Sunday, May 27, 2018

Merajut “Lima” dalam Sonata

Gemar blogging dan suka menulis tentang film yang saya tonton. Mungkin kedua hal itu yang membuat saya beruntung ditawari menonton preview film “Lima”. Tentu dengan harapan saya kemudian menuliskan sebuah telaah setelahnya - yang dapat memantapkan calon penonton melangkahkan kaki ke cinema.

Tentu saya tersanjung diundang ke acara ini. Kan pengen juga lho ... macam blogger2 kondang yang wira-wiri di acara preview film. ;-) Namun ...  jujur saja saya berangkat ke acara ini dengan separuh hati. Bagaimana jika saya tidak suka filmnya?  Saya itu nggak bisa berbohong; nggak bisa sugar-coat tulisan saya. Kalau nggak suka, ya silet pasti beraksi.

Beberapa hal yang membuat saya sangsi adalah tema, sutradara, dan fakta bahwa ini film nasional. Tema Pancasila? Deuuuh .... saya terbayang jam2 membosankan ikut Penataran P4 dulu. Pasti membosankan! Dan klise! Lima sutradara dalam 1 film? Halaaah ... wong satu sutradara aja suka cemang-cemong kok filmnya! Apalagi berlima. Pasti nggak kompak. Nggak bakal mulus! Menyatukan kerja kreatif beberapa orang itu banyakan gagalnya daripada berhasilnya. Dan fakta bahwa ini adalah film Indonesia? Sejujurnya ... film Indonesia yang benar-benar memuaskan saya bisa dihitung dengan jari. Bahkan film macam “Laskar Pelangi” dan “?” saja saya cincang habis :-)

Dan siapa itu Lola Amaria? :-) Sebagai bintang, saya mengakui dia cukup ciamik. Sebagai sutradara? Hmmm ... belum pernah nonton hasil karyanya. Atau pernah, tapi nggak berkesan.

Sampai di lokasi acara, saya tambah senewen karena pembukaannya seremonial banget! Ada beberapa penjelasan tentang merchandise/promotional activity terkait yang membuat saya hampir menguap bosan. Salah satunya adalah Android App yang menurut saya ribet dan kurang user-friendly. Saya benar2 bersyukur ketika AKHIRNYA film dimulai. FINALLY! I can finish this as quick as possible and go home!

Tetapi ... pandangan saya berubah drastis dalam 30 menit pertama film ini.

Tentang filmnya saya tidak akan mengulas detil sinopsisnya. Nggak mau kasih spoiler ;-) Kan belum diputar untuk umum ;-) Namun saya bisa bilang bahwa ketiga pendapat awal saya yang kurang positif itu terpatahkan.

Meskipun temanya terdengar boring dan klise, Pancasila, ternyata penyampaiannya indah. Dan mulus! Tidak seperti Penataran P4 yang bikin ngantuk, nilai2 Pancasila dirajut secara membumi dan holistik. Tidak menjadi butir2 yang terpisah2.

Film dimulai dengan bahasan yang jelas2 terkait dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentang keluarga yang anak2nya berbeda agama. Konflik muncul ketika ibu mereka meninggal, karena kita dipaksa untuk memilih antara mengikuti ajaran yang baku tentang menjaga kesucian jenazah dan sakralnya hubungan ibu-anak. Jika si anak yang beragama berbeda ingin ikut membaringkan ibunya di liang kubur, akankah kesucian jenazah si ibu terjaga? Apakah perbedaan agama ini lebih besar daripada hubungan darah ibu dan anak? 

Ini adalah konflik yang disajikan dengan mulus dan tidak klise, karena bicara lebih dari sekedar atribut keagamaan. Lebih dari sekedar "si X Muslim, si Y bukan Muslim", tetapi bicara tentang suatu kondisi dimana "jika si Y yang bukan Muslim merupakan anak dari si X yang Muslim, sampai di manakah batas yang tepat antara habluminallah dan habluminannas harus dipertahankan?". Menjaga kesucian jenazah dengan tidak tersentuh yang "tidak bersih" adalah habluminallah, karena kita semua harus kembali kepadaNya dalam keadaan sesuci saat kita lahir. Tetapi memberikan closure pada si anak yang ingin mengantar ibunya ke peristirahatan terakhir adalah habluminannas. Apakah kita harus menafikan hubungan baik dengan sesama (dalam hal ini memutuskan ikatan sakral ibu dan anak yang dimulai sejak si anak berada dalam kandungannya) hanya karena agamanya? Pertanyaan yang lebih dalam lagi: apakah agama si anak membuatnya sedemikian kotor sehingga tidak boleh menyentuh jazad ibunya? 

Buat saya pribadi, Allah SWT yang Maha Rahim itu begitu menyayangi umatnya. Ia terlalu agung untuk dibatasi dengan pemahaman manusia, sehingga saya pun tidak yakin Allah SWT akan memutuskan bahwa si anak "terlalu kotor" untuk ibunya. Dan saya senang bahwa fragmen ini diakhiri dengan cara yang menurut saya tetap menunjukkan secara tidak langsung bahwa semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. 

