Sunday, August 18, 2019

When in Doubt, Learn!

Beberapa hari yang lalu Nara punya kekhawatiran yang di matanya tampak sebesar gunung es. Di mata ibunya sih hal ini hanya konflik internal normal “identity vs role confusion” yang diulas Erik H Erikson sebagai bagian perkembangan psikososial pada remaja usia 12 - 18 tahun. Nara memang baru 11 tahun, tetapi ... yaaah ... age is just a number toh? Perkembangan adalah proses, bukan hitungan matematis.

Jadi dengan tenang Ibunya Nara ini membahas tentang konflik mendasar pada kelompok usianya itu, serta menjelaskan bahwa saat usianya memasuki tahap perkembangan selanjutnya konflik itu insyaAllah selesai. Plus menekankan bahwa “kekuatan pikiran” dan “niat” akan membantunya menyelesaikan konflik dan membawanya ke arah hasil yang ia inginkan. Ibunya memberikan Harry Potter & the Sorting Hat sebagai analogi, dimana kekuatan niat Harry untuk masuk Gryffindor berhasil meyakinkan si Topi untuk TIDAK memasukkannya ke Slytherin

Dasar Nara anak ibunya! Tetap saja dia tidak yakin dan bertanya balik, “Memangnya kenapa kalau aku terus-terusan mikir hasil yang aku nggak mau? Apakah akan bisa terjadi?

Ibunya nggak mati gaya, dong! Langsung keluar teori tentang “self-fulfilling prophecy”, dimana hasil buruk yang terjadi seringkali adalah akibat seseorang terlalu memikirkan hal tersebut.

“Contohnya kamu takut tertabrak mobil, Mas. Kamu terlalu memikirkan itu, sehingga sewaktu menyeberang kamu sudah tidak sadar keadaan sekeliling. Nggak lihat deh ada mobil, sehingga tertabrak. Padahal jika kamu nggak mikirin itu, kamu akan lebih hati-hati saat menyeberang”.

Obrolan panjang ini membuat si jejaka kecil lebih tenang, sehingga riang kembali setelah dipeluk ibunya (eheem!)

Nah ... kasus ibu-anak ini kok rasanya paaas banget kalau digunakan untuk membahas pernyataan kontroversial seorang tokoh yang baru-baru ini viral mengenai salib umat Kristiani. Menonton videonya, sebenarnya sang tokoh bisa menjawab si penanya dengan alur yang sama dengan alur saya menjawab kekhawatiran Nara. Cuma konfliknya yang beda ... tergantung usia si penanya.

Semisal usia si penanya adalah 21 - 39 tahun, bisa jadi ini manifestasi konflik “intimacy vs isolation”. Untuk usia yang lebih tua, ini bisa jadi masalah dalam mencapai “kemampuan untuk peduli (care” atau “kebijaksanaan (wisdom)” sebagai capaian nilai yang diharapkan dalam tugas perkembangan selanjutnya. Saya dapat mengajukan beberapa skenario munculnya pertanyaan ini sebagai akibat konflik terkait, tetapi sebaiknya tidak diulas di sini. Kan psikolog tidak boleh punya prejudice. HAHAHAHA ....

Sayangnya mungkin si tokoh tidak pernah belajar psikologi, sehingga tidak bisa melihat dari kemungkinan lain.

Kalau begitu, syukurlah dia berangkat sekolah lagi. Semoga sekali ini wawasannya lebih berkembang sehingga lebih adem dan bijak dalam berbicara dan menjawab pertanyaan di forum.

Referensi:
1. Psychosocial Development Theory (Erik H Erikson)
2. Self-fulfilling Prophecy

NB: gambar tidak ada hubungannya dengan tulisan. Cuma mau pamer kopi cantik yang jarang-jarang gw minum. LOL