Saturday, May 01, 2010

I Want to Ride My Bicycle...

Bulan April lalu gw sibuk banget! Selain sibuk kerjaan, gw juga sibuk mencari kado spesial buat Nara yang ultah kedua. Kado spesialnya: sepeda berbentuk mobil ;-) And believe me... it's a kind of "finding the needle in the haystack' task ;-)

Yup! Gw tidak mencarikannya mobil2an tenaga aki yang banyak dijual di berbagai sentra sepeda maupun mal itu. As usual, selera gw kan vintage... hehehe.... Selalu mencari barang2 yang nggak ada di pasaran ;-)

Ada beberapa alasan kenapa gw ngotot cari sepeda berbentuk mobil. Alasan pertamanya melankolis abis: supaya Nara punya kenangan masa kecil yang manis dengan sepedanya seperti gw :-) Sepeda masa kecil gw dulu juga unik, dan membuat gw banyak berimajinasi. Bentuknya kapal terbang. Ada kursi kecil di atas kabinnnya, dengan roda di bawah kokpit serta belakang sayap. Kalau sudah naik sepeda kapal terbang, gw berimajinasi terbang kemana2. It feels like being on top of the world!

Alasan kedua lebih ilmiah... hehehe... gw dan bapaknya sama2 nggak highly value mobil2an tenaga aki. Itu bukan mainan anak2 pilihan kami ;-) Bukaaaan... bukan karena harganya! Toh sekarang mobil2an aki itu harganya nggak jauh beda dengan sepeda biasa. Di Pasar Gembrong dan Pasar Rumput, mobil aki dan sepeda harganya bersaing.

Bukan juga karena faktor keamanan yang menghalangi kami. Mobil2an beraki tersebut sekarang tersedia dengan remote control. Harganya cuma beda 100rb-an kalau pakai remote control ;-) Dengan bisa dikendalikan oleh orang dewasa, tentu keamanan si anak cukup terjamin. Juga terjaminlah nasib mobil2 tetangga yang suka parkir sembarangan di pinggir jalan.

*hmmm... untuk yang kedua ini, gw agak menyesalkan, sebenarnya. Kan jadi nggak ada alasan buat bikin lecet mobil tetangga yang ngeselin... hehehe... oops... ;-)*

Yang jadi pertimbangan kami adalah manfaatnya buat anak. Dengan dikendalikan remote control, dan kakinya nggak harus nggenjot, lantas anak belajar apa? Beda banget dengan sepeda, yang mengasah motorik kasar anak .... selama dibiarkan nggenjot, dan nggak didorong2 doang seperti kebiasaan orang tua sekarang ;-)

Kami makin enggan membelikan mobil2an aki karena Nara sejak kecil punya kaki yang kuat. Dan dia sudah cukup pintar menggenjot sepeda roda tiga warisan kakaknya (yang sekarang udah mulai kekecilan buat dia). Jadi... sayang banget kalau potensi kakinya yang kuat ini lantas dilemahkan dengan mainan "malas" macam ini :-) Siapa tahu kan, kaki Nara bakal jadi mahal seperti kakinya Lionel Messi ;-)

Dengan keputusan mantap bahwa kami ingin membelikan sepeda mobil2an untuk hadiah ultahnya, dimulailah perburuan gw. Gw menyusuri tempat2 berjualan sepeda - baik dalam arti kiasan maupun harafiah ;-) Kiasan, dalam arti menyusuri kanal maya. Harafiah, dengan kelayapan di Pasar Rumput, Pasar Gembrong, dan ITC Kuningan di sela2 waktu istirahat mak-si.

Hasilnya?

Nihil di perburuan harafiah ;-) Gw malah diketawain para penjual di Pasar Rumput dan Pasar Gembrong... hehehe.... Katanya mobil kayak gitu udah nggak jaman ;-) Well, di Pasar Gembrong sih sebenarnya gw nemu mobil2an genjot seperti ini. Harganya juga murah, cuma 150rb dan masih bisa ditawar. Tapi.... bukan sepeda impian gw :-) Nggak cocok buat melatih kaki calon pengganti Messi... hehehe.... Lagian, nggak bisa dipakai di jalanan, karena rodanya plastik :-(

Di Pasar Rumput, ada satu pedagang yang bilang dia punya. Tapi barangnya nggak ada, mesti diambil dulu di gudangnya. Dia mencontohkan sebuah go-kart aki seperti ini, dan mengatakan bahwa sepeda go-kartnya persiiis sama. Cuma beda bermesin vs. tidak bermesin. Tapi... gw buru2 pergi deh! Selain dia tidak bisa menunjukkan barangnya, buka harganya juga nggak masuk akal menurut gw! Mosok, kata dia sepeda go-kart itu harganya cuma 100rb lebih murah daripada yang aki! Katanya, karena body dan bahannya sama, cuma beda di mesin dan bukan mesin doang! Lha, bukannya yang bikin mahal mesinnya ya? Kalau bermesin harganya bisa nyaris 2x lipat? Gw langsung yakin dia nggetok harga.

