Saturday, January 24, 2009

Syal Rajut untuk Annisa

Sebenarnya, right after gw menuliskan posting sebelumnya, gw sudah punya ide menuliskan posting ini. Tentang bagaimana gw akan membantai buku ini kalau gw jadi editornya... HAHAHAHA.... Yah, some people is born to be a writer. Some other is born to be an editor... ;-) Gw termasuk kategori kedua... HAHAHA... kebetulan sempat dipercaya menjadi tukang jagal buat mereka bertiga (meskipun untuk yang terakhir gw masih ngutang ;-))

Eniwey... sebelum gw beralih ke topik lain, gw selesaikan dulu aja masalah yang ini. Sekalian memenuhi janji buat Divi di sini ;-)

Ada 2 hal utama yang akan gw ubah dari buku ini; alur cerita dan tokoh suami kedua Annisa. Detail cerita akan gw pertahankan, tapi mungkin dipersingkat di beberapa bagian dan dielaborasi di bagian yang lain.

Alur cerita akan gw ubah untuk membuat penokohan lebih kuat dan lebih relevan dengan pembaca. Demikian pula dengan tokoh suami kedua Annisa; tokoh ini akan gw jadikan tokoh tersendiri yang bukan Khudori, si pria masa lalu Annisa. Kenapa? Yaaaa... karena menurut gw ini adalah bagian yang paling mengganggu. Jika suami kedua ini bukan Khudori, si pria masa lalu, maka cerita ini lebih kecil kemungkinannya terlihat sebagai roman picisan yang mengedepankan tema "semua halal demi cinta sejati" ;)

Gw akan menyarankan agar cerita dimulai dengan present time. Cerita pada saat ini - dimana Annisa baru saja menikah dengan suami yang diyakininya akan membawa rumah tangga mereka menjadi sa-ma-wa. Ya, pernikahan kedua, tapi tentu saja kita tidak akan mengatakan bahwa pernikahan ini adalah pernikahan kedua Annisa. Keep the readers in the dark, itu bagus untuk mempertahankan ketertarikan mereka membaca buku ini.

Dalam present time ini gw akan menceritakan bagaimana Annisa sebenarnya masih terbagi dua. Ia percaya bahwa menikah dengan pria ini adalah sesuatu yang baik, tapi sebagai manusia ia masih punya ketakutan. Bayangan traumatis masih menghantui dirinya, sehingga bahkan ketika menonton Sleeping with the Enemy aja dia bisa ketakutan.

*di bagian cerita tentang ketakutannya saat nonton film ini, bisa dikasih efek dramatis seperti ketika Harry Potter melihat pembunuhan orang tuanya dari mata Nagini ;-) Jadi seperti suatu pengalaman surrealis yang membuat pembaca terbawa pada rasa ngeri itu sendiri terhadap perkosaan dalam rumah tangga yang dilakukan Samsudin - tanpa menyebut bahwa perlakuan itu dilakukan oleh suami pertama Annisa. Again, keep the reader in the dark. Biarkan mereka menduga2 pengalaman traumatis apa yang teringat oleh Annisa itu*

Tunjukkan di sini bahwa suami Annisa sangat suportif. Bisa menenangkan Annisa. Dengan demikian mencontohkan suami yang baik menurut Islam [yang sesungguhnya] tanpa menjadi lebay dengan dakwah Khudori yang punya self-interest to some degree itu ;-)

Kemudian, dengan teknik flash back, ceritakan bagaimana Annisa mengenal suami keduanya itu. Ceritakan bagaimana Annisa, seorang aktivis persamaan gender yang menutup diri - bahkan cenderung membenci laki2 - hatinya mulai melunak dengan kehadiran seorang pemuda. Gw bayangkan pemuda ini mungkin seniornya di organisasi2 yang memperjuangkan persamaan gender. Seorang pemuda yang [mungkin] keluaran pesantren juga, tapi sudah belajar teologi di Berlin juga. Pendeknya, seorang pemuda yang benar2 berbeda dengan laki2 lain yang ada di habitat Annisa sebelumnya.

*di sini bisa kita elaborasi pandangan2 si suami Annisa ini terhadap wanita. Mungkin dia bicara dalam seminar, sebagai seorang narasumber, dengan pengetahuannya yang luas tentang perempuan pada umumnya (dan muslimah khususnya) di belahan dunia lain. Bahwa mereka dianggap setara. Pandangan2 yang bisa membuat Annisa menyimak seminarnya - dan menaruh simpati pada pemuda ini. Tapi hati2... biarpun wawasannya luas, jangan bikin pemuda ini kebablasan... hehehe... Seperti ketika si Khudori itu bicara out-of-context mengenai sah2 aja perempuan nggak mau menyusui anaknya dengan contoh ibunda Rasulullah yang tidak menyusui anaknya. Kalau nggak hati2, pandangan si pemuda masih "dogmatis" tanpa melihat konteks seperti itu, jadinya bikin ilfil. Dan nggak kelihatan bedanya dengan muslim kearab2an lainnya ;-) Dalam bayangan pribadi gw, si pemuda ini cara berpikirnya agak mirip dengan Quraish Shihab yang logis, tapi juga lebih bisa diterima oleh segala pihak. Tidak seperti Ulil Abshar Abdalla, yang mungkin lebih kritis, tapi juga sering menjadi lebih kontroversial*

Ceritakan di bagian ini bagaimana laki2 di habitat lama Annisa. Bagaimana Annisa kecil merasa dinomorsekiankan, pertanyaan2 apa yang muncul di benak Annisa kecil tentang pertidaksamaan gender ini. Pertanyaan Annisa kecil harus mengacu pada pertanyaan2 anak seusianya, bukan diambilkan dari tema2 seminar seperti yang dilakukan Abidah dengan komparasi abstrak mengenai kekotoran tubuh manusia ;-) Kalau perlu, kalau memang sudah lupa pertanyaan apa yang muncul di benak penulis seusia Annisa kecil dulu, lakukan riset kecil2an di antara anak2 usia itu di pesantren ;-) Dengan demikian, pembaca bisa benar2 terbawa dengan kehidupan Annisa kecil itu.

