Thursday, November 13, 2008

Wednesday Night Fever

Sejak kecil gw memang keras kepala dan bikin orang tua susah. Nggak heran, seringkali Ibu mengeluarkan "kutukan" sebangsa kata2, "Titenono nek kowe wis nduwe anak! Nek ora kewales awakmu!" yang kurang lebih berarti "Lihat saja nanti kalau kamu punya anak, pasti terbalas semua [perbuatanmu]"

Sembilan tahun menjadi ibu, gw masih bisa jumawa mengatakan bahwa kutukan Ibu tidak terbukti ;-) Ima, my sweet little girl, nggak pernah macem2. Nggak keras kepala seperti gw, atau tepatnya tidak sekeras kepala gw. Masih nurut deh dijajah sama ibunya ;-) Mungkin karena temperamennya Ima lebih kalem, kayak bapaknya ya? Makanya nurut sama gw. Lha, biangnya aja (baca: bapaknya) nurut sama gw, apalagi cindilnya ;-)

But the day Nara was born, I knew my karma has come... ;-)

Belum genap 4 jam umurnya, Nara sudah menunjukkan kekeraskepalaannya dengan memancing keributan di kamar bayi. Nara menangis sekeras2nya, dan menolak untuk diam apa pun upaya yang dilakukan si suster penjaga, sehingga semua bayi kaget dan ikut menangis. Solusinya? Nara buru2 dilarikan ke kamar gw!

Itu cerita di balik layar mengapa suster memaksa gw menyusui Nara jam 12 malam! Padahal, gw masih setengah sadar setelah dioperasi, dan lazimnya bayi bisa survive beberapa hari tanpa ASI karena masih menyimpan sisa makanan dari plasenta. Rupanya ada lobster di balik mashed potato... hehehe...

Makin hari, keras kepalanya Nara makin kelihatan. Dan puncaknya adalah pekan lalu, tepatnya Rabu malam Kamis. Gw menyebutnya Wednesday Night Fever ;-)

Disebut begitu, karena Rabu malam Kamis itu Nara memang kena demam. Malam sebelumnya dia memang sudah nggak bisa tidur karena tidak enak badan. Badannya sumeng, alias hangat. Tetap gw tinggal ke kantor karena tidak parah, setelah memberi instruksi memberikan obat penurun panas. Tapi... jam 6 sore Eyangnya telepon dengan panik karena kini panas Nara mencapai 39 derajat Celcius, dan beberapa kali muntah.

Malamnya, setelah mendapat obat dari Pak Dokter, gw jadi sedikit lebih tenang. Bukan karena panasnya turun, tapi karena gw jadi tahu kenapa seharian Nara muntah. Tampaknya bukan karena mual seperti yang gw khawatirkan (catatan: panas dan mual adalah gejala yang selalu gw rasakan selama 3x kena demam berdarah ;-)). Ternyata... muntahnya Nara adalah karena... keras kepala nggak mau menelan obat! Setiap kali diberi obat, Nara langsung melancarkan aksi head banger! Kepala dibanting ke atas ke bawah sekuat tenaga. Jelas aja langsung muntah... hehehe...

Jadi, cocok kan, kalau dibilang Wednesday Night Fever? Sebab, selain emang kena fever, aksinya Nara juga bak John Travolta di Saturday Night Fever... hehehe... Cuma kalau John Travolta musiknya disko, Nara musiknya techno ;-)

Besoknya, Mbak Pengasuhnya yang mati akal, direstui oleh ibunya Nara yang gak kalah mati akal karena semalaman obat tetap nggak berhasil masuk, mengambil langkah pemaksaan. Mulutnya Nara dipaksa terbuka, obat dimasukkan melalui sendok, dan rahangnya dikatupkan secara paksa juga dengan posisi setengah tengadah. Cara ini duluuuuu berhasil untuk Ima.

Buat Nara? Ya nggak berhasil! Dengan keras kepala dia menahan obat di mulutnya, untuk disemburkan setelah rahang tak lagi terkatup! Percobaan kedua, dengan menahan rahang lebih lama, juga nggak berhasil ;-) Memang percobaan kedua itu berhasil membuat Nara terpaksa menelan obatnya, tapi.... dasar keras kepala, dia langsung memaksa tenggorokannya memuntahkan lagi obat yang masuk.

Dengan putus asa, gw menatap lemari obat. Eeeeh... untung, gw ingat masih menyimpan sebuah medicine dispenser. Yang soft tip, tapi soft tip-nya sudah gw buang karena leleh. Iyaaaa.... lelehnya juga karena inkompetensi gw mengurus barang2 bayi... hehehe... karena medicine dispenser ini gw rebus dalam rangka sterilisasi ;-) Barangnya persiiis seperti di bawah ini, cuma beda warna aja. Punya Nara warnanya biru muda, bukan hijau-kuning-ungu begini.

