Saturday, January 24, 2009

Syal Rajut untuk Annisa

Sebenarnya, right after gw menuliskan posting sebelumnya, gw sudah punya ide menuliskan posting ini. Tentang bagaimana gw akan membantai buku ini kalau gw jadi editornya... HAHAHAHA.... Yah, some people is born to be a writer. Some other is born to be an editor... ;-) Gw termasuk kategori kedua... HAHAHA... kebetulan sempat dipercaya menjadi tukang jagal buat mereka bertiga (meskipun untuk yang terakhir gw masih ngutang ;-))

Eniwey... sebelum gw beralih ke topik lain, gw selesaikan dulu aja masalah yang ini. Sekalian memenuhi janji buat Divi di sini ;-)

Ada 2 hal utama yang akan gw ubah dari buku ini; alur cerita dan tokoh suami kedua Annisa. Detail cerita akan gw pertahankan, tapi mungkin dipersingkat di beberapa bagian dan dielaborasi di bagian yang lain.

Alur cerita akan gw ubah untuk membuat penokohan lebih kuat dan lebih relevan dengan pembaca. Demikian pula dengan tokoh suami kedua Annisa; tokoh ini akan gw jadikan tokoh tersendiri yang bukan Khudori, si pria masa lalu Annisa. Kenapa? Yaaaa... karena menurut gw ini adalah bagian yang paling mengganggu. Jika suami kedua ini bukan Khudori, si pria masa lalu, maka cerita ini lebih kecil kemungkinannya terlihat sebagai roman picisan yang mengedepankan tema "semua halal demi cinta sejati" ;)

Gw akan menyarankan agar cerita dimulai dengan present time. Cerita pada saat ini - dimana Annisa baru saja menikah dengan suami yang diyakininya akan membawa rumah tangga mereka menjadi sa-ma-wa. Ya, pernikahan kedua, tapi tentu saja kita tidak akan mengatakan bahwa pernikahan ini adalah pernikahan kedua Annisa. Keep the readers in the dark, itu bagus untuk mempertahankan ketertarikan mereka membaca buku ini.

Dalam present time ini gw akan menceritakan bagaimana Annisa sebenarnya masih terbagi dua. Ia percaya bahwa menikah dengan pria ini adalah sesuatu yang baik, tapi sebagai manusia ia masih punya ketakutan. Bayangan traumatis masih menghantui dirinya, sehingga bahkan ketika menonton Sleeping with the Enemy aja dia bisa ketakutan.

*di bagian cerita tentang ketakutannya saat nonton film ini, bisa dikasih efek dramatis seperti ketika Harry Potter melihat pembunuhan orang tuanya dari mata Nagini ;-) Jadi seperti suatu pengalaman surrealis yang membuat pembaca terbawa pada rasa ngeri itu sendiri terhadap perkosaan dalam rumah tangga yang dilakukan Samsudin - tanpa menyebut bahwa perlakuan itu dilakukan oleh suami pertama Annisa. Again, keep the reader in the dark. Biarkan mereka menduga2 pengalaman traumatis apa yang teringat oleh Annisa itu*

Tunjukkan di sini bahwa suami Annisa sangat suportif. Bisa menenangkan Annisa. Dengan demikian mencontohkan suami yang baik menurut Islam [yang sesungguhnya] tanpa menjadi lebay dengan dakwah Khudori yang punya self-interest to some degree itu ;-)

Kemudian, dengan teknik flash back, ceritakan bagaimana Annisa mengenal suami keduanya itu. Ceritakan bagaimana Annisa, seorang aktivis persamaan gender yang menutup diri - bahkan cenderung membenci laki2 - hatinya mulai melunak dengan kehadiran seorang pemuda. Gw bayangkan pemuda ini mungkin seniornya di organisasi2 yang memperjuangkan persamaan gender. Seorang pemuda yang [mungkin] keluaran pesantren juga, tapi sudah belajar teologi di Berlin juga. Pendeknya, seorang pemuda yang benar2 berbeda dengan laki2 lain yang ada di habitat Annisa sebelumnya.

*di sini bisa kita elaborasi pandangan2 si suami Annisa ini terhadap wanita. Mungkin dia bicara dalam seminar, sebagai seorang narasumber, dengan pengetahuannya yang luas tentang perempuan pada umumnya (dan muslimah khususnya) di belahan dunia lain. Bahwa mereka dianggap setara. Pandangan2 yang bisa membuat Annisa menyimak seminarnya - dan menaruh simpati pada pemuda ini. Tapi hati2... biarpun wawasannya luas, jangan bikin pemuda ini kebablasan... hehehe... Seperti ketika si Khudori itu bicara out-of-context mengenai sah2 aja perempuan nggak mau menyusui anaknya dengan contoh ibunda Rasulullah yang tidak menyusui anaknya. Kalau nggak hati2, pandangan si pemuda masih "dogmatis" tanpa melihat konteks seperti itu, jadinya bikin ilfil. Dan nggak kelihatan bedanya dengan muslim kearab2an lainnya ;-) Dalam bayangan pribadi gw, si pemuda ini cara berpikirnya agak mirip dengan Quraish Shihab yang logis, tapi juga lebih bisa diterima oleh segala pihak. Tidak seperti Ulil Abshar Abdalla, yang mungkin lebih kritis, tapi juga sering menjadi lebih kontroversial*