Lalu fast forward lagi. Kembali ke masa near past, dimana interaksi antara Annisa dengan pemuda yang kemudian menjadi suaminya ini semakin banyak. Berikan alasan untuk membuat keduanya mantap melangkah ke pernikahan. Elaborasi di sini untuk menunjukkan bagaimana sih seharusnya muslim melihat persamaan gender ini. Kedua tokoh ini harus menjadi representasi mengenai muslim progresif yang kritis dalam melihat dan memaknai Islam; bukan sekedar ikut2an jadi Arab wanna-be ;-) Oleh karena itu Annisa harus menjadi contoh muslimah seperti apa yang pemikirannya mendekati ideal. Pun, suaminya itu harus menjadi panutan bagi gadis2 pembaca buku ini tentang laki2 seperti apa pemikirannya tepat untuk dipertimbangkan jadi suami ;-)

Kemudian kita kembali ke masa kini. Kembali ke Annisa yang sudah menikah, tapi masih harus fighting her own demon. Di sini singgung lagi tentang bayangan2 buruk yang selalu muncul dalam benak Annisa. Beri efek dahsyat dengan segala gaya yang dipaksakan Samsudin pada Annisa untuk menambah kengerian pembaca. Tidak perlu tokoh Kalsum (istri kedua Samsudin) untuk segala gaya aneh2 ;-) Pembaca justru akan lebih connected dengan penderitaan Annisa, jika semua itu dipaksakan kepada Annisa.

Setelah efek dahsyat itu, flash back kembali ke titik dimana Annisa menikah dengan Samsudin. Tadi sudah diceritakan bagaimana Annisa kecil hidup di dunia yang menomorduakan perempuan. Sekarang waktunya untuk membuat pembaca berhenti penasaran tentang pengalaman traumatis Annisa. Ceritakan bahwa lingkungan yang menomorduakan perempuan itu telah membuat Annisa dinikahkan dengan Samsudin, seorang anak kyai lainnya. Ternyata Samsudin ini memiliki kelainan seksual.

*Nggak usah bawa2 cerita bahwa bapaknya Samsudin ini suka nyimpen Playboy seperti di buku aslinya lah ;-) Nggak penting, dan aneh ;-) Darimana Annisa yang cuma menantu tahu bahwa mertuanya nyimpen majalah porno? Emang mertuanya cerita, gitu ;-)? Dan lagi, kalau penyimpangan seksual yang dilakukan Samsudin separah itu, penyebabnya PASTI lebih parah daripada cuma karena dapat akses ke majalah porno. Teori2 psikologi bisa membuktikan hal ini; bahwa penyimpangan seksual itu ada karena trauma tertentu di masa kecil. Jadi, either cerita harus dielaborasi ke trauma apa yang dialami Samsudin hingga membuatnya berkelainan seksual (which is terlalu panjang dan gak penting, karena dia bukan tokoh utama), atau leave it at that. Nggak usah sok menjelaskan kenapa Samsudin punya kelainan seksual*

Pilihan gw adalah berhenti pada fakta bahwa Samsudin si anak kyai ini punya kelainan seksual. Kalau mau cerita tentang kenapa Samsudin punya kelainan ini, ntar di buku lain ;-) Seperti Silence of the Lambs yang menceritakan kenapa Hannibal Lecter jadi sakit jiwa di buku lain ;-)

Annisa remaja, yang dinikahkan dengan Samsudin, pun terjebak dalam neraka rumah tangga. Sebagai remaja yang dilatih untuk jadi warga nomor dua, dia tidak punya survival skill. Kalau bercerai, dia mau makan apa? Belum lagi dia takut merusak nama orang tuanya. Jadilah Annisa terjebak dalam dilema.

Di sini, munculkanlah pecahan lain dari tokoh Khudori di novel asli. Tokoh penguat Annisa, penyemangat hidupnya. Tapi bukan laki2 lain, apalagi laki2 dari masa lalu Annisa, karena itu akan bertentangan dengan konteks Islami yang dibangun oleh setting cerita ini. Mungkin justru bisa gunakan tokoh Kalsum yang kita ubah sebagai perempuan 'simpanan' Samsudin, yang sudah disimpan Samsudin sejak belum menikahi Annisa. Kalsum kita ubah menjadi bekas perempuan murahan yang sudah bertobat, menjadi "kakak" bagi Annisa. Atau bisa gunakan tokoh May (May yang di buku ya... bukan yang ini... HAHAHAHA...). May yang bekas santri di pesantren ayah Annisa, yang ketika Annisa kecil dulu sering mengajari Annisa bermacam hal - termasuk melantunkan ayat2 Al Quran.

Berkat semangat dari tokoh perempuan penguat ini, dan dengan modal dasarnya yang kritis, Annisa remaja akhirnya berani meminta cerai dari Samsudin. Mungkin akan lebih menarik jika ada twist berupa keberatan Samsudin menceraikan Annisa, tapi kemudian ada suatu kejadian dimana akhirnya Annisa outwit Samsudin, membuatnya menalak Annisa (gw belum memikirkan kejadiannya apa, tapi I'll figure out of something). Dan dengan perceraiannya, Annisa bebas sekolah lagi - hingga aktif membela persamaan gender dan bertemu soulmate-nya ;-)

Dan begitulah! Sekarang, setelah terjawab pengalaman apa yang menimpa Annisa, kita kembali ke present time. Elaborasi bagaimana hubungan Annisa dengan suaminya. Bagaimana suaminya bisa mengembalikan kepercayaan Annisa bahwa seks itu adalah sesuatu yang indah, jika dilakukan dengan cara yang tepat dan orang yang tepat. Nggak perlu mengelaborasi step by step dari foreplay sampai orgasme kayak di bukunya ;-). Cukup metaforakan dari rasa sebelum dan sesudah. Bedanya dari kengerian yang dialami sebelum dan sesudah bersama Samsudin.

*Nggak perlu seperti di bukunya, yang setiap kali Khudori tanya, "Apakah tadi malam kamu kesakitan, Nisa?" Pliiiisss deh! Lebay! Sinetron banget! Ceweknya kesakitan atau enggak, kan nggak usah diungkapkan secara VERBAL ;-) Pasti kelihatan kok... hehehe...*

Cerita ditutup dengan akhirnya Annisa dan si suami menimang buah hatinya. Suatu akhir yang indah dari semua penderitaan Annisa. Nggak perlu memaksakan ceritanya sad-end dengan membuat si suami terbunuh seperti di bukunya.