Lagian, gw kurang naksir sama go-kartnya itu! Rodanya plastik abis, dan cuma ada lapisan karet di tengahnya yang nggak sampai 2cm lebarnya. Udah gitu, lapisan karetnya tipis pula! Deuh, kalau dipakai di jalan raya, roda plastiknya bakal cepat rusak kena aspal!

Jelajah kanal maya lebih membuahkan hasil. Di website-nya Sarana Sepeda, gw nemu go-kart ini. Letaknya di Jatinegara. Gw berniat mau nelepon, tapi bapaknya Nara punya ide lebih cemerlang: dia datang langsung ke tokonya ;-)

Itu go-kart impian, dan... rodanya dilapis karet lumayan tebal dan lebar! Tapi..... stoknya habis! Dan entah kapan bakal masuk lagi :-(

Kata Pak Pedagangnya, kalau minat, silakan mencari di kota2 kecil ;-) Mainan ini nggak banyak masuk di Jakarta, banyaknya di...... Karawang, Cikampek, dan kota2 satelit lainnya :-(

Huh! Hampir tuh dijabanin oleh bapaknya ke Cikampek... hehehe... Untung, salah satu mahasiswa bapaknya kasih tahu bahwa ada mobil sejenis di Pasar Suryakencana, Bogor. Sedikit lebih dekat lah, daripada Cikampek ;-)

*Say thanks dulu buat Retha yang menemukan sepeda ini. Kamu kayak Bartolomeus Diaz deh, menemukan Tanjung Harapan ;-) Hadiahnya senyum manis aja ya ;-)?*

Hari Sabtu lalu, akhirnya bapaknya Nara berkelana ke Bogor mencari mobil impian. Dan dasar jodoh, di situ tinggal ada 2 mobil tersisa :-) Satu langsung diboyong bapaknya Nara ke rumah.

Rodanya memang dari plastik, tapi... lapisan karetnya lumayan lebar, dan tebal. Kurang lebih lebarnya 6cm, dan tebalnya 8mm. Lumayan, jadi kalau berkendara di jalan nggak gampang merusak roda. Karena karetnya kena aspal duluan. Yaaah... sebenarnya sih gw berharap dapat go-kart yang rodanya karet mati, seperti punya adik gw jaman kecil dulu. Tapi.... this is the best I can have. Daripada yang di Pasar Rumput kemarin, kan?

Dan... lihatlah tongkrongannya ;-) Nggak tahu mana yang lebih keren: go-kartnya atau my little boy ;-) Isn't he adorable? He looks like a future F1 Champion to me... hehehe... Sementara ibunya sih F10 Champion aja deh, alias sebentar2 mencet F10 kalau lagi pegang kompie... hehehe...

Puas dengan hasil pencarian ini, baru gw mulai berpikir: kenapa ya, di Jakarta susah cari mobil2an seperti ini? Demand-nya kurang? Kenapa kurang? Karena nggenjot sepeda kelihatannya kurang keren dibandingkan mobil2an aki? Mobil genjot dianggap kuno, sementara mobil2an aki modern?

Duuuuh.... kalau saja orang2 tua Jakarta tahu betapa berharganya menggenjot sepeda itu. Betapa ada hal2 yang tak tergantikan oleh mobil2an aki pada mobil2an manual seperti ini. Yang jelas, kekuatan kaki dan motorik kasar secara umum lebih terasah dengan mobil2an manual seperti ini. Koordinasi tangan - kaki - mata juga lebih terasah, daripada kalau pakai remote control.

Apa yang ditawarkan oleh mobil2an aki? Fantasi? Imajinasi? Trust me, fantasi dan imajinasi itu juga ada di mobil2an manual ini ;-)

***

Ngomongin sepeda, membuat gw ingin mengutip lagunya Queen: Bicyle Race ;-)


I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like

You say black I say white
You say bark I say bite
You say shark I say hey man
Jaws was never my scene
And I don't like Star Wars
You say Rolls I say Royce
You say God give me a choice
...

In a deeper sense, riding "something" should be like what Queen has described in this song: brave enough to speak his opinion. Dan menurut gw, itu didapat kalau si anak biasa belajar bahwa dirinya "in control"

Lha, kalau naik mobil2an aja udah "disetir" orang lain yang bawa remote control, gimana dia bisa belajar bersikap ;-)? Gimana bisa belajar mandiri ;-)?

And so, that's the other reason why we chose this product: to give our son an obstacle, a hurdle, he must master ;-)

There's a lot behind something your kid rides on. Masih mau memilih mobil2an aki ;-)?