Ceritakan di bagian ini bagaimana laki2 di habitat lama Annisa. Bagaimana Annisa kecil merasa dinomorsekiankan, pertanyaan2 apa yang muncul di benak Annisa kecil tentang pertidaksamaan gender ini. Pertanyaan Annisa kecil harus mengacu pada pertanyaan2 anak seusianya, bukan diambilkan dari tema2 seminar seperti yang dilakukan Abidah dengan komparasi abstrak mengenai kekotoran tubuh manusia ;-) Kalau perlu, kalau memang sudah lupa pertanyaan apa yang muncul di benak penulis seusia Annisa kecil dulu, lakukan riset kecil2an di antara anak2 usia itu di pesantren ;-) Dengan demikian, pembaca bisa benar2 terbawa dengan kehidupan Annisa kecil itu.

Lalu fast forward lagi. Kembali ke masa near past, dimana interaksi antara Annisa dengan pemuda yang kemudian menjadi suaminya ini semakin banyak. Berikan alasan untuk membuat keduanya mantap melangkah ke pernikahan. Elaborasi di sini untuk menunjukkan bagaimana sih seharusnya muslim melihat persamaan gender ini. Kedua tokoh ini harus menjadi representasi mengenai muslim progresif yang kritis dalam melihat dan memaknai Islam; bukan sekedar ikut2an jadi Arab wanna-be ;-) Oleh karena itu Annisa harus menjadi contoh muslimah seperti apa yang pemikirannya mendekati ideal. Pun, suaminya itu harus menjadi panutan bagi gadis2 pembaca buku ini tentang laki2 seperti apa pemikirannya tepat untuk dipertimbangkan jadi suami ;-)

Kemudian kita kembali ke masa kini. Kembali ke Annisa yang sudah menikah, tapi masih harus fighting her own demon. Di sini singgung lagi tentang bayangan2 buruk yang selalu muncul dalam benak Annisa. Beri efek dahsyat dengan segala gaya yang dipaksakan Samsudin pada Annisa untuk menambah kengerian pembaca. Tidak perlu tokoh Kalsum (istri kedua Samsudin) untuk segala gaya aneh2 ;-) Pembaca justru akan lebih connected dengan penderitaan Annisa, jika semua itu dipaksakan kepada Annisa.

Setelah efek dahsyat itu, flash back kembali ke titik dimana Annisa menikah dengan Samsudin. Tadi sudah diceritakan bagaimana Annisa kecil hidup di dunia yang menomorduakan perempuan. Sekarang waktunya untuk membuat pembaca berhenti penasaran tentang pengalaman traumatis Annisa. Ceritakan bahwa lingkungan yang menomorduakan perempuan itu telah membuat Annisa dinikahkan dengan Samsudin, seorang anak kyai lainnya. Ternyata Samsudin ini memiliki kelainan seksual.

*Nggak usah bawa2 cerita bahwa bapaknya Samsudin ini suka nyimpen Playboy seperti di buku aslinya lah ;-) Nggak penting, dan aneh ;-) Darimana Annisa yang cuma menantu tahu bahwa mertuanya nyimpen majalah porno? Emang mertuanya cerita, gitu ;-)? Dan lagi, kalau penyimpangan seksual yang dilakukan Samsudin separah itu, penyebabnya PASTI lebih parah daripada cuma karena dapat akses ke majalah porno. Teori2 psikologi bisa membuktikan hal ini; bahwa penyimpangan seksual itu ada karena trauma tertentu di masa kecil. Jadi, either cerita harus dielaborasi ke trauma apa yang dialami Samsudin hingga membuatnya berkelainan seksual (which is terlalu panjang dan gak penting, karena dia bukan tokoh utama), atau leave it at that. Nggak usah sok menjelaskan kenapa Samsudin punya kelainan seksual*

Pilihan gw adalah berhenti pada fakta bahwa Samsudin si anak kyai ini punya kelainan seksual. Kalau mau cerita tentang kenapa Samsudin punya kelainan ini, ntar di buku lain ;-) Seperti Silence of the Lambs yang menceritakan kenapa Hannibal Lecter jadi sakit jiwa di buku lain ;-)

Annisa remaja, yang dinikahkan dengan Samsudin, pun terjebak dalam neraka rumah tangga. Sebagai remaja yang dilatih untuk jadi warga nomor dua, dia tidak punya survival skill. Kalau bercerai, dia mau makan apa? Belum lagi dia takut merusak nama orang tuanya. Jadilah Annisa terjebak dalam dilema.