***

There you go ;-) Isi bukunya sama kan? Tapi gw rasa akan lebih menarik untuk dibaca. Dan lebih fokus pada masalah ;-) Terus terang, menurut gw, gaya penulisan naratif-historikal seperti sekarang justru membuat ceritanya kurang well connected dengan pembaca. Gaya ini menyajikan fakta hidup Annisa secara runtun dari kecil hingga dewasa, tapi kurang memberi ruang untuk elaborasi perasaannya. Kalau mau gaya naratif-historikal seperti ini, bukunya nggak bisa setipis ini ;-) Mesti seperti bukunya Ken Follett Pillars of the Earth dan World Without End

Alur baru yang gw ajukan memungkinkan pembaca untuk bisa lebih emotionally involved pada bagaimana rasanya jika perempuan tidak punya hak atas alat reproduksinya sendiri. Juga lebih emotionally involved tentang bagaimana rasanya memiliki suami yang bisa menghargai hak perempuan. Dan mereka bisa lebih fokus tentang bagaimana ciri seorang lelaki yang bisa menghargai perempuan - karena pandangan2 dan perilaku si suami Annisa speaks for himself.

Beda kan, dengan Khudori yang bolak-balik isi kepalanya esek-esek melulu ;-) Ngajak Annisa menikah aja bilangnya karena, "Kebutuhan yang kurasakan sekarang sudah sampai tahap wajib". Plis deh! Kalau gw jadi Annisa, gw akan melihat ini sebagai suatu pelecehan.. hehehe.. Dulu2 nggak berani ngajak kawin, sampai si cewek dinikahin sama laki2 lain dan lived in hell. Tapi setelah si Mr Happy [pinjem bahasanya Cosmopolitan ;-)] ngebet, baru berani ngajak kawin ;-)

Kalaupun buku ini tujuannya adalah untuk "pelaksanaan salah satu misi LSM perempuan yang didanai donor dari negara Barat", pesannya juga lebih sampai. Karena lebih fokus pada masalah, dan elaborasi setiap aspeknya diajukan untuk mempertajam masalah itu.

Eh, tapi itu kalau misinya adalah menyampaikan bahwa "perempuan memiliki hak atas alat reproduksinya sendiri - bahkan Islam pun mengakui itu" lho ya ;-) Kalau misinya adalah untuk menyampaikan bahwa "Perempuan adalah makhluk bodoh yang gampang dimanfaatkan laki2 asal caranya tepat", maka buku yang sekarang lebih tepat ;-) Sebab, menurut gw, Khudori dan laki2 lain di sekitar kehidupan Annisa mah sami mawon: sama2 melihat Annisa sebagai obyek untuk kepentingannya sendiri. Hanya Khudori caranya lebih halus aja ;-)

Tuesday, January 20, 2009

Perempuan Berkalung Selimut Perca

Buat gw, menulis entry di blog itu laksana merajut. We start with a design, and figure out how to bring it into realization. Mana benang yang harus dirajut dulu, kapan harus ganti benang, dll. Kadang2 perhitungannya meleset, dan harus dibongkar sedikit supaya desain tetap terwujud. Atau kadang2, kalau salah perhitungannya nggak fatal, ya biarin aja menjadi aksentuasi dari rajutan itu.

Gw tidak pernah menulis entry di blog dengan metode membuat selimut perca ;-) Mengumpulkan perca dan kemudian menjadi bagian per bagian yang kelihatannya cocok - tanpa punya bayangan hasil akhirnya seperti apa. I do not appreciate - let alone aspire - surprising result.. hehehe... Lagipula, menurut gw, metode ini berbahaya untuk suatu karya tulis. Nanti bisa2 apa yang disampaikan melenceng jauh dari rencana.

Makanya, gw sangat gemas kalau melihat sebuah buku yang kelihatan seperti selimut perca ;-) Langsung gw bergairah untuk mengomentari. Seperti buku Perempuan Berkalung Sorban ini ;-) Fragment demi fragment kehidupan Annisa (sang tokoh utama) terajut, tapi jadinya aneh dan saling bertolak belakang - ditinjau dari segi penokohan. Menimbulkan kesan bahwa sang penulis, Abidah el Khalieqy, memaksakan cerita dari orang2 yang berbeda untuk disatukan di satu tokoh. Abidah tidak mulai dengan membuat penokohan untuk Annisa, tapi hanya menggunakan Annisa sebagai kapstok - tempat segala hal bisa disangkutkan.

Kegemasan gw muncul sejak awal cerita. Tepatnya di bagian cerita ketika si kecil Annisa yang duduk di kelas 5, mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang masuk masjid. Padahal Wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai Yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam mesjid dan tak seorangpun mengatakan itu haram. Demikian pula Wak Burik, blantik sapi yang membuka praktek rentenir itu, sering juga datang dan ngorok dengan mulut berbusa di mesjid. Tak satu orang pun berani mengatakan bahwa tubuh-tubuh mereka jauh lebih kotor dari perempuan yang tengah menstruasi. (hal 73 - 74)


Inilah hal yang pertama membuat gw merasa Abidah cuma menempel2kan cerita ke tokoh Annisa, tanpa mempedulikan penokohan ;-) Psychologically speaking, gw ragu ada anak kelas 5 SD, yang bahkan di bagian2 sebelumnya dari buku itu diceritakan sebagai tidak tahu apa2 tentang the facts of life, akan mengajukan suatu komparasi abstrak seperti ini: membandingkan "kotornya" tubuh perempuan yang tengah menstruasi dengan laki2 yang melanggar aturan agama.

