Thursday, February 14, 2008

The Inqilabi Girl

Being pregnant cost me some intellectual capacity.. hehehe.. gw jadi lemot, ketinggalan buku2 bagus terbaru, dan kemampuan gw membaca menurun.

Saking lemotnya, gw baru tahu A Thousand Splendid Suns (awas spoiler!) sudah terbit bebeberapa bulan yang lalu. Itu pun gara2 Iwan casually nanya apakah gw sudah baca ;-) Buru2 deh gw ke Kinokuniya PS, dan.. ternyata.. bukunya sudah habis! Akhirnya lari ke Periplus di lantai yang sama. Untungnya masih ada 1 copy yang tersisa, dan sudah dikorting 20% saking nggak laku2. Blessing in disguise ;-)

Buku kedua Khaled Hosseini ini memang nggak rugi untuk dikejar dengan usaha keras. Buku ini berkisah tentang kehidupan dua orang wanita dari dua generasi yang berbeda, dan dari lingkungan yang berbeda pula. Hanya saja, melalui persilangan jalan yang serba kebetulan, keduanya terikat dalam satu jalinan nasib. Yang satu Mariam, Cinderella-in-reverse, yang nasib buruknya berubah menjadi malapetaka. Lahir sebagai anak di luar nikah dari seorang pria kaya beristri tiga, Mariam segera dicarikan jodoh oleh ketiga ibu tirinya sepeninggal ibu kandungnya. Namanya juga Cinderella-in-reverse, maka suami Mariam bukanlah pangeran berkuda putih, melainkan a bully misogyny bergigi kuning ;-).

Sementara yang satunya lagi, Laila, adalah seorang gadis Afghanistan kota besar yang dibesarkan dalam masa penjajahan komunis Sovyet. Masa2 dimana derajat manusia di Afghanistan ditentukan oleh orientasi politiknya (pro vs kontra revolusi), bukan oleh jenis kelaminnya. Lahir dari keluarga terpelajar dan moderat, Laila kecil dididik untuk berani berpikir, bicara, dan bersikap bebas. Perjalanan hidup Laila berubah ketika kehilangan seluruh keluarga akibat bom dalam perang saudara antar faksi2 pemerintahan Mujahidin, setelah Sovyet angkat kaki dari Afghanistan. Karena satu dan lain hal (nggak mau kasih spoiler ;-)), Laila terpaksa menerima pinangan Rasheed – yang tak lain tak bukan adalah suami Mariam, si bully misogyny bergigi kuning tersebut.

Dan dari situlah nasib mereka berdua terjalin. Kisah yang mengharukan, tentang bagaimana perubahan iklim politik mempengaruhi masing2 individu dalam budaya tersebut. Seperti yang disebutkan dalam sinopsis di sampul belakang: It is a tale of two generations of characters, brought jarringly together by the tragic sweep of war, where personal life – the struggle to survive, raise a family, find happiness – are inextricable from the history playing out around them.

Walaupun Laila mendapatkan bagian penceritaan yang sama banyaknya, sebenarnya fokus cerita ini tetap Mariam. Kehadiran Laila adalah sebuah batu injakan untuk akhir kisah hidup Mariam, yang dianalogikan dengan manis sebagai a legitimate end to a life of illegitimate beginning (hal.329). Namun, buat gw pribadi, tokoh Laila di sini lebih menarik perhatian daripada the lady of the show, Mariam.

Gw dengan mudah merasa connected dengan Laila karena kesamaan latar belakang keluarga. Dan karenanya, gw tidak bisa membayangkan jika hidup gw berubah 180 derajat seperti Laila dalam pemerintahan Taliban: suddenly gw [sebagai perempuan] terbatasi segala haknya.

Attention women:

You will stay inside your home at all times. It is not proper for women to wander aimlessly about the streets. If you go outside, you must be accompanied by a mahram, a male relative. If you are caught alone on the street, you will be beaten, and sent home.

You will not, under any circumstance, show your face. You will cover with burqa when outside. If you do not, you will be severely beaten.

Cosmetics are forbidden

Jewelry is forbidden

You will not wear charming clothes.

You will not speak unless spoken to.

You will not make eye contact with men.

You will not laugh in public. If you do, you will be beaten,

You will not paint your nails. If you do, you will lose a finger.

Girls are forbidden from attending school. All schools for girls will be closed immediately.

Women are forbidden from working

(hal. 248 – 249)

Kalau itu terjadi di Indonesia, gw cuma punya dua pilihan: bunuh diri, atau dipukuli Taliban sampai mati.. hehehe.. Eh, ada pilihan ketiga dan keempat sih: jadi gila, BARU bunuh diri atau dipukuli Taliban sampai mati ;-)

Dipaksa pakai burqa saja sudah membuat gw bakal tersiksa, mengingat gw nggak tahan kepanasan dan keringetan. Apalagi nggak boleh baca, nggak boleh nonton TV, nggak boleh sekolah, nggak boleh kerja, nggak boleh keluar rumah.. bahkan ketawa pun nggak boleh! Terus.. apa jadinya hidup gw kalau nggak boleh jalan2 sendiri tanpa muhrim, lha wong nggak boleh nyetir sendiri selama hamil pun sudah membuat diri gw menderita ;-)

Dan gw benar2 kagum pada tokoh Laila yang survive dari segala kekejaman ini. Before her life turned upside down, Laila never would have believed that a human body could withstand this much beating, this viciously, this regularly, and keep functioning, demikian kata sang penulis di halaman 287. Before I read your story, Laila, I never would have believed that a human SANITY could withstand this much, and keep functioning, itu kata gw ;-).

Ya, Laila menjadi lebih menarik daripada Mariam, karena gw bayangkan bahwa penderitaan (mental)nya jauh lebih besar daripada si tokoh utama. Sama2 mengalami penderitaan fisik dan mental, sejak kecil Mariam sudah diajar oleh ibunya untuk menerima bahwa “Like a compass needle that points north, a man’s accusing finger always finds a woman. Always” (hal. 7) dan “It’s our lot of life, Mariam. Women like us. We endure. It’s all we have.(hal. 18).

Ya, Mariam memang menderita. Tapi setidaknya sejak kecil she knows what fate will come. Bandingkan dengan Laila yang tidak dipersiapkan untuk mengalami keadaan seperti ini. Seorang gadis yang sejak kecil digadang2 oleh ayahnya:

Marriage can wait, education cannot. You can be anything you want, Laila” (hal. 103)

***

Yang tak kalah menariknya, adalah kata2 ayah Laila menyikapi pendudukan Rusia di Afghanistan:

Women have always had it hard in this country, Laila, but they’re probably more free now, under the communists, and have more rights than they’ve ever had before” (hal. 121)

Hmm.. sangat menarik. Selama ini gw dibesarkan dalam konsep bahwa komunis itu adalah sesuatu yang buruk. Nggak ada baik2nya. Gimana enggak.. hehehe.. gw kan angkatan yang masih dipaksa nonton film ”Janur Kuning” dan ”Pemberontakan G-30-S/PKI” setiap tahun ;-) Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah ;-)

”Of course, women’s freedom is also one of the reasons people out theretook up arms in the first place.”

By “out there”.. [he] meant the tribal areas, especially Pashtun regions in the south and in the east near the Pakistani border, where women were rarely seen on the streets and only then in burqa and accompanied by men. He meant those regions where men who live by ancient tribal laws had rebelled against the communists and their decrees to liberate women, to abolish forced marriage, to raise the minimum marriage age to sixteen for girls. There, men saw it as an insult to their centuries-old tradition, to be told by the government – and a godless one at that – that their daughters had to leave home, attend school, and work alongside them.

(hal. 121)

Seperti buku pertamanya, The Kite Runner, Khaled Hosseini benar2 berhasil menyentuh hati para pembaca, dan membuat kita menyadari betapa tipis antara yang benar dan yang kita anggap benar. Antara yang benar dengan feel insult karena disalahkan. Walaupun dengan cara dan sudut penceritaan yang berbeda; dalam The Kite Runner ia mengambil sudut psikologis seseorang yang merasa bersalah (dengan perubahan politik sebagai latar belakang cerita), sementara dalam A Thousand Splendid Suns ia mengambil sudut sosiologis perubahan politik Afghanistan yang tak kunjung selesai, dengan mengambil hidup dua wanita sebagai latar belakangnya.

Either way, Khaled Hosseini is a damn good writer!

Kalaupun ada kekurangan, itu adalah kecenderungan Hosseini untuk “manjang2in” cerita. Seperti The Kite Runner yang memaksakan happy end dengan Amir yang mengambil anak Hassan untuk diasuh, dalam buku ini Hosseini juga memaksakan happy end dalam beberapa lembar terakhir bukunya. Well, mungkin memang Hosseini-agha punya bakat untuk bikin sinetron seperti bapak2 di Multivision itu.. hehehe.. Tapi setidaknya, walaupun dipanjang2in, ceritanya begitu nyata dan insightful. Beda sama sinetron yang “cuma” dipanjang2in doang.

***

BTW, inqilabi girl itu artinya adalah “gadis revolusi”. Itu nickname Laila, karena dilahirkan pada malam dimana Sovyet mulai memasuki Afghanistan.