Thursday, April 08, 2010

Ad Hoc Moms

"Being a mother is one of the very few unimaginable experiences
that you have to live to fully understand"


(Rachel Weisz, in Reader's Digest)

***

Itu adalah sebuah kutipan di Reader's Digest edisi Maret 2010. Pada edisi bahasa Inggris ada di halaman 112, dan merupakan jawaban Rachel terhadap pertanyaan mengenai bagaimana menjadi seorang ibu mentransformasi kehidupannya. Kata Rachel, tidak ada jawaban yang bisa menggambarkannya, karena menjadi seorang ibu itu begitu unik, tak terbayangkan. Harus dijalani agar dimengerti.

And as a mother of two, I have nothing to say but "Amen" to that... ;-)

Ya, yang namanya jadi ibu itu pengalaman yang sangat unik. Tidak peduli berapa banyak anak yang dilahirkan, menjadi seorang ibu [lagi] adalah pengalaman yang baru. Nggak ada yang namanya "experienced mother", atau "ibu berpengalaman", karena pengalaman nggak banyak gunanya dalam menghadapi masing2 anak ;-)

Itulah pelajaran yang gw dapat dalam beberapa bulan terakhir... hehehe...

Waktu hamil Nara dulu, gw sudah agak jumawa bahwa ngurusin adiknya Ima bakal jadi sesuatu yang gancil ;-) Emang sih, 9 thn jeda itu mungkin bikin gw agak karatan sedikit, tapi.... gw sih yakin yang namanya jadi ibu itu seperti belajar nyetir atau belajar naik sepeda: nggak peduli berapa lama jeda, kemampuan itu nggak akan hilang ;-) Yang gw lupa: anak itu bukan sepeda, ataupun bukan mobil. Jadi, faktor kesulitannya pasti beda2 ;-)

Hari2 pertama gw sudah membuktikan betapa pengalaman nggak ada artinya. Dan... ternyata, semakin hari, semakin terlihat bahwa pengalaman memang nggak ada artinya. Yang paling nyata adalah: dalam gaya pengasuhan untuk menstimulasi kecerdasan.

Gw sudah berencana sejak awal untuk menggunakan lagu anak2 untuk menstimulasi kemampuan berbahasa Nara. Itu cara yang gw lakukan pada Ima juga: menyanyikan lagu anak2 untuk memperkenalkan isi dunia. Bedanya, tidak seperti ketika Ima akan lahir, gw tidak berusaha meng-update khazanah lagu anak2 gw. Gw cukup pede bahwa koleksi gw akan cukup buat Nara. Gw cukup pede punya semua lagu untuk semua menjawab semua keinginantahuan anak kecil tentang dunia di sekitarnya.

Jumawa? Iya sih... tapi..... berapa banyak sih ibu2 yang hafal ketiga bait lagu "Tik-tik-tik Bunyi Hujan" seperti gw ;-)? Lagian, gw kan sudah berpengalaman! Dulu gw selalu punya lagu kok untuk Ima: lagu "Lampu Merah Mobil Harus Berhenti" untuk memperkenalkan lalu lintas, lagu "Kulihat Awan" untuk memperkenalkan awan, dll :-)

Tetapi ... ya itulah! Anak memang bukan mobil atau sepeda :-) Apa yang cukup buat Ima, belum tentu juga cukup buat Nara :-) Seperti juga apa yang cukup buat Ima, kadang menjadi berlebih untuk Nara.

Dalam konteks lagu2 ini, awalnya memang khazanah pengetahuan gw mencukupi. Seperti Ima, Nara cukup senang dinyanyikan lagu apa saja. Baru, setelah Nara belajar bicara, gw kewalahan menghadapi song request-nya :-)

Betapa tidak? Ima tuh dulu selalu request lagu yang dia kenal. Jadi... it was up to me untuk memperkenalkan lagu apa saja, dan itu yang kemudian menjadi referensi lagu yang ingin didengar Ima. Ibaratnya, gw jadi kayak iPod aja deh; bisa di-shuffle atau dipilih, sesuai maunya Ima :-)

Nara punya ide yang berbeda tentang acara mari menyanyi ini. Kalau buat Nara, ibunya ini YouTube! Jadi, dikasih keyword apa aja, lagunya harus ada :-) Kalau bisa malah ada pilihan versinya! Dia sama sekali tidak mau diganti dengan lagu lain; harus lagu sesuai keyword.

Dan susahnyaaaa..... keyword-nya Nara itu bisa apa aja. Semua informasi yang didapat panca indra bisa diminta lagunya. Lihat badak di Animal Planets, ya langsung teriak, "Ibu, nanyi (=nyanyi) badak!" Lihat Mang Min, tukang sayur langganan, ya langsung minta lagu Mang Min. Dengar ibunya mau makan rambutan, ya langsung minta nyanyi rambutan :-)

Awalnya sih, gw masih bisa mencocok2kan keyword dengan database gw. Misalnya aja, kalau dia minta lagu "rambutan", gw bisa pilih antara lagu "Paman Datang" atau "Pepaya Cha Cha". Antara "... dibawakannya rambutan, pisang, ...." atau ".. pepaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku, dan lain2nya..." Nara sudah cukup senang kalau ada kata pilihannya di lagu itu.

