Wednesday, February 04, 2009

Part III: Epilog

Yang lagi belajar nge-rock bilang "You're the one who set it up, now you're the one to make it stop". Kalau yang suka Bang Haji, bilangnya, "Kau yang mulai, kau yang mengakhiri" ;-) So, gw akan mengakhiri apa yang sudah gw mulai ;-) Yang udah bosen, silakan click away ;-) Protes belakangan nggak akan diterima ;-)

Ya, seperti biasa, curiousity never fails to get the best of me. Jadi, walaupun udah nyela abis bukunya, tetap aja gw nggak tahan untuk nggak nonton filmnya.. hehehe...

Ini celaan lanjutan catatan dibuang sayang dari nonton filmnya... ;-) Tadinya udah hampir gw delete dari draft, karena mau ngebahas Kantin Kejujuran. Tapi... melihat data Google Analytics bahwa Perempuan Berkalung Selimut Perca adalah top entry , dan ternyata komentar masih berdatangan, gw putuskan untuk mempublikasikannya ;-)

*Ngomong2 soal top entry, gila, rekor bo! Satu2nya URL yang lebih tinggi angka kunjungannya daripada posting itu adalah: home URL. Iya, alias http://smritacharita.blogspot.com/ ;-) Considering bahwa posting itu umurnya baru 2 minggu, berarti emang heboh banget pencarian informasi tentang "Perempuan Berkalung Sorban" di dunia maya ;-)*

***

Setengah film pertama, gw cukup menikmati. It seems that Hanung (and that other screenplay writer) are better author than the original one ;-) Mereka berhasil membumikan cerita. Pun penokohannya jadi lebih kuat. Pendeknya, alis gw bisa istirahat, karena fragmen2 ceritanya nggak bikin jidat gw berkerut berkali2... hehehe...

Setelah beberapa detik adegan pembuka berupa Annisa naik kuda berkalung sorban (catatan: Annisanya yang berkalung sorban, bukan kudanya ;-)) yang agak out-of-context, cerita mengalir lancar dengan flashback ke masa Annisa kecil. Annisa digelandang ibunya pulang - secara harafiah - dari atas punggung kuda. Saat itu Annisa sedang berkuda bersama kedua kakak laki2nya.

Pengubahan cerita awal ini tampaknya sederhana, tapi membuat semuanya lebih fall into place. Penonton jadi lebih bisa connected kepada keinginan Nisa berkuda karena keinginan ini berawal seorang anak kecil yang melihat kakak2nya berkuda. Dengan angle ini, Hanung & tim mengantar kita pada masa kecil kita; dimana kita selalu look up to the aspired one.

Masalah kuda2an ini juga diperkuat konteksnya dengan adegan ketika Khudori memenuhi keinginan Annisa belajar berkuda. Annisa kecil benar2 digambarkan sebagai anak kecil yang make-believe play. Sederhana, nggak penuh dengan pesan muluk tentang pertidaksamaan hak, tapi penonton diajak mengingat masa kecil betapa suatu hal remeh-temeh seperti make-believe play itu sebenarnya masalah mati-hidup buat anak kecil. Jadi, nggak perlu norak memaksakan bahwa si anak kecil itu melihat esensi sebenarnya dari tidak diperbolehkannya ia berkuda ;-)

Pesan lain yang juga tersampaikan dengan baik tanpa eksekusi senorak di buku aslinya adalah mental breakdown yang dialami Annisa dalam rumah tangganya. Tanpa gambar yang vulgar (yaaah... emang sih masih ada suara2 desahan dan adegan pre-coitus, tapi menurut gw sih standard lah buat film dewasa ;-)), pesan ini tersampaikan dengan baik melalui pipi Annisa yang biru legam maupun pendarahan hebat yang dialami Kalsum. Film ini membiarkan penonton terjebak dengan kengeriannya sendiri, bayangannya sendiri, tentang apa yang tidak digambarkan. And in a way, itu membuat pesannya lebih "kena".

Dalam banyak hal, detil cerita justru akan mengurangi kedahsyatan pesan yang diterima, karena persepsi orang dikebiri menjadi fakta singular ;-) If you want to market the idea, if you want the people to buy YOUR idea, manipulate their perception. Do not give them all the fact ;-) Marketing is all about perception, and a little bit about facts ;-)

Dengan ketidakdetilan seperti ini, malah jadi lebih dimengerti kenapa Annisa mengalami trauma, sehingga perlu waktu menyesuaikan diri lagi ketika sudah menikah dengan Khudori. Dan... digabungkan dengan ketidakjelasan pengalaman seksualnya, efeknya seperti bola salju. Kini lebih besar alasan bagi orang untuk mendukung kesamaan gender: untuk menghindarkan mengalami mental breakdown dan trauma seperti Annisa. Karena tidak tahu detil pengalaman seksual yang dialami Annisa, maka orang lebih termotivasi untuk mencegah nasib dari awal sekali.