Di sini, munculkanlah pecahan lain dari tokoh Khudori di novel asli. Tokoh penguat Annisa, penyemangat hidupnya. Tapi bukan laki2 lain, apalagi laki2 dari masa lalu Annisa, karena itu akan bertentangan dengan konteks Islami yang dibangun oleh setting cerita ini. Mungkin justru bisa gunakan tokoh Kalsum yang kita ubah sebagai perempuan 'simpanan' Samsudin, yang sudah disimpan Samsudin sejak belum menikahi Annisa. Kalsum kita ubah menjadi bekas perempuan murahan yang sudah bertobat, menjadi "kakak" bagi Annisa. Atau bisa gunakan tokoh May (May yang di buku ya... bukan yang ini... HAHAHAHA...). May yang bekas santri di pesantren ayah Annisa, yang ketika Annisa kecil dulu sering mengajari Annisa bermacam hal - termasuk melantunkan ayat2 Al Quran.

Berkat semangat dari tokoh perempuan penguat ini, dan dengan modal dasarnya yang kritis, Annisa remaja akhirnya berani meminta cerai dari Samsudin. Mungkin akan lebih menarik jika ada twist berupa keberatan Samsudin menceraikan Annisa, tapi kemudian ada suatu kejadian dimana akhirnya Annisa outwit Samsudin, membuatnya menalak Annisa (gw belum memikirkan kejadiannya apa, tapi I'll figure out of something). Dan dengan perceraiannya, Annisa bebas sekolah lagi - hingga aktif membela persamaan gender dan bertemu soulmate-nya ;-)

Dan begitulah! Sekarang, setelah terjawab pengalaman apa yang menimpa Annisa, kita kembali ke present time. Elaborasi bagaimana hubungan Annisa dengan suaminya. Bagaimana suaminya bisa mengembalikan kepercayaan Annisa bahwa seks itu adalah sesuatu yang indah, jika dilakukan dengan cara yang tepat dan orang yang tepat. Nggak perlu mengelaborasi step by step dari foreplay sampai orgasme kayak di bukunya ;-). Cukup metaforakan dari rasa sebelum dan sesudah. Bedanya dari kengerian yang dialami sebelum dan sesudah bersama Samsudin.

*Nggak perlu seperti di bukunya, yang setiap kali Khudori tanya, "Apakah tadi malam kamu kesakitan, Nisa?" Pliiiisss deh! Lebay! Sinetron banget! Ceweknya kesakitan atau enggak, kan nggak usah diungkapkan secara VERBAL ;-) Pasti kelihatan kok... hehehe...*

Cerita ditutup dengan akhirnya Annisa dan si suami menimang buah hatinya. Suatu akhir yang indah dari semua penderitaan Annisa. Nggak perlu memaksakan ceritanya sad-end dengan membuat si suami terbunuh seperti di bukunya.

***

There you go ;-) Isi bukunya sama kan? Tapi gw rasa akan lebih menarik untuk dibaca. Dan lebih fokus pada masalah ;-) Terus terang, menurut gw, gaya penulisan naratif-historikal seperti sekarang justru membuat ceritanya kurang well connected dengan pembaca. Gaya ini menyajikan fakta hidup Annisa secara runtun dari kecil hingga dewasa, tapi kurang memberi ruang untuk elaborasi perasaannya. Kalau mau gaya naratif-historikal seperti ini, bukunya nggak bisa setipis ini ;-) Mesti seperti bukunya Ken Follett Pillars of the Earth dan World Without End

Alur baru yang gw ajukan memungkinkan pembaca untuk bisa lebih emotionally involved pada bagaimana rasanya jika perempuan tidak punya hak atas alat reproduksinya sendiri. Juga lebih emotionally involved tentang bagaimana rasanya memiliki suami yang bisa menghargai hak perempuan. Dan mereka bisa lebih fokus tentang bagaimana ciri seorang lelaki yang bisa menghargai perempuan - karena pandangan2 dan perilaku si suami Annisa speaks for himself.

Beda kan, dengan Khudori yang bolak-balik isi kepalanya esek-esek melulu ;-) Ngajak Annisa menikah aja bilangnya karena, "Kebutuhan yang kurasakan sekarang sudah sampai tahap wajib". Plis deh! Kalau gw jadi Annisa, gw akan melihat ini sebagai suatu pelecehan.. hehehe.. Dulu2 nggak berani ngajak kawin, sampai si cewek dinikahin sama laki2 lain dan lived in hell. Tapi setelah si Mr Happy [pinjem bahasanya Cosmopolitan ;-)] ngebet, baru berani ngajak kawin ;-)

Kalaupun buku ini tujuannya adalah untuk "pelaksanaan salah satu misi LSM perempuan yang didanai donor dari negara Barat", pesannya juga lebih sampai. Karena lebih fokus pada masalah, dan elaborasi setiap aspeknya diajukan untuk mempertajam masalah itu.

Eh, tapi itu kalau misinya adalah menyampaikan bahwa "perempuan memiliki hak atas alat reproduksinya sendiri - bahkan Islam pun mengakui itu" lho ya ;-) Kalau misinya adalah untuk menyampaikan bahwa "Perempuan adalah makhluk bodoh yang gampang dimanfaatkan laki2 asal caranya tepat", maka buku yang sekarang lebih tepat ;-) Sebab, menurut gw, Khudori dan laki2 lain di sekitar kehidupan Annisa mah sami mawon: sama2 melihat Annisa sebagai obyek untuk kepentingannya sendiri. Hanya Khudori caranya lebih halus aja ;-)