Anak kelas 5 SD, gw tengarai masih dalam level berpikir concrete operational. Akan berbeda jika tokoh Annisa mempertanyakan kotornya perempuan yang sedang menstruasi dengan busa liur Wak Blantik. Tapi... membandingkan kekotoran fisik tubuh perempuan yang mengeluarkan najis berupa darah dengan kekotoran abstrak laki2 rentenir? Hmmm.... ini lebih mirip cara berpikir perempuan dewasa yang dijejalkan ke tokoh kelas 5 SD tanpa memperhatikan penokohan ;-)

Untuk soal darah ini, gw sendiri punya pengalaman yang mirip waktu kelas 3 SD. Gw jatuh dan lutut gw berdarah saat berangkat mengaji. Oleh Mbak Ita, teman mengaji yang anaknya Pak Haji Toha, gw disuruh pulang. Nggak boleh ikut mengaji. Alasannya, "Kan kakinya luka, berdarah. Nanti darahnya menetes di mesjid, jadinya najis". Di kepala kecil gw, omongan ini masuk akal. Mesjid tempat sholat, yang bahkan sudah bersih badan pun harus wudhu dulu. Lha... kalau sajadahnya ketetesan darah, orang nggak bisa sholat di situ dong?

Dan... dalam bayangan gw saat ini, seorang anak kelas 5 SD lebih mungkin mengaitkan larangan masuk mesjid bagi perempuan yang sedang haid dengan kekotoran fisik - daripada berpikir kritis dan membuat komparasi abstrak tentang kekotoran abstrak seorang rentenir. Anak kelas 5 SD dimana pun kecil kemungkinannya berpikir abstrak seperti ini, apalagi tokoh yang diceritakan masih agak naif seperti Annisa ini ;-)

*Even di usia gw yang udah 30 lebih ini pun, gw masih heran ada yang mempertanyakan larangan masuk mesjid - apalagi sholat dan melakukan ibadah lain - bagi perempuan yang sedang menstruasi. It's all about something physical, kan? Segala sesuatu yang keluar dari dubur maupun alat kelamin itu hitungannya najis kan? Lha... emang darah haid keluarnya dari mana? Dari ujung jempol? HAHAHAHA...*

Fragment itu, walaupun sepele, menyisakan pertanyaan di kepala gw. Mengapa Abidah harus menjejalkan fragment ini di usia Annisa yang masih sangat muda, dan membuat ceritanya aneh? Kenapa pertanyaan ini tidak disimpan hingga Annisa lebih dewasa?

Dan... seiring dengan lebih banyaknya gw membaca halaman buku itu, pertanyaan gw terjawab dengan sendirinya. Abidah terpaksa menjejalkan fragment ini di usia muda, karena.... Annisa dewasa akan difokuskan pada cerita tentang [meminjam istilahnya Tante Okke di sini] "aktivitas penyerbukan"... HAHAHAHA...

Iya, bener deh! Sejak Annisa dinikahkan hingga akhir novel, isinya didominasi oleh aktivitas penyerbukan ;-) Baik berupa perkosaan dalam rumah tangga yang dialami Annisa, asyik masyuk bersama Khudori si suami kedua, sampai obrolan dengan madunya dan/atau istri pamannya. Sampai2 gw ingin mengkategorikan novel ini sebagai X-rated dan memanfaatkan Pasal 22 UUP ;-). Gaya bahasanya memang metafora, tapi.... dari foreplay sampai orgasme mah dijabarkan dengan detil. Jadi sami mawon dengan buku2 stensilan ala Nick Carter ;-) Simak bagian yang berikut ini:

Kurasakan ada sesuatu yang merembes, meleleh dari dalam kehangatan yang tersembunyi. Tanpa bisa kutahan, aku mendesah. Merasai semua dan ingin terus berada dalam situasi itu untuk mencapai sesuatu yang entah apa, aku tak tahu. Dengan refleks yang spontan, kuarahkan tangan Mas Khudori untuk menyentuhkan jarinya pada pipi mawar yang sedang mekar di bagian tubuhku. Dan ia pun tahu, apa yang kumaksudkan. Mengusapnya dengan pelan. Kurasakan jemarinya basah oleh cairan hangat yang keluar dari kedalaman rasa. (hal 223)


Nenek2 disko juga tahu deh, bahwa ini adalah penggambaran acara belah duren ;-) Dan tahu apa yang dimetaforakan dengan istilah pipi mawar yang sedang mekar itu ;-)

Oh, well, I'm not a hypocrite. Gw sih nggak keberatan baca adegan aktivitas penyerbukan. Nggak perlu dimetaforakan dengan "pipi mawar" pun nggak apa2 ;-) Tapi... fakta bahwa buku ini banyak bicara tentang adab dalam agama, gw jadi mempertanyakan perlunya menjabarkan aktivitas penyerbukan sevulgar ini.

OK-lah, kalau dikatakan penggambaran aktivitas penyerbukan itu perlu sejelas2nya untuk memberikan gambaran kepada muslimah2 muda tentang what to expect dalam kehidupan seksual rumah tangga. Tapi... dengan penjabaran laksana "Step-by-Step Sexual Intercourse for Dummies" begini, siapa yang jamin nggak akan ada yang menggunakannya untuk membayang2kan "pipi mawar", baik "pipi mawar" orang lain ataupun "pipi mawar" dirinya sendiri ;-)?

*Swear, "pipi mawar" adalah the funniest idiom of the year... no, perhaps that is the funniest idiom of the decade ;-)*

Belum lagi penjabaran vulgar lainnya seperti berikut ini:

"Nisa, mimpikan aku nggak semalam?
"Nggak tuh! Pasti Lek Khudori yang mimpikan aku"
"Kau benar. Semalam aku mimpi basah bersamamu"
(hal 166 - 167)


Hmmm... gw bukan ahli agama sih. Tapi... coba deh gw dicerahkan: hadis atau ayat Al Quran yang mana yang dapat dijadikan dalil untuk membenarkan seorang laki2 dengan bebas menceritakan pada perempuan yang bukan muhrimnya bahwa semalam ia mimpi basah tentang perempuan itu ;-)?

