Tuesday, June 07, 2005

"A daughter is your daughter for..."

Kompas, edisi Senin, 6 Juni 2005, memuat artikel menarik tentang “Membicarakan Anak Perempuan”. Penulisnya menuliskan bagaimana seorang anak perempuan harus “berkorban” menjadi “penanggung jawab” kesalahan keluarga, karena pada hakikatnya anak perempuan adalah sekedar “property” sebuah keluarga. Dia bukan manusia, tetapi barang milik keluarga. Sang penulis memberi banyak contoh, dari Rani Djody yg dikejar-kejar wartawan infotainment mengenai kasus ayahnya dengan sang mantan istri kedua, Gina putri Mulyana W Kusumah yg menjadi juru bicara ayahnya, hingga Waris Dirrie dan kasus-kasus pembunuhan keluarga terhadap anak perempuan di Timur Tengah yg karena dianggap memalukan keluarga – walaupun kadang yg disebut memalukan itu “sekedar” memperjuangkan haknya yg diinjak-injak oleh suami/masyarakat di sekitarnya.

Well… penulis artikel tersebut (hanya disebut dengan inisialnya mh) mungkin seorang feminis, karena dia menyebutkan berbagai tulisan tokoh-tokoh feminisme. Tulisannya quite convincing, tapi sayangnya gw punya pendapat yang beda. Dan itu yg mau gw tulis di blog ini.

Jika si penulis berhenti memberikan contoh dengan menyebut Waris Dirie dan para tokoh perempuan di Timur tengah itu SAJA, gw akan setuju 100% dengan pendapatnya. Bolehlah ditambah tokoh Siti Nurbaya, yg juga digunakan ayahnya sebagai pembayar utang pada Datuk Maringgih. Tapi kasusnya berbeda dengan Rani dan Gina.

Perbedaan kecil itu terdapat pada satu hal: bisa tidaknya mereka digantikan oleh orang lain (= anak lain). Dalam hal ini gw melihat apa yg terjadi pada Waris-Siti-korban di Timur Tengah adalah sama: hanya mereka yg bisa dijadikan “tumbal”. Yang pasti, Datuk Maringgih atau calon suami Waris tidak bisa diganti dengan abang atau adik laki-laki kedua orang ini.

Apa yg terjadi pada Rani dan Gina tidak sama. Mereka BISA digantikan oleh saudara laki-lakinya. Wartawan2 itu akan tetap mengejar anak Setiawan Djody tidak perduli gendernya. Bangsa Indonesia tetap akan menunggu salah satu anak Mulyana W Kusumah membela ayahnya di depan publik, tidak perduli pria atau wanita. Dan dengan demikian, kita nggak bisa bilang bahwa Rani & Gina “harus bertanggung jawab” atas kesalahan ayahnya, bahwa mereka adalah “property” keluarga.

Gw pernah baca suatu kata mutiara: “A son is your son until the day he gets married. But a daughter is your daughter for the rest of her life”. Dan gw pikir inilah yg terjadi pada Rani dan Gina. Mereka adalah anak-anak perempuan ayahnya, yang tidak akan pernah meninggalkan ayahnya.

Gw belajar dari keluarga besar bapak dan keluarga besar ibu. Bapak adalah anak kedua, laki-laki pertama, dari 10 bersaudara yg 8 orang di antaranya laki-laki. Gw melihat bagaimana di akhir hayatnya eyang sering kesepian, karena pada Idul Fitri sang anak laki-laki selalu mengutamakan sowan ke rumah mertuanya terlebih dahulu. Kebutuhan orang tua sendiri comes second, or third, untuk ayah dan paman2 gw, karena yang utama adalah keluarga – istri dan anak. Dan istri seringkali – sadar tidak sadar – mempengaruhi suami untuk lebih dekat dengan keluarganya. Gw juga belajar fenomena yg terbalik dari keluarga besar ibu. Dari 6 bersaudara, hanya 2 orang yg laki-laki. Dan rumah eyang dari pihak ibu selalu riuh dengan kedatangan ibu dan keempat saudara perempuannya. Ketika eyang sakit, keempat putrinya berebutan menawarkan tempat untuk merawat, atau bahwa bergantian merawat. Secara materi, delapan putra memang lebih “prospektif” daripada empat putri yg “tergantung sisa uang belanja dari suami”. Tapi dari segi support sosial, empat putri lebih menenangkan.

Dan “membela ayah” di muka umum, sebenarnya, adalah suatu bentuk support sosial. Bukan suatu bentuk “penggadaian seorang anak” atau “bayar hutang” seperti yg ingin diarahkan oleh si penulis… ;)