Wednesday, January 14, 2009

Bagai Berlayar Tanpa Sistem Navigasi

Masih dalam rangka merayakan redanya tumpukan pekerjaan yang sempat bikin makan tak enak, tidur tak nyenyak, gw kelayapan ke Gramedia Matraman tadi siang. Mau cari novel Perempuan Berkalung Sorban, karya Abidah el Khalieqy, karena [seperti biasa] gw merasa lebih afdol nonton filmnya kalau sudah baca bukunya ;-)

Gw emang tertarik banget nonton filmnya, setelah lihat trailer pas menemani Ima nonton Bolt. Biarpun rada males lihat potongan adegan rajam yang kayaknya "enggak banget", gw tertarik dengan potongan2 dialognya yang menyebutkan betapa tugas perempuan itu cuma jadi jalan laki2 untuk masuk surga. Setelah baca sinopsis di media cetak bahwa filmnya berkisah tentang anak perempuan seorang kiai salafi (atau gw lebih senang menggunakan istilah wahabi), alur ceritanya mulai terbayang dan bikin gw makin tertarik.

*Catatan: yaaah... referensi gw tentang hukuman rajam itu dari gambar di bukunya Irshad Manji, Beriman Tanpa Rasa Takut sih... dimana si terhukum dikafani dan setengah terkubur sebelum ditimpuki batu. Jadi... lihat tokohnya di trailer "cuma" dilempar ke tengah lapangan terus ditimpuki batu, rasanya jadi lebih mirip lihat massa main hakim sendiri pada maling yang tertangkap ;-)*

Anyway... pengalaman hari ini ke Gramedia Matraman membuat emotional push yang lama terpendam jadi muncul lagi - bergejolak minta ditulis... hehehe...

Seperti layaknya orang yang terorganisir dan pecinta peta, yang pertama kali gw cari di sebuah toko buku adalah katalog elektronik. Apalagi di toko buku sebesar Gramedia Matraman, yang berpotensi membuat gw kehilangan beberapa gram berat badan kalau harus nge-browse rak satu per satu. Langsung mengetik judul bukunya, dan keluarlah data berupa berapa eksemplar buku tersebut masih tersedia, genre, dan [ini yang menurut gw paling penting] kode rak buku berupa nomor 4 digit. Gw hafalkan nomor kode 4 digit itu, lantas bergegas mencari petugas terdekat.

Kenapa gw menghafalkan nomor raknya? Yah... karena gw pikir, petugas akan lebih gampang menghafalkan dimana sebuah rak berada daripada judul buku ;-) Judul buku yang ada di toko sebesar itu kan ribuan, sementara rak nggak akan sedemikian banyak. Lagipula, gw mengira bahwa klasifikasi rak itu didasarkan pada Dewey system. Oh, well, gw tahu kok bahwa petugas toko buku itu bukan librarian, tapi.... karena toko buku adalah main business-nya, gw yakin pasti ada librarian yang bertanggung jawab atas sistem rak di toko buku sebesar ini. Toko buku tanpa librarian, adalah seperti quantitative research division tanpa statistician... hehehe... Mau jadi apa?

Dan gw merasa yakin, si librarian di jajaran manajemen toko buku tentunya melatih anak buahnya supaya sedikit2 rada melek mengenai metode peletakan buku ini.

Yaaaah... mungkin gw ini memang English[wo]man in New York ya ;-)? Sehingga dugaan gw terhadap rekan2 sebangsa setanah air ini salah ;-) Tampaknya memang tidak ada penerapan Dewey system dalam toko buku ini... hehehe... Atau setidaknya: sistem itu tidak disosialisasikan hingga ke akar rumput

*Bahasanya minjem slogan para caleg aaaah... secara sekarang udah dekat pemilu ;-) Di Facebook, gw malah pasang foto ala caleg... hehehe... thanks to Photofunia, gw bisa merekayasa foto diri jadi mirip iklan2 para caleg itu ;-)*

Uuups, gw udah kelanjur ngomel, padahal belum cerita masalahnya ;-)

Jadi, saat gw bertanya pada salah satu petugas dimana letak rak bernomor sekian, petugas itu malah ganti bertanya, "Judul bukunya apa?". Seperti gw duga, setelah gw jawab judulnya, si petugas tetap nggak tahu (ya iyalah! Emangnya dia punya eidetic memory, yang memungkinkan dia menghafal ribuan buku?). Jadilah si petugas itu bertanya lagi, "Jenis bukunya apa?".

Baru setelah gw jawab dengan jelas bahwa buku ini adalah novel yang diangkat ke layar lebar, dan sedang tayang di bioskop, si petugas seolah mendapat pencerahan. Dan dia bersabda,

"Oh, kalau buku novel itu adanya di Lantai 2, Mbak. Coba Mbak naik ke Lantai 2, terus tanya pada petugas di sana, buku itu adanya dimana"

Dewey system apa kabar ;-)?

Bahwasanya toko buku Gramedia Matraman punya masalah dengan peletakan bukunya, itu bukan pengalaman baru. Beberapa tahun lalu, saat Tante Okke baru menelurkan novel kolaborasi pertamanya, Kamar Cewek, masalah ini sudah terdeteksi. Waktu itu Gramedia Matraman sedang perombakan besar2an. Rak buku semua berpindah tempat, sehingga gw disorientasi. Katalog elektronik pun banyak yang tidak difungsikan. Oleh karenanya, gw harus pakai cara manual: kompas bacot ;-)

Daaaaan.... gw nggak pernah lupa pengalaman menggelikan ketika gw diantar si petugas mencari "Kamar Cewek". Dengan manisnya sang petugas mengantarkan gw ke....... RAK BUKU2 INTERIOR DESIGN ;-) Pas gw bengong, si petugas dengan manis dan helpful memberikan informasi:

"Mbak cari kamar cewek kan? Coba cari aja sendiri di sini. Kalau nggak ada yang jadi satu buku sendiri, mungkin digabung dengan dekorasi ruangan lainnya"

Dzigh! Pingin garuk2 aspal... hehehe...