Even tanpa dihubungkan dengan nilai2 agama, menurut gw improper banget lho, ada laki2 cerita ke seorang perempuan yang bukan apa2nya dengan begitu gamblang bahwa semalam ia memimpikan si perempuan dalam konotasi seksual. Kalau gw jadi Annisa sih si Khudori gw gampar... hehehe... Soalnya "menjadi obyek kenikmatan seksual" kan bukan suatu kebanggaan buat gw. Gw akan merasa dimanfaatkan! Mending kalau gw dapat royalty ;-)

Dan bukan sekali itu saja ada adegan [yang setahu gw dalam Islam dianggap] anonoh antara Nisa dan "cinta sejatinya", Khudori. Ada bagian lain yang membuat gw mengucek2 mata, yaitu pertemuan kembali Nisa dan Khudori - saat Khudori pulang dari belajar agama di Berlin dan Nisa masih menjadi istri Samsudin

... aku pamit mengundurkan diri menuju kamar tidur, sesaat kulihat Lek Khudori agaknya juga sudah tak tahan dengan sambutan yang mengharu-biru dirinya. Seakan ada kesepakatan atau hati kami yang sama-sama digempur kerinduan. Dan ketika hanya berdua di ruang makan, kami berpelukan untuk yang kedua kali. Ia membanjiri ciuman di pipi dan mengecup keningku dengan tekanan khusus. Darahku mendesir-desir dan detak jantungku mejadi labil
(hal 147 - 148)


Coba deh, gw dicerahkan ;-) Hadis dan ayat Al Quran mana yang dapat membenarkan bahwa seorang laki2 boleh menciumi pipi dan kening istri orang atas nama cinta sejati? Tak peduli sebrengsek apa pun laki2 yang menjadi suami Annisa, statusnya kan istri orang? Apa hak Khudori menciumi seperti itu? Dengan nafsu pula! Bohong aja kalau ciumannya nggak pakai nafsu... wong sampai "membanjiri pipi dan kening dengan tekanan khusus" ;-)

Kalau Khudori emang benar2 pria baik2, dari dulu dia sudah melamar Annisa dari orang tuanya. Sebelum Annisa dinikahkan dengan orang lain ;-) Bukan jadi slonong boy seperti ini ;-)

***

So tell me, apa yang ada di kepala si penulis saat mengelaborasikan aktivitas penyerbukan berkali2. Masihkah dia mengingat desain utama bahwa buku ini adalah tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan seperti yang banyak disebut di setiap halamannya? Atau jangan2 memang ia sedang menjahit selimut perca, dan melihat perca berupa aktivitas penyerbukan adalah sebuah perca yang indah, sehingga harus digunakan sebanyak2nya?

Atau jangan2 memang tidak pernah ada desain utama berupa syiar tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan. Itu hanya perca lain yang ditempelkan dalam selimutnya. Buktinya, dengan gamblang, ia pun menafikan hak bayi untuk mendapatkan ASI seperti di bawah ini:

"Jika ibunya berkenan menyusui, apakah seorang ibu punya pilihan lain untuk tidak menyusui anak kandungnya sendiri?"

"Tentu saja, Sayang, adalah hak seorang ibu untuk mau menyusui atau tidak terhadap bayinya. Ibulah yang berwenang untuk menentukan apakah ia mau memberikan ASI-nya ataukah ia lebih senang jika orang lain menyusuinya, atau diganti dengan susu kaleng, misalnya. Bukankah Rasulullah juga disusukan pada Halimah Sa'diah dan bukan ibunya sendiri yang menyusui?"
(hal 252)


Hihihi... bagian ini, gw yakin, bakal menuai protes dari AIMI ;-) Disusui kan hak bayi juga, bukan wewenang mutlak ibu ;-) Tapi biar AIMI aja deh yang protes, gw fokus pada masalah utama: gw jadi pingin tahu Khudori ini anak pesantren mana... hehehe... Gw nggak pernah masuk pesantren sih. Tapi.... gw kok ragu ya bahwa alasan Rasulullah disusukan pada orang lain adalah karena ibunya memilih untuk tidak menyusui ;-) Emang ibunya Rasulullah kenapa nggak mau menyusui anaknya, menurut si Khudori itu? Karena nggak dapat maternity leave dari kantornyakah ;-)?

Dengan makin banyaknya kejanggalan2 tentang perilaku "tidak Islami" ini, salah nggak sih kalau gw kemudian mempertanyakan misi penulisan buku ini. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan melalui buku ini? Apa fungsi penggunaan latar belakang Islam dalam buku ini?

Dan gw khawatir bahwa - sadar atau tidak - bahwa latar belakang Islam hanyalah perca yang kebetulan dipunyai oleh si penulis dan dianggap bagus untuk menyelesaikan selimut percanya ;-)

Suntingan: 21 Feb 2009:

Entry ini hanya membahas bukunya. Untuk bahasan filmnya ada di sini, sementara yang di sini adalah bahasan alur ideal buat novel ini

Wednesday, January 14, 2009

Bagai Berlayar Tanpa Sistem Navigasi

Masih dalam rangka merayakan redanya tumpukan pekerjaan yang sempat bikin makan tak enak, tidur tak nyenyak, gw kelayapan ke Gramedia Matraman tadi siang. Mau cari novel Perempuan Berkalung Sorban, karya Abidah el Khalieqy, karena [seperti biasa] gw merasa lebih afdol nonton filmnya kalau sudah baca bukunya ;-)

Gw emang tertarik banget nonton filmnya, setelah lihat trailer pas menemani Ima nonton Bolt. Biarpun rada males lihat potongan adegan rajam yang kayaknya "enggak banget", gw tertarik dengan potongan2 dialognya yang menyebutkan betapa tugas perempuan itu cuma jadi jalan laki2 untuk masuk surga. Setelah baca sinopsis di media cetak bahwa filmnya berkisah tentang anak perempuan seorang kiai salafi (atau gw lebih senang menggunakan istilah wahabi), alur ceritanya mulai terbayang dan bikin gw makin tertarik.

*Catatan: yaaah... referensi gw tentang hukuman rajam itu dari gambar di bukunya Irshad Manji, Beriman Tanpa Rasa Takut sih... dimana si terhukum dikafani dan setengah terkubur sebelum ditimpuki batu. Jadi... lihat tokohnya di trailer "cuma" dilempar ke tengah lapangan terus ditimpuki batu, rasanya jadi lebih mirip lihat massa main hakim sendiri pada maling yang tertangkap ;-)*

Anyway... pengalaman hari ini ke Gramedia Matraman membuat emotional push yang lama terpendam jadi muncul lagi - bergejolak minta ditulis... hehehe...

Seperti layaknya orang yang terorganisir dan pecinta peta, yang pertama kali gw cari di sebuah toko buku adalah katalog elektronik. Apalagi di toko buku sebesar Gramedia Matraman, yang berpotensi membuat gw kehilangan beberapa gram berat badan kalau harus nge-browse rak satu per satu. Langsung mengetik judul bukunya, dan keluarlah data berupa berapa eksemplar buku tersebut masih tersedia, genre, dan [ini yang menurut gw paling penting] kode rak buku berupa nomor 4 digit. Gw hafalkan nomor kode 4 digit itu, lantas bergegas mencari petugas terdekat.

