Saturday, December 16, 2006

Camelia Snicket: A Series of Unfortunate Events

Gw pernah baca bahwa pohon yang disiram dan dirawat sambil diajak ngobrol dengan kata2 manis tumbuh lebih subur daripada pohon yang hanya dirawat dengan membisu. Sementara, gw baca juga, pohon yang dirawat dan disiram sambil dimaki2 akan cepat mati. Prinsipnya: pohon juga mahluk hidup, punya rasa punya hati.. hehehe.. Itu prinsipnya Seurieus ;-) Kalau Masaru Emoto mengatakan bahwa telah terjadi resonansi energi pada pohon atas energi yang diberikan perawatnya.

Ternyata.. prinsip yang sama bisa diterapkan juga pada pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta *tsah!* mungkin berhasil, sementara pekerjaan yang sejak awal sudah diberi energi negatif, bisa menjadi a series of unfortunate events ;-) Nggak tepat juga dibilang sebagai self-fulfilling prophecy, karena tidak dimulai dengan proyeksi bahwa projectnya gagal atau berlangsung buruk. Dan nggak seperti kejadian di sini yang lebih mirip ujian anger management.

Project ke Medan minggu ini sejak awal diketahui sebagai project perpisahan dengan my favorite client *mohon maaf, nama klien tidak boleh disebut dan blognya tidak boleh di-link, takut kantor gw kena wanprestasi ;-)*. Ini projectnya si Jeng Klien yang terakhir dengan bendera perusahaannya yang sekarang. Pada project berikutnya *yang gw yakin pasti ada, ya kan, Jeng ;-)?* benderanya udah lain. Nah.. lantaran ini project perpisahan, nuansanya udah beda. Pinginnya semua berlangsung dengan baik, sebagai perpisahan yang manis. Tapi.. lantaran perpisahan itu sendiri mengandung aura gloomy, entah kenapa projectnya jadi gloomy sejak awal, walaupun semua berusaha untuk membuat perpisahan yang indah.

Dimulai dari project yang harus dimundurkan, padahal di Medan all is set, lantaran nggak yakin stimulus selesai pada hari yang ditentukan. Padahal inti dari penelitiannya sendiri adalah uji stimulus, lha kalau stimulusnya nggak ada, ngapain ke Medan? Ya toh? Akhirnya, semua disusun ulang. Hotel tempat pelaksanaan terpaksa ganti tanggal booking, team recruiter di Medan memohon2 calon responden untuk bisa datang ke jadwal yang baru, tiket pesawat terpaksa digeser. Demi si stimulus tercinta, kami book jadwal pesawat yang mepet dengan pelaksanaan. Pelaksanaan penelitian jam 11:00, kita berencana naik pesawat terpagi. Padahal biasanya kami berangkat sehari sebelum pelaksanaan untuk mengantisipasi pesawat yang delayed, atau no operation.

Walaupun sudah dimundurkan sedemikian rupa, ternyata tetap saja bikin ketar-ketir. Ketar-ketir yang pertama: sehari sebelum berangkat (baca: sehari sebelum penelitian), pihak Garuda Indonesia menyampaikan bahwa pesawat terpagi yang akan kami naiki no operation! Kami mendapat penggantian pesawat jam 11:00, tapi itu pun waiting list! Nah lho! Gimana coba? Terpaksa deh grabag-grubug lagi mengatur jadwal. Itu pun jadwal tentatif, karena baru dapat dipastikan berangkat sore hari. Baru jam 16:00 kami bisa bernafas lega; tiket sudah di tangan, dan lantaran bencana no operation itu, tiket kami di-upgrade menjadi executive class. Sip lah! Kapan lagi gw naik kelas executive? HAHAHAHA.. Gw dan Mira, another researcher yg ikut ke Medan, sudah siap2 mau foto2 dengan noraknya di kabin ;-) *maaf ya, memang norak. Soalnya biasanya terima nasib naik kelas ekonomi.. hehehe.. *

Begitu tiket di tangan, baru kami nyadar: lha, stimulusnya mana?? Sudah hampir jam pulang kantor, stimulus belum di tangan? Buru2 telfon klien, yang ternyata juga udah setengah bete karena baru dapat kabar: stimulus baru bisa selesai jam 12 malam! Hehehe.. berhubung klien gw udah kedengeran bete, gw gak berani ngeledekin kenapa Cinderella disuruh bikin stimulus ;-) Kan mendingan nyuruh Sangkuriang yang bisa bikin telaga dan perahu semalam, ya ;-)?

So, sampai tiba saatnya ke Medan, baik gw & Mira (yang harus mengujikan stimulusnya) maupun kliennya belum sempat melihat stimulusnya.. hehehe.. Beli kucing dalam karung ya? Full of improvisation banget deh! Gw cinta pekerjaan gw karena banyak tantangannya, tapi.. tantangan yang model gini enggak gw banget deh! Tahu aja, gw suka jadwal rapi ;-).

Kalau Anda pikir kami sudah cukup sial, well.. jawaban Anda salah.. HAHAHAHA.. Gw dan Mira sudah nongkrong di bandara sejak jam 9 pagi. Tapi nggak bisa check in. Alasannya? Computer Network Garuda Indonesia mati! Hehehe.. Jadi kami terima nasib menunggu di Garuda Lounge, tanpa tiket ataupun boarding pass. Entah bisa berangkat atau tidak ;-). Baru sekitar 10 menit menjelang berangkat kami mendapatkan boarding pass.

Jakarta-Medan biasanya ditempuh 120 menit, malah kadang2 dalam 110 menit sudah sampai. Tapi.. kali ini.. perjalanan memakan waktu 155 menit! Kurang lebih setengah jam lebih lama dari biasanya! Kalau menurut jadwal, kami tiba di Medan pukul 13:00, langsung makan siang ala kadarnya, dan mulai kerja jam 15:00. Lha.. kalau sampai Medan saja sudah 13:30, tentunya nggak sempat makan ya? Udah bagus bisa mulai kerja pada waktunya, lha wong video device (standard operation procedur kami adalah merekam semua pengambilan data) belum di-setup.

Dan di saat yang panik dengan segala jadwal inilah bom waktu meledak.. hehehe.. Waktu gw mau menyalakan kembali HP gw.. ternyata.. HP GW SUDAH RAIB! Entah kemana HP gw! Perkiraan gw sih tertinggal di kursi pesawat, jadi gw buru2 balik dan memohon2 untuk mencari ke pesawat. Gw nggak boleh naik, dan kata petugasnya HP gw nggak ada. Jadi HP gw tercinta hanya diganti dengan selembar kertas untuk bukti ke Telkomsel bahwa nomor gw hilang.

Benar2 project perpisahan yang berkesan, walaupun kesan yang teringat bukan kesan yang ingin diciptakan ;-) A series of unfortunate events ;-).

Anyway.. gw jadi mikir2 juga. Jangan2 nama projectnya yang bikin sial.. hehehe.. alias energi negatif berasal dari namanya, selain dari sifat projectnya yang perpisahan ini. Kan superstition di research agency adalah: nama menentukan prestasi.

Nah.. oleh researcher in charge-nya, project ini diberi nama sandi Camelia. Researcher-in-chargenya lahir tahun 80-an sih, jadi nggak kenal lagu Camelia. Dia pikir nama ini bagus karena berbau bunga2an aja. Tapi waktu itu gw meng-approved nama project ini karena ingat lagu Ebiet G Ade ini berbau perpisahan dan permohonan maaf atas segala khilaf dan salah. Baru, setelah serangkaian kejadian buruk ini, gw nyadar ada bagian lain dari liriknya yang kena banget sama kejadian ini:

Sekarang
Setelah kau pergi
Kurasakan makna tulisanmu
Meski samar tapi jelas tegas
Engkau hendak tinggalkan kenangan
dan kenangan

Sekarang, setelah HP gw pergi, gw rasakan makna nama [project] ini. Meski samar, tapi jelas tegas, project ini hendak tinggalkan kenangan.. dan kenangan.. HAHAHAHA..

Yang bikin gw nyesel, ada foto2 Ima di outbond minggu lalu yang belum gw pindahkan ke komputer. Hilang deh semua bukti Ima mengayuh kayak dan menyeberangi Burma Bridge dengan gagah berani :-(

Anyway.. mohon maaf buat semua yang mencoba menghubungi gw beberapa hari terakhir dan gak gw jawab. Bukannya gw sombong, tapi mungkin HP gw sekarang sudah berada di salah satu lapak HP second, atau dalam genggaman seseorang yang sedang mencoba memecahkan password HP gw. Untuk sementara.. kalau mau menghubungi gw, Imel Surimel dulu aja ya.. sampai gw ada waktu ngurus nomor ke Telkomsel dan ada rejeki beli HP baru.

*Ngomong2, Imel Surimel sama Dodol Surodol itu sodaraan gak ya ;-)?*