Cerita lain beberapa bulan yang lalu. Masih di toko buku yang sama, gw berniat mencari anak pertamanya JJ, si Vajra, Diamond in Every Heart. Setelah mengalami rangkaian pertanyaan standar berformula judul-pengarang-jenis, akhirnya gw dilempar ke petugas lain yang tampaknya bagian menjaga buku2 chiclit. Daaaaan.... setelah mengitari beberapa rak, si petugas dengan bangga mempersembahkan...... FAYRA ;-)

Coba ya, meskipun bangsa kita salah kaprah membaca BAJAJ menjadi BAJAY, kan bukan berarti VAJRA harus dibaca FAYRA ;-) Tapi untungnya "Vajra" dan "Fayra" ini tetanggaan ;-) Jadi... di sebelah Fayra terletaklah Vajra.

*Masukan buat calon ortu yang kesasar di mari cari nama Sansekerta buat calon anaknya: kalau anaknya kembar cewek, kasih nama aja Vajra dan Fayra ;-) Nggak tahu artinya Fayra apaan, tapi Vajra itu artinya bagus: diamond ;-) Atau kalau mau kreatif dikit, kasih nama anaknya Vajra dan Intan. Biarpun artinya sama, tapi bunyinya enggak. Jadi membantu agar masing2 anak tumbuh mandiri, meskipun memuaskan ortu untuk bisa lucu2an dengan kekembaran anaknya ;-) Jangan ngo-pas nama anak gw lagi ya.. hehehe... *

Tapi yang paling heboh adalah pengalaman saat mencari Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran. Sama seperti ketika mencari buku2 lainnya, gw dihadapkan dengan pertanyaan judul-pengarang-jenis. Dan karena gw nggak ngeh2 amat apakah pengarangnya si Mbot atau Agung Nugroho, maka gw nggak bisa jawab ;-) Apalagi jenisnya... gw nggak tahu itu jenisnya novel atau bukan.

Dan gagallah gw menemukan buku itu, karena setelah gw susuri setiap jengkal rak novel dan chiclit, buku itu tidak kunjung gw temukan. Baru beberapa hari kemudian gw baca komentar di blog si Mbot bahwa buku itu diklasifikan dan masuk ke rak untuk genre...... HUMOR ;-)

Pantes aja gw nggak nemu... hehehe... Walaupun gw tahu isinya lucu abis, tapi gw nggak tahu bahwa itu bisa masuk genre humor. Bayangan gw, kalau humor tuh kayak Mati Ketawa Cara Rusia, yang ngetop banget jaman gw kecil ;-)

Dan begitulah... ;-) Sebagai pecinta buku, gw terpaksa bilang bahwa mencari buku di toko buku adalah suatu frustrating experience ;-) Gw bagaikan berlayar dengan getek di tengah samudra tanpa sistem navigasi ;-)

***

Atau... mungkin sebenarnya bukan bagaikan berlayar tanpa sistem navigasi ya ;-)? Tapi bagaikan berlayar di tengah samudra, naik kapal besar, dengan petani sebagai navigatornya... hehehe.... Si petugas toko buku bagaikan petani, karena mereka nggak bisa baca sistem navigasinya ;-) Bukan berarti nggak bisa kasih arah sih... sebagai petani mereka pasti bisa membaca tanda2 alam. Apalagi kalau petaninya orang Jawa, kemungkinan besar masih mengerti Pranata Mangsa... hehehe... Selama Gubug Penceng masih terlihat, masih bisa deh menentukan arah ;-)

Tapiii.... kalo teknologinya sudah ada, sudah bisa lebih cepat, kenapa sih nggak mengikuti teknologi? Toh, kemampuan membaca teknologi navigasi yang lebih canggih, seperti GPS misalnya, bukan suatu modernitas yang membahayakan.

Gw jadi bertanya2... apakah fungsi librarian segitu dianggap nggak pentingnya, sehingga toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tidak mempekerjakan orang yang mengerti sistem peletakan buku? Atau.... sebenarnya upaya ke arah ini sudah dilakukan, namun mengalami kesulitan transfer of learning ke petugas garda depan?

Kalau ada masalah transfer of learning, masalahnya apa? Apakah cara penyampaiannya, trainer-nya yang nggak bisa menyampaikan dengan baik, atau si trainee-nya yang bermasalah? Yaaah... gw tahu bahwa petugas toko buku itu mungkin bukan kaum intelektual. Tapi... gw juga nggak yakin bahwa semua yang bukan kaum intelektual itu pasti masuk kelompok quitter atau camper, nggak ada yang climber.

Ataupun... jika memang ternyata mereka itu quitter atau camper, kan menurut Paul G Stoltz, the founding father of Adversity Quotient, keadaan ini bisa diubah?

Well... sebuah PR besar untuk toko2 buku (apalagi yang sebesar Gramedia Matraman). Biar para pelanggan makin enjoy kelayapan di sana ;-)