Gambar dipinjam dari sini

Gw coba memberikan obat melalui medicine dispenser ini. Disemprot sedikit ke arah pipi seperti petunjuknya. Eh! Berhasil! Karena cuma sedikit, ternyata Nara mau saja menelannya. Nggak terlalu sakit hati, rupanya, karena nggak dipaksa2 mengatupkan rahang ;-)

Karena soft tipnya sudah gw buang, gw gak tega menggunakan medicine dispenser ini lagi. Jadi, begitu gw melihat respons positifnya Nara, gw buru2 ke toko bayi beli medicine dispenser baru. Yang model soft tip nggak ada, adanya yang seperti di bawah ini.

Kalau yang ini gambarnya dari sini

Tadinya gw agak ragu beli yang model ini. Selain bentuknya sama dengan medicine dispenser yang dipakai Ibu buat kucing2nya (agak nggak terima gw, Nara pakai barang yang sama dengan kucing... hehehe...), gw juga khawatir melihat ujungnya yang besar dan tidak lembut. Apa nggak susah memasukkan benda sebesar dan sekeras ini ke mulut Nara dan berharap dia tidak berontak? Apalagi, instruksinya menyebutkan bahwa fungsi bidang datar itu untuk menekan lidah. Walah! Bisa ada sequel dari Wednesday Night Fever nih!

Tapi karena nggak punya alternatif lain, terpaksa gw beli deh. Coba2. Ternyata.... hasilnya menggembirakan! Nara mengira medicine dispenser ini adalah teething ring. Jadi dia nggak masalah lidahnya ditekan sedikit, malah dengan semangat menggigit2nya. Menggigit medicine dispenser-nya, bukan menggigit lidah ;-) Alhasil, dengan masuknya obat, besoknya Nara sudah sembuh.

Hehehe... ternyata, masih bisa juga gw "memaksakan kehendak" pada bayi keras kepala ini. Thanks to the best innovation for the entire human race bernama medicine dispenser ini ;-) Dan secara khusus mengenai produk yang ini, gw senang karena bisa direbus tanpa jadi leleh ;-) Biar deh bentuknya sama dengan yang dipakai kucingnya Ibu, tapi keuntungannya banyak ;-)

*OOT buat teman yang nanyain cara ngasih obat ke binatang kesayangannya: yang sudah terbukti sih medicine dispenser ini berhasil dipakai untuk kucing. Jadi mestinya untuk anjing juga bisa. Tapi kalau untuk binatang yang lebih besar, sapi misalnya, apalagi gajah, nggak tahu juga ya apakah bisa berhasil ;-)*

Satu masalah teratasi. Satu "hukum karma" terlewati. Tapi... tetap saja gw jadi was-was. Mulai deh gw menghitung daftar dosa yang pernah gw lakukan sebagai anak kecil dulu... hehehe.... Dan bersiap2 melihat history repeats itself pada Nara. Hmmm.... let's see what's in store for me:

  1. Umur 3 thn, nyemplung ke kolam kotor di Senayan, gara2 pingin jalan di air seperti bebek.
  2. Umur 4 thn, mendeklarasikan diri mau berhenti sekolah karena bosan pelajarannya cuma nyanyi dan main2 melulu (padahal gw udah lancar membaca sejak umur 3,5 thn). Perlu beberapa hari bagi Bapak & Ibu, serta seorang Budhe yang Psikolog Anak, untuk membujuk gw kembali ke sekolah ;-)
  3. Umur 8 thn, kelas 2 SD, gw kabur dari rumah naik sepeda gara2 dimarahin Ibu. Niat gw mau berkelana.. hehehe... Ulah gw sempat bikin semua orang panik, Ibu naik becak sesorean mencari gw, dan Bapak mencari gw dengan mobil ;-)
  4. Umur 9 thn, gw lari2 di atap rumah tetangga mengejar layangan putus. Rumah gw kan kompleks tuh, jadi atapnya saling bersinggungan. Dari atap rumah gw, gw bebas lompat ke atap tetangga, dan dengan asyiknya gw ngejar layangan putus dari atap ke atap. Tak kurang dari 10 rumah gw injak atapnya, dan Bapak kerepotan menerima protes tetangga.

Itu dulu ya, daftarnya... hehehe... Empat aja gw udah keburu ngeri... HAHAHA... Kayaknya kudu sungkem minta ampun sama Ibu & Bapak deh... hehehe...