Thursday, November 22, 2007

Unbreakable

Judul di atas tentunya tidak mengacu pada judul lagu terbaru andalan Shanty yang jadi jingle iklan sebuah produk pencuci rambut ;-)

Nope! Judul itu berkaitan dengan unbreakable code, lantaran gw tiba2 mikirin kode2 rahasia.. hehehe.. Well, nggak tiba2 juga sih, semua berawal dari pembicaraan dengan seorang teman yang menanyakan ”Dimana kemampuan analisa yang kamu bangga2kan itu?”, gara2 gw nggak bisa memecahkan kode yang dia berikan ;-).

Dan tiba2 saja gw jadi inget The Navajo Code. Sandi rahasia yang even the best cryptographer failed to break.

Navajo Code ini adalah sandi yang digunakan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Rasanya nggak berlebihan jika dikatakan bahwa Navajo Code ini merupakan salah satu titik krusial yang membuat Amerika Serikat (dan sekutu) memenangkan perang dunia. The unbreakable code that even the best cryptographer failed to break.

Kenapa Navajo Code ini sulit sekali untuk dipecahkan, padahal para Jepang itu nggak kalah pintar dalam soal memecahkan kode?

Ternyata bukan lantaran kode ini rumit banget lho! Melainkan karena alasan2 yang sangat sederhana: tidak lebih dari 30 orang non-Navajo di dunia (pada saat itu) yang mengerti, apalagi dapat bicara menggunakan, bahasa salah satu suku Indian ini. Menurut Wikipedia, struktur tata bahasanya juga tidak biasa, sehingga menambah kesulitan bagi mereka2 yang cukup pintar untuk mengenali pola tata bahasa. Jadi.. semakin kecil kemungkinan untuk para kriptografer memecahkan kode ini, atau meniru kode ini untuk mengirimkan sandi palsu.

On top of that, sebagai pemanis, kode itu dikembangkan hanya dalam kelompok kecil. Hanya 29 orang dari suku Navajo yang direkrut, untuk kemudian diminta membuat sandi dari bahasa tersebut. So.. hanya 29 orang ini yang tahu seluk beluknya sandi; bahwa kuncinya adalah kata2 tertentu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan kemudian diambil huruf pertamanya. Komplitnya baca di Navajo Code Talker’s Dictionary ini deh ;-)

Dengan demikian, tanpa kamus, apalagi tanpa salah satu dari 29 orang ini, adalah hil yang mustahal untuk memecahkan kode.

Jangan dikira nggak ada yang berusaha memecahkan lho! Masih menurut Wikipedia, Hitler sendiri bahkan menugaskan beberapa antropolog untuk mempelajari bahasa Navajo ini. He has analyzed that much, sampai ke tahap mengenalinya sebagai bahasa Navajo. Tapi karena memang bahasanya susah, para antropolog itu gagal belajar dalam waktu yang ditetapkan. Jepang malah lebih hebat lagi! Mereka berhasil menangkap seorang serdadu Navajo, yang kemudian ”dipaksa” untuk mengartikan kode2 itu. They have analyzed that much, bahwa kode itu hanya bisa dipecahkan oleh mereka yang menguasai bahasa tersebut.

Toh.. semuanya gagal, karena untuk memecahkan kode kali ini bukan saja kecerdasan yang dibutuhkan, melainkan .. code book ;-)! Sebenarnya malah dengan kecerdasan rata2 saja, kode ini bisa dipecahkan. Asal saja pegang buku kodenya ;-).

