Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)