Wednesday, July 04, 2007

A Tale of Jakarta

Dua minggu lalu mobil terpaksa nginep di bengkel. Sebenernya sih urusan rawat jalan rutin aja, tapi berhubung nggak sempat ngambil, ya udah dibiarin aja di sana. Kebetulan, sekalian bisa jadi alasan untuk naik Trans Jakarta.

Sejak Trans Jakarta memasangkan tiang pancang (eh, kok tiang pancang sih?) di depan kantor, gw udah mengangankan pergi-pulang kantor naik mass rapid transportation itu. Kayaknya enak, tinggal naik angkot 1x ke halte terdekat, naik, pindah bus di Halte Halimun, dan turun di halte paaaas depan kantor. Yaaah.. gw juga nggak bermuluk2 mikir bahwa Trans Jakarta akan mirip dengan MRT sih, mirip2 monorail di KL aja enggak (walaupun jalan menuju halte sih udah sebelas dua belas), tapi.. setidaknya, gw bayangkan akan lebih nyaman dari Patas AC jaman gw pertama kali kerja dulu lah!

Tahun 1997, pas gw pertama kali kerja, rasanya nyaman bener naik Patas AC. Tinggal naik, duduk, baca sepanjang perjalanan. Pulangnya juga tinggal naik, duduk, dan tidur sepanjang perjalanan. Bener2 kehidupan yg nyaman, sampai ketika Patas AC mulai deteriorisasi dan banyak yg nggak layak jalan lagi.

Kata bapaknyaima dan oomnyaima (baca: adik gw), gw nggak bakalan sanggup naik Trans Jakarta tiap hari. Busnya sedikit, ngantrinya lama, banyak copet pula! Tapi dasar gw tuh kepala batu, teteuup aja gw menyimpan keinginan untuk membuktikan sendiri ;-)

Naik Trans Jakarta untuk jarak dekat dan di jam nggak rame sih gw udah lumayan sering. Kebetulan ada klien yg kantornya di ujung jalan, pas depan halte juga. Ada juga satu klien di daerah Warung Buncit yg kantornya pas depan halte. Jadi.. gw suka iseng naik busway untuk meeting.

*Coba, bayangkan, betapa tinggi dedikasi gw untuk kantor! Daripada bayarin gw puluhan ribu naik taksi, gw sudah memangkas overhead menjadi Rp 7,000 saja pulang balik ;-)*

Tapi.. ternyata, memang omongan orang2 itu benar. Trans Jakarta tidak senyaman bayangan gw.

Hari pertama tanpa mobil, gw sengaja pulang jam 19:30. Biar lebih khusyuk menikmati perjalanan pulang, maksud gw. Kan udah nggak rame. Ternyata.. memang nggak rame. Gw bisa duduk menunggu di halte. Tapi.. nggak rame bukan berarti nyaman! Lampu haltenya mati, si Mbak petugas karcis harus nyalain lilin supaya bisa membedakan karcis yg mau dia jual dengan kertas2 lain. Akibatnya, boro2 gw duduk nyaman. Gw terpaksa memeluk tas erat2, takut ada yg nyolong di kegelapan.. hehehe.. Dan yang pasti, gw nggak bisa baca sambil nunggu bus :-(

*Komentar Nyolot I: duuuh.. kok bisa2nya sih sarana umum kena giliran pemadaman lampu juga? Emangnya pemerintah nunggak bayar listrik, kok listriknya diputus?*

Untung, di halte itu gw nggak lama. Cuma 5 menit, dan busnya muncul. Memang, bus yang jurusan Ragunan - Halimun tuh banyak. Tiap 5 menit lewat satu. Katanya sih yg susah jurusan Dukuh Atas - Ragunan (arah sebaliknya). Yang itu.. tiap 50 menit sekali baru muncul satu.. hihihi..