Adegan pemakaman ibu menjadi akhir dari bagian tentang sila pertama. Sampai di sini saya masih berpikir bahwa logikanya kemudian kita akan masuk ke sila kedua, lalu ketiga, keempat, dan kelima. Karena toh tiap sutradara kebagian menggarap satu sila ... jadi apa yang bisa mereka lakukan selain membuat film2 pendek per sila yang kemudian “dipaksa” nyambung?

Namun di sini saya kembali terkesima! Karena ternyata tidak seserampangan itu kerja mereka. 

Betul, awalnya kita diberi sajian sila kedua dengan adegan perundungan. Namun adegan segera bergeser ke sila 3 dan sila 5, balik lagi ke sila ke 2, lalu 3, lalu 5 ... dengan menyajikan konflik terkait. Baruuuu ... belakangan sila ke-4 menutup sebagai gong dan penyelesai konflik. Ini yang membuat saya kagum: mereka berlima benar2 bekerja sama!!! Bukan membuat film sendiri2 dan menjahitnya bak selimut perca!

Konflik yang dimunculkan semua nyata, ada di sekitar kita, dan perlu kita selesaikan segera. Sudah terlalu lama kita bagaikan memendam api dalam sekam dengan bersikap seolah konflik-konflik ini tidak pernah ada. IMHO, cukup sudah pengingkaran kita selama ini. Ini waktunya kita menerima kenyataan bahwa konflik ini ada ... dan menghadapinya. Film ini, menurut saya, dengan halus sudah memberikan alternatif cara menghadapi konflik dengan empatik.

Di titik inilah kebosanan dan keraguan saya sirna sepenuhnya. Film ini benar2 layak ditonton. Sebuah film yang “merajut” lima sila sebagai sesuatu yang utuh dan tidak terpecah2. Karena ... bukankah itu sebenarnya makna Pancasila dalam hidup kita? Sebagai sebuah ideologi yang secara organik muncul di tiap aspek kehidupan tanpa perlu dipilah2? 

To be honest, saya ingin mengajak anak saya yang berusia 10 tahun untuk menontonnya. Untuk menjelaskan padanya tentang kenyataan hidup, dan menempanya menjadi seseorang yang berpikiran terbuka meski tetap teguh beriman pada agamanya. Namun berhubung saya psikolog, saya manut ( = menurut) pada Jean Piaget untuk memberikan rating "13 Tahun ke Atas" untuk film ini. Mengapa "13 Tahun ke Atas"? Sebab di usia ini anak-anak sudah masuk tahap Formal Operational, dimana kemampuan kognitif mereka sudah dapat digunakan untuk memahami hal yang abstrak dan melakukan analisa yang kompleks. 

***
Selain kepiawaian dan kerjasama kelima sutradaranya, ada satu hal lagi yang membuat saya terkesan dengan film ini. Yaitu musiknya :-) Saya mengenali musik2 yang digunakan, dan ... tiga di antaranya adalah favorit saya! Membuat saya curiga: jangan2 Mbak Lola dkk bikin film ini untuk saya

(Maaf, kalimat terakhir ini waham kebesaran saya. Abaikan saja. LOL)

Fragmen tentang sila pertama diakhiri cukup manis dengan "Piano Sonata no 8 in C Minor, Opus 13, Part 2". Yep ... Pathetique Sonata: Adagio Cantabile. Ini adalah bagian favorit dari salah satu sonata Ludwig van Beethoven kesukaan saya.

Saya sudah cukup puas sebenarnya dengan sonata ini. Nah ... bayangkan betapa takjubnya saya ketika di bagian lain saya mendengar "Piano Sonata no 14 in C-Sharp Minor Opus 27 No 2 Movement 3: “Moonlight: Presto Agitato”. Two of my favourite Beethoven’s sonatas in one movie! This is awesome!

Selesai? Belum dong ;-)

Sebab ada satu lagi musik kesukaan saya yang muncul, bahkan seolah menjadi theme songnya. “Nocturne Opus  9 No 2 in E-Flat Major” dari Frédéric Chopin

Di sinilah saya bersujah pada mereka yang membuat film ini. Betul2 kolaborasi yang apik! Mereka benar2 “merajut” kelima sila dalam “sonata” yang indah.

Sonata, dalam musik, adalah komposisi yang dimainkan tanpa nyanyian. Nada yang menyatu dalam jiwa, karena didengarkan dan diresapi - tanpa dinyanyikan. Sementara nocturne, seperti gubahan Chopin itu, adalah komposisi yang diinspirasi oleh malam. Nocturne umumnya digunakan dalam matins, yaitu doa malam dalam agama Katholik.

Saya tidak tahu pasti apakah para penggagas film ini memasukkan unsur sonata dan nocturne karena alasan ini, tetapi itulah makna film ini bagi saya: sebuah karya yang merajut kelima sila Pancasila menjadi sesuatu yang perlu kita resapi dan menginspirasi kita. Menjadi doa kita bagi keutuhan NKRI.

Saya mengakhiri tulisan ini dengan ajakan tulus: yuk, nonton film yang mulai diputar 1 Juni 2018, bertepatan dengan hari lahir Pancasila, ini!