muhammadiah atau NU.. hehehe.. Lepas dari perdebatannya, it's an honor for Nara to share the [possible] birthdate with Him ;-)
Yang pasti, menurut catatan Wiki juga, Adolf Hitler juga lahir 20 April 1889. Naah.. kalau yang ini, kayaknya nggak ada hubungannya dengan kecintaan gw terhadap Juergen Klinsmann, Michael Ballack, Der Kaizer, dan tim nasional sepakbola Jerman. Tapi gara2 selama hamil, tepatnya sejak November 2007 - 1 April 2008, gw rada2 jengkel kronis dengan Adolf *hitler ;-)
***
Aaaanyway.. itu tadi sedikit berbagi cerita tentang Nara. Menyambut antusiasme dan ucapan selamat dari teman2 sekalian di posting sebelumnya ;-)
Entah kapan bisa disambung lagi ceritanya ya.. hehehe.. niat nge-blog sih selalu ada, tapi kayaknya beberapa minggu ke depan gw bakalan jadi a slavery victim deh ;-) Kudu devoted to Prince Nara. Kalau lihat angka awal 5 hari pertama ini, Nara is a very demanding baby. Temperamennya persis kayak gw yang ngeyel dan never take no for an answer ;-) Beda banget dengan Ima yang easy baby.
Dukanya, gw jadi nggak punya waktu buat diri sendiri. Sukanya, well.. gw jadi dapat pengalaman yang komplit dengan dua anak yang bertolak belakang ini. Ibarat penelitian, sample-nya kecil tapi representatif sebagai case study.. hehehe.. Satu bayi perempuan, satu bayi laki2. Satu easy baby, satu temperamental baby. Satu lahir normal (biarpun pakai induksi dulu), satu lahir cesar (juga pakai induksi dulu). Satu bayi tertib yang tidur jam 9 malem bangun jam 5 pagi, satu bayi yang bangun jam 7 malem dan tidur jam 3 pagi.
Jadi, nggak ada alasan buat nambah lagi, kan ;-)? Udah punya "an angel called Ima", dan sekarang punya "a little prince called Nara". Kalau pun perlu nambah satu lagi, gw bakal cari ikan mas koki aja, terus dinamain Wanda.
Sampai jumpa.. dan.. jangan ditanya kemana aku pergi ;-)