Tapi keberuntungan gw berakhir di Halimun. Di situ, gw kudu nunggu 40 menit sebelum muncul bus jurusan Halimun - Pulogadung. Empat puluh menit, man! Kalau ditambah 5 menit lagi, bisa2 gw lumutan nunggunya.. HAHAHAHA.. Sementara, selama gw nunggu itu, ada kali 6-7 bus ke arah berlawanan yg muncul. Jadi emang nggak berimbang jumlah bus di tiap jalurnya

*Komentar Nyolot II: mbok ya kalo mau bikin solusi kemacetan tuh yg dipikirkan bukan cuma bikin jalur khusus dan ninggiin aspal. Tapi juga pengadaan bus dan JADWAL-nya. Kalau satu koridor udah penuh, sementara yg satu kosong, gimana kek diaturnya. Subsidi silang.. yg lagi rame dibanyakin bus-nya gitu. Ojek aja punya timer, kok Trans Jakarta nggak berimbang gini jumlah bus yg dijalankan?*

Berhubung ini pengalaman baru buat gw, jadi gw masih semangat nunggunya. Malah sempat "nge-wawancara" beberapa penumpang dan petugas juga. Katanya, memang yang jurusan Pulogadung jarang banget. Analisa beberapa orang sih mungkin busnya kena macet di seputaran Dukuh Atas. Beberapa orang lagi bilang: mungkin jalannya kurang lancar karena jalur busway-nya dipakai mobil/motor pribadi. Jadi, bus nggak bisa jalan.

*Komentar Nyolot III: inilah yg terjadi kalo jalurnya ngambil jalur umum dan membuka celah untuk kendaraan lain masuk. Belum pernah dengar istilah "mental terabas" kan? Makanya dulu ada "Gerakan Disiplin Nasional".. hehehe.. soalnya banyak orang yg susah disiplin. Coba kalo dulu bikinnya monorail, nggak bakalan kan, ada mobil yg nyerobot jalur monorail ;-)*

Akhirnya, setelah 40 menit menanti, datang juga bus yang gw tunggu2. Selain fakta bahwa bus ini ber-AC, dan pintunya di sebelah kanan, keadaannya udah mirip lagu jadul:

Bus kota sudah miring ke kanan
Oleh sesaknya penumpang
Aku terjepit di sela-sela
Ketiak para penumpang
Yang bergantungan
Gw baru bisa duduk setelah mencapai Halte Matraman. Di halte itu.. brudul2 banyak penumpang turun. Usut punya usut, ternyata banyak yg turun karena mau ganti bus jurusan Kampung Rambutan.

*Komentar Nyolot IV: yang kayak gini sudah diperhitungkan belum ya? Bahwa orang banyak yg berkantor di Sudirman dan tinggal di Selatan Jakarta, sehingga otomatis jurusan ke Selatan serta jurusan-nggak-ke-selatan-tapi-jadi-tempat-transit-untuk-ke-selatan pasti banyak peminatnya. Mestinya, jalur yg sensitif gini kan diperbanyak armadanya ya? Bukan disuruh nunggu 40 menit ;-)*

Untung, nggak lama setelah itu, gw turun. Dan itulah pertama serta terakhir kalinya gw naik Trans Jakarta jarak jauh di waktu rush hour ;-) Setelah itu.. mendingan nyetir sendiri deh. Biar kata betis jadi talas Bogor gara2 macet, dan gak bisa baca juga di mobil, tapi gw nggak perlu bergayutan ala Tarzan sambil berusaha menyelamatkan barang2 gw ;-)

Naaah.. yang kayak2 gini nih yg harus dipikirkan dan diperhitungkan oleh mereka2 yg mau ikutan Pilkada. Coba ya.. yang kayak gini dipikirkan, dikonsepkan langkah penyelesaiannya, dan dituangkan dalam bentuk kampanye. Jadi.. kampanye-nya bukan cuma berisi identifikasi masalah seperti "Bosan Macet? Benahi Jakarta". Udah kudu lebih advance lagi: benahi Jakarta itu seperti apa konsepnya?

