Friday, November 16, 2007

Piramida Maslow: True or False?

Maslow, seperti juga Freud, mungkin merupakan dua tokoh psikologi yang paling nge-pop. Paling banyak disitir dan dikutip di berbagai tulisan. Dan mungkin teorinya paling banyak dikebiri oleh para penyitirnya; teori Freud direduksi sekedar menjadi ”manusia digerakkan oleh instink kebinatangan”, sementara teori Maslow direduksi menjadi sekedar ”piramida kebutuhan”. Padahal teori mereka jauh lebih luas daripada bagian ini.

Belum lama ini gw ketemu lagi dengan seorang lawan bicara, yang kurang lebihnya menulis begini:



Kesimpulannya pencerahan bisa dicapai oleh setiap orang melalui pendidikan (digambarkan sebagai kerbau dengan kepala putih) dan latihan terus menerus pada gambar berikutnya sehingga seluruh tubuh kerbau menjadi putih dan gembalanya bisa tidur nyenyak membiarkan si kerbau merumput seperti dilukiskan dalam 6 tahap melatih kerbau.


Orang seperti Bill Gates, Muhammad Yunus, Norman Bourlaugh sedang dalam tahap menuju ke arah ini. Dia memberikan semua milik, keahliannya untuk menjaga dunia, bukan seperti puncak hirarkhi A.Maslow yang mencari pengakuan recoqnation.


(note: memang beliau menuliskannya sebagai recoqnation, bukan recognition seperti seharusnya. Typo bukan kesalahan gw ;-))



Mengingat beliau sudah cukup sepuh (usianya hampir 65 thn), pun belajar psikologi secara otodidak (karena pernah jadi Kepala Divisi HR di sebuah perusahaan besar), gw cukup maklum dengan keterbatasan dan ketertinggalan jaman beliau tentang teori Maslow. Makanya, dengan lemah-lembut dan baik hati gw mengingatkan bahwa puncak hirarki Maslow bukan recognition, melainkan self-actualization. Dan antara recognition dengan self-actualization itu jauhnya JakartaNew York.

Tapi ternyata beliau nggak sadar (atau nggak mau terima ya?) diingatkan oleh anak kemarin sore yang separuh umurnya. Jadi malah tambah jauh ngelanturnya tentang “kelemahan mendasar” pada pendidikan psikologi:



Yang satu mengatakan self dalam kondisi eternal becoming (spt juga Fuad Hassan) dan yang lain sebagai atom, misalnya Maslow dalam hirarkhi kebutuhan. Muaranya selalu perlu adanya penjelasan soal Self Recoqnation atau Actualization .


(note: sekali lagi, typo bukan kesalahan gw ya ;-))



Wah.. wah.. ternyata ngawurnya parah banget.. hehehe.. Gw sih juga nggak ingat Pak Fuad persisnya ngomong apa di buku yang beliau sebut itu. Tapi.. gw ingat bahwa konsepnya Pak Fuad tentang eternal becoming itu erat kaitannya dengan trancendental need. Dan gw juga tahu bahwa trancendental need itu merupakan puncak hirarki pada piramida Maslow. Jadi.. mempertentangkan pendapat Pak Fuad dengan hirarki kebutuhan Maslow.. hmmm.. someone has a skewed knowledge about Maslow here ;-)

Anyway.. setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya lumayan bisa ”mengembalikan beliau ke jalan yang benar” (hehehe.. udah lumutan kali ya, makanya susah ;-)?). Belum sempurna sih, namun setidaknya gw mendapatkan pencerahan tentang pangkal masalah kenapa teori Maslow sering disalahpahami, dan bagaimana cara mudah untuk memahami Maslow. Apa yang benar dan apa yang tidak tepat, gw coba tuangkan di sini ;-)


Gambar dipinjam dari sini


FALSE: Piramida Maslow adalah Tangga Kebutuhan

Secara khusus mengenai Maslow, orang cenderung salah mengartikan bahwa Maslow ”sekedar” membuat tangga kebutuhan. Bahwa Maslow berteori mengenai kebutuhan yang lebih tinggi baru bisa muncul kalau kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi. Bahwa Safety & Security Need baru muncul jika Physiological Need sudah terpenuhi, bahwa Love & Belonging Need baru muncul setelah Safety & Security Need sudah terpenuhi, dan seterusnya. Itu sebabnya orang sering mengatakan bahwa teori Maslow salah, dengan argumen bahwa ada orang miskin yang kekurangan pangan pun bisa merasakan cinta.

Lha.. memang bisa saja kok ;-). Karena memang teori Maslow nggak harus dibaca sebagai tangga, yang baru bisa naik kalau sudah meninggalkan yang dibawahnya.