Kenapa gw menghafalkan nomor raknya? Yah... karena gw pikir, petugas akan lebih gampang menghafalkan dimana sebuah rak berada daripada judul buku ;-) Judul buku yang ada di toko sebesar itu kan ribuan, sementara rak nggak akan sedemikian banyak. Lagipula, gw mengira bahwa klasifikasi rak itu didasarkan pada Dewey system. Oh, well, gw tahu kok bahwa petugas toko buku itu bukan librarian, tapi.... karena toko buku adalah main business-nya, gw yakin pasti ada librarian yang bertanggung jawab atas sistem rak di toko buku sebesar ini. Toko buku tanpa librarian, adalah seperti quantitative research division tanpa statistician... hehehe... Mau jadi apa?

Dan gw merasa yakin, si librarian di jajaran manajemen toko buku tentunya melatih anak buahnya supaya sedikit2 rada melek mengenai metode peletakan buku ini.

Yaaaah... mungkin gw ini memang English[wo]man in New York ya ;-)? Sehingga dugaan gw terhadap rekan2 sebangsa setanah air ini salah ;-) Tampaknya memang tidak ada penerapan Dewey system dalam toko buku ini... hehehe... Atau setidaknya: sistem itu tidak disosialisasikan hingga ke akar rumput

*Bahasanya minjem slogan para caleg aaaah... secara sekarang udah dekat pemilu ;-) Di Facebook, gw malah pasang foto ala caleg... hehehe... thanks to Photofunia, gw bisa merekayasa foto diri jadi mirip iklan2 para caleg itu ;-)*

Uuups, gw udah kelanjur ngomel, padahal belum cerita masalahnya ;-)

Jadi, saat gw bertanya pada salah satu petugas dimana letak rak bernomor sekian, petugas itu malah ganti bertanya, "Judul bukunya apa?". Seperti gw duga, setelah gw jawab judulnya, si petugas tetap nggak tahu (ya iyalah! Emangnya dia punya eidetic memory, yang memungkinkan dia menghafal ribuan buku?). Jadilah si petugas itu bertanya lagi, "Jenis bukunya apa?".

Baru setelah gw jawab dengan jelas bahwa buku ini adalah novel yang diangkat ke layar lebar, dan sedang tayang di bioskop, si petugas seolah mendapat pencerahan. Dan dia bersabda,

"Oh, kalau buku novel itu adanya di Lantai 2, Mbak. Coba Mbak naik ke Lantai 2, terus tanya pada petugas di sana, buku itu adanya dimana"

Dewey system apa kabar ;-)?

Bahwasanya toko buku Gramedia Matraman punya masalah dengan peletakan bukunya, itu bukan pengalaman baru. Beberapa tahun lalu, saat Tante Okke baru menelurkan novel kolaborasi pertamanya, Kamar Cewek, masalah ini sudah terdeteksi. Waktu itu Gramedia Matraman sedang perombakan besar2an. Rak buku semua berpindah tempat, sehingga gw disorientasi. Katalog elektronik pun banyak yang tidak difungsikan. Oleh karenanya, gw harus pakai cara manual: kompas bacot ;-)

Daaaaan.... gw nggak pernah lupa pengalaman menggelikan ketika gw diantar si petugas mencari "Kamar Cewek". Dengan manisnya sang petugas mengantarkan gw ke....... RAK BUKU2 INTERIOR DESIGN ;-) Pas gw bengong, si petugas dengan manis dan helpful memberikan informasi:

"Mbak cari kamar cewek kan? Coba cari aja sendiri di sini. Kalau nggak ada yang jadi satu buku sendiri, mungkin digabung dengan dekorasi ruangan lainnya"

Dzigh! Pingin garuk2 aspal... hehehe...

Cerita lain beberapa bulan yang lalu. Masih di toko buku yang sama, gw berniat mencari anak pertamanya JJ, si Vajra, Diamond in Every Heart. Setelah mengalami rangkaian pertanyaan standar berformula judul-pengarang-jenis, akhirnya gw dilempar ke petugas lain yang tampaknya bagian menjaga buku2 chiclit. Daaaaan.... setelah mengitari beberapa rak, si petugas dengan bangga mempersembahkan...... FAYRA ;-)

Coba ya, meskipun bangsa kita salah kaprah membaca BAJAJ menjadi BAJAY, kan bukan berarti VAJRA harus dibaca FAYRA ;-) Tapi untungnya "Vajra" dan "Fayra" ini tetanggaan ;-) Jadi... di sebelah Fayra terletaklah Vajra.

*Masukan buat calon ortu yang kesasar di mari cari nama Sansekerta buat calon anaknya: kalau anaknya kembar cewek, kasih nama aja Vajra dan Fayra ;-) Nggak tahu artinya Fayra apaan, tapi Vajra itu artinya bagus: diamond ;-) Atau kalau mau kreatif dikit, kasih nama anaknya Vajra dan Intan. Biarpun artinya sama, tapi bunyinya enggak. Jadi membantu agar masing2 anak tumbuh mandiri, meskipun memuaskan ortu untuk bisa lucu2an dengan kekembaran anaknya ;-) Jangan ngo-pas nama anak gw lagi ya.. hehehe... *

Tapi yang paling heboh adalah pengalaman saat mencari Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran. Sama seperti ketika mencari buku2 lainnya, gw dihadapkan dengan pertanyaan judul-pengarang-jenis. Dan karena gw nggak ngeh2 amat apakah pengarangnya si Mbot atau Agung Nugroho, maka gw nggak bisa jawab ;-) Apalagi jenisnya... gw nggak tahu itu jenisnya novel atau bukan.

