Sunday, April 17, 2011

Pluralisme Periferal

I love Hanung Bramantyo's movies!

Beberapa di antaranya, seperti Jomblo, memang benar2 gw nikmati. Sisanya? Selalu bisa membangkitkan gairah gw untuk mengulasnya ;-)

Lantas, film "?" bagaimana?

Hmm... film ini juga hebat lah! Buktinya, bisa membuat gw kembali menulis setelah membiarkan blog ini mati suri selama hampir setengah tahun ;-)

Tidak seperti film terakhirnya yang gw ulas ini, setidaknya "?" tidak bikin gw ngantuk. Pencahayaan dan pengambilan gambarnya juga cukup gw nikmati. Tapi... secara keseluruhan... terpaksa gw cuma kasih nilai 3 dari skala 0 - 10. 

Ada dua hal yang membuat kantuk tak sempat mampir di mata gw selama film berlangsung. Yang pertama adalah karena sepanjang film sikap gw berganti2 antara menolak, memahami, mendukung, menolak lagi, memahami lagi, mendukung lagi penfatwaan haram ;-)

Di awal2 cerita, sikap gw adalah menganggap film ini cukup aman. Kalau yang dikhawatirkan adalah degradasi keimanan [Muslim] akibat nonton film ini, rasanya agak jauh. Karakter Rika yang pindah agama menjadi Katholik itu menurut gw sama sekali nggak kuat dan gak inspiratif untuk memotivasi pindah agama. Alasannya pindah agama, tampaknya, cuma karena suaminya kawin lagi. Menghindari poligami dengan masuk ke agama yang mengharamkan poligami (dan perceraian), as stupid simple as that meskipun alasan resminya adalah karena, ".. Tuhan akan menyembuhkan aku".  Nggak perlu lah, film ini diharamkan... hehehe... Cukup bikin sekuelnya aja: tokoh Rika ini menikah kembali dengan seorang pria dan merasa "aman" karena tidak akan pernah dipoligami lagi. Tapi ternyata pria ini pelaku KDRT, dan pembatalan pernikahan yang ditunggu tak kunjung datang.

Plot sekuel yang bodoh? Yaaah... untuk menangkis inspirasi "bodoh" pindah agama gara2 masalah suami-istri, ya ciptakan counter-inspirasi yang sama "bodoh"-nya saja ;-) Gitu aja kok repot ;-)

Sikap gw menjadi cenderung ke pro fatwa haram ketika adegan beranjak ke nasihat si Ustad bahwa it's OK bagi Surya masuk gereja dan berperan menjadi Yesus dalam acara "sakral" umat Katholik: Ibadah Jalan Salib. Hmmm... semasa 13 tahun sekolah di sekolah Katholik, gw juga keluar masuk gereja - meskipun gw Muslim.  I have nothing against the idea of a Moslem entering a church. Tapi... entering a church as the Christ during this devotion is more complicated than that, isn't it? Bagi umat Katholik, Ibadah Jalan Salib itu adalah devosi. Prosesi renungan sengsara Yesus sejak ditangkap hingga wafat di kayu salib. Entering this sacred procession is totally intrusive... and pointless, if you talk about pluralism!

Betuuul... seperti kata Dedi Soetomo yang berperan sebagai Pastor di film itu, "Apa ada keimanan yang runtuh hanya karena sebuah drama?". Tapi pertanyaan saya, Romo, adalah, "Apakah benar Ibadah Jalan Salib itu hanya sebuah drama?"

Gw rasa cukuplah menunjukkan pluralisme dengan kesediaan si Menuk-yang-namanya-Jawa-tapi-logatnya-gak-Jawa-babar-blas itu mengurusi katering di gereja. Gadis berjilbab mengurus katering di gereja, itu sudah suatu bentuk pluralisme. Pun sudah dengan ada Banser NU yang menjaganya. Gak perlu kebablasan dengan menjadikan seorang Muslim berperan sebagai Kristus pada suatu ritual ibadah.

Swear, gw melihatnya ini malah sebagai penghinaan terhadap umat Katholik lho! Mosok sampai untuk ibadah pun mereka harus diintrusi oleh orang lain? Memangnya nggak ada umat Katholik yang bisa berperan jadi Kristus? Memangnya umat Katholik sedangkal itu, hingga harus bayar aktor demi berperan menjadi Tuhannya dalam perayaan mereka sendiri - agar dramanya "bagus"?

