Sunday, June 04, 2006

Kabar dari Yogya

Rulas dan Johan (dua researcher bujangan di kantor gw) baru saja kembali dari Yogya. Mereka berdua menempuh perjalanan yang cukup jauh; naik pesawat ke Semarang, lalu menempuh jalan darat Semarang-Solo, baru kemudian Solo-Yogya, dengan membawa berkotak2 sumbangan untuk rekan2 fieldworkers di sana. Sengaja ke Semarang dulu, yang tidak ada kerusakan apa2, untuk menjemput beberapa teman fieldworker. Kabarnya, perjalanan darat ke- dan dari- Yogya atau Solo masih bahaya; ada beberapa kabar selentingan tentang pasokan sumbangan yang dijarah.

Syukur alhamdulillah, akhirnya mereka berhasil menyampaikan sumbangan ke tangan rekan2 yang membutuhkan. Pulangnya, mereka membawa banyak cerita.

Rekan2 di Yogya dan Solo semuanya selamat. Tidak ada yang meninggal, walaupun ada salah satu dari mereka yang patah kaki. Rata2 rumahnya rusak, tapi masih bisa diperbaiki. Tapi ada 6 orang yang rumahnya benar2 rata dengan tanah. Salah satu di antara yang 6 orang ini sedianya akan menikah hari Minggu, 28 Mei, hanya sehari setelah bencana. Rencana itu tentunya kini terpaksa diundur untuk sementara waktu. Rekan2 di Solo rata2 rumahnya retak, atau hanya shock saja, tapi tidak ada korban jiwa.

Walaupun rekan2 Yogya selamat, tapi kabar duka tetap menyelimuti mereka. Ada 4 orang yang kehilangan orang tua atau saudara kandungnya. Sisanya, banyak yang kehilangan kerabat dekat seperti kakek/nenek atau paman/bibinya. Yang paling gw khawatirkan adalah salah satu mantan fieldworker yang sudah tidak terlalu aktif sejak menikah dan melahirkan. Namanya Atta, tinggal di daerah Bantul bersama suami, mertua, dan gadis kecilnya Salwa. Hingga kini Atta belum ketahuan nasibnya. Beberapa kali SMS gw tidak terjawab. Entah HP-nya rusak atau tercecer atau.. Ah, mudah2an gak terjadi apa2 dengan Atta dan keluarganya. Gw agak nyesel juga gak sempat kontak2 dengan Atta saat ke Yogya minggu lalu. Biasanya kalau ke Yogya gw pasti minta Atta membawa Salwa main ke hotel untuk berenang. Tapi jadwal yang padat plus kekhawatiran akan letusan Merapi pada proyek lalu membuat gw alpa menghubunginya. Menyesal sekali, dan seperti biasa: penyesalan selalu datang terlambat.

Waktu dua cowok ini ditugaskan berangkat, gw sempat nitip untuk tanya kabar responden2 gw di project terakhir. Ada 22 ibu rumah tangga yang tersebar dari Kaliurang hingga Parangtritis Raya, dari Bantul hingga Sleman. Gw pingin tahu kabarnya, karena belum genap sebulan kami mewawancarai mereka. Tapi gw mengerti banget ketika kedua teman gw bilang gak bisa mendapatkan keterangan apa2. Yogya sedang kacau, rekruter kami pun sedang kesusahan, sehingga gak mungkin juga untuk mencari keterangan.

Yang bikin gw gemes dengar cerita mereka adalah kekontrasan antara angka2 jumlah sumbangan yg tiap hari dilansir di TV dengan kenyataan di lapangan. Kedua teman gw ini menemukan begitu banyak timbunan sumbangan di setiap kecamatan/kelurahan yang mereka lewati. Ratusan kotak mie instan dan kotak2 besar lainnya ditumpuk gitu aja di kecamatan/kelurahan; sempat juga melihat truk2 atau mobil pick-up masuk bawa barang, tapi nggak melihat mobil keluar dengan barang. Dan di tempat pengungsian, saat mereka mengunjungi beberap rekan Yogya, terlihat makanan kurang. Sumbangan yang kami perkirakan akan cukup atau bahkan berlebih untuk rekan2 Yogya, ternyata terasa menjadi terlalu sedikit ketika kami mengunjungi teman2 yang harus tinggal di tempat penampungan, karena begitu banyak pengungsi lain yang belum mendapatkan bantuan memadai.