Ibaratnya, dinikahkan dengan Samsudin itu pengalaman A, kekerasan seksual itu pengalaman B, dan trauma itu pengalaman C. Maka rumusnya adalah A --> B --> C. Karena kita tidak tahu pasti B itu seperti apa, maka kita mencegah terjadinya C dengan mengeliminasi A. Bandingkan jika kita tahu B seperti apa; maka akan lebih besar celah argumen bahwa A boleh terjadi, asal dilakukan suatu treatment yang menetralisir B sehingga tidak menghasilkan C. Trust me, rumus ini adalah mainan gw sehari2... hehehe.... Gw termasuk orang yang selaluuuuu aja bisa menemukan alternatif untuk membuat orang ragu apakah A harus dieliminasi agar C tidak terjadi, kalau gw tahu B-nya... hehehe...

Kalau sepanjang baca bukunya gw terganggu banget dengan tokoh Khudori, di film ini malah tokoh ini yang paling berperan sebagai jangkar cerita. Why? Karena Hanung dan timnya benar2 bisa menterjemahkan Khudori sebagai muslim muda progresif; yang tetap berakar pada nilai2 Islam, tapi berpikiran terbuka dan modern. Dialog2nya, perilakunya, semua menunjukkan itu. Jauuuuuuhhhh beda dengan Khudori di buku yang isi kepalanya esek2 melulu ;-)

Salah satu perbedaan kecil yang menjadikan tokoh Khudori di film nggak bikin ilfil kayak di buku adalah: Khudori nggak nyosor aja ketika Annisa kecil bilang, "Aku sukaaaa sekali sama Lik". Di buku kan diceritakan Khudori langsung bersikap kayak dapat durian runtuh; langsung menggenggam tangan Annisa dan minta mengklarifikasi maksudnya (hal 36). Kesannya jadi kayak pedofil, kan ;-)? Naah... di filmnya, Khudori nggak norak gitu. Cuma matanya aja yang memandang Annisa dengan sejuta tanya yang tak terucapkan ;-) Lebih nampol, bo!

Dan cinta terpendamnya buat Annisa itu digambarkan dengan subtle. Hanya dengan sepucuk permohonan maaf bahwa ia "takut atas perasaannya yang tidak pantas". So humble.

*Acungan jempol buat Oka Antara, si pemerannya. Ekspresi dan caranya bertutur menunjukkan ia benar2 masuk ke tokoh yang diperankan. Apalagi, tidak seperti Revalina Temat, logatnya juga cukup "Jawa" (meskipun lebih ke arah logat Jawa Tengah daripada logat Jawa Timuran ;-)) Tambah jempol lagi mengingat Oka ini bukan muslim, apalagi yang keluaran pesantren*

Tokoh Khudori di film ini juga nggak muncul bak pahlawan kesiangan yang pulang sekolah langsung jadi superhero yang mengangkat problem Annisa dalam rapat keluarga. Khudori masih tetap berperan sebagai teman yang santun; yang bersimpati, namun punya kontrol diri yang kuat. Tidak bias dengan self-interestnya. Gw suka dengan pengubahan cerita menjadi membumi; bahwa Samsudin menemukan surat Khudori, kemudian menemukan Annisa sedang curhat padanya di kandang, dan atas dasar itu menuduhnya berzinah. Dan klimaks cerita, menurut gw, adalah pada saat Samsudin menceraikan Annisa di depan massa.

Ya, adegan itu menurut gw sangat berkesan. Annisa accidentally outsmarts Samsuddin. Dia mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi... pesan moralnya adalah: be careful of what you're wishing for. Seringkali apa yang kita dapatkan itu ditebus dengan kehilangan sesuatu yang sangat kita hargai. Dalam hal ini seumur pernikahannya Annisa selalu berharap bisa bebas dari Samsuddin. Dia mendapatkannya - at last - tapi dengan harga yang sangat mahal. Ia hampir mati dirajam, ayahnya wafat karena serangan jantung, dan yang paling mahal: pengalaman itu telah membuat rasa cinta yang ia jaga untuk Khudori hancur.

She doesn't know anymore what she wants... and I wonder... at that time, did she ever look back and judge whether this freedom is worth it all?