*Uhmm... lagian, sejak kapan sih untuk drama di gereja itu pakai casting dan terima orang luar? Setahu gw, ini selalu jadi acara internal deh!*

Gw jadi semakin memahami jika MUI mau mengharamkan film ini ketika adegan Soleh dkk menyerbu restoran tempat Menuk bekerja. Soleh, yang anggota Banser NU, memprovokasi orang2 untuk menyerbu restoran HANYA karena mereka buka di hari lebaran kedua? Hadooooh... Hanung, what a stupid plot! Gw tahu sih ada ormas yang mudah diprovokasi untuk sweeping rumah makan saat Ramadhan, tapi... itu nggak pas ditaruh di konteks lebaran kedua, Mas!

Sweeping saat Ramadhan adalah karena mereka percaya bahwa tidak puasa di bulan Ramadhan adalah dosa. Stupid, maybe, but it is not groundless. Lha, kalau restoran buka di hari lebaran kedua, salahnya apa? Lebaran kedua, lho, Mas, tanggal 2 Syawal. Nggak ada kewajiban kita untuk mengistimewakan hari itu dengan libur/tutup. Tanggal 2 Syawal itu semua sudah kembali ke semula lagi.... malah puasa Syawal aja udah boleh mulai kok! Masalah silaturahmi bisa dilakukan hingga sebulan ke depan. Nggak perlu lebaran kedua libur ;-)

Bener deh! Sengaja atau tidak, Hanung malah mendegradasi any dignity left in Moslem dengan adegan ini. Muslim tidak saja digambarkan sebagai suka kekerasan, melainkan juga "goblok to the max" ;-) Mau2nya diajak nyerbu restoran cuma karena seorang laki2 cemburu, padahal nggak ada dalil/dasarnya dalam agama :-)

***
Hehehe... cukup untuk menjabarkan alasan pertama kenapa gw tetap terjaga selama film. Sekarang kita masuk ke alasan kedua ;-)

Alasan gw yang kedua adalah: selama film gw pingiiiinnn sekali menarik Hanung Bramantyo ke sebuah ruangan kecil, mendudukkannya di kursi, dan.... melakukan tes MBTI kepadanya ;-) Asumsi gw: dia perceiving characteristic-nya [S]ensing banget, nggak ada i[N]tuiting-nya ;-)

Asumsi ini terbangun lantaran filmnya ini jauh panggang daripada api ;-) Maksudnya, pluralisme itu kan isyu yang "dalem". Agar film ini bisa menyentuh hati, menurut gw sih mestinya penggambarannya depth banget. Nggak perlu banyak plot, tapi masing2 plot-nya "dalam". Masih inget film Children of Heaven? Film ini bisa menyentuh justru karena bermain2 dengan konflik dan emosi pemerannya, bukan karena banyak plotnya. Atau contoh lain adalah Paradise Now. Setidaknya, kalau mau bikin film yang plotnya berjejalan kayak pasar, coba seperti Crash. Setidaknya seperti Identity. Atau kalau mau versi Indonesianya, Daun di Atas Bantal

Ah... ya. "Crash". Seharusnya ini jadi referensi yang baik saat membuat film "?". Isyunya pun mirip sebenarnya, antara rasis dan pluralisme. Sayang, alih2 membuat gw keluar gedung bioskop dengan insight baru seperti film peraih Oscar itu, "?" malah membuat gw merasa habis nonton sinetron yang dipadatkan: plotnya kebanyakan, karakter dan plotnya nggak mendalam, dan detil2nya banyak yang mengganggu logika ;-)

Beberapa detil yang mengganggu logika, selain ketika Rika menawari Surya ikut casting drama Paskah, adalah ketika Menuk melarang Surya makan sebelum Jalan Salib selesai, karena, "... Mas, masih puasa!". Sumpah, pingin ngakak gw... HAHAHAHA... Soalnya, setahu gw, puasa pra-paskah itu dilakukan dengan berpantang sesuatu (biasanya daging) pada hari2 tertentu. Jadi, lucu aja kalau ada orang yang dilarang makan, bolehnya nanti kalau sudah selesai acara, karena masih "puasa". Emang loe kira puasa Ramadhan, kalau udah bedug boleh buka? HAHAHAHA...