TRUE #1: Piramida Maslow berkonsep 4 Sehat 5 Sempurna

Cara paling sederhana memahami teori Maslow adalah dengan menganalogikan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ;-)

Kok? Iya, seperti juga 4 Sehat 5 Sempurna, bukan berarti kalau kita minum susu lantas nggak punya kebutuhan untuk makan yang 4 sehat (nasi, lauk, buah, sayur). Kalau kita sudah makan yang 4 sehat, minum susu memang bisa membuatnya sempurna. But not the other way around ;-).

Demikian juga dengan Maslow. Kalau kita sudah mencapai tahap Self-Actualization, misalnya, bukan berarti kita tidak lagi merasakan haus & lapar (physiological need), tidak lagi butuh ”tatih tayang” (love & belonging needs). Kita tetap butuh hal itu, tapi kebutuhan itu tidak lagi menggila dan menjadi fokus utama kita. Putus cinta, kelaparan sangat, masih bisa mengganggu tahap kebutuhan kita saat ini, namun hanya jika taraf defisiensinya parah sekali :-)


TRUE #2: Piramida Maslow berstruktur sama dengan Borobudur

Di pelajaran sejarah, kita diajari bahwa struktur Candi Borobudur tuh terbagi 3, yang masing2 terdiri dari beberapa tingkat. Bagian kakinya disebut Kamadhatu, melambangkan dunia yang masih dikuasai kama (kama lho ya, bukan karma ;-)), alias nafsu rendah. Bagian kedua yang terdiri dari 4 lantai disebut Rupadhatu, melambangkan dunia yang sudah melepaskan diri dari nafsu, tapi masih dikuasai rupa dan bentuk. Bagian ketiga, lantai 5 – 7, disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang sudah lepas dari nafsu, rupa, dan bentuk, namun belum mampu mencapai nirwana.

Seperti inilah juga struktur yang terdapa pada Piramida Maslow. Bagian terbawah disebut sebagai D-Needs (singkatan dari Deficiency Needs). Disebut demikian karena defisiensi pada salah satu dari 4 kebutuhan mendasar ini akan menghambat perkembangan kita pada tahap selanjutnya (G-Need atau Growth Need). Empat kebutuhan mendasar ini terdiri atas physiological needs, safety & security needs, love & belonging needs, dan self-esteem need (recognition need)

Jika tidak ada defisiensi pada 4 kebutuhan mendasar ini, atau setidaknya defisiensinya tidak parah, maka kita bisa masuk ke level selanjutnya: G-Need atau Growth Need. Ada dua kebutuhan di sini: Need to Know and Understand, serta Aesthetic Need. Di sinilah digeber kehausan kita akan pengetahuan serta seni. Kebutuhan ini baru muncul jika 4 kebutuhan dasar sudah cukup terpuaskan (tidak defisiensi/defisiensinya tidak parah). Sebaliknya, sekali kita sudah berada di level ini, kita juga sanggup menangani jika ada sedikit defisiensi pada D-Needs.

G-Needs ini disebut Maslow semacam tahap persiapan mencapai B-Needs (being need). B-Need adalah tingkatan tertinggi dalam perkembangan manusia, karena berkaitan dengan menjadi bijak. Ada dua hal yang tercakup dalam B-Needs, yaitu: Self-Actualization (to find self-fulfillment and realize one's potential) dan Self-Transcendence (to connect to something beyond the ego or to help others find self-fulfillment and realize their potential).

Untuk mencapai tahap ini, pemenuhan G-Need mutlak diperlukan. Iya dong, untuk menjadi bijaksana kan kita perlu memaknai pengalaman2 kita baik berdasarkan pengetahuan kognitif (yang dipenuhi lewat need to know & understand) maupun olah rasa (yang dipenuhi lewat aesthetic need). Namun, yang perlu dicatat: tidak semua orang yang terpenuhi G-Needsnya otomatis bisa mencapai B-Needs serta menjadi bijak. Masih diperlukan lagi satu kondisi: peak experience. Makanya, kalau meminjam istilah seorang teman: orang pintar itu banyak di dunia, tapi yang bijak sedikit ;-). Soalnya, banyak orang berhenti di G-Needs serta gagal mencapai B-Needs ;-)

***

So, that’s my insight for today (eh.. this week ya? Secara gw udah seminggu nggak ng-update ;-)). Moga2 berguna buat yang suka pakai teorinya Maslow.. hehehe.. denger2 di bidang manajemen sering banget nih Maslow dipakai ;-)

Pokoknya diingat2 aja ya.. jangan melihat teori Maslow sebagai 5 tingkat kebutuhan (seperti aslinya teori Maslow tahun 1954), atau 8 tingkat kebutuhan (seperti teori Maslow yang sudah direvisi tahun 1998). Tapi lihatlah sebagai 3 struktur yang masing2 terdiri dari beberapa tingkat, seperti Candi Borobudur ;-) Perhatikan prasyarat untuk naik ke struktur berikutnya saja; bahwa deficiency menghambat growth, tapi.. sudah berhasil grown belum tentu bisa being ;-)

Jangan terlalu dihafalkan urutan tangganya ;-) The structure is more important than the steps in this theory ;-)