Adegan nyaris-rajam ini merupakan klimaks cerita, menurut gw. Sehingga, kalau mau cooling down, sebenarnya cukup dengan menceritakan hidup Annisa dan Khudori pasca kebebasan. Bagaimana Annisa kemudian memperjuangkan persamaan hak perempuan melalui Pusat Krisis Perempuan, bagaimana kemudian ia dapat memperbaharui cintanya dengan Khudori, lantas bahu-membahu mengajarkan nilai2 Islam progresif kepada orang lain. Annisa mentransfer nilai2nya pada klien2nya di Pusat Krisis Perempuan, sementara Khudori pada mahasiswa2 didikannya. Bersama kita mereka bisa! Dan dari situlah muncul tunas2 muda yang tidak lagi menomorduakan perempuan.

Sayang... kayaknya Hanung waktu itu beli rol filmnya yang buy one get one free ;-) Jadi ada sisa rol film yang harus dimanfaatkan. Jadilah, filmnya dipanjang2in nggak penting. Pakai acara Annisa pulang ke pesantren, "memaksakan" nilai2nya dalam pesantren kakaknya, Khudori [masih] pakai meninggal, kakak2nya Annisa pakai ngutang sama Samsudin lagi, dan Samsudin pakai mau menikahi Annisa lagi sebagai penebus utang kakaknya. Persis seperti sinetron kejar tayang!

Asli! Sejak Annisa balik ke pesantren itu, gw bolak-balik menguap, merem, melek lagi, ngintip HP udah jam berapa (soalnya arloji gw gak kelihatan), daaaaan.... terakhir gw malah browsing internet (duh! Tagihan 3G gw berapa ya, bulan ini... hehehe... belum punya Blackberry sih ;-))..

Ada dua hal yang membuat gw gak sreg dengan setengah film terakhir. Yang pertama, ya karena menurut gw klimaksnya sudah terjadi pada adegan nyaris-rajam itu. Cooling down harusnya selesai saat Nisa menikah dengan Khudori. Begitu ditambah porsinya, jadi basi. Apalagi cerita tambahan itu jadinya kembali ke titik awal: bigotry and misogynist all over again.

Dialognya memang bagus2, seperti ketika kakaknya mengatakan, "Perempuan sudah mendapatkan surganya tanpa harus berpikir". Tapi, menurut gw, nggak perlu ada pengulangan ini. Justru dialog2 ini harusnya muncul di awal cerita. Ketika Annisa gagal menjadi ketua kelas karena, "Dalam Islam perempuan tidak boleh menjadi pemimpin," tentu akan lebih kuat jika penyelesaiannya bukan sekedar Annisa digebukin bapaknya. Bapaknya bisa mengucapkan dialog ini, bahwa Annisa [menurut nilai2 yang dianutnya] salah, karena kabur dari kelas. Bahwa [menurut nilai2 yang dianutnya] sang guru benar, karena perempuan memang tidak boleh jadi pemimpin.

Daripada memanjang2kan cerita di akhir, lebih baik mengelaborasi cerita di depan ;-) Dan... memasukkan dialog2 seperti itu dalam awal cerita, justru akan makin memperkuat penokohan Annisa - serta membuat semakin jelas mengapa ia kemudian berontak dan berjuang untuk persamaan hak.

Alasan kedua kenapa gw bete banget pada paruh terakhir film adalah: karena menurut gw Annisa salah! Ya, menurut gw, Annisa justru salah jika memaksakan perubahan di pesantren itu.

Adalah haknya untuk memiliki pandangan progresif. Adalah haknya juga untuk menyebarkan, mengajarkan, membuat orang tertarik pada pandangan progresifnya. Tapi.... kakak2nya juga punya hak yang sama untuk memiliki pandangan konservatif. Pesantren itu punya hak untuk memiliki pandangan konservatif. It is a wrong thing to march into somebody's house and tell them what they should do!

Sorry to say, gw setuju dengan kata2 kakaknya Annisa di film itu: bahwa para santri itu dititipkan ke mereka. Apa hak Annisa mengubah cara belajar? Belum tentu lho, orang tuanya para santri itu setuju dengan cara berpikir Nisa.

Akan lain ceritanya jika Annisa melakukannya di luar pesantren. Itu adalah haknya. Dan hak para santri pula untuk bergabung. Annisa akan punya alasan yang lebih kuat untuk complain pada pihak pesantren jika kemudian pesantren melarang aksinya. Dua organisasi yang berbeda, lebih kuat jadi masalah hukum kalau ada yang saling melarang. Sementara kalau dia balik dan memperbaharui pesantren kakaknya, itu jadi masalah internal belaka.

Lagipula, inti perjuangan Annisa adalah persamaan hak bagi perempuan kan? Bukan memperjuangkan perbaikan di pesantren Al-Huda itu kan? Kalau dia pulang ke pesantren dan memaksakan penerapan pandangan progresifnya di sana, apakah ini tidak mereduksi perjuangannya? Arahnya jadi sekedar "membebaskan para santri dari kezaliman pengurus Pesantren Al-Huda"?