Dan gagallah gw menemukan buku itu, karena setelah gw susuri setiap jengkal rak novel dan chiclit, buku itu tidak kunjung gw temukan. Baru beberapa hari kemudian gw baca komentar di blog si Mbot bahwa buku itu diklasifikan dan masuk ke rak untuk genre...... HUMOR ;-)

Pantes aja gw nggak nemu... hehehe... Walaupun gw tahu isinya lucu abis, tapi gw nggak tahu bahwa itu bisa masuk genre humor. Bayangan gw, kalau humor tuh kayak Mati Ketawa Cara Rusia, yang ngetop banget jaman gw kecil ;-)

Dan begitulah... ;-) Sebagai pecinta buku, gw terpaksa bilang bahwa mencari buku di toko buku adalah suatu frustrating experience ;-) Gw bagaikan berlayar dengan getek di tengah samudra tanpa sistem navigasi ;-)

***

Atau... mungkin sebenarnya bukan bagaikan berlayar tanpa sistem navigasi ya ;-)? Tapi bagaikan berlayar di tengah samudra, naik kapal besar, dengan petani sebagai navigatornya... hehehe.... Si petugas toko buku bagaikan petani, karena mereka nggak bisa baca sistem navigasinya ;-) Bukan berarti nggak bisa kasih arah sih... sebagai petani mereka pasti bisa membaca tanda2 alam. Apalagi kalau petaninya orang Jawa, kemungkinan besar masih mengerti Pranata Mangsa... hehehe... Selama Gubug Penceng masih terlihat, masih bisa deh menentukan arah ;-)

Tapiii.... kalo teknologinya sudah ada, sudah bisa lebih cepat, kenapa sih nggak mengikuti teknologi? Toh, kemampuan membaca teknologi navigasi yang lebih canggih, seperti GPS misalnya, bukan suatu modernitas yang membahayakan.

Gw jadi bertanya2... apakah fungsi librarian segitu dianggap nggak pentingnya, sehingga toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tidak mempekerjakan orang yang mengerti sistem peletakan buku? Atau.... sebenarnya upaya ke arah ini sudah dilakukan, namun mengalami kesulitan transfer of learning ke petugas garda depan?

Kalau ada masalah transfer of learning, masalahnya apa? Apakah cara penyampaiannya, trainer-nya yang nggak bisa menyampaikan dengan baik, atau si trainee-nya yang bermasalah? Yaaah... gw tahu bahwa petugas toko buku itu mungkin bukan kaum intelektual. Tapi... gw juga nggak yakin bahwa semua yang bukan kaum intelektual itu pasti masuk kelompok quitter atau camper, nggak ada yang climber.

Ataupun... jika memang ternyata mereka itu quitter atau camper, kan menurut Paul G Stoltz, the founding father of Adversity Quotient, keadaan ini bisa diubah?

Well... sebuah PR besar untuk toko2 buku (apalagi yang sebesar Gramedia Matraman). Biar para pelanggan makin enjoy kelayapan di sana ;-)

Thursday, January 01, 2009

Animal Fromm

Beneran deh! Sehobby2nya gw dengan komputer dan internet, gw tuh jarang banget main game! Dari dulu emang gak suka aja ;-) Jaman Gamewatch lagi nge-trend, gw juga main biasa2 aja. Nggak sampai tergila2 koleksi. Jaman pertama kali punya komputer Apple, dan anak2 sekelas lagi tergila2 main Digger, gw juga biasa2 aja.

Cuma dua game yang sempat bikin gw agak tergila2... yaitu The Sims dan Nobunaga. Yang paling utama sih The Sims, karena gw senang banget bikin rumah2an dan mengurusi orang2 di dalamnya ;-)

Jadi... waktu diajak Ima main Pet Society, gw males2an. Kalau nggak diseret Ima ke depan komputer, dipaksa bikin pet, gw juga nggak akan main game di Facebook itu ;-)

Namun ternyata... setelah beberapa kali main, gw menemukan keasyikan tersendiri. Berbeda dengan The Sims yang mainannya domestik banget, Pet Society ini lebih berorientasi ekonomi - kapitalis. Nggak cukup cuma dikasih makan, minum, dan dimandikan seperti The Sims. Tapi... strategi dan rencana terlalu panjang seperti di Nobunaga pun tidak diperlukan.

Yang diperlukan apa?

Well, si binatang peliharaan ini butuh duit ;-) Buat beli makan, buat "ngisi rumah", buat beli baju. Sandang, pangan, papan... syukur2 bisa beli barang2 di Luxury (butiknya Pet Society)

Yup! Pet Society ini game kapitalis... HAHAHAHA... Orientasinya adalah bagaimana dapat duit sebanyak2nya supaya bisa beli macem2 barang ;-) Dan cara mengindoktrinasikan kapitalisme ini halus sekali: dengan memberikan satu ruangan tambahan di rumah si binatang peliharaan setiap kali mencapai tingkat tertentu. Tentu saja, ruangan baru ini kan musti diisi ya?

Jadi deh, hidup Caramella (nama binatang peliharaan gw) berkisar antara cari duit, beli sandang/pangan/papan, lantas dapat ruangan baru, cari duit lagi.... obladi, oblada, life goes on... ;-)

Padahal, cari duitnya susaaaaaah banget! Nggak sebanding sama harga barang2. Sebagai contoh: cuma dapat 20 koin setiap kali mengunjungi teman, dapat 30 koin kalau menang pertandingan di stadion... Ada juga sih duit2 receh yang bisa didapat, sekitar 1 - 5 koin, yaitu dengan mengguncang2 pohon, memandikan teman yang jarang mandi, main lompat tali atau frisbee, dan berlatih di stadion. Kalau mau dapat duit agak banyak ya bertaruh di perlombaan lari.

Pada awalnya, gw play safe aja. Paling latihan di stadion. Belum berani ikut lomba, apalagi bertaruh. Selebihnya duduk2 manis aja, karena setiap hari pasti dapat hadiah dari penarikan undian, sekitar 50 koin - 500 koin. Cukup lah untuk beli makan. Baju nggak perlu ganti, sementara sabun kan dikasih gratisan.

Tapi lama2 gw menemukan cara supaya nggak bertaruh, tapi bisa dapat duit lumayan banyak: dengan mengunjungi teman... hehehe... Temannya Caramella jumlahnya ada 22, jadi setiap hari gw kunjungi mereka satu per satu. Cipika cipiki, dapat 20 koin. Bercanda, dapat 20 koin. Total, dengan mengunjungi teman, "penghasilan" Caramella setiap hari adalah 440 koin :) Ditambah daily lottery 50 koin, udah 490 koin. Apalagi kemudian gw mulai sering ikut bertanding, dan... paling enggak bisa lah menang 5 pertandingan. Dapat 150 koin, yang total menyumbang penghasilan Caramella menjadi sekitar 640 koin/hari.

