Thursday, August 24, 2006

Kemenangan Hati

*Hehehe.. ngomongin soal Idol ah! Mumpung kemenangan Ihsan masih seumur jagung, dan di komunitas i-talk masih rame2nya saling hujat ;)*

Gw mau ngaku dosa dulu: gw termasuk yang SENENG BANGET Ihsan menang lawan Dirly ;)

Hehehe.. Gw bukan pendukungnya Ihsan, walaupun gw suka timbre-nya yang lumayan berat (gw selalu bilang suaranya Ihsan paling laki2 di antara ke-6 kontestan pria Indodol 3 ;-)). Setelah setengah kompetisi, gw pikir Ihsan bakal segera terlempar. Dibandingkan kontestan2 lain yang suaranya megah, Ihsan memang sangat sederhana dan biasa. Not an Indonesian Idol material, yang tipikal vibra2 megah ;) Makanya gw kaget juga ketika Gea terlempar dan GF-nya justru Ihsan dan Dirly.

Gw lebih kaget lagi bahwa ternyata Ihsan yang menang ;-). Harus diakui, di GF Dirly tampil lebih memukau dengan suaranya yang lebih merdu, lebih stabil, dan vibra megah; sementara Ihsan menurut gw cuma menang karena aransemen lagu Kemenangan Hati (= winning song Indodol-3) khas Kahitna banget. Lagu ciptaan Yovie Widianto diaransemen ceria ala Kahitna, ya kayak botol ketemu tutup ;-) Pas banget! Sementara lagu yang sama, untuk Dirly, aransemennya dibikin megah seperti jaman Baroque. Sesuai sama karakter suara Dirly, tapi nggak sesuai sama karakter lagunya ;-).

So, kenapa gw bilang seneng banget Ihsan menang? Dan kenapa gw ngaku dosa?

Soalnya.. gw ngerasa bersalah atas alasan gw ;-)Gw senang Ihsan yang menang, karena kemenangan Ihsan membantu gw menampar banyak fans Indonesian Idol yg suka nongkrong di i-talk. It makes my euphoria a guilty pleasure, rite ;-)?

Hehehe.. gw tuh hobi banget nongkrongin komunitas virtual reality show yang lagi rame. Pas AFI rame, gw nongkrongin Forum AFI. Pas Penghuni Terakhir rame, gw nongkrongin Forum ANTV. Dan pas Indonesian Idol rame, gw nongkrongin i-talk. Memang sih reality show itu mungkin nggak reality banget, ada rekayasanya. Tapi.. the reaction of the audience is genuine. Gw bisa belajar banyak tentang manusia dari genuine reactions para pemerhati acara itu. Memilah2 komentar dan menganalisa (kelompok) manusia dari komentar2 itu ;-).

Nah.. dalam salah satu kegiatan memilah, memprofile, dan menganalisa serius hal yang sepele, gw came to conclusion bahwa typical pengunjung i-talkers lebih suka berkomentar tentang betapa nggak kampungannya mereka karena nonton Indodol daripada berkomentar tentang elemen2 yang ada dalam acara itu sendiri. Banyak yang lebih senang memfokuskan diri menghina orang/komunitas/acara lain, daripada memanfaatkan forumnya untuk mendukung pilihannya.

Well.. sebenernya bukan urusan gw juga sih mereka mau ngomong apa. Gw toh gak harus bergabung sama mereka. Tapi.. dasar gw tuh suka gemesan kalau lihat parade kata2 yang nggak enak dibaca. Gemes melihat ada orang2 yang dengan sengaja senang menghina dan menganggap dirinya lebih baik daripada yg lain.

Waktu tiga besar menyisakan Ihsan, Dirly, dan Gea, ada salah satu teman yang berkomentar bahwa Indodol yang tersisa mirip 3 besarnya AFI-1. Dan waktu Gea akhirnya tersingkir, gw sempat mikir: hmm.. gimana reaksinya ya, kalau Dirly kalah di tangan Ihsan? Jadi persis banget sama AFI-1 yang mereka nista2kan itu kan ;-)? It must be very shocking, menemukan kenyataan di depan mata bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain. Dan.. it must be very humiliating, menemukan diri kita di tempat yang sama dengan orang2 yang selama ini kita rendahkan.

Akhirnya.. memang benar bahwa yang menang adalah Ihsan, si anak tukang becak motor sederhana dari Medan. Dia mengalahkan dua pesaingnya, cowok yang suaranya lebih bagus dan si centil manja yang enak didengar dari Bandung. Ihsan-Dirly-Gea bak replika dari Veri-Kia-Mawar hampir 3 tahun lalu. Sebuah tamparan keras untuk sebagian orang kan ;-)?

So.. I smugly smile reading the riot in i-talk. Hujan hujatan berhamburan. Gw nggak tahu mana yang lebih bikin mereka murka; karena kontestan yang overall lebih bagus kalah.. atau.. karena dihadapkan pada kenyataan bahwa hasil pemilihan “Idola Indonesia Sesungguhnya” gak beda sama apa yang selama ini mereka nistakan ;-). Analisa gw: alasan kedua tuh yang lebih berperan, sementara alasan pertama cuma puncak gunung es ;-) Ouch, luka itu pedih, Jendral! Apalagi kalau jatuh dari tempat tinggi. High Flying, Adored, don’t look down it’s a long, long way to fall ;-). Makanya, jangan suka merendahkan orang dan meninggikan diri ;-)

Tapi setelah hampir seminggu berlalu, setelah puas melihat orang2 kehilangan akal mencaci maki, sampai segala isyu SARA diangkat dengan cara yang benar2 ajaib, gw ngerasa nggak enak sendiri. Kalau gw ngetawain mereka, berarti sama aja dong, gw sama mereka?  Kalau gw ngetawain mereka, apa nggak sama juga gw merendahkan mereka ya? Hehehe.. That’s why I feel guilty about this pleasure ;-).

Hmm.. ya sudah lah, piss aja buat mereka yang lagi hujat menghujat di i-talk. Let’s learn our lesson ;-). Pelajaran pertama (lebih buat para hujatters itu kali ya ;-)): jangan suka merendahkan orang dan meninggikan diri sendiri, bisa jadi suatu hari loe berada di posisi yang sama, dan kalau udah keseringan nyela rasanya lebih sakit lho.. ;-). Pelajaran kedua (ini lebih buat gw): hati2.. tipis banget lho bedanya antara mengharapkan seseorang belajar sesuatu, dengan memuaskan diri sendiri melihat orang lain kena batunya ;-).

BTW, busway, monorail, gw baca syair lagu Kemenangan Hati tuh berbau cinta2an ya? Kemenangan yang didapat karena support mental beberapa hati yg menyatu. Padahal, kalau Kemenangan Hati dideskripsikan sebagai berhasil menguasai dua lessons di atas, sebagai kemenangan hati mengatasi diri sendiri, tentu lagunya lebih bermakna.. ;-)