Kalau mau dipilih, yakinkan dong calon pemilihnya. Juallah diri dengan konsep yang jelas. Sayang bener kalo bikin iklan nasional ratusan juta tanpa konsep yg meyakinkan ;-)

Udah nggak jamannya lagi jual diri cuma untuk meningkatkan recall dan awareness. Apalagi cuma dengan masang spanduk warna-warni di pelosok Jakarta. Lha wong udah didukung banyak partai, ada koalisinya segala, mbok ya dimanfaatkan lebih dari sekedar pasang spanduk. Coba brainstorm untuk menjabarkan kalimat2 seperti "Bersama Dalam Keseragaman" menjadi hal yg lebih tangible. Bersama dalam Keseragaman itu apa? Bersamanya gimana? Keseragamannya gimana? Apa hubungannya dengan masalah yg ada di Jakarta sekarang?

Dari awal gw lihat spanduk2 ini dimana2, gw berharap akan dilanjutkan dengan pamflet yg mengelaborasinya. Ternyata, sampai sekarang, gw belum melihat satu pun bentuk elaborasi tersebut. Atau udah ada ya, dan gw kurang gaul aja ;-)?

Hehehe.. ditunggu lho, Bapak-bapak, konsep yang lebih "menjual".. ;-) Perlu dikasih referensi Brand Consultant yang OK ;-)?

Banyak lhoo.. masalah yg bisa dielaborasi jadi konsep nyata. Masalah transportasi mungkin merupakan salah satu masalah "terkecil". Ada juga masalah "angka kemiskinan yang menurun tahun ini".

Lho, angka kemiskinan menurun kok perlu dielaborasi? Bukannya itu bagus? Well.. secara statistik sih emang kelihatannya bagus. Dan gw sih percaya2 aja bahwa hitungan ini [mungkin] benar ;-) Masalahnya, kalo hitungan ini benar, data tidak dimanipulasi, maka kenyataannya lebih parah daripada kalau angka kemiskinan meningkat.

Why? Kita main hitung2an aja. Kalo penduduknya ada 100, dan 20 orang di antaranya miskin, maka angka kemiskinannya 20% kan? Nah.. kalau misalnya, kemiskinan itu sudah sedemikian parah sehingga menyebabkan kematian lebih besar daripada kelahiran, dan menyebabkan jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 10 orang (angka pertumbuhan -50%). Sementara dari 80 penduduk yg tidak miskin itu terjadi pengurangan penduduk 10 orang saja (angka pertumbuhan -12.5%), sekarang kedudukannya berapa? Skor akhir adalah 70:10, alias angka kemiskinan "turun" menjadi 12.5% saja. Di atas kertas turun.. tapi.. bukan berarti kondisi membaik ;-)

*Catatan: ada perhitungan lain yg lebih positif yg menghasilkan hal sama. Intinya.. angka kemiskinan menurun, jika pun itu merupakan data yg benar, belum tentu merupakan sesuatu yg positif*

Well.. tadi ini sebenernya gw mo ngomongin apa ya? Kok jadi campur aduk gini. Ah.. ya sudahlah.. ambil insight sesuka2 Anda aja ;-) Biasanya juga gitu toh.. HAHAHAHA..

Suntingan 6 Juli 2007:

Sebenernya ya, baruuu aja entry ini dipublikasikan, eeeh.. MetroTV menyiarkan dialog dengan Bapak Spanduk. Yaah.. dalam dialog itu sih Bapak Spanduk menjelaskan segala sesuatunya tentang kenapa dia "nggak berhasil" selama jadi wagub, dan kenapa dia "yakin bakal berhasil" kalo gak cuma jadi wagub. Tapi.. entah ya, malah bikin gw mikir: kalo loe udah ada dalam posisi kedua di sistem tersebut dan loe gak berhasil, apakah worth kalo dikasih kesempatan menjadi pucuk pimpinan sistem?

Masih ditunggu penjelasan dari Bapak Iklan TV Nasional. Atau beliau udah, tapi gw gak nonton ya?