Emang sih, nggak banyak. Cukup aja buat nyambung hidup dan beli yang penting2. Baju cuma punya 1 yang nempel di badan (itupun yang paling murah), beli makanan secukupnya, dan... sisanya ditabung buat "ngisi rumah". Pokoknya, neraca gw nggak boleh lebih rendah dari 500 koin. Tapi sekarang gw udah punya tempat tidur (harganya 2,000 koin!) dan bathtub (seharga 1,000 koin!)

Beda dengan pet-nya Ima, Crystal, yang boros puol! Crystal koinnya nggak pernah lebih dari 100. Kalau udah agak kebanyakan, langsung gatel mau belanja. Baik belanja untuk diri sendiri, maupun untuk memberi kado pada teman ;-) Udah duitnya nggak seberapa, sampai sekarang pet Ima masih tidur di sofa dan numpang mandi dimana2... HAHAHAHA...

Perbedaan lain antara Caramella & Crystal adalah sumber pendapatan. Crystal tidak punya teman sebanyak Caramella (maklum, FB pre-teen kan masih sedikit... teman Ima banyakan teman gw juga). Jadi, Crystal tidak bisa mengumpulkan duit dari home visit. Lantas, darimana Crystal dapat uang? Naaah... itulah cerdiknya Ima! Dia minta password FB Eyangnya, lantas mengurus Lolita (pet Eyangnya yang juga dibuat karena menuruti keinginan Ima). Berhubung kemampuan bermain tetikus Ima jauuuuh lebih baik dari gw, Lolita menang terus tuh lombanya. Alhasil, Ima punya kesempatan 20 lomba sehari. Kalau menang 16 lomba aja hasilnya udah 480 koin. Lebih besar dari usaha gw mengunjungi teman2 setiap hari... HAHAHA...

Terus, sebagai "upah" mengurus Lolita, pendapatan Lolita itu sebagian "ditransfer" ke Crystal dalam bentuk barang2 ;-) Jadi, Ima mengurus pet Eyangnya, agar pet Eyangnya itu mampu mengirimi hadiah pet Ima ;-) Ima menyebutnya "ongkos pemeliharaan". Cerdik ya ;-)

Dan setelah menelaah gaya permainan kami yang berbeda inilah gw menyadari bahwa Pet Society bukan mainan biasa! Sedikit banyak, Pet Society ini membuktikan teori kepribadian dari Erich Fromm.

Fromm, salah satu tokoh penting di psikologi, penulis buku The Art of Loving, mendasarkan teori kepribadiannya pada gabungan ajaran Karl Marx dan Sigmund Freud. Fromm mengemukakan bahwa orientasi kepribadian tidak didasarkan pada instink kebinatangan dan seksual, melainkan pada keterikatan manusia pada lingkungannya. Seperti dikemukakannya dalam Escape From Freedom, alienasi dari masyarakat itu [secara subconscious] merupakan sesuatu yang menakutkan bagi manusia. Dan dalam upaya menghindar dari "kebebasan", manusia senantiasa melekatkan dirinya dengan orang lain melalui aksi ekonominya.

Ada 6 orientasi kepribadian yang dikemukakan Fromm:
    • Tipe Receptive: secara pasif terima aja dari orang lain
    • Tipe Exploitative: secara kreatif memanfaatkan orang lain untuk mencapai hasil
    • Tipe Hoarding: gemar menimbun apa yang dimiliki
    • Tipe Marketing: mudah sekali beradaptasi dengan yang diinginkan masyarakat
    • Tipe Necrophilous/Destructive: hobinya menghancurkan kemapanan orang lain
    • Tipe Productive/Loving: sangat connected dengan sekitar, sehingga secara alamiah mendapatkan apa yang dibutuhkan

Penjelasan komplitnya bisa diintip sendiri di sini, plus lihat tabel karakteristiknya di sini.

Dan terlihat apa yang terbukti dari Pet Society? Hehehe... Sudah lama gw mencurigai diri gw sendiri sebagai tipe Hoarding. Gw sadar kok bahwa gw mirip banget sama Gober Bebek, yang hobbynya menimbun. Gw nggak suka memanfaatkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan gw. Gw selalu usaha sendiri. Tapi... apa yang udah gw dapatkan, suliiit banget gw lepaskan ;-) Itu sebabnya, gw merasa nggak aman kalau koinnya Caramella kurang dari 500 keping ;-)

Ima, di kehidupan nyata memang cenderung tipe Marketing. Tidak seperti gw yang kaku dan selalu melihat apa2 sebagai benar-salah, Ima tuh sangat bisa insert herself dalam kehidupan orang lain... hehehe... A little bit exploitative juga sih ;-) Dan itu kelihatan juga dari gaya bermainnya kan: belum apa2 dia udah "jual jasa" ke Eyangnya... HAHAHAHA...

So, tertarik untuk main Pet Society? Main deh, dan temukan kepribadian Anda sesungguhnya ;-)

*Harusnya gw minta honor dari Pet Society nih, karena promosi game-nya. Tapi... secara gw bukan tipe Marketing, nggak gw charge deh ;-)*

Ohya, sebagai penutup, judul posting ini diadaptasi dari buku ini, yang [seperti sudah gw bilang] salah satu buku favorit gw ;-)

Suntingan 8 Januari 2009:

Njrit! Emang Pet Society ini bener2 game kapitalis! Tempat dimana "kebutuhan pokok" dijadikan sesuatu yang "luxury" supaya orang makin susah payah kerja menghasilkan duit hanya demi dapat membeli sesuatu yang [sebenernya] kebutuhan pokok. Bayangin aja... setelah ada ranjang seharga 2,000 koin dan bathtub seharga 1,000 koin, sekarang ternyata muncul barang baru: kompor seharga 2,500 koin dan mesin cuci 3,000 koin. Dan dimana barang2 itu dijual? Di "Luxury"!

Uhmmm.... bukannya masak dan mandi itu harusnya termasuk kebutuhan pokok yang bisa dibeli semua orang ya ;)?