Kedua teman kami itu sempat berinisiatif untuk membantu menyalurkan bantuan dari kecamatan/kelurahan ke tempat pengungsian. Toh, dengan 5 orang teman dari Semarang yang siap membantu plus 1 mobil, cukuplah untuk mengorganisir penyampaian bantuan. Tapi apa kata petugas di sana? Bantuan itu harus dihitung dulu, lalu dibagi rata ke semua pengungsi, jadi nggak bisa langsung disalurkan, khawatir kalau ada tempat yang nggak kebagian atau pembagiannya nggak merata.

Gw nggak habis pikir sama keputusan para birokrat ini. Sudah segawat ini, masih memikirkan berhitung. Angka2 di TV tentunya bisa menjamin bahwa masih akan banyak bantuan datang. Setidaknya, bagikan dulu bantuan yang ada secara merata walaupun sedikit. Nanti kalau ada bantuan datang lagi, dibagi lagi secara merata walaupun sedikit. Yang penting pengungsi bisa makan dulu. Untuk apa memberikan sumbangan banyak, tapi belakangan? Jangan sampai ketika mereka memutuskan membagikan sumbangan, ternyata pengungsinya sudah mati kelaparan semua!

Well.. entah deh salahnya di mana. Kata Hidayat Nur Wahid, harusnya memang dibentuk crisis center yang siap sedia turun tangan mengkoordinasi begitu ada bencana. Kata teman gw si Tulus, kesalahannya adalah pada manusia2 Indonesia yang nggak terbiasa kerjasama dan berinisiatif. Menurut gw, selain ada kemungkinan2 tersebut, mungkin kita juga harus mengubah paradigma kita dalam menolong: bahwa menolong itu harus lebih dilihat sebagai meringankan penderitaan korban bencana, bukan dititikberatkan pada tidak berpangku tangan saat ada bencana.

Tahu bedanya? Kalau paradigma kita adalah meringankan penderitaan korban bencana, maka fokus kita adalah menyampaikan bantuan pada para korban. Biar sedikit, biar pun gak rata2 amat, yang penting sampai di korban dulu, korbannya bisa makan, nggak kelaparan. Tapi kalo paradigmanya adalah tidak berpangku tangan, maka fokusnya adalah sekedar menghilangkan guilty feeling dengan melakukan sesuatu jika ada bencana. Yang lebih dipikirkan adalah perannya sertanya, bukan korbannya. Dan aksi yang dilakukan dalam paradigma ini luas sekali kemungkinannya: dari menyumbangkan sesuatu (pokoknya saya udah nyumbang, saya gak diem aja) sampai mengambil peran pengelola (pokoknya saya udah ikut ngatur sumbangan ini supaya pembagiannya rata.. ;)). Perkara bantuan dan peran sertanya sampai atau enggak ke korban, hmm.. itu mungkin prioritas berikutnya.

Ah.. sudahlah! Yang jelas, gw senang kantor gw bertindak cepat memberikan bantuan secara langsung. Emang gak rata, tapi setidaknya kami yakin bantuan itu sampai dengan selamat, dan benar2 bermanfaat. Bantuan kami tidak sekedar menjadi tumpukan penghias kelurahan/kecamatan, yang bahkan tidak boleh dibagikan oleh tenaga kerja yg siap membantu, karena masih mau dihitung.

***

Ohya, kabar lain tentang keluarga gw di Yogya-Solo: rumah sepupu gw di daerah Condongcatur gentengnya rontok semua. Untuk sementara, rumahnya ditutupi bagor plastik untuk mencegah hujan/panas. Dua anaknya yang masih kecil, umur 4 thn dan 7thn, diungsikan ke rumah eyangnya di Solo. Sayangnya, rumah eyangnya itu juga retak2 akibat gempa. Dengan demikian bude gw dan cucu2 kecilnya sementara tinggal di nDalem Serengan; rumah eyang gw yang alhamdulillah gak retak sedikit pun, walaupun rumahnya sudah tua sekali [dibangun oleh Eyang Wareng* gw sekitar thn 1830-an].

-------------------------

*Eyang Wareng = urutan ke-5 dari silsilah. Lengkapnya dihitung dari individu: 1) orang tua, 2) eyang, 3) eyang buyut, 4)eyang canggah, 5) eyang wareng