Wednesday, September 05, 2007

Dua Analogi dan Sebuah Renovasi

Kemarin browsing ke blognya Dinda Aramichi, dan menemukan tulisan terbarunya: Dia Selalu Invisible, Tapi Dia Selalu Online.

Tadinya gw kira Dinda Ara mau ngomongin kecengan terbaru (tsah!), tapi ternyata tulisannya sangat menyentuh hati: Tuhan itu selalu online, biarpun selalu invisible. Yahoo! Messenger-nya selalu aktif 24/7; kapan aja kita mau kirim Instant Message kepada-Nya, dia akan selalu menjawab dan bersedia chat. Gak bakalan dikasih status BRB, Not at My Desk, Stepped Out.. Nggak bakalan juga diputus tiba2 dengan CU, TTYL, GTG.. Dia selalu akan menjawab, walaupun.. yaaah.. walaupun kadang2 jawaban-Nya adalah: Tidak.

Such an inspiring contemplation, Dinda, and how true!

Agak lompat sedikit.. ;-)

Cerita tadi mengingatkan gw pada percakapan maya beberapa bulan lalu dengan seorang teman lain, Papanya Naya. Entah dari mana awal percakapannya, tiba2 dia mengatakan sesuatu yang kurang lebih berbunyi begini:

“Buat aku, kata hati itu GPS, dan logika itu petanya. GPS itu menentukan koordinat yang pasti, tapi.. dalam mencapai koordinat itu kita butuh peta untuk menentukan jalan yang paling tepat”

Very true indeed!

Biarpun tahu koordinatnya, tapi nggak tahu petunjuk jalan ke sana, akan butuh waktu lama sekali untuk mencapainya. Sebaliknya, punya peta, tapi nggak tahu koordinat mana yang dituju, juga lebih susah lagi untuk mencapainya. Contoh kasus aja, adik gw barusan kirim SMS mengenai koordinat penting S 07.548000 E 110.833700.

Gw kasih waktu 6 jam deh, untuk mencapainya.. hayooo.. ada yang bisa nggak? Hehehe.. Susah ya, kalau nggak ada petanya. Padahal, kalau ada peta, waktu 6 jam itu cukup banget untuk mencapainya ;-)

Naah.. ada hubungan apa antara kedua analogi maya tersebut? Dua cerita yang berbeda itu terhubung begitu saja ketika beberapa jam lalu berkunjung ke blog nYam, membaca entry terbaru tentang Lupa Kali Ya?

Si Bumil ini sedang nyolot karena berita hari ini, mengenai Renovasi Gedung DPR. Biayanya cuma 40 milyar, kok, udah sekaligus dapat ruang paripurna yang melingkar, ruang staff khusus, dan kamar mandi di dalam. Kata si Bumil, wakil2 rakyat ini pada lupa. Lupa pada banyak masalah di negeri ini. Atau.. kalau nggak lupa, ya simply belagu aja ;-)

Yaaah.. kalau gw sih punya pendapat sendiri, Bu ;-)

Mungkin saja mereka punya daya ingat yang rendah. Mungkin saja mereka memang belagu. Tapi.. kalau menurut gw, yang jelas mereka sih gaptek ;-) Mereka kayaknya belum terbiasa YM-an, dan mungkin bahkan belum familiar dengan GPS. Coba deh, sekali2 tanya sama mereka.. tahu nggak artinya GPS? Jangan2 ntar mereka jawab bahwa itu grup kesenian asuhan Guruh Soekarno Putra. Itu lhooo.. yang nge-top banget tahun 80-an dan suka jadi wakil budaya Indonesia ke mancanegara ;-)

Karena mereka nggak kenal Yahoo!Messenger, maka mereka nggak pernah juga chat dengan Tuhan seperti yang dilakukan Dinda Ara. Dan karena nggak familiar dengan GPS, jangan2 GPS ini belum ter-install dalam jiwa mereka. Makanya.. keputusan2 mereka suka ajaib dan bertentangan dengan ampera ;-)

Jadi.. kalau mereka minta ruang staff khusus, dengan kamar mandi di dalam.. yaaah.. dikasih aja lah!

Siapa tahu kalau kamar mandinya di dalam, jadi makin rajin ambil air wudhu (buat yang Muslim), makin khusyu shalatnya, sehingga bisa chat 24/7 dengan Allah SWT. Buat semuanya juga.. dengan ruang staff khusus yang [harusnya] lebih terjaga privacy-nya, tentu lebih mudah untuk mendengarkan kata hati. Siapa tahu masih ada amanat penderitaan rakyat yang tersisa di hati mereka dan menggeliat minta didengar ;-)

Terus... kalau soal gedung melingkar.. well, mungkin emang dibutuhkan ya? Supaya keputusan2 dalam rapat mereka makin mak nyosss ;-) Kan katanya gerakan melingkar itu bisa menimbulkan centrifugal force maupun centripetal force. Jadi, kalau ruang rapatnya melingkar, gaya yang dihasilkan tentu makin besar. Alhasil, keputusan2nya makin okey dokey ;-)

Jadi.. mari kita dukung sajalah keinginan para wakil rakyat ini untuk merenovasi gedungnya ;-)

Kalau perlu habis ini kita anggarkan sekalian untuk membelikan para wakil rakyat Nokia 6110 Navigator, atau Nokia N95, atau Nokia E90 Communicator.. Itu lho... ponsel2 dengan ”teknologi yang mengerti Anda” yang udah dilengkapi dengan built-in GPS ;-). Kita pasangkan stand-alone Garmin di ruang paripurna serta ruang staff khususnya. Biar makin bisa mendengarkan kata hati dan tak akan pernah tersesat lagi ;-)

Tulisan sarkastik hari ini gw akhiri dengan sebuah catatan sinis: kata ”ampera” dalam tulisan ini terpaksa hanya dikaitkan dengan Nawaksara, pidato apologia Bung Karno. Itu satu2nya situs yang cukup dekat nyerempetnya dengan jiwa (tsah!) Ampera. Soalnya.. Wikipedia Indonesia tidak memiliki artikel tentang Amanat Penderitaan Rakyat; hanya punya tentang Jembatan Ampera serta Kabinet Ampera. Mungkin rakyat sudah dianggap tidak menderita lagi.. sehingga nggak mengamanatkan penderitaannya pada wakil rakyat lagi ;-) Ampera hanya tinggal sejarah yang termonumenkan dengan sebuah jembatan di Palembang sana.

Catatan sinis akhir itu fits the topic banget gak sih ;-)?