Tapi... kalau lagunya udah mulai aneh2 seperti Mang Min, atau Oom Am** (tetangga depan rumah), atau Mbak Yanti (PRT kami), terpaksa deh gw harus berkreasi. Benar2 top of mind song yang harus gw ubah.

Dalam berkreasi inilah gw merasa bersyukur dianugrahi kemampuan [asosiasi] verbal di atas rata2... HAHAHAHA.... Sebab itu membantu banget untuk menyesuaikan lagu dengan request. Untuk lagu "Mang Min", misalnya, ya tinggal gw ubah aja "Paman Datang" menjadi "Mang Min Datang". Asosiasi verbal, karena Mamang artinya Paman. Lagian, cocok banget dong kalau Mang Min si tukang sayur "membawakan rambutan, pisang, dan sayur mayur segala rupa" :-)

Lagu "Mbak Yanti" agak lebih susah... hehehe... Tetapi untungnya gw ingat lagu lama berjudul "Aryati" yang bisa dimodifikasi sedikit jadi, "Mbak Yanti.... dikau mawar asuhan rembulan". Untung Nara nggak suka iramanya; jadi setelah beberapa kali gw nyanyikan, dia kapok minta lagu Mbak Yanti ;-)

Naaah... kalau lagu "Oom Am**", ini sekalian lahan defense mechanism gw terhadap tetangga gw yang ngeselin itu ;-) Tepatnya seperti bahasan Freud dalam The Joke and Its Relation to the Unconscious, ini adalah cara gw coping dengan kebiasaan tetangga gw yang bikin gw bertanduk itu :-)

Tahu lagu "Amri Membolos" kan ;-)? Gw senaaaaanggg banget nyanyi keras2 dengan syair yang gw sesuaikan:

Am** membolos
Kata Bu Guru,
"Jangan membolos,
Menyusahkan Ibu!"


Kesannya sih memenuhi permintaan Nara, tapiiii... sambil nyanyi, yang terbayang di benak gw adalah syair lainnya:

Am** mengklakson
Di tengah malam
Jangan mengklakson!
Ganggu tidur Ibu!


Atau syair lainnya:

Am** memarkir
Depan rumahku
Jangan disitu!
Ganggu parkir Ibu!


Hehehe... daripada gw tiap hari bertanduk melihat kelakuannya, mendingan gw salurkan pada hal yang lucu. Lagian, gw juga udah capek bersikap asertif. Memory tetangga gw itu RAM semua... hehehe... Kalau dibilangin baik2 nggak pernah di-save ke harddisk :-)

Tetapi, lama-kelamaan permintaan Nara makin absurd! Baru2 ini dia sedang senang dibacakan buku sains populer milik kakaknya, yang judulnya "Aduh, Kakiku Berdarah!" Dia senang sekali melihat gambar jantung dan darah di buku itu, karena darahnya dianalogikan dengan bis kota warna merah.

Daaaan.... seperti telah diduga, hobby ini memicu pada sebuah permintaan:

"Ibu.... Nyanyi 'Darah'!"

Nah, lho! Mau cari dimana lagu "darah"? Hehehe.... Top of mind song gw yang mengandung kata "darah" adalah "Darah Muda". Tapi mosok mau gw nyanyikan lagu itu sih? Selain cengkok dangdut gw gak bagus (halah!), kayaknya syairnya juga nggak cocok deh buat anak umur 2 thn :-)

Sekali ini kreativitas gw buntu. Dan pengalaman nggak membantu sama sekali, secara Ima nggak pernah minta lagu aneh2 kayak gini.

Tetapi gw mendapatkan hal baru dari kasus ini: meskipun pengalaman nggak banyak membantu secara langsung dalam menghadapi anak, anak yang sudah kita besarkan sebelumnya bisa menjadi resource untuk mendapatkan insight dan membentuk kreativitas baru. Dalam kasus ini, Ima - si pra remaja yang lagi hobi2nya mendengarkan radio itu - memberikan solusi untuk sesuatu yang membuat gw buntu. Karena... "di radio, dia dengar lagu [berikut ini]":

Indonesia, merah darahku
Putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu
...
Kebyar-kebyar ...


Hehehehe.... that sounds better ;-) Lebih cocok buat anak umur 2 thn. Apalagi ada kata "tulang" yang dia sudah kenal juga dari buku sains lainnya :-) Nggak perlu dangdutan deh gw... HAHAHAHA....

Jadi begitulah, ibu2 sekalian... Yang namanya motherhood itu adalah ad hoc project; setiap anak membawa faktor kesulitannya sendiri, dan perlu tailor-made solution. Pengalaman dan jam terbang belum tentu berperan banyak... hehehe... Yang lebih penting adalah kreativitas, serta mampu memanfaatkan segala resources di sekitar kita... ;-)

Atau kalau mengacu pada kutipan di awal tulisan: motherhood is something you have to live to fully understand ;-)