Dipikir2, memang sebenarnya sandi itu bisa digolongkan jadi dua kelompok besar ya? Sandi yang terstruktur dan terpola, serta sandi yang sederhana tapi sangat spesifik. Sandi yang terstruktur dan terpola itu yang jadi ”mainannya” kriptografer. Sandi2 yang bisa dipikirin, dianalisa, diputar balik, dicari polanya, dan.. dipecahkan dengan kemampuan intelektual semata. Sementara yang satunya, sandi sederhana yang spesifik, baru baru bisa dipecahkan kalau kita punya kunci jawabannya ;-)

Kalau di cerita2 detektif, biasanya yang lebih menonjol adalah sandi terstruktur dan terpola ini. Lihat aja buku2nya Dan Brown, isinya selalu tentang sandi yang terstruktur dan terpola. Nggak usah jauh2 ke Dan Brown deh, kita lihat saja ke Alfred Hitchcock yang mungkin seangkatan bapaknya Dan Brown. Ingat nggak, ada salah satu buku "Trio Detektif" yang sandinya begini:

Take one lily, and kill my friend eli
Positively number one
Take a broom and sweep a bee
..

(jangan tanya judulnya, gw lupa ;-))

Nah.. ini model sandi yang bisa dipecahkan dengan logika. Seperti the chubby Jupiter Jones yang menemukan bahwa artinya adalah: “one lily A broom..” alias dibaca “Only a Room..”.

*Catatan iseng: Hitchcock itu memang kira2 seumur mbah-nya JK Rowling. Makanya, jaman dia, nomor 1 tuh asosiasinya masih nilai A. Makanya masih pada bangga sama nilai A atau jadi nomor 1. Apalagi kalau bisa ngumpulin banyak.. bangsa 3 atau 4 gitu.. hehehe.. Dia nggak tahu bahwa di Harry Potter, A (acceptable) itu cuma angka pas2an buat lulus. Nilai tertingginya O (outstanding), dan nilai keduanya E (exceed expectation).. HAHAHAHA.. ;-) *

Sementara kalau novel yang ngomongin sandi sederhana-tapi-butuh-kunci-jawaban, sejauh gw baca baru The Key to Rebecca (Ken Follett) doang. Di cerita itu, sandinya mengacu pada kata2 tertentu dalam novel tulisan Daphne du Maurier yang berjudul Rebecca. Novel ini begitu sederhana, nggak menarik perhatian, hingga nggak ada yang menyangka bahwa di situlah kunci dari sandi yang tak terpecahkan. Nggak ada yang nyangka seorang sipil kucel yang membawa novel kucel ini dalam tas-nya adalah the code talker.

Eh.. gw salah! Ada lagi ding yang menceritakan tentang sandi seperti ini! Episode terakhir "Criminal Minds" di season 1 (yang bersambung ke episode pertama di season 2). Di situ sandi yang diberikan the unsub memang harus dipecahkan dengan membaca kata di halaman/paragraf/baris tertentu dari buku karangan John Fowles. Bukunya berjudul The Collector, dan harus yang cetakan tahun 1963. Jadi.. biar sepintar apa pun, kalau nggak punya that specific copy, nggak mungkin berhasil memecahkan kodenya ;-) Mau diutak-atik kayak apa pun nggak bakal gathuk (= nyambung)

Mana yang lebih baik?

Hmm.. kalau buat dipakai mainan, gw lebih suka pakai yang pertama. Terstuktur dan terpola. It will be a triumph to be able to decode it. Makanya, kecenderungan gw juga selalu mencari2 the similar code di semua hal yang gw lihat.. hehehe.. Emang setelan gw gitu kali, ya ;-)

Tapi kalau gw mesti menjaga suatu rahasia, apalagi demi bangsa dan negara (tsah!), mungkin yang kedua lebih efektif. Tanpa pola dan struktur yang jelas, tentu lebih sulit buat musuh untuk mengetahuinya. Apalagi kalau yang tahu dan punya kunci jawabannya hanya orang2 tertentu. Maximum security.. hehehe.. The Navajo Code sudah membuktikannya kan ;-)? Nggak heran sandi rahasia ini baru di-deklasifikasi akhir 90-an, hampir 50 thn setelah pembuatannya. Malah.. sandi yang sama sempat digunakan lagi di Perang Korea dan Perang Vietnam.

Nggak heran juga, kalau di film ini diceritakan bahwa setiap code talker punya seorang guardian; tentara yang tugasnya menjaga supaya the code talker tidak jatuh ke tangan musuh. Dan jika perlu.. tugas tentara ini adalah untuk membunuh si code talker daripada jatuh ke tangan musuh.

*Ya, ya.. kalimat terakhir ini nggak pernah diakui oleh Amerika Serikat. Cuma rumor doang. Lagian, Amerika Serikat kan pembela hak azasi manusia nomor wahid, nggak mungkin lah memerintahkan membunuh bangsa sendiri, biarpun cuma Indian doang ;-)*

Aaaanyway.. ngomongin The Navajo Code, gw jadi kepikiran bahwa bangsa kita tuh berpotensi besar untuk memiliki our own Navajo code ;-) Pernah ngitung nggak, berapa jumlah bahasa dan dialek di negeri berpulau lebih dari 13,000 ini? Pas gw ke Ende, Flores, awal tahun lalu, gw sih menemukan bahwa beda desa di Flores aja orang bisa saling nggak bisa ngerti bahasa masing2. Jadi.. bayangkan berapa varian sandi yang bisa kita ciptakan ;-)

Kalau kita punya unbreakable code, mau ngajak perang negara lain juga lebih afdol gitu! Biar kata persenjataan kita kalah OK, kalau strateginya bagus, dan didukung dengan kode tak terpecahkan gini, kan peluang menang masih ada. Bukannya bangsa kita selalu membanggakan masa lalu: berhasil ”mengusir” Belanda dengan senjata bambu runcing ;-)? Hehehe.. Apa susahnya ngganyang negara yang suka mencuri kebudayaan kita ;-)?

Dan mungkin negara2 lain juga lebih hati2 mau nyolong lagu daerah, alat musik tradisional, atau seni batik ;-) Nggak berani macem2 sama kita, karena takut dihajar balik.. hehehe..

Atau.. kalau negara kita ini mau mempertahankan citranya yang ”cinta damai”, trained code talker ini bisa kita sewakan ke negara2 lain yang doyan perang. Jadi kan kita nggak cuma bisa memasok TKW atau TKI doang, tapi juga yang lebih ”bergengsi dikit”: well-trained military code expert ;-) Negara2 lain yang mau nggebukin TKI/TKW asal Indonesia juga mikir seribu kali.. hehehe.. takut sama ”tentara bayaran” Indonesia. Apalagi kalau negaranya pernah pakai servis ini.. hehehe.. tambah takut lagi karena ada ”tentara profesional” Indonesia yang sedikit2 ngerti isi perut negaranya ;-)

Tentu.. mereka yang berwenang mengatur penyewaan code expert ini kudu hati2 menyusun surat kontrak. Jangan sampai senjata makan tuan.. negara2 yang habis menyewa jasa kita malah kemudian berbalik menyerang kita.. hehehe.. Tapi, coba deh dipikirkan baik2. Siapa tahu bisa menjadi sumber devisa baru buat Indonesia ;-)

Gimana? Ada yang tertarik mengembangkan usul gw? HAHAHAHA..

---

PS: BTW busway, sebelum ada yang nulis di comment box gw tentang Criminal Minds gara2 salah satu alinea di atas.. Iyaaa, gw udah tahu season 3 udah keluar, dan Jason Gideon (Mandy Patinkin) diganti sama David Rossi (Joe Mantegna). Tapi menurut gw sih asyik2 aja.. sama menariknya ;-)

---

FUN TRIVIA: Ada Apa dengan Rebecca?

Eh.. gw baru ngeh bahwa nama Rebecca muncul di tiga tautan yang gw berikan. Selain buku "The Key to Rebecca", ternyata korban di "Criminal Minds" episode itu juga bernama Rebecca Bryant. Dan.. salah satu filmnya Alfred Hitchcock juga berjudul Rebecca.

Jadi.. ada apa dengan Rebecca? HAHAHA..