Lagi, ketika si Menuk nangis2 karena suaminya minta cerai ;-) Ya ampyuuuuunnnn.... yang bisa menjatuhkan cerai suami, bukan? Istri punya hak untuk minta talak cerai karena nggak ridha suaminya sudah menyalahi taklik talak, tapi kalau gak mau cerai juga gak apa2. Jadi... ngapain istrinya jerit2 histeris cuma karena suaminya "minta" cerai? Kalau emang suaminya mau menceraikan, gak perlu suami yang "minta", lageee ;-) Aneh!

Dan yang membuat jidat gw berkerut sepanjang acara adalah: mosok iya, ada restoran sekecil itu punya standar kualitas yang sedemikian tinggi? Memisahkan perlengkapan dan peralatan buat babi dan non-babi sedetil itu kan sama aja seperti punya 2 restoran. Lha, emang restoran ini omzetnya berapa sih sehari, sampai mampu membiayainya? Lagian, dari sisi bisnis, apa iya worth it untuk punya 2 business line yang bertentangan begitu? Emang berapa banyak dalam sehari Muslim taat yang masuk ke restoran itu, sampai dibela2in ada peralatan/perlengkapan khusus?

***
Jadi, jelas kan kenapa gw hanya kasih nilai 3 dari skala 0 - 10? Ide ceritanya menarik, mau menyorot dan mengkampanyekan pluralisme. Tapi eksekusinya benar2 payah-to-the-max deh! Plotnya kebanyakan, penggambarannya lebay.

Terus terang, menurut gw film ini gagal total menggambarkan pluralisme. Film ini cuma menempelkan peristiwa2 fanatisme dan menambahkan peristiwa2 yang bertentangan dengannya. Seolah2 pluralisme adalah antonim dari fanatisme ;-)

Menurut pemahaman gw, pluralisme justru bukan antonim fanatisme. Pluralisme adalah bukti bahwa kita telah melewati batas fanatisme. Ketika seseorang belajar agama, sampai pada penghayatan tertentu dia mungkin menjadi fanatik. IMHO, ini adalah "godaan" dalam belajar agama. Jika orang menyerah dan lantas tutup mata gak mau belajar lagi, maka dia akan menjadi fanatik buta. Tapi kalau dia mau belajar, mau membuka mata, maka tahap selanjutnya akan membuat dia melihat bahwa semua perbedaan itu fana. Bahwa keimanannya menembus perbedaan2 yang ada.

Pesan ini yang gagal ditampilkan oleh Hanung dalam film "?", karena tempelan peristiwa2nya justru menggambarkan orang2 yang belum benar2 mengerti agama. Mereka menafikan perbedaan karena mereka tidak menilai tinggi agama. Bukan karena menunjukkan pluralisme.

Contoh yang paling gamblang adalah tokoh Rika. Jika ia memang memahami agama, jika dia memang mengakui Tuhan itu tak dibatasi agama, dia tidak perlu pindah agama. Dia cukup mendalami agamanya, dan menemukan penyembuhan dalam agama yang dianutnya. Karena semua agama sama ;-) Kalau dia sampai pindah agama, itu justru menunjukkan bahwa dia masih belum bisa melihat bahwa semua agama itu sama ;-) Implikasinya: dia hanya tidak menunjukkan fanatisme, tapi belum tentu sampai pada level pluralisme.

Selama ini Gus Dur selalu disebut2 sebagai tokoh Pluralisme. Gw setuju dengan itu. Menurut gw Gus Dur sudah tahu begitu banyak sehingga sampai pada titik mampu menunjukkan pluralisme. Tetapi even seorang Gus Dur gw yakin tidak akan bertindak sejauh Romo yang menjadikan Surya pemeran Kristus, atau Ustad yang mengijinkan Surya menjadi bagian dari ritual ibadah ;-). Kalau Gus Dur masih hidup, gw gak yakin beliau akan mengijinkan non-Muslim menyembelih kambing/sapi qurban pada saat Idul Adha - meskipun mereka mampu dan mau menyembelih sesuai syariat Islam. Karena... dalam penyembelihan itu ada kandungan ibadahnya. Bukan cuma sekedar menyembelih tanpa makna.

Dan itu yang membedakan sebuah pluralisme dari pluralisme periferal