Sunday, December 03, 2006

Mengapa Saya Tidak Berbisnis

Dari dulu gw nggak pernah tertarik untuk menjalankan bisnis, apa pun bentuk bisnisnya. Bahkan, dalam bidang yang gw tekuni sekarang pun, gw nggak tertarik untuk jadi direktur. Gw lebih senang menjadi marketing researcher, dengan penekanan pada kata research, bukan pada kata marketing ;-). Dan gw juga nggak pingin punya atau mengepalai sebuah marketing research agency, karena itu artinya menekankan pada berbisnis, bukan pada meneliti ;-)

Kenapa cita2 gw serendah itu? Well.. mungkin karena orientasi gw memang akademis. Dulu pun cita2 gw adalah sekolah lagi, lagi, dan lagi. Kerja kantoran hanya sebuah cara supaya kemampuan intelektual gw nggak mandeg, sambil ngumpulin biaya buat sekolah. Sukur2 kalau selama kerja dapat beasiswa ;-). Cuma setelah menikah dan punya anak orientasi gw sedikit bergeser; nggak terlalu semangat lagi cari beasiswa. Bukan apa2.. gw pingin sekolah di luar Indonesia; sehingga selain dapat pengetahuan akademis dan gelar, gw juga bisa mendapat first hand information tentang perilaku manusia di komunitas yang berbeda. Nah.. masalahnya gw nggak tega meninggalkan anak gw untuk mengejar ilmu, dan kalau bawa dia sekolah tentu masalahnya nggak gampang. Jadi untuk sementara keinginannya dipendam dulu sampai Ima agak besar.

Selain orientasi gw yang akademis, gw juga merasa nggak punya kepribadian yang cocok untuk berbisnis. Gw pernah baca di suatu textbook tentang marketing bahwa dalam berbisnis, if you cannot win, befriend your competitor. But if you can, kill them. Nah.. kemampuan diplomasi gw jelek, gimana gw bisa berteman dengan lawan gw? Hehehe.. Dan lebih jelek lagi adalah kemampuan untuk tega menghabisi lawan gw untuk mendapatkan kemenangan mutlak dan monopoli.

Well.. gw memang ratu tega. Kalau udah nemuin kesalahan orang yang tidak bisa gw tolerir, gw bisa mencecar sampai orang tersebut mengakuinya. Kalau di kantor, teman2 sekerja gw udah hafal: kalau udah bikin salah di projectnya Mbak Maya, mendingan langsung ngaku aja dan pasrah bongkokan, daripada kalau Mbak Maya yang nemuin salahnya, terus loe membela diri dan tidak mau mengakui ;-). Iya, memang gw kejam.. hehehe.. tapi gw bukan hanya kejam sama orang lain, gw juga kejam sama diri gw sendiri. Kalau gw melakukan kesalahan, biasanya tanpa ditegur pun gw udah malu hati dan berusaha memperbaikinya sendiri. Belum sampai dicecar, gw udah ngaku salah duluan.. hehehe..

Nah.. karena kelemahan2 gw di atas, gw angkat topi banget sama pembesar2 Lapindo. Bayangkan, tol sudah terendam lumpur, tak terhitung banyaknya rumah, sawah, dan industri rakyat yang rusak, tapi mereka masih bergeming. Tuntutan ganti rugi 2-2.5jt/m2 pun belum jelas disetujui atau tidak, apalagi ketentuan akan dieksekusi. Apa nggak hebat tuh, bisa mempertahankan rasa tega selama itu? Hehehe..

Pantesan bisnisnya berkembang dan orang2nya jadi kaya raya ya! Kalau gw yang berbisnis, pasti gw udah jadi melarat beberapa bulan yang lalu, lantaran duit pribadi gw habis buat menebus rasa bersalah gw (baca: gw gunakan sebagai ganti rugi). But wait.. kalau gw jadi orang Lapindo, mungkin malah lumpurnya nggak sampai bikin masalah begini, karena sejak awal mungkin gw nggak tega membuang limbah lumpurnya sembarangan. Mungkin, Lapindo malah nggak berkembang, dan udah bangkrut dari dulu, karena gw (baca: pemimpinnya) terlalu ragu2 mengambil keputusan bisnis.. hehehe..

Kata bapaknyaima, gw mungkin terlalu sinis sama pembesar Lapindo. Kata bapaknyaima, Lapindo juga mengalami kesulitan; perusahaan sebesar itu belum tentu punya dana cair yang siap dibayarkan kepada para korban itu, apalagi mereka juga tetap harus membiayai penanggulangan lumpur (yang selalu gagal itu). Dan mereka juga harus hati2 dalam mencairkan asetnya; jangan sampai nanti mereka bangkrut dan harus tutup perusahaan. Mosok sekian ribu pegawai juga harus mereka lay off karena bangkrut? Well.. mungkin bapaknyaima benar. Tapi.. yaaa.. itulah perbedaan gw dengan pembesar Lapindo. Kalau gw adalah mereka, gw bakal buru2 melelang aset gw untuk membayar ganti rugi, plus membayar pesangon orang2 yang terpaksa gw lay off karena perusahaan gw bangkrut. Jadi melarat? Bangkrut? Itu resiko gw. Bukan berarti gw senang bangkrut dan jadi melarat, tapi gw rasa gw lebih senang begitu daripada hidup dengan rasa tega membiarkan sekian ribu orang (yang tak bersalah) menderita karena kesalahan gw.

Well.. tapi, sekali lagi, itu makanya gw cuma jadi marketing researcher, bukan jadi businesswoman ;-). Kalau semua businessmen berpikiran kayak gw, mungkin kejadian Lapindo gak berlarut2 gini. Tapi bisa jadi, bisnis di Indonesia juga nggak maju2.. hehehe..

----------

PS: biarpun bapaknyaima di atas memberikan pandangan positif tentang Lapindo, dia bukan orang Lapindo lho.. dan nggak makan apa2 dari Lapindo.. hehehehe.. Dia mah orangnya emang begitu, positive thinking banget up to the border nggak pernah nyalahin orang ;-)

Update: 5 Desember 2006

Tadi pagi baca Kompas, katanya Lapindo sudah setuju membayar ganti rugi secara penuh sesuai tuntutan warga. Pembayarannya bertahap sampai September 2008. Alhamdulillah, akhirnya ngasih ganti rugi juga. Dan semoga pembayarannya nggak perlu minum M Kapsul, alias lancar car car dan tuntas tas tas sampai semua